20
BAB II
TELAAH LITERATUR
2.1 Teori Sinyal (Signaling Theory)
Teori sinyal mempelajari bahwa pada setiap tindakan/perbuatan memuat informasi (Hakim, 2013 dalam Ifada dan Puspitasari, 2016). Teori sinyal adalah suatu tindakan yang diambil oleh manajemen dengan memberikan informasi kepada para investor berhubungan dengan cara pandang manajemen terhadap prospek/harapan perusahaan ke depannya. Pengumumam laba adalah contoh mengenai penyampaian informasi melalui signaling (Brigham dan Houston, 2006 dalam Ifada dan Puspitasari, 2016).
Manajer perlu menyediakan informasi kepada pemegang saham dengan menggunakan laporan keuangan (Baraja dan Yosya, 2018). Manajer berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik sebagai wujud dari tanggung jawab atas pengelolaan perusahaan. Teori sinyal menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan kepada pihak eksternal. Dorongan perusahaan untuk memberikan informasi adalah karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar karena perusahaan mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan dan prospek yang akan datang daripada pihak luar (Eliyani & Utami, 2016 dalam Zulkifli, 2018).
Sinyal dapat berbentuk promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan berjalan lebih baik dibandingkan dengan perusahaan lain. Manajer menyediakan informasi melalui laporan keuangan yang mereka implementasikan
21 dengan prinsip akuntansi konservatisme yang mampu menghasilkan keuntungan yang berkualitas lebih tinggi, karena prinsip ini mencegah perusahaan dari mengambil tindakan untuk membesar-besarkan keuntungan, serta membantu pengguna laporan keuangan dengan menyampaikan laba dan aset yang tidak overstated (Baraja dan Yosya, 2018).
Pengumuman laba memuat informasi yang dipakai para investor untuk membuat keputusan pada kegiatan investasi serta memproyeksikan atau memperkirakan prospek atau harapan perusahaan di masa yang akan datang.
Apabila manajemen mengumumkan laba naik, maka investor akan menerima informasi bahwa kondisi keuangan perusahaan relatif baik di masa yang akan datang. Tetapi apabila manajemen mengumumkan laba yang turun atau rendah, maka investor akan menerima informasi bahwa kondisi keuangan perusahaan relatif tidak baik di masa yang akan datang (Hakim, 2013 dalam Ifada dan Puspitasari, 2016).
2.2 Laporan Keuangan
Menurut Harahap (2015) dalam Haqiqi dan Santoso (2016), laporan keuangan adalah laporan yang menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat atau jangka waktu tertentu. Menurut Weygandt et al. (2015), kegiatan akuntansi terdiri dari proses mengidentifikasi transaksi ekonomik yang relevan dengan bisnis perusahaan, kemudian mencatatnya secara sistematis dan kronologis, dan mengkomunikasikan informasi tersebut kepada pihak lain melalui laporan keuangan. Menurut IAI (2018), laporan keuangan adalah suatu penyajian
22 terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Laporan keuangan yang dihasilkan perusahaan merupakan salah satu informasi yang dapat digunakan dalam menilai kinerja perusahaan.
Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar pengguna laporan keuangan dalam pembuatan keputusan ekonomik.
Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka (IAI, 2018).
Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas. Laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas yang meliputi aset, liabilitas, ekuitas, penghasilan dan beban, termasuk keuntungan dan kerugian, kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, dan arus kas. Informasi tersebut beserta informasi lain yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan, membantu pengguna laporan keuangan dalam memprediksi arus kas masa depan entitas dan, khususnya, dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya arus kas masa depan. Penyajian yang wajar mensyaratkan representasi tepat atas dampak dari transaksi, peristiwa lain dan kondisi sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, liabilitas, penghasilan dan beban yang diatur dalam Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan (IAI, 2018).
Laporan keuangan menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang dikelompokkan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik ekonomiknya (IAI, 2016). Laporan keuangan lengkap terdiri dari:
23 laporan posisi keuangan pada akhir periode, laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain selama periode, laporan perubahan ekuitas selama periode, laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan informasi penjelasan lain, dan laporan posisi keuangan pada awal periode terdekat sebelumnya ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan (IAI, 2018).
2.2.1. Laporan Posisi Keuangan pada Akhir Periode
Laporan posisi keuangan mencakup penyajian pos-pos aset tetap, properti investasi, aset tak berwujud, aset keuangan, investasi yang dicatat menggunakan metode ekuitas, persediaan, piutang usaha dan piutang lain, kas dan setara kas, total aset yang diklasifikasi sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan aset yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual, utang usaha dan utang lain, provisi, liabilitas keuangan, liabilitas dan aset untuk pajak kini, liabilitas dan aset pajak tangguhan, liabilitas yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual, kepentingan nonpengendali (disajikan sebagai bagian dari ekuitas), dan modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (IAI, 2018). Selain itu, menurut Kieso et al. (2014), laporan posisi keuangan (statement of financial position) adalah laporan yang menyajikan aset, liabilitas, dan ekuitas perusahaan pada periode tertentu.
