2.9 Debt to Equity Ratio (DER)
DER menurut Subramanyam (2014) “measure of the relation between total debt and total capital” yang dapat diartikan sebagai “mengukur hubungan antara total utang dengan total modal”. Menurut Hidayat (2015), DER termasuk dalam rasio solvabilitas yaitu rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar utang jangka panjangnya. Hidayat (2015) menyatakan DER adalah perbandingan antara utang dengan ekuitas perusahaan, yang menunjukkan perbandingan antara total kewajiban dengan seluruh ekuitas.
Menurut Gitman dan Zutter, (2015), struktur modal adalah salah satu area yang paling kompleks dari keputusan finansial karena keterkaitannya dengan
50 keputusan finansial lain, yang dikatakan dengan, “capital structure is one of the most complex areas of the financial decision making because of its interrelationship with other financial decision variables”. Sumber struktur modal terdiri dari dua komponen yaitu utang dan ekuitas. Pemberi pinjaman memiliki prioritas klaim yang lebih tinggi terhadap pendapatan atau aset yang tersedia sebagai pembayaran, dan dapat memberikan tekanan hukum yang jauh lebih besar terhadap perusahaan untuk melakukan pembayaran, dibandingkan dengan pemilik saham. Tidak seperti utang yang perlu dibayar oleh perusahaan dalam jangka waktu tertentu, equity capital yang diinvestasikan dalam perusahaan tidak memiliki jangka waktu (Gitman dan Zutter, 2015).
Pada umumnya, semakin besar modal perusahaan yang berasal dari utang, semakin besar pula financial leverage perusahaan. Leverage membuat klaim milik pemegang saham biasa lebih berisiko, yang dikatakan dengan “leverage makes the claims of common stockholders even more risky”. Perusahaan yang meningkatkan penggunaan leverage secara signifikan dapat melihat bahwa biaya utang (costs of debt) bertambah, dan pemberi pinjaman semakin ragu mengenai kemampuan perusahaan membayar utangnya. Tingkat financial leverage perusahaan dalam suatu industri atau suatu lini bisnis berbeda dengan lini bisnis lain karena memiliki karakteristik operasional yang berbeda (Gitman dan Zutter, 2015).
Menurut Subramanyam (2014), perusahaan menggunakan utang dan ekuitas dalam pembiayaannya, hal ini dijelaskan dengan “companies typically carry both debt and equity financing”. Subramanyam (2014) mengatakan bahwa “creditors are generally unwilling to provide financing without protection provided by equity
51 financing. Financial leverage refers to the amount of debt financing in a company’s capital structure.” yang dapat diartikan “kreditor pada umumnya tidak bersedia memberikan pembiayaan tanpa perlindungan dari pembiayaan (jaminan) melalui ekuitas. Financial leverage menunjukkan jumlah pembiayaan utang dalam struktur modal perusahaan”. Financial leverage menurut Subramanyam (2014) adalah penggunaan utang untuk meningkatkan pendapatan, dinyatakan dengan “financial leverage is the use of debt to increase earnings”. Utang harus dibayar kembali pada suatu waktu tertentu tanpa memperhatikan kondisi finansial perusahaan, dan juga perlunya membayar beban bunga secara periodik. Kegagalan pembayaran utang pokok beserta bunganya biasanya menyebabkan berlanjut ke proses hukum yang menyebabkan pemegang saham kehilangan kontrol atas perusahaan secara keseluruhan ataupun sebagian. Ketika proporsi utang terhadap modal lebih besar, lebih tinggi pula biaya tetap yang harus dibayarkan oleh perusahaan (Subramanyam, 2014).
Menurut Manurung dan Silalahi (2016), semakin tinggi DER menunjukkan semakin tinggi penggunaan utang sebagai sumber pendanaan perusahaan. Hal ini dapat menimbulkan risiko yang cukup besar bagi perusahaan ketika perusahaan tidak mampu membayar kewajiban tersebut pada saat jatuh tempo, sehingga akan mengganggu kontinuitas operasi perusahaan. Selain itu, perusahaan akan dihadapkan pada biaya bunga yang tinggi sehingga dapat menurunkan laba perusahaan. Menurut Makiwan (2018), bagi bank (kreditor), semakin besar rasio ini, akan semakin tidak menguntungkan karena akan semakin besar risiko yang ditanggung atas kegagalan yang mungkin terjadi di perusahaan. Sebaliknya, dengan
52 rasio DER yang rendah, semakin tinggi tingkat pendanaan yang disediakan pemilik dan semakin besar batas pengamanan bagi peminjam.
