2.11 Inventory Turnover (ITO)
Menurut Oktanto dan Nuryatno (2014), ITO atau rasio perputaran persediaan merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam persediaan berputar dalam suatu periode. Menurut Safitri (2016), ITO
55 merupakan ukuran tentang seberapa cepat perputaran persediaan dalam siklus produksi normal. Menurut Weygandt et al. (2015), “ITO measures the number of times, on average, the inventory is sold during the period.” yang artinya adalah
“ITO mengukur berapa banyak, secara rata-rata, persediaan terjual selama periode berjalan”. Rata-rata persediaan terjual dapat dihitung menggunakan persediaan awal dan persediaan akhir. Menurut Subramanyam (2014), ITO mengukur kualitas dan likuiditas komponen persediaan. Kualitas persediaan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menggunakan dan menjual persediaan. Menurut Riana dan Diyani (2016), ITO atau perputaran persediaan menunjukkan kecepatan perputaran persediaan dalam siklus produksi normal.
Menurut Gunawan dan Wahyuni (2013) dalam Valerian dan Kurnia (2018), cepatnya perputaran persediaan akan memperkecil dana yang dibutuhkan untuk ditanamkan dalam persediaan dan semakin besar dana yang ditanamkan untuk kegiatan usaha lainnya sehingga mengakibatkan bertambahnya pendapatan. Selain itu, menurut Amalina dan Sabeni (2014) dalam Valerian dan Kurnia (2018), makin cepat perputaran persediaan, berarti penjualan semakin banyak dan laba yang diperoleh semakin banyak.
Menurut Oktanto dan Nuryatno (2014), ITO yang rendah memperlihatkan kurangnya pengendalian persediaan yang efektif. Rendahnya persediaan berputar dalam satu tahun menandakan rendahnya efektivitas manajemen persediaan yang dapat mempengaruhi proses produksi dalam meningkatkan penjualan atau pendapatan. Menurut Weygandt et al. (2015), ITO dihitung dengan membandingkan harga pokok penjualan (cost of goods sold) dengan rata-rata
56 persediaan (average inventory) yang dimiliki perusahaan selama 1 periode, dengan menggunakan rumus:
Inventory Turnover = Cost of Goods Sold Average Inventory
Menurut Weygandt et al. (2015), “cost of goods sold is the total cost of merchandise sold during the period. This expense is directly related to the revenue recognized from the sale of goods” yang artinya adalah “harga pokok penjualan adalah jumlah biaya persediaan yang terjual di periode berjalan. Beban ini berhubungan langsung dengan pendapatan dari penjualan barang yang diakui”.
Menurut Horngen et al. (2018), cost of goods sold adalah biaya barang jadi yang terjual kepada konsumen pada periode akuntansi saat ini. Menurut IAI (2018), biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai. Biaya persediaan dihitung dengan mengurangi harga jual persediaan dengan presentase margin bruto yang sesuai.
Terdapat 2 macam metode pencatatan harga pokok penjualan yaitu metode perpetual dan periodik dengan 2 metode arus biaya, yaitu First-in, First-out (FIFO) dan average cost. Perusahaan yang menggunakan metode periodik melakukan perhitungan dan pencatatan harga pokok penjualan di akhir periode, sedangkan perusahaan yang menggunakan metode perpetual mencatat harga pokok penjualan setiap terjadi penjualan. Metode FIFO artinya persediaan yang lebih dahulu dibeli, lebih dahulu dijual, sehingga harga pokok yang dicatat adalah biaya pembelian
57 persediaan yang lebih dahulu dibeli. Persediaan akhir yang tercatat apabila perusahaan menggunakan metode FIFO adalah sebesar biaya pembelian terakhir (most recent purchase). Sedangkan metode average cost, harga pokok penjualan dialokasikan sesuai dengan weighted-average unit cost, yang didapat dari persediaan tersedia untuk dijual (cost of goods available for sale) dibagi dengan total unit persediaan yang tersedia untuk dijual (total units available for sale).