24
2.2.2. Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain
(Laporan Penghasilan Komprehensif) Selama Periode
Laporan penghasilan komprehensif menyajikan laba rugi, total penghasilan komprehensif lain, dan penghasilan komprehensif untuk periode berjalan, yaitu total laba rugi dan penghasilan komprehensif lain. Laba rugi adalah total penghasilan dikurangi beban, tidak termasuk komponen-komponen komprehensif lain. Penghasilan komprehensif lain berisi pos-pos penghasilan dan beban (termasuk penyesuaian reklasifikasi) yang tidak diakui dalam laba rugi sebagaimana disyaratkan atau diizinkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK).
Komponen penghasilan komprehensif lain mencakup: (a) perubahan dalam surplus revaluasi; (b) pengukuran kembali program imbalan pasti; (c) keuntungan dan kerugian yang timbul dari penjabaran laporan keuangan dari kegiatan usaha luar negeri; (d) keuntungan dan kerugian dari pengukuran kembali aset keuangan sebagai ‘tersedia untuk dijual’; (e) bagian efektif dari keuntungan dan kerugian instrumen lindung nilai dalam rangka lindung nilai arus kas. Jika entitas menyajikan laporan laba rugi tersendiri, maka entitas tidak menyajikan bagian laba rugi dalam laporan yang menyajikan penghasilan komprehensif (IAI, 2018).
Entitas menyajikan pos-pos berikut, sebagai tambahan atas bagian laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, sebagai alokasi dari laba rugi dan penghasilan komprehensif lain selama periode: (a) laba rugi selama periode yang dapat diatribusikan kepada kepentingan pengendali dan pemilik entitas induk; (b) penghasilan komprehensif selama periode yang dapat diatribusikan kepada kepentingan pengandali dan pemilik entitas induk. Jika entitas menyajikan laba rugi
25 dalam suatu laporan tersendiri, maka entitas menyajikan laba rugi selama periode yang dapat diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali dan pemilik entitas dalam laporan tersebut (IAI, 2018).
Menurut Kieso et al. (2014), laporan laba rugi perusahaan secara umum menyajikan beberapa atau semua bagian dan total dari hal-hal berikut:
a. Sales atau revenue, terdiri dari komponen penjualan, diskon, retur dan allowance, dan informasi terkait lainnya, yang memberikan informasi mengenai jumlah penjualan bersih (net sales) atau pendapatan bersih (net revenue).
b. Cost of goods sold, menunjukkan harga pokok penjualan yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menghasilkan penjualan.
c. Gross profit, merupakan jumlah laba kotor yang diperoleh dari jumlah pendapatan dikurangi dengan harga pokok penjualan.
d. Selling expenses, meliputi beban yang terkait dengan aktivitas penjualan.
e. Administrative or general expenses, merupakan beban administrasi secara umum
f. Other income and expenses, meliputi penghasilan dan beban lain yang tidak termasuk ke dalam komponen laporan laba rugi sebelumnya. Contohnya adalah penurunan nilai wajar aset, pendapatan sewa, pendapatan dividen, dan pendapatan bunga.
g. Income from operations, merupakan pendapatan perusahaan dari kegiatan operasional yang diperoleh dari laba kotor dikurangi dengan beban penjualan, beban administrasi dan umum, dan ditambah/dikurangi dengan penghasildan dan beban lain-lain.
26 h. Financing cost, merupakan beban keuangan milik perusahaan, misalnya beban
bunga.
i. Income before income tax, merupakan total pendapatan sebelum dikurangi dengan pajak yang diperoleh dari pengurangan financing cost dari income from operations.
j. Income tax, merupakan jumlah pajak penghasilan yang dikenakan atas income before income tax.
k. Income from continuing operations, merupakan hasil kinerja yang berasal dari usaha perusahaan yang masih berlangsung. Apabila perusahaan tidak memiliki keuntungan atau kerugian yang berasal dari usaha yang dihentikan maupun penjualan atas usaha yang dihentikan, maka bagian ini tidak dilaporkan dan jumlahkan dilaporkan sebagai net income
l. Discontinues operations, menunjukkan keuntungan atau kerugian yang dihasilkan akibat adanya penghentian usaha dan/atau penjualan atas usaha yang dihentikan.
m. Net income, merupakan hasil bersih dari kinerja perusahaan selama satu periode waktu.
n. Non-controlling interest, mempresentasikan alokasi net income kepada pemegang saham pengendali dan nonpengendali.
o. Earnings per share, menunjukkan jumlah laba per saham.
Ketika pos-pos penghasilan atau beban adalah material, entitas mengungkapkan sifat dan jumlahnya secara tersendiri. Keadaan yang menyebabkan pengungkapan secara tersendiri atas pos-pos penghasilan dan beban mencakup:
27 penurunan persediaan menjadi nilai realisasi neto atau penurunan aset tetap menjadi jumlah terpulihkan, dan pembalikan atas penurunan tersebut, restrukturisasi aktivitas entitas dan pembalikan provisi biaya restrukturisasi, pelepasan aset tetap, pelepasan investasi, operasi yang diberhentikan, penyelesaian tuntutan hukum, dan pembalikan provisi lain (IAI, 2018).
2.2.3. Laporan Perubahan Ekuitas Selama Periode
Laporan perubahan ekuitas mencakup informasi berikut: (a) total penghasilan komprehensif selama periode berjalan, yang menunjukkan secara tersendiri jumlah total yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan nonpengendali; (b) untuk setiap komponen ekuitas, dampak penerapan retrospektif atau penyajian kembali secara retrospektif sesuai dengan PSAK 25: Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan; (c) untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat pada awal dan akhir periode, secara tersendiri mengungkapkan masing-masing perubahan yang timbul dari laba rugi, penghasilan komprehensif lain, dan transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, yang menunjukkan secara tersendiri kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dan perubahan hak kepemilikan atas kepentingan pada entitas anak yang tidak menyebabkan hilangnya pengendalian (IAI, 2018).
Untuk setiap komponen ekuitas, entitas menyajikan jumlah dividen yang diakui sebagai distribusi kepada pemilik selama periode, dan jumlah dividen per saham terkait. Komponen ekuitas termasuk setiap kelas modal disetor, saldo akumulasi dari setiap kelas penghasilan komprehensif lain, dan saldo laba.
28 Perubahan ekuitas entitas antara awal dan akhir periode pelaporan mencerminkan naik turunnya aset neto entitas selama periode, kecuali untuk perubahan yang dihasilkan dari transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik (seperti kontribusi modal, perolehan kembali instrument ekuitas entitas dan dividen) dan biaya transaksi yang secara langsung terkait dengan transaksi tersebut, perubahan keseluruhan atas ekuitas selama periode merepresentasikan jumlah total penghasilan dan beban, termasuk keuntungan dan kerugian, yang dihasilkan oleh aktivitas entitas selama periode tersebut (IAI, 2018).
2.2.4. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan dengan cara yang paling sesuai dengan bisnisnya. Klasifikasi arus kas berdasarkan aktivitas menyediakan informasi yang memungkinkan pengguna untuk menilai dampak aktivitas tersebut terhadap posisi keuangan entitas serta terhadap jumlah kas dan setara kas. Informasi ini dapat juga digunakan untuk mengevaluasi hubungan di antara ketiga aktivitas tersebut (IAI, 2018).
Jumlah arus kas yang timbul dari aktivitas operasi adalah indikator utama untuk menentukan apakah operasi entitas telah menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi entitas, membayar dividen, dan melakukan investasi baru tanpa bantuan sumber pendanaan dari luar.
Informasi tentang komponen spesifik atas arus kas operasi historis adalah berguna,
29 dalam hubungannya dengan informasi lain, dalam memprakirakan arus kas operasi masa depan (IAI, 2018).
Arus kas dari aktivitas operasi diperoleh terutama dari aktivitas penghasil utama pendapatan entitas. Oleh karena itu, arus kas tersebut umumnya dihasilkan dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba rugi. Contoh arus kas dari aktivitas operasi adalah penerimaan kas dari penjualan barang dan pemberian jasa, penerimaan kas dari royalty, fees, komisi, dan pendapatan lain, pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa, dan pembayaran kas kepada dan untuk kepentingan karyawan. Entitas melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan salah satu dari metode: (a) metode langsung, dengan metode ini kelompok utama dari penerimaan kas bruto dan pembayaran kas bruto diungkapkan; atau (b) metode tidak langsung, dengan metode ini laba atau rugi disesuaikan dengan mengoreksi pengaruh transaksi yang bersifat nonkas, penangguhan, atau akrual dari penerimaan atau pembayaran kas untuk operasi di masa lalu atau masa depan, dan pos penghasilan atau beban yang berhubungan dengan arus kas investasi atau pendanaan (IAI, 2018).
Arus kas yang timbul dari aktivitas investasi mempresentasikan sejauh mana pengeluaran yang telah terjadi untuk sumber daya yang diintensikan untuk menghasilkan penghasilan dan arus kas masa depan. Hanya pengeluaran yang menghasilkan pengakuan atas aset dalam laporan posisi keuangan yang memenuhi syarat untuk diklasifikasikan sebagai aktivitas investasi. Contoh arus kas yang timbul dari aktivitas investasi adalah penerimaan kas dari penjualan aset tetap, aset tak berwujud, dan aset jangka panjang lain, pembayaran kas untuk memperoleh
30 instrumen utang atau instrumen ekuitas dan kepentingan dalam ventura bersama, uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain, dan penerimaan kas dari pelunasan uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain (IAI, 2018).
