• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cultural Intelligence (CQ)

BAB II TELAAH PUSTAKA

2.1 Landasan Teori dan Penelitian Terdahulu

2.1.5 Cultural Intelligence (CQ)

2.1.5.1 Pengertian

Inteligensi manusia merupakan suatu hal yang sangat kompleks dan terdiri dari berbagai lapisan. Hughes, Ginnett, & Curphy (2009) mendefinisikan inteligensi sebagai keefektifan seorang individu secara menyeluruh dalam segala aktivitas yang diarahkan oleh pikiran. Inteligensi inilah yang kemudian menempatkan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dengan kasta tertinggi dalam peradaban dunia.

Sumber : “The Elusive, yet Critical Challenge of Developing Global

Kajian mengenai inteligensi manusia telah hadir semenjak puluhan tahun yang lalu oleh beberapa praktisi, yang menjelaskan beragam inteligensi manusia beserta peranan atau fungsinya. Beberapa di antaranya dan sudah dikenal luas adalah social intelligence oleh Thorndike dan Stein, emotional intelligence oleh Mayer dan Slovein, dan practical intelligence oleh Sternberg et al. (dalam Ang & Van Dyne, 2008). Namun seiring dengan perkembangan zaman dan arus globalisasi yang semakin kuat, maka hadir suatu kajian mengenai inteligensi manusia yang fokus pada kemampuan untuk bekerja dalam kondisi kebudayaan yang berbeda, yakni cultural intelligence (CQ).

Cultural intelligence (CQ) adalah kemampuan untuk bekerja secara efektif dalam suatu kondisi dengan kebudayaan yang berbeda (Ang et al., 2007; Ang & Dyne, 2008). Adapun Earley dan Mosakowski (2004) menyebutkan bahwa CQ adalah kemampuan alami dalam diri individu untuk menginterpretasikan perilaku-perilaku yang asing atau berbeda, dengan cara yang akan dipahami oleh orang-orang di negara yang bersangkutan. Dunia bisnis yang semakin berkembang dalam era globalisasi di masa kini mengharuskan tiap individu memiliki CQ yang baik. Dengan CQ yang baik, maka beragam konflik atau permasalahan yang berpotensi timbul akibat perbedaan budaya dapat dihindari. Seperti yang dijelaskan oleh Levey-Leboyer, perbedaan budaya dapat memicu kesalahpahaman yang berujung pada konflik, degradasi moral, dan produktivitas kerja yang rendah (dalam Deng & Gibson, 2008). Individu harus pandai dalam mencerna segala kondisi kebudayaan yang

baru dan berbeda, sehingga mampu bekerja atau berfungsi secara optimal. Baik dalam hubungan dengan segenap rekan kerja, mitra dari perusahaan atau organisasi lain, serta masyarakat dan pemerintah setempat. Dan tujuan yang paling utama tentunya adalah mampu menghasilkan keputusan-keputusan yang tepat serta sesuai dengan situasi dan kondisi.

Earley dan Mosakowski (2004) secara gamblang menjelaskan bahwa CQ merupakan kombinasi antara head (kepala), body (tubuh), dan heart (hati). Kepala bertindak sebagai starting point, tubuh sebagai realisasi dari apa yang dipikirkan atau dibentuk oleh kepala, dan hati sebagai penyelaras antara tubuh dan kepala. Dalam artian apa yang sudah diperbuat oleh kepala dan tubuh akan menjadi kesia-siaan belaka jika individu tidak memiliki hati yang kuat untuk menghadapi atau menanggulangi rintangan yang menghadang. Adapun filosofi mengenai kepala, tubuh, dan hati tersebut merupakan penggambaran sederhana dari 4 dimensi dalam CQ, yakni metacognitive (kesadaran), cognitive

(pengetahuan), motivational (motivasi), dan behavioral (perilaku).

2.1.5.2 Metacognitive CQ

Pengertian metacognitive CQ mengacu pada tingkat kesadaran

budaya tiap individu pada saat melakukan interaksi lintas budaya (Ang et al., 2007; Ang & Van Dyne, 2008). Individu dengan tingkat

metacognitive CQ yang kuat secara sadar akan mencerna, menyesuaikan, serta mengaplikasikan asumsi budayanya ketika

berinteraksi dengan siapapun yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda.

Metacognitive CQ merupakan suatu komponen penting dalam

CQ. Menurut Ang dan Van Dyne (2008), hal tersebut didasari oleh beberapa alasan, yakni:

a. Metacognitive CQ merepresentasikan kemampuan berpikir secara aktif mengenai orang dan situasi dalam kondisi kebudayaan yang berbeda

b. Metacognitive CQ memicu individu untuk menguatkan keyakinan pada asumsi yang telah dibuat dan pemikiran yang terikat secara kebudayaan

c. Metacognitive CQ mengarahkan tiap individu untuk beradaptasi dan meninjau kembali strateginya, sehingga akan lebih mampu menempatkan diri secara tepat sesuai dengan kebudayaan yang berlaku dan lebih mendekatkan diri pada tujuan atau hasil yang diharapkan dalam pendekatan lintas budaya

Alasan-alasan tersebut secara jelas menasbihkan metacognitive sebagai kunci atau pemegang peranan utama dalam CQ, sekaligus sebagai langkah awal dalam adaptasi budaya. Pada tahap inilah individu membentuk strategi untuk berinteraksi dengan kebudayaan yang berbeda. Strategi yang dibentuk tentunya bertujuan agar individu bisa diterima dan bersosialisasi secara lancar dengan masyarakat di negara yang bersangkutan.

2.1.5.3 CognitiveCQ

Jika metacognitive fokus pada proses kognitif di tingkat yang lebih tinggi, maka cognitive CQ merepresentasikan pengetahuan mengenai norma, praktik, dan konvensi dalam kebudayaan yang berbeda yang telah diperoleh melalui berbagai sumber, baik pendidikan maupun pengalaman pribadi (Ang et al., 2007; Ang & Van Dyne, 2008). Dengan demikian, maka cognitive CQ mengacu pada tingkat pengetahuan budaya atau pengetahuan atas lingkungan budaya yang dimiliki oleh individu. Ang dan Van Dyne (2008) menyebutkan bahwa pengetahuan mengenai budaya meliputi pengetahuan atas individu yang ditempatkan pada konteks budaya dalam lingkungan. Adapun menurut Triandis, pengetahuan budaya meliputi pengetahuan mengenai ekonomi, sistem legal, dan sosial dalam kebudayaan beserta subkulturnya (dalam Ang et al., 2007). Dengan demikian, ragam mengenai paham budaya yang luas membuat cognitive CQ mengindikasikan pengetahuan akan budaya universal sama baiknya seperti pengetahuan akan perbedaan budaya.

Cognitive CQ menjadi komponen penting dalam CQ karena pengetahuan budaya memengaruhi pemikiran dan perilaku pada individu. Memahami kebudayaan sosial dan komponennya membuat individu menjadi lebih baik saat mengapresiasi sistem yang membentuk dan menyebabkan pola-pola tertentu dalam interaksi sosial pada sebuah kebudayaan. Sehingga pada akhirnya individu dengan cognitive CQ

yang tinggi akan dapat berinteraksi secara lebih baik dengan siapapun yang berasal dari kebudayaan yang berbeda.

2.1.5.4 Motivational CQ

Motivational CQ merepresentasikan kemampuan untuk mengarahkan perhatian dan energi menuju pembelajaran dan berfungsi pada situasi yang dibentuk oleh perbedaan budaya (Ang et al., 2007; Ang & Van Dyne, 2008). Earley, Ang, & Tan menjelaskan bahwa fase ini meliputi 3 poin utama, yang terdiri dari; (1) enhancement, yakni keinginan untuk berprasangka baik mengenai diri sendiri; (2) growth,

yakni keinginan untuk menantang dan memperbaiki diri sendiri; (3) continuality, yakni hasrat untuk melancarkan dan meramalkan

kehidupan diri sendiri (dalam Rose et al., 2010).

Adapun menurut Dyne et al., motivational CQ ditandai dengan adanya intrinsic interest, extrinsic interest, dan self-efficacy to adjust

(dalam Widyarini, 2004). Intrinsic interest adalah ketertarikan atau dorongan yang muncul dari dalam diri sendiri. Yakni dorongan yang dapat muncul ketika individu merasa senang atau menikmati setiap proses interaksi lintas budaya yang dilakukan. Extrinsic interest adalah ketertarikan atau dorongan yang muncul dari luar diri individu. Dorongan tersebut dapat muncul saat individu merasa akan memperoleh keuntungan dari interaksi lintas budaya yang dilakukan. Keuntungan tersebutlah yang kemudian memacu individu untuk belajar dan mempraktikkan perilaku yang efektif dan sesuai dengan kebudayaan yang berlaku. Self–efficacy to adjust adalah keyakinan akan

kemampuan untuk mempelajari dan beradaptasi dalam interaksi lintas budaya. Individu yakin bahwa ia akan mampu mengatasi berbagai rintangan yang mungkin timbul saat proses interaksi lintas budaya.

Sederet faktor dan tanda-tanda tersebut menasbihkan

motivational CQ sebagai komponen penting dalam CQ, yang merupakan sumber dari pergerakan individu. Strategi yang telah dibentuk serta pengetahuan yang sudah dimiliki akan menjadi tidak berguna jika tidak dilandasi oleh motivasi yang kuat. Motivational CQ

memacu usaha dan energi yang diarahkan untuk berfungsi secara optimal dalam konteks lintas budaya. Sehingga antara motivasi, strategi, dan pengetahuan dapat berjalan selaras dalam proses interaksi dengan kebudayaan yang berbeda.

2.1.5.5 Behavioral CQ

Behavioral CQ merepresentasikan kemampuan individu untuk menampilkan perilaku verbal dan nonverbal yang tepat ketika berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (Ang et al., 2007; Ang & Van Dyne, 2008).

Behavioral CQ menjadi komponen penting karena perilaku verbal dan nonverbal adalah bagian yang paling menonjol dalam interaksi sosial. Seperti yang telah dijelaskan oleh Hall, kemampuan mental akan pemahaman budaya harus disertai atau dilengkapi oleh kemampuan untuk menampilkan perilaku verbal dan nonverbal yang tepat, yang berdasarkan nilai-nilai budaya pada konteks tertentu (dalam Ang et al., 2007). Ketika memulai dan memelihara interaksi personal, individu

tidak dapat mengetahui pemikiran, perasaan, atau motivasi orang lain karena hal-hal tersebut sifatnya tersembunyi dan tidak dapat diutarakan begitu saja. Namun individu dapat membacanya dari apa yang terlihat di permukaan seperti suara, wajah, atau ekspresi-ekspresi yang lain.

Lustig dan Koestler menjelaskan bahwa terdapat 3 macam perilaku dalam kebudayaan, yakni; (1) pada jangkauan perilaku tertentu

yang telah ditetapkan; (2) pada aturan-aturan yang berlaku ketika dan di bawah keadaan ekspresi nonverbal spesifik seperti apa yang

dibutuhkan, disukai, diizinkan, atau dicegah; (3) pada interpretasi atau pengertian yang ditujukan untuk perilaku-perilaku nonverbal yang istimewa (dalam Ang & Van Dyne, 2008). Individu dengan behavioral CQ yang tinggi akan mampu bertindak lebih fleksibel dan menyesuaikan perilakunya dengan spesifikasi tertentu pada setiap interaksi lintas budaya. Dalam berperilaku, individu harus cermat agar terhindar dari kesalahpahaman ketika berkomunikasi atau berinteraksi dalam konteks lintas budaya. Hal-hal sederhana seperti salam, sapaan, tata cara bertamu, bahkan hingga cara untuk menolak, semua tidak bisa asal dilakukan begitu saja. Dengan demikian, behavioral CQ menjadi penutup dari dimensi-dimensi sebelumnya dalam CQ. Yakni sebagai muara atas kesadaran, pengetahuan, dan motivasi dalam diri individu, yang kemudian bertransformasi menjadi sebuah bentuk perilaku (verbal dan nonverbal) dalam interaksi lintas budaya.