• Tidak ada hasil yang ditemukan

: Current Ratio (CR) berpengaruh positif terhadap perubahan laba

Dalam dokumen BAB II TELAAH LITERATUR (Halaman 25-30)

2.7 Debt Ratio (DR)

DR, menurut Weygandt et al. (2015), adalah “measures the percentage of the total assets that creditors provide” yang dapat diartikan bahwa, “mengukur persentase total aset yang dibiayai oleh utang”. Menurut Manurung dan Silalahi (2016), DR yaitu perbandingan antara total utang dengan total aset. Menurut Syamsuddin (2006) dalam Grisely (2015), DR digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah aset perusahaan dibiayai dengan total utang. Hal ini juga dinyatakan oleh Makiwan (2018), bahwa DR merupakan rasio yang digunakan mengukur seberapa besar aset perusahaan dibiayai oleh utang. Rasio ini dihitung dengan cara membagi total utang dengan total aset perusahaan.

Weygandt et al. (2015) menyatakannya, “this ratio indicates the company’s degree of leverage. It also provides some indication of the company’s ability to withstand losses without impairing the interests of creditors”, yang dapat diartikan

“rasio ini mengindikasikan tingkat dari leverage perusahaan. Rasio ini juga dapat mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk menahan kerugian tanpa mengurangi kepentingan kreditor”. Menurut Weygandt et al. (2015), rasio DR termasuk dalam rasio solvabilitas, yaitu rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Kreditor dan pemegang saham jangka panjang tertarik pada perusahaan yang memiliki

45 kemampuan untuk membayar bunga pada saat jatuh tempo dan memenuhi utang pokok.

Menurut Grisely (2015), semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk investasi pada aset guna menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Namun, apabila perusahaan tidak mampu menutupi seluruh beban bunga yang harus dibayar karena dana utang yang digunakan perusahaan terlampau tinggi, maka akan mengakibatkan penurunan laba yang diperoleh perusahaan (Ramadhan et al., 2018).

Menurut Makiwan (2018), DR merupakan rasio yang mengukur seberapa besar aset perusahaan dibiayai oleh utang, maka apabila rasio DR rendah, semakin kecil aset perusahaan dibiayai dengan utang. Menurut Andriyani (2015), semakin kecil jumlah pinjaman berbunga semakin kecil pula beban bunga kredit yang ditanggung perusahaan. Menurut Oktanto dan Nuryatno (2014), apabila perusahaan tidak mampu menutupi seluruh beban bunga yang harus dibayar karena dana utang yang digunakan perusahaan terlampau tinggi, maka akan mengakibatkan penurunan laba yang diperoleh perusahaan. Menurut Weygandt et al. (2015), DR dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Debt Ratio = Total Liabilities Total Assets

Menurut IAI (2018), total liabilities (liabilitas) adalah kewajiban kini entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu, yang penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas yang mengandung manfaat ekonomik. Menurut Weygandt et al. (2015), “liabilities are defined as creditors’

46 claims on total assets and as existing debts and obligation” yang artinya adalah

“liabilitas didefinisikan sebagai klaim kreditor dari total aset yang dimiliki dan sebagai seluruh utang dan kewajiban yang ada”. Menurut Weygandt et al. (2015), perusahaan harus membayar atau menyelesaikan klaim, utang, dan kewajiban pada waktu tertentu di waktu yang akan datang dengan mentransfer aset atau jasa yang dinyatakan seperti “companies must settle or pay these claims, debts, and obligations at some time in the future by transferring assets or services”. Menurut IAI (2018), karakteristik esensial liabilitas adalah bahwa entitas memiliki kewajiban kini. Kewajiban adalah suatu tugas atau tanggung jawab untuk bertindak atau melakukan sesuatu dengan cara tertentu.

Menurut Kieso et al. (2014), liabilities dilaporkan pada laporan posisi keuangan (statement of financial position). Liabilities diklasifikasi menjadi non-current liabilities yang terdiri dari bonds payable, dan long-term notes payable, serta current liabilities yang terdiri dari account payable, notes payable, current maturities long-term debt, short-term obligations expected to be refinanced, dividends payable, customer advances and deposits, unearned revenues, sales and value-added taxes payable, dan employee-related liabilities (Kieso et al., 2014).

Dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat dan kombinasi yang berbeda dalam laporan keuangan.

Dasar pengukuran liabilitas adalah (1) biaya historis (historical cost), liabilitas dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban, atau dalam keadaan tertentu (sebagai contoh, pajak penghasilan), pada jumlah kas atau setara kas yang diekspektasikan akan dibayarkan untuk memenuhi liabilitas dalam

47 pelaksanaan usaha yang normal; (2) biaya kini (current cost), liabilitas dicatat sebesar jumlah kas atau setara kas yang tidak didiskontokan yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini; (3) nilai penyelesaian (settlement value), liabilitas dicatat sebesar nilai penyelesaiannya, yaitu jumlah kas atau setara kas yang tidak didiskontokan yang diekspektasikan akan dibayarkan untuk memenuhi liabilitas dalam pelaksanaan usaha normal; (4) nilai kini (present value), liabilitas dicatat sebesar arus kas keluar neto masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang yang diekspektasikan akan diperlukan untuk menyelesaikan liabilitas dalam pelaksanaan usaha normal (IAI, 2016).

Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh entitas sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan darimana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh oleh entitas. Manfaat ekonomik masa depan aset adalah potensi dari aset tersebut untuk memberikan kontribusi, baik langsung maupun tidak langsung, pada arus kas dan setara kas kepada entitas. Entitas biasanya menggunakan aset untuk memproduksi barang atau jasa yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan pelanggan; karena barang atau jasa ini dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan pelanggan, maka pelanggan bersedia membayar sehingga memberikan kontribusi kepada arus kas entitas. Aset entitas berasal dari transaksi atau peristiwa di masa lalu. Entitas biasanya memperoleh aset melalui pembelian atau produksi sendiri, tetapi transaksi atau juga dapat menghasilkan aset (IAI, 2018). Menurut Kieso et al.

(2014), aset dilaporkan pada laporan posisi keuangan (statement of financial position).

48 Aset diklasifikasikan menjadi non-current assets yang terdiri dari property, plant and equipment, serta current assets yang terdiri dari inventory, prepaid expenses, notes receivable, accounts receivable, interest receivable, dan cash (Kieso et al., 2014). Dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat dan kombinasi yang berbeda dalam laporan keuangan. Dasar pengukuran aset adalah (1) biaya historis (historical cost), aset dicatat sebesar jumlah yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan; (2) biaya kini (current cost), aset dicatat sebesar jumlah kas atau setara kas yang seharusnya akan dibayarkan jika aset yang sama atau aset yang setara diperoleh sekarang; (3) nilai terealisasi (realizeble value), aset dicatat sebesar nilai penyelesaiannya, yaitu jumlah kas atau setara kas yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual aset dalam pelepasan normal; (4) nilai kini (present value), aset dicatat sebesar arus kas masuk neto masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diekspektasikan akan memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal (IAI, 2016).

2.8 Pengaruh Debt Ratio (DR) Terhadap Perubahan Laba

Weygandt et al. (2015) menyatakan bahwa “the higher the percentage of total liabilities to total assets, the greater the risk that the company may be unable to meet its maturing obligations”, yang dapat diartikan “semakin besar persentase total utang dari total aset, maka semakin besar risiko perusahaan tidak dapat melunasi kewajibannya”. Menurut Oktanto dan Nuryatno (2014), apabila perusahaan tidak mampu menutupi seluruh beban bunga yang harus dibayar karena

49 dana utang yang digunakan perusahaan terlampau tinggi, maka akan mengakibatkan penurunan laba yang diperoleh perusahaan. Semakin tinggi dana utang yang digunakan, akan mengakibatkan beban bunga akan semakin besar.

Menurut penelitian Oktanto dan Nuryatno (2014) serta penelitian Grisely (2015), DR memberikan pengaruh terhadap perubahan laba. Menurut penelitian Ifada dan Puspitasari (2016), DR berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perubahan laba. Berbeda dengan penelitian menurut penelitian Riana dan Diyani (2016) serta penelitian Ramadhan et al. (2018) yang menemukan bahwa DR tidak memberikan pengaruh terhadap perubahan laba.

Berdasarkan teori yang telah diuraikan, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:

Dalam dokumen BAB II TELAAH LITERATUR (Halaman 25-30)