Arus kas yang timbul dari aktivitas pendanaan berguna untuk memprediksi klaim atas arus kas masa depan oleh para penyedia modal entitas. Contoh arus kas yang timbul dari aktivitas pendanaan adalah penerimaan kas dari penerbitan saham atau instrumen ekuitas lain, pembayaran kas kepada pemilik untuk memperoleh atau menebus saham entitas, dan pelunasan pinjaman (IAI, 2018).
2.2.5. Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi spesifik, mengungkapkan informasi yang disyaratkan oleh SAK yang tidak disajikan di bagian manapun dalam laporan keuangan, dan menyediakan informasi yang tidak disajikan di bagian manapun dalam laporan keuangan, tetapi informasi tersebut relevan untuk memahami laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan berisi informasi tambahan atas apa yang disajikan dalam laporan posisi keuangan, laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas.
Catatan atas laporan keuangan memberikan deskripsi naratif atau pemisahan pos- pos yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dan informasi mengenai pos- pos yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan (IAI, 2018).
31 Entitas mengungkapkan kebijakan akuntansi signifikan yang mencakup dasar pengukuran yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan, dan kebijakan akuntansi lain yang diterapkan yang relevan untuk memahami laporan keuangan (IAI, 2018).
2.2.5.1. Informasi Komparatif Mengenai Periode Terdekat Sebelumnya
Entitas menyajikan informasi komparatif terkait dengan periode terdekat sebelumnya untuk seluruh jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan periode berjalan, kecuali diizinkan atau disyaratkan lain oleh SAK. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya diungkapkan jika relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.
Entitas menyajikan minimal, dua laporan posisi keuangan, dua laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, dua laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), dua laporan arus kas, dan dua laporan perubahan ekuitas, serta catatan atas laporan keuangan terkait (IAI, 2018).
Entitas dapat menyajikan informasi komparatif sebagai tambahan atas laporan keuangan komparatif minimum yang disyaratkan SAK, sepanjang informasi tersebut disiapkan sesuai dengan SAK. Informasi komparatif dapat terdiri atas satu atau lebih laporan, tetapi tidak harus terdiri dari laporan keuangan lengkap.
Ketika kasus ini terjadi, entitas menyajikan informasi catatan atas laporan keuangan yang terkait untuk laporan tambahan tersebut (IAI, 2018).
32
2.2.6. Laporan Posisi Keuangan pada Awal Periode Terdekat Sebelumnya Ketika Entitas Menerapkan Suatu Kebijakan Akuntansi Secara Retrospektif atau Membuat Penyajian Kembali Pos-Pos Laporan Keuangan
Entitas menyajikan laporan posisi keuangan ketiga pada posisi awal periode terdekat sebelumnya sebagai tambahan atas laporan keuangan komparatif minimum yang disyaratkan dalam paragraf 38A SAK jika: (a) entitas menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif, membuat penyajian kembali retrospektif atas pos-pos dalam laporan keuangan atau reklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan; (b) penerapan retrospektif, penyajikan kembali retrospektif, atau reklasifikasi yang memiliki dampak material atau informasi dalam laporan posisi keuangan pada awal periode terdekat sebelumnya. Tiga laporan posisi keuangan adalah pada akhir periode berjalan, akhir periode terdekat sebelumnya, dan awal periode terdekat sebelumnya (IAI, 2018).
Jika entitas mengubah penyajian atau pengklasifikasian pos-pos dalam laporan keuangannya, maka entitas mereklasifikasi jumlah komparatif kecuali reklasifikasi tersebut tidak praktis untuk dilakukan. Jika entitas mereklasifikasi jumlah komparatif, maka entitas mengungkapkan (termasuk pada awal periode terdekat sebelumnya): (a) sifat reklasifikasi; (b) jumlah setiap pos atau kelas pos yang direklasifikasi; dan (c) alasan reklasifikasi. Jika reklasifikasi jumlah komparatif tidak praktis untuk dilakukan, maka entitas mengungkapkan: (a) alasan tidak mereklasifikasi jumlah tersebut, dan (b) sifat penyesuaian yang seharusnya akan dilakukan jika jumlah tersebut direklasifikasi (IAI, 2018).
33
2.3 Laba
Informasi penting yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi laba.
Menurut Nafarin (2007) dalam Haqiqi dan Santoso (2016), laba adalah perbedaan antara pendapatan dengan keseimbangan biaya-biaya dan pengeluaran untuk periode tertentu. Menurut IAI (2018), laba merupakan laporan utama untuk melaporkan kinerja dari suatu perusahaan selama suatu periode tertentu. Informasi tentang kinerja perusahaan, terutama tentang profitabilitas, dibutuhkan untuk mengambil keputusan tentang sumber ekonomi yang akan dikelola oleh suatu perusahaan di masa depan. Unsur yang secara langsung berkaitan dengan pengukuran laba adalah penghasilan dan beban. Pengakuan dan pengukuran penghasilan dan beban, dan laba, sebagian bergantung pada konsep modal dan pemeliharaan modal yang digunakan entitas dalam menyusun laporan keuangannya (IAI, 2018).
Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomik selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau peningkatan aset atau penurunan liabilitas yang mengakibatkan kenaikan pada ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomik selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pengeluaran atau berkurangnya aset atau terjadinya liabilitas yang mengakibatkan penurunan pada ekuitas yang tidak terkait dengan distribusi kepada penanam modal. Keuntungan mempresentasikan kenaikan manfaat ekonomik dan dengan demikian sifatnya tidak berbeda dari pendapatan sehingga tidak dianggap sebagai unsur yang terpisah. Pendapatan timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa dan dikenal dengan sebutan
34 yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa, bunga, dividen, royalti, dan sewa (IAI, 2018).
Dalam melaporkan income statement atau laporan laba rugi, terdapat berbagai elemen yang harus disajikan. Elemen-elemen income statement tersebut pada akhirnya akan menghasilkan laba. Macam-macam laba dalam laporan laba rugi yaitu gross profit/laba kotor, income from operations/laba operasional, income before income tax/laba sebelum pajak, net income/laba bersih (Kieso et al., 2014) dan contribution margin (Weygandt et al, 2018).
Gross profit/laba kotor didapat dari “revenue less cost of goods sold” yang diartikan pendapatan dikurangi dengan harga pokok penjualan. “Gross profit is computed by deducting cost of goods sold from net sales” yang artinya adalah “laba kotor dihitung dengan mengurangi harga pokok penjualan dari pendapatan bersih”.
“The reporting of gross profit provides a useful number for evaluating performance and predicting future earnings” dapat dapat diartikan “pelaporan laba kotor menyediakan angka yang berguna untuk mengevaluasi performa dan memprediksi pendapatan yang akan datang” (Kieso et al., 2014).
Income from operations/laba operasional ditentukan dengan “deducting selling and administrative expenses as well as other income and expense from gross profit.” yang dapat diartikan “mengurangi biaya penjualan dan administrasi serta pendapatan dan biaya lain dari laba kotor”. Pendapatan operasional menyoroti pos- pos yang mempengaruhi aktivitas bisnis biasa, sering digunakan oleh analis untuk membantu memprediksi jumlah, waktu, dan ketidakpastian arus kas yang akan datang, hal ini dijelaskan seperti “income from operations highlights items that
35 affect regular business activities, often used by analysts in helping to predict the amount, timing, and uncertainty of future cash flows”. “In general, the IASB takes the position that both revenues and expenses and other income and expense should be reported as a part of income from operations.” maksudnya adalah, “secara umum, IASB menganggap bahwa pendapatan dan beban dan pendapatan lain dan beban lain harus dilaporkan sebagai bagian dari laba operasional” (Kieso et al., 2014).
Income before income tax/laba sebelum pajak dihitung dengan “deducting interest expense (often referred to as financing costs) from income from operations” yang artinya adalah “mengurangi beban bunga (sering disebut sebagai beban keuangan) dari laba operasional”. Dalam IFRS, perusahaan harus melaporkan beban keuangan dalam laporan laba rugi, alasannya adalah untuk membedakan aktivitas bisnis perusahaan dengan aktivitas pendanaan perusahaan, hal ini dituliskan seperti “Under IFRS, companies must report their financing cots on the income statement, the reason for this requirement is to differentiate between a company’s business activities and its financing activities” (Kieso et al., 2014).
Net income/laba bersih dihitung dengan “deducts income tax from income before income tax” yang dapat diartikan “mengurangi pajak penghasilan dari pendapatan sebelum pajak”. “Net income represents the income after all revenues and expenses for the period are considered. It is viewed by many as the most important measure of a company’s success or failure for a given period of time.”
artinya adalah, “laba bersih menunjukkan penghasilan setelah seluruh pendapatan dan beban selama periode diperhitungkan. Laba bersih dilihat sebagai ukuran yang
36 paling penting dari kesuksesan atau kegagalan dalam suatu periode tertentu. Pajak penghasilan dilaporan dalam laporan laba rugi sebelum laba bersih karena biaya ini tidak dapat dihitung sampai seluruh pendapatan dan beban dihitung, hal ini dijelaskan dengan, “income tax is reported on the income statement right before net income because this expense cannot be computed until all the revenues and expenses are determined.” (Kieso et al., 2014).
Contribution margin juga merupakan salah satu contoh laba. “Contribution margin is the amount of revenue remaining after deducting variable costs.” yang artinya adalah “contribution margin adalah jumlah sisa pendapatan setelah dikurang dengan biaya variabel. Contribution margin sering dinyatakan sebagai jumlah total dan basis per unit (Weygandt et al., 2018)
Laba yang tinggi memberikan tambahan bagi perusahaan untuk meningkatkan output dan lebih banyak perusahaan yang akan masuk ke industri tersebut dalam jangka panjang. Laba merupakan alat yang membantu peramalan laba dan peristiwa ekonomi yang akan datang (Haqiqi dan Santoso, 2016).
2.4 Perubahan Laba
Menurut Grisely (2015), salah satu manfaat laba adalah untuk memprediksi perubahan laba perusahaan tahun yang akan datang. Menurut IAI (2016), penghasilan bersih (laba) sering digunakan sebagai ukuran kinerja atau dasar bagi ukuran yang lain seperti imbal investasi (Return on Investment) atau laba per saham (Earning per Share). Laba yang diperoleh oleh perusahaan tidak dapat dipastikan, sehingga perlu dilakukan prediksi atas perubahan laba yang terjadi dari satu masa
37 ke masa yang akan datang. Menurut Oktanto dan Nuryanto (2014), perubahan laba adalah kenaikan atau penurunan laba per tahun. Menurut Angkoso (2006) dalam Safitri (2016), laba mengalami pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
a. Besarnya perusahaan
Semakin besar suatu perusahaan, maka pertumbuhan laba yang diharapkan semakin tinggi.
b. Umur perusahaan
Perusahaan yang baru berdiri kurang memiliki pengalaman dalam meningkatkan laba.
c. Tingkat leverage
Bila perusahan memiliki tingkat utang yang tinggi, maka manajer cenderung memanipulasi laba sehingga dapat mengurangi ketepatan pertumbuhan laba, d. Tingkat penjualan
Tingkat penjualan di masa lalu yang tinggi, semakin tinggi tingkat penjualan di masa yang akan datang sehingga pertumbuhan laba semakin tinggi.
e. Perubahan laba masa lalu
Semakin besar perubahan laba masa lalu, semakin tidak pasti laba yang diperoleh di masa mendatang.
Menurut Kasmir (2016) dalam Suharti dan Kalim (2019), perubahan laba mampu menggambarkan kinerja perusahaan khususnya kemampuan perusahaan dalam mempertahankan posisi ekonominya di tengah pertumbuhan ekonomi dan sektor usahanya. Menurut Haqiqi dan Santoso (2016), perubahan laba dipengaruhi
38 oleh perubahan komponen-komponen dalam laporan keuangan. Perubahan yang terjadi disebabkan oleh perubahan komponen misalnya perubahan penjualan, perubahan harga pokok penjualan, perubahan beban operasi, perubahan beban bunga, perubahan pajak penghasilan, dan lain-lain. Perubahan laba juga disebabkan dari faktor-faktor luar seperti adanya peningkatan harga akibat inflasi dan adanya kebebasan manajerial (Haqiqi dan Santoso, 2016).
Menurut Erselina (2014), kenaikan atau penurunan laba memberikan dampak terhadap kebijakan penetapan dividen, pembayaran utang, penyisihan investasi, dan menjaga kelangsungan hidup operasional. Keyakinan manajemen dengan pertumbuhan laba perusahaan memberikan dorongan untuk memberikan kepuasan kepada pemegang saham dalam penetapan dividen. Menurut Suharti dan Kalim (2019), kinerja perusahaan dapat dikatakan baik jika mengalami perubahan laba yang positif (meningkat), sedangkan jika perubahan laba perusahaan menurun, maka dapat dikatakan bahwa kinerja perusahaan sedang mengalami penurunan kinerja.
Menurut Manurung dan Silalahi (2016), kinerja suatu perusahaan mencerminkan hasil dari serangkaian proses dengan mengorbankan berbagai sumber daya. Kinerja perusahaan dapat dinilai melalui laporan keuangan yang menyajikan informasi akuntansi secara teratur setiap periode. Perusahaan harus efektif dan efisien dalam mengelola sumber daya yang dimiliki agar dapat mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya. Semakin tinggi kinerja perusahaan maka semakin sehat perusahaan tersebut. Sehingga dapat dipastikan nilai sahamnya tinggi. Perusahaan emiten seperti inilah yang selalu menjadi incaran investor.
39 Menurut Oktanto dan Nuryatno (2014), perubahan laba yang tinggi mengindikasikan laba yang diperoleh perusahaan tinggi, sehingga tingkat pengembalian dividen perusahaan tinggi pula. Menurut Haqiqi dan Santoso (2016), penilaian tingkat keuntungan investasi oleh investor didasarkan oleh kinerja keuangan perusahaan yang dapat dilihat dari tingkat kenaikan laba dari tahun ke tahun. Menurut Rachmawati dan Handayani (2014) dalam Valerian dan Kurnia (2018), pertumbuhan laba yang positif mencerminkan bahwa perusahaan telah dapat mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk menghasilkan laba serta menunjukkan baiknya kinerja keuangan perusahaan dan begitu juga sebaliknya. Menurut Pramono (2015), perubahan laba akan berpengaruh terhadap keputusan investasi para investor dan calon investor yang akan menanamkan modalnya ke dalam perusahaan. Menurut Lusiana (2008) dalam Grisely (2015), para investor dalam menilai perusahaan tidak hanya melihat laba dalam suatu periode melainkan terus memantau perubahan laba dari tahun ke tahun.
Setiap perusahaan tentunya mengharapkan perubahan laba yang positif sehingga menunjukkan adanya pertumbuhan perusahaan. Menurut Suharti dan Kalim (2019), perubahan laba dihitung dengan cara mengurangkan laba bersih tahun ini dengan laba bersih tahun lalu kemudian dibagi dengan laba bersih tahun lalu. Menurut Suharti dan Kalim (2019), rumus perubahan laba adalah sebagai berikut:
∆Laba = Laba bersih tahun(t) - Laba bersih tahun (t-1)
Laba bersih tahun (t-1)
40 Keterangan:
∆Laba = Perubahan Laba
Laba bersih tahun(t) = Laba bersih tahun berjalan Laba bersih tahun (t-1) = Laba bersih tahun sebelumnya
Laba bersih menurut Weygandt et al. (2015), merupakan pendapatan yang didapat lebih besar daripada beban. Perhitungan laba bersih di dalam laporan laba rugi tidak termasuk transaksi investasi dan dividen antara pemegang saham.
Menurut Kieso et al. (2014), pajak penghasilan harus dikurangi dari laba sebelum pajak untuk mendapatkan laba bersih. Laba bersih sering kali digunakan untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan perusahaan dalam suatu periode waktu.
Pajak penghasilan perlu dilaporkan sebelum laba bersih dalam laporan laba rugi karena pajak penghasilan tidak dapat diperoleh sebelum seluruh pendapatan dan beban diperhitungkan (Kieso et al., 2014). Menurut IAI (2018), laba rugi selama periode mengakui seluruh pos-pos penghasilan dan beban pada suatu periode dalam laba rugi.
2.5 Current Ratio (CR)
Menurut Weygandt et al. (2015), “CR measures short-term debt-paying ability”
yang dapat diartikan “CR mengukur kemampuan membayar utang jangka pendek”.
Menurut Subramanyam (2014), CR adalah rasio yang membandingkan antara aset lancar yang dimiliki perusahaan dengan utang jangka pendek. CR menurut Hidayat
41 (2015) adalah rasio yang mengukur seberapa jauh aset lancar bisa dipergunakan untuk memenuhi kewajiban lancar (utang lancarnya).
Menurut Pramono (2015), CR menunjukkan sejauh mana aset lancar memenuhi kewajiban-kewajiban lancar, sehingga semakin besar perbandingan aset lancar dengan utang lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Menurut Ramadhan et al. (2018), apabila rasio lancar rendah, dapat dikatakan bahwa perusahaan kurang modal untuk membayar utang.
Menurut Hidayat (2015), kemampuan perusahaan dalam pembayaran utang lancar dengan aset lancar akan mempengaruhi pertimbangan calon kreditur dalam pemberian kredit jangka pendek kepada perusahaan. Dengan mengetahui rasio lancar perusahaan, semakin mudah mengetahui kemungkinan pemberian kredit oleh kreditur. Menurut Weygandt et al. (2015), perhitungan CR adalah menggunakan rumus:
Current Ratio = Current Assets Current Liabilities
Aset diklasifikasi menjadi current asset atau aset lancar jika: (1) entitas memperkirakan akan merealisasikan aset, atau memiliki intensi untuk menjual atau menggunakannya, dalam siklus operasi normal; (2) entitas memiliki aset untuk tujuan diperdagangkan; (3) entitas memperkirakan akan merealisasi aset dalam jangka waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan; atau (4) aset merupakan kas atau setara kas, kecuali aset tersebut dibatasi pertukaran atau penggunaannya untuk menyelesaikan liabilitas sekurang-kurangnya dua belas bulan setelah periode pelaporan. Aset lancar termasuk aset yang dijual, dikonsumsi atau direalisasikan
42 sebagai bagian dari siklus operasi normal meskipun aset tersebut tidak diperkirakan untuk direalisasikan dalam jangka waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan.
Aset lancar juga mencakup aset yang utamanya dimiliki untuk tujuan diperdagangkan. Aset lancar merupakan klasifikasi dari aset yang dilaporkan pada laporan posisi keuangan (IAI, 2018).
Entitas mengklasifikasikan liabilitas sebagai liabilitas jangka pendek atau current liabilities jika: (1) entitas memperkirakan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus operasi normal; (2) entitas memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan; (3) liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan; atau (4) entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menangguhkan penyelesaian liabilitas selama sekurang-kurangnya dua belas bulan setelah periode pelaporan. Persyaratan liabilitas yang dapat mengakibatkan diselesaikannya liabilitas tersebut dengan menerbitkan instrumen ekuitas, sesuai dengan pilihan pihak lawan, tidak berdampak terhadap klasifikasi liabilitas tersebut. Entitas mengklasifikasikan liabilitas keuangan sebagai liabilitas jangka pendek jika liabilitas tersebut akan jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan, meskipun kesepakatan awal perjanjian pinjaman adalah untuk jangka waktu lebih dari dua belas bulan, dan perjanjian untuk pembiayaan kembali, atau penjadwalan kembali pembayaran, atas dasar jangka panjang telah diselesaikan setelah periode pelaporan dan sebelum laporan keuangan diotorisasi untuk terbit. Liabilitas jangka pendek merupakan klasifikasi dari liabilitas yang dilaporkan pada laporan posisi keuangan (IAI, 2018).