Menurut Makiwan (2018), semakin rendah DER, semakin tinggi tingkat pendanaan yang disediakan pemilik dan semakin besar batas pengamanan bagi peminjam jika terjadi kerugian atau penyusutan nilai aset. Menurut Pramono (2015), sebagian investor menganggap bahwa DER dipandang sebagai besarnya tanggung jawab perusahaan terhadap pihak ketiga yaitu kreditor yang memberikan pinjaman kepada perusahaan. Menurut Erselina (2014), utang (pinjaman) melibatkan komitmen untuk membayar beban tetap dalam bentuk bunga dan pembayaran kembali pokok pinjaman. Maka Menurut Zulkifli (2018), DER yang rendah berarti biaya bunga yang dibayarkan oleh perusahaan juga rendah sehingga laba perusahaan akan meningkat. Menurut Subramanyam (2014), perhitungan DER adalah dengan rumus:
Debt-Equity Ratio = Total Debt Shareholder's Equity
Total Debt sama dengan total liabilitas. Liabilitas adalah klaim kreditor atas total aset dan juga utang serta kewajiban yang ada. Seluruh bisnis biasanya meminjam uang dan membeli barang dagang secara kredit. Perusahaan harus menyelesaikan atau membayar klaim, utang, dan kewajiban ini di masa depan dengan mentransfer aset atau jasa.
Liabilities dibagi menjadi 2 (dua), yaitu current liabilities dan non-current liabilities. Liabilitas jangka pendek adalah utang yang diperkirakan akan dibayar oleh perusahaan dalam jangka waktu satu tahun atau satu siklus operasional
53 perusahaan. Liabilitas yang tidak termasuk dalam kriteria tersebut disebut non-current liabilities. Current liabilities terdiri dari notes payable, accounts payable, unearned revenues, dan accrued liabilities (pajak, gaji, bunga). Sedangkan non-current liabilities terdiri dari bonds, yaitu secured and unsecured bonds yang terdiri dari mortgage bond, dan sinking fund bond. Bonds juga terdiri dari convertible and callable bonds (Weygandt et al., 2015).
Shareholder’s Equity (ekuitas) menurut Kieso et al. (2014) adalah “Equity is the residual interest in the assets of the company after deducting all liabilities.
Equity is often referred to as shareholders’ equity, stockholders’ equity, or corporate capital” yang artinya adalah “Ekuitas adalah sisa keuntungan dalam aset perusahaan setelah mengurangi seluruh liabilitas. Ekuitas sering dimaksudkan untuk ekuitas pemegang saham, atau modal perusahaan”. Menurut Kieso et al.
(2014), ekuitas diklasifikasi di dalam laporan posisi keuangan ke dalam kategori:
share capital, share premium, retained earnings, accummulated other comprehensive income, treasury shares, dan non-controlling interest (minority interest). Menurut IAI (2018), ekuitas adalah hak residual atas aset entitas setelah dikurangi seluruh liabilitas. Menurut IAI (2018), jumlah ekuitas ditampilkan dalam laporan posisi keuangan bergantung pada pengukuran aset dan liabilitas.
2.10 Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) Terhadap Perubahan Laba
DER yang rendah berarti semakin sedikit aset perusahaan yang dibiayai oleh utang serta semakin kecil beban bunga yang harus dibayar sehingga laba perusahaan
54 semakin meningkat. Jika kewajiban atau utang dapat dimanfaatkan dengan efektif, maka hasil yang diperoleh berupa laba dapat cukup untuk membayar biaya bunga secara periodik ditambah dengan kewajiban pokoknya (Agustina dan Silvia, 2012 dalam Wahyuni et al., 2017). Menurut Zulkifli (2018), DER yang rendah berarti biaya bunga yang dibayarkan oleh perusahaan juga rendah sehingga laba perusahaan akan meningkat.
Hasil penelitian Pramono (2015) menemukan bahwa DER memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap perubahan laba. Sedangkan penelitian menurut Oktanto dan Nuryatno (2015) menunjukkan DER memberikan pengaruh positif terhadap perubahan laba. Selain itu, menurut penelitian Hidayat (2015), DER memiliki pengaruh terhadap perubahan laba. Berbeda dengan hasil penelitian Erselina et al. (2014), penelitian Manurung dan silalahi (2016), serta penelitian Suharti dan Kalim (2019), yang menyatakan bahwa DER tidak memberikan pengaruh terhadap perubahan laba.
Berdasarkan teori yang telah diuraikan, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:
Ha3: Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif terhadap perubahan