kohesi sosial, kecepatan dalam pengambilan keputusan, dan perilaku konsensus sehingga membatasi kemampuan perusahaan untuk mempengaruhi perubahan stratejik dan kinerja organisasional (Ferrier, 2001; Hambrick et al., 1996; Murray, 1989).
Pengujian hipotesis dilakukan dengan analisa regresi berganda dengan metode backward setelah sebelumnya dilakukan pengujian asumsi klasik. Alat analisis yang digunakan adalah SPSS. Pengujian model untuk menguji pengaruh karakteristik wanita sebagai komisaris terhadap kinerja dalam penelitian ini adalah:
PERF = a0 + b1PW + b2PKW + b3JPW + b4BPW + b5SIZE + e Keterangan :
PERF : Kinerja Perbankan Syariah
PW : Proporsi Wanita sebagai komisaris
PKW : Pengalaman Kerja Wanita sebagai komisaris JPW : Jenjang Pendidikan Wanita sebagai komisaris BPW : Latar Belakang Pendidikan Wanita sebagai
komisaris
SIZE : Ukuran Perusahaan
Tabel 4.13 Pengaruh Karakteristik Wanita sebagai Komisaris terhadap Kinerja
Variable Coeffi cient t-Statistic Prob.
Konstanta -0.760 -1.514 0.120
Proporsi Wanita (PWK) 0.007 0.007 0.995
Pengalaman Kerja Wanita
(PKWK) 0.084 0.547 0.589
Jenjang Pendidikan Wanita
Latar Belakang Pendidikan
Wanita (BPWK) 0.376 0.073 0.942
Size 0.031 1.931 0.065*)
Adjusted R-squared 0.301
F-statistic 3.498 0.016**)
***) : signifi kan pada α = 1 % **): signifi kan pada α = 5 % *): signifi kan pada α = 10 %
Nilai adjusted R-square 30,1% berarti bahwa 30,1% variasi kinerja perbankan syariah dapat dijelaskan oleh variasi variabel independen yaitu proporsi wanita sebagai komisaris, pengalaman kerja wanita sebagai komisaris, jenjang pendidikan wanita sebagai komisaris, latar belakang pendidikan wanita sebagai komisaris dan size sedangkan sisanya yaitu 69,9% dijelaskan oleh variabel lain di luar model.
Uji Anova atau F test pada tabel menghasilkan nilai F hitung 3,498 dengan tingkat probabilita signifi kansi 0,016. Probabilita signifi kansi jauh lebih kecil dari 0,05, maka model dapat digunakan untuk memprediksi variabel kinerja perbankan syariah, atau dapat dikatakan bahwa variabel .proporsi wanita sebagai komisaris, pengalaman kerja wanita sebagai komisaris, jenjang pendidikan wanita sebagai komisaris, latar belakang pendidikan wanita sebagai komisaris, dan size dapat memprediksi kinerja perbankan syariah di Indonesia.
Variabel proporsi wanita sebagai komisaris (PWK) dengan nilai koefi sien 0,007 (positif) dan nilai t sebesar 0,007 dan signifi kansi 0,995 menunjukkan bahwa proporsi wanita sebagai komisaris tidak berpengaruh positif signifi kan terhadap kinerja perbankan syariah. Nilai signifi kansi lebih besar dari 0,05 sehingga tidak signifi kan.
Variabel pengalaman kerja wanita sebagai komisaris (PKWK) dengan nilai koefi sien 0,084 (positif) dengan nilai t sebesar 0,547 dan signifi kansi 0,589 menunjukkan bahwa pengalaman kerja wanita sebagai komisaris berpengaruh positif signifi kan terhadap kinerja perbankan syariah. Nilai signifi kansi jauh di atas 0,05 sehingga tidak signifi kan.
Variabel jenjang pendidikan wanita sebagai komisaris (JPWK) dengan nilai koefi sien 0,061 (positif) dengan nilai t sebesar 0,439 dan signifi kansi 0,664 menunjukkan bahwa jenjang pendidikan wanita sebagai komisaris (JPWK) tidak berpengaruh positif terhadap kinerja perbankan syariah. Nilai signifi kansi jauh di atas 0,05 sehingga tidak signifi kan. Variabel latar belakang pendidikan wanita sebagai komisaris (BPWK) dengan nilai koefi sien 0,326 (positif) dengan nilai t sebesar 0,073 dan signifi kansi 0,942 menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan wanita sebagai komisaris tidak berpengaruh positif signifi kan terhadap kinerja perbankan syariah. Nilai signifi kansi jauh di atas 0,05 sehingga tidak signifi kan.
Variabel kontrol size dalam penelitian ini berpengaruh positif terhadap kinerja perbankan syariah yang ditunjukkan dengan nilai koefi sien 0,031 dengan nilai t sebesar 1,931
serta signifi kansi sebesar 0,065. Nilai signifi kansi jauh lebih kecil dari 0,1 maka size perusahaan berpengaruh terhadap kinerja perbankan syariah.