Metode average-cost pada pencatatan perpetual disebut metode moving-average cost. Perusahaan menghitung rata-rata setiap melakukan pembelian dengan membagi persediaan tersedia untuk dijual dengan jumlah unit yang dimiliki saat itu (Weygandt et al., 2015).
Inventory atau persediaan adalah aset tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa, dalam proses produksi untuk penjualan tersebut, atau dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Persediaan diukur pada mana yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi neto. Nilai realisasi neto adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan (IAI, 2018).
Menurut Horngren et al. (2018), terdapat 3 tipe persediaan di perusahaan manufaktur, yaitu: persediaan bahan baku, yaitu persediaan yang merupakan stok yang digunakan oleh perusahaan untuk proses manufaktur atau proses produksi;
persediaan barang dalam proses, yaitu persediaan yang merupakan stok yang sudah dikerjakan sebagian namun belum selesai. Persediaan ini juga biasa disebut sebagai work in process; dan persediaan barang jadi, yaitu persediaan yang merupakan stok
58 barang yang sudah selesai proses pengerjaannya, namun belum terjual ke pihak eksternal.
Terdapat berbagai tipe biaya yang berbeda yang terkait dengan persediaan selain biaya aktual pembelian barang. Biaya terkait inventory dibagi menjadi 6 (enam) kategori, yaitu: (i) purchasing costs, yaitu harga pokok barang yang diperoleh dari pemasok, termasuk biaya angkut; (ii) ordering costs, yaitu biaya yang digunakan untuk mempersiapkan dan menerbitkan purchase orders, menerima dan melakukan inspeksi barang yang dipesan, mencocokkan invoice yang diterima dengan purchase orders, dan mencatat pembayarannya; (iii) carrying costs, yaitu biaya yang timbul ketika barang disimpan di perusahaan; (iv) stockout costs, adalah biaya yang timbul ketika perusahaan tidak memiliki persediaan sesuai dengan permintaan konsumen (stockout); (v) quality costs, adalah biaya yang terjadi untuk mencegah dan menilai kualitas inventory yang dimiliki oleh perusahaan; dan (vi) shrinkage costs, yaitu biaya yang timbul karena adanya pencuri dari luar, penggelapan karyawan, dan kesalahan klasifikasi persediaan (Hongren, 2018).
2.12 Pengaruh Inventory Turnover (ITO) Terhadap Perubahan Laba
Menurut Oktanto dan Nuryatno (2014), perusahaan menggunakan sumber daya yang dimiliki guna menunjang aktivitas perusahaan, dimana pengguna aktivitas ini dilakukan secara sangat maksimal dengan maksud memperoleh hasil yang maksimal. Menurut Hanafi dan Halim (2009) dalam Wahyuni et al. (2017), ITO
59 yang tinggi menandakan semakin tingginya persediaan berputar dalam satu tahun yang menandakan efektivitas manajemen persediaan. Hal ini berarti efektivitas perputaran persediaan yang dimiliki perusahaan sangat baik, sehingga persediaan yang dimiliki dapat meningkatkan aktivitas operasional perusahaan terutama dalam hal kemampuan untuk meningkatkan pertumbuhan laba perusahaan. Menurut Amalina dan Sabeni (2014) dalam Valerian dan Kurnia (2018), makin cepat perputaran persediaan, berarti penjualan semakin banyak dan laba yang diperoleh semakin banyak.
Hasil penelitian Oktanto dan Nuryatno (2014), serta penelitian Riana dan Diyani (2016) menunjukkan bahwa ITO tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan laba. Sedangkan menurut penelitian Linggi dan Astuti (2016), ITO memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan laba. Menurut penelitian Haqiqi dan Santoso (2016) serta penelitian Ramadhan et al. (2018) ITO berpengaruh signifikan dan negatif terhadap perubahan laba.
Berdasarkan teori yang telah diuraikan, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut: