• Tidak ada hasil yang ditemukan

: Inventory Turnover (ITO) berpengaruh positif terhadap perubahan laba

Dalam dokumen BAB II TELAAH LITERATUR (Halaman 40-45)

2.13 Total Asset Turnover (TATO)

Menurut Hidayat (2015), TATO menunjukkan bagaimana efektifitas perusahaan menggunakan seluruh aset untuk menciptakan penjualan dan laba. Menurut Menurut Pattiasina et al. (2018), “TATO ratio measures effectiveness of the use of the total assets.” yang artinya adalah rasio TATO mengukur efektifitas penggunaan

60 total aset. Menurut Robbins dan Coulter (2016), efektifitas adalah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tepat, atau menyelesaikan aktivitas-aktivitas yang secara langsung mendorong tercapainya sasaran organisasi. Selain itu, Pattiasina et al.

(2018) juga menyatakan “it examines how far the ability of all assets to generates sales”, yang artinya adalah TATO menguji seberapa jauh kemampuan seluruh aset untuk menghasilkan penjualan. Pramono (2015), rasio TATO mengukur aktivitas dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan dari aset tersebut.

TATO berfungsi untuk mengukur kemampuan perusahaan menggunakan total asetnya dalam menghasilkan penjualan bersih (Pramono, 2015).

Menurut Grisely (2015), keseimbangan kecepatan perputaran antara penjualan dan aset menunjukkan manajemen telah bekerja secara optimal.

Optimalisasi penggunaan aset dalam usaha-usaha menghasilkan laba melalui penjualan dapat dilihat dari TATO yang semakin besar. Semakin besar TATO, semakin besar pula penjualan yang dapat dihasilkan dari satu aset (Grisely, 2015).

Menurut Andriyani (2015), semakin tinggi rasio TATO berarti semakin efisien penggunaan keseluruhan aset di dalam menghasilkan penjualan. Efisiensi menurut Robbins dan Coulter (2016) adalah melakukan pekerjaan secara tepat sasaran, atau menghasilkan output sebanyak mungkin dari input sesedikit mungkin. Hal ini dikarenakan TATO yang menunjukkan perusahaan dapat memanfaatkan aset yang dimiliki untuk meningkatkan penjualan yang berdampak pada peningkatan laba (Haqiqi dan Santoso, 2016). Sehingga, menurut Pattiasina et al. (2018), semakin tinggi TATO perusahaan, semakin tinggi perubahan laba yang terjadi. Menurut Nugroho dan Yuyetta (2014), perputaran aset yang tinggi seharusnya menunjukkan

61 peningkatan penjualan yang diperoleh perusahaan dan menjadi salah satu sumber laba bagi perusahaan.

Menurut Suharti dan Kalim (2019), ketika efektivitas pengelolaan sumber daya yang dimiliki perusahaan dari ketersediaan total aset kurang baik, menyebabkan ketersediaan aset yang dimiliki tidak dapat meningkatkan aktivitas operasional perusahaan terutama dalam hal kemampuan untuk meningkatkan laba bersih yang dihasilkan semakin menurun karena perusahaan tidak dapat memanfaatkan aset secara maksimal untuk meningkatkan penjualan yang berpengaruh pada pendapatan. Menurut Ifada dan Puspitasari (2016), apabila perusahaan beroperasi dengan volume yang memadai bagi kapasitas investasinya, maka perusahaan dapat lebih efisien dalam menggunakan seluruh asetnya untuk menunjang kegiatan penjualannya. Menurut Weygandt et al. (2015), TATO dapat dihitung dengan membagi pendapatan bersih (net sales) perusahaan dengan rata-rata total aset (average total assets) yang dimiliki perusahaan, yang dapat dituliskan seperti:

Total Asset Turnover = Net Sales Average Total Assets

Net sales (Sales atau Revenue) menunjukkan nilai penjualan, diskon, allowance¸ retur, dan informasi lain yang berkaitan (Kieso et al., 2014). Menurut Weygandt et al. (2015), net sales didapat dari sales revenue yang dikurangi dengan contra revenue accounts, yaitu retur, allowances, dan diskon. Prinsip pengakuan pendapatan adalah pendapatan diakui dalam periode akuntansi apabila kewajiban telah selesai dilaksanakan (Weygandt et al., 2014).