Berdasarkan hasil pengujian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa hanya variabel size yang diukur dengan total aset yang dimiliki perbankan syariah yang berpengaruh terhadap kinerja perbankan syariah. Variabel independen karakteristik wanita sebagai komisaris melalui proporsi wanita sebagai komisaris, pengalaman kerja wanita sebagai komisaris, jenjang pendidikan wanita sebagai komisaris, dan latar belakang pendidikan wanita sebagai komisaris tidak terbukti berpengaruh terhadap kinerja perbankan syariah. Hal ini dapat disebabkan oleh tugas sebagai komisaris menurut PBI tahun 2009 adalah melakukan monitoring dan memeberikan nasihat kepada direksi. Komisaris tidak memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan laba yang tinggi pada perusahaan.
Tabel 4.14 Additional Analysis Pengaruh Karakteristik Women sebagai Komisaris dan Direksi terhadap Kinerja Variable Coeffi cient t-Statistic Prob.
Konstanta -1.905 -4.881 0.000
Proporsi Wanita sbg K&D
(PW) 0.171 1.250 0.222
Pengalaman Kerja Wanita
sbg K&D (PKW) 0.032 4.299 0.000***)
Jenjang Pendidikan Wanita
Latar Belakang Pendidikan Wanita sbg K&D (BPW) 0.213 2.161 0.039**) Size 0.068 5.251 0.000***) Adjusted R-squared 0.492 F-statistic 11.335 0.000***)
***) : signifi kan pada α = 1 % **): signifi kan pada α = 5 % *): signifi kan pada α = 10 %
Nilai adjusted R-square 49,2% berarti bahwa 49,2% variasi kinerja perbankan syariah dapat dijelaskan oleh variasi variabel independen yaitu proporsi wanita sebagai komisaris dan direksi, pengalaman kerja wanita sebagai komisaris dan direksi, jenjang pendidikan wanita sebagai komisaris dan direksi, latar belakang pendidikan wanita sebagai komisaris dan direksi dan size sedangkan sisanya yaitu 50,8% dijelaskan oleh variabel lain di luar model.
Uji Anova atau F test pada tabel menghasilkan nilai F hitung 11,335 dengan tingkat probabilita signifi kansi 0,000. Probabilita signifi kansi jauh lebih kecil dari 0,05, maka model dapat digunakan untuk memprediksi variabel kinerja perbankan syariah, atau dapat dikatakan bahwa variabel .proporsi wanita sebagai komisaris dan direksi, pengalaman kerja wanita sebagai komisaris dan direksi, jenjang pendidikan wanita sebagai komisaris dan direksi,
latar belakang pendidikan wanita sebagai komisaris dan direksi, dan size dapat memprediksi kinerja perbankan syariah di Indonesia.
Variabel proporsi wanita sebagai komisaris dan direksi (PW) dengan nilai koefi sien 0,171 (positif) dan nilai t sebesar 1,250 dan signifi kansi 0,222 menunjukkan bahwa proporsi wanita sebagai komisaris dan direksi tidak berpengaruh positif signifi kan terhadap kinerja perbankan syariah. Nilai signifi kansi lebih besar dari 0,05 sehingga tidak signifi kan.
Variabel pengalaman kerja wanita sebagai komisaris dan direksi (PKW) dengan nilai koefi sien 0,032 (positif) dengan nilai t sebesar 4,299 dan signifi kansi 0,000 menunjukkan bahwa pengalaman kerja wanita sebagai komisaris dan direksi berpengaruh positif signifi kan terhadap kinerja perbankan syariah. Nilai signifi kansi jauh di bawah 0,05 sehingga signifi kan.
Variabel jenjang pendidikan wanita sebagai komisaris dan direksi (JPW) dengan nilai koefi sien 0,154 (positif) dengan nilai t sebesar 0,912 dan signifi kansi 0,370 menunjukkan bahwa jenjang pendidikan wanita sebagai komisaris dan direksi (JPW) tidak berpengaruh positif terhadap kinerja perbankan syariah. Nilai signifi kansi jauh di atas 0,05 sehingga tidak signifi kan.
Variabel latar belakang pendidikan wanita sebagai komisaris dan direksi (BPW) dengan nilai koefi sien 0,213 (positif) dengan nilai t sebesar 2,161 dan signifi kansi 0,039 menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan wanita sebagai komisaris dan direksi berpengaruh positif signifi kan
terhadap kinerja perbankan syariah. Nilai signifi kansi jauh di bawah 0,05 sehingga signifi kan.
Variabel kontrol size dalam penelitian ini berpengaruh positif terhadap kinerja perbankan syariah yang ditunjukkan dengan nilai koefi sien 0,068 dengan nilai t sebesar 5,251 serta signifi kansi sebesar 0,000. Nilai signifi kansi jauh lebih kecil dari 0,05 maka size perusahaan berpengaruh terhadap kinerja perbankan syariah.