62 Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi ketika kenaikan manfaat ekonomik masa depan yang berkaitan dengan kenaikan aset atau penurunan liabilitas telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan penghasilan terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan aset atau penurunan liabilitas (misalnya, kenaikan neto aset yang timbul dari penjualan barang atau jasa atau penurunan liabilitas yang timbul dari pembebasan pinjaman yang masih harus dibayar). Prosedur yang biasanya dianut dalam praktik untuk mengakui penghasilan, sebagai contoh, persyaratan bahwa pendapatan telah diperoleh, merupakan penerapan kriteria pengakuan (IAI, 2018).

Aset adalah sumber daya yang dimiliki sebuah perusahaan. Perusahaan menggunakan aset untuk melakukan aktivitas seperti produksi dan penjualan.

Karakteristik umum aset adalah kapasitas untuk menyediakan jasa dan keuntungan di masa depan. Di dalam bisnis, jasa potensial atau keuntungan ekonomik di masa depan mengakibatkan pendapatan (Weygandt et al., 2015). Menurut Kieso et al.

(2014), aset adalah sumber daya yang dikontrol oleh perusahaan sebagai hasil dari peristiwa masa lalu dan diharapkan keuntungan ekonomik akan mengalir ke perusahaan di masa depan.

Aset dibagi menjadi intangible assets, aset tetap, investasi jangka panjang, dan aset lancar. Intangible assets merupakan aset jangka panjang yang tidak memiliki bentuk fisik namun memiliki nilai. Aset tetap (property, plant, and equipment atau fixed asset) adalah sumber daya perusahaan yang memiliki bentuk fisik, digunakan untuk kegiatan operasional bisnis, dan tidak dimiliki untuk dijual.

Investasi jangka panjang merupakan investasi dalam saham biasa dan obligasi dari

63 perusahaan lain yang biasanya dipegang untuk jangka waktu lama, atau aset tidak lancar seperti tanah dan bangunan yang perusahaan miliki namun tidak digunakan untuk menjalankan operasional. Aset lancar adalah aset yang diharapkan oleh perusahaan akan dikonversi menjadi kas atau digunakan satu tahun atau sesuai dengan siklus operasional (Weygandt et al., 2015). Aset dilaporkan pada laporan posisi keuangan (IAI, 2018).

2.14 Pengaruh Total Assets Turnover (TATO) Terhadap Perubahan Laba

Menurut Pramono (2015), semakin besar TATO menunjukkan semakin efisien penggunaan seluruh aset perusahaan untuk menunjang kegiatan penjualan. Menurut Suharti dan Kalim (2019), semakin efektif perputaran atau pengelolaan aset perusahaan akan menghasilkan kinerja perusahaan yang tinggi sehingga dapat meningkatkan laba perusahaan. Menurut Haqiqi dan Santoso (2016), semakin tinggi TATO, maka perubahan laba yang diperoleh perusahaan semakin tinggi.

Dikarenakan TATO yang tinggi menunjukkan perusahaan dapat memanfaatkan aktiva yang dimiliki untuk meningkatkan penjualan yang berdampak pada meningkatnya laba.

Menurut penelitian Pattiasina et al. (2018), TATO memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan laba. Hasil penelitian Pramono (2015), Manurung dan Silalahi (2016), serta penelitian Ifada dan Puspitasari (2016) menyatakan bahwa TATO memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan laba.

Berbeda dengan hasil penelitian Nurianika et al. (2015) yang menemukan bahwa

64 TATO memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap perubahan laba. Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Nugroho dan Yuyetta (2014), penelitian Grisely (2015), dan penelitian Hidayat (2015), serta penelitian Haqiqi dan Santoso (2016), TATO tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan

Dalam dokumen BAB II TELAAH LITERATUR (Halaman 40-45)