43
2.6 Pengaruh Current Ratio (CR) Terhadap Perubahan Laba
Menurut Kasmir (2009) dalam Ifada dan Puspitasari (2016), semakin tinggi CR maka berdampak baik bagi perusahaan karena perusahaan semakin mampu memenuhi kewajiban lancar atau jangka pendeknya. Menurut Nugroho dan Yuyetta (2014), nilai aset lancar yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki banyak sumber aset yang dalam jangka pendek dapat diubah menjadi sumber pendapatan perusahaan. Sumber pendapatan yang besar dapat digunakan oleh perusahaan untuk pendanaan operasional perusahaan selanjutnya. Menurut Hutabarat (2013) dalam Valerian dan Kurnia (2018), dengan meningkatnya current ratio perusahaan diharapkan makin mampu melunasi kewajiban jangka pendeknya dengan aset lancar yang dimiliki perusahaan sehingga perusahaan dapat fokus untuk meningkatkan penjualan. Peningkatan penjualan diharapkan akan meningkatkan laba perusahaan, sehingga mendorong terjadinya peningkatan perubahan laba. Menurut Suharti dan Kalim (2019), perusahaan yang memiliki cukup besar aset lancar tidak akan mengalami masalah dalam membayar kewajiban jangka pendeknya sehingga memiliki kesempatan untuk menghasilkan laba yang maksimal melalui penjualan.Menurut hasil penelitian Erselina (2014), CR berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan laba. Menurut hasil penelitian Pramono (2015), dan penelitian Ifada dan Puspitasari (2016), CR berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perubahan laba. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugroho dan Yuyetta (2014), dan penelitian Suharti dan Kalim (2019) yang menemukan bahwa CR tidak berpengaruh terhadap perubahan laba.
44 Berdasarkan teori yang telah diuraikan, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:
Ha1: Current Ratio (CR) berpengaruh positif terhadap perubahan laba.
2.7 Debt Ratio (DR)
DR, menurut Weygandt et al. (2015), adalah “measures the percentage of the total assets that creditors provide” yang dapat diartikan bahwa, “mengukur persentase total aset yang dibiayai oleh utang”. Menurut Manurung dan Silalahi (2016), DR yaitu perbandingan antara total utang dengan total aset. Menurut Syamsuddin (2006) dalam Grisely (2015), DR digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah aset perusahaan dibiayai dengan total utang. Hal ini juga dinyatakan oleh Makiwan (2018), bahwa DR merupakan rasio yang digunakan mengukur seberapa besar aset perusahaan dibiayai oleh utang. Rasio ini dihitung dengan cara membagi total utang dengan total aset perusahaan.
Weygandt et al. (2015) menyatakannya, “this ratio indicates the company’s degree of leverage. It also provides some indication of the company’s ability to withstand losses without impairing the interests of creditors”, yang dapat diartikan
“rasio ini mengindikasikan tingkat dari leverage perusahaan. Rasio ini juga dapat mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk menahan kerugian tanpa mengurangi kepentingan kreditor”. Menurut Weygandt et al. (2015), rasio DR termasuk dalam rasio solvabilitas, yaitu rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Kreditor dan pemegang saham jangka panjang tertarik pada perusahaan yang memiliki
45 kemampuan untuk membayar bunga pada saat jatuh tempo dan memenuhi utang pokok.
Menurut Grisely (2015), semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk investasi pada aset guna menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Namun, apabila perusahaan tidak mampu menutupi seluruh beban bunga yang harus dibayar karena dana utang yang digunakan perusahaan terlampau tinggi, maka akan mengakibatkan penurunan laba yang diperoleh perusahaan (Ramadhan et al., 2018).
Menurut Makiwan (2018), DR merupakan rasio yang mengukur seberapa besar aset perusahaan dibiayai oleh utang, maka apabila rasio DR rendah, semakin kecil aset perusahaan dibiayai dengan utang. Menurut Andriyani (2015), semakin kecil jumlah pinjaman berbunga semakin kecil pula beban bunga kredit yang ditanggung perusahaan. Menurut Oktanto dan Nuryatno (2014), apabila perusahaan tidak mampu menutupi seluruh beban bunga yang harus dibayar karena dana utang yang digunakan perusahaan terlampau tinggi, maka akan mengakibatkan penurunan laba yang diperoleh perusahaan. Menurut Weygandt et al. (2015), DR dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
Debt Ratio = Total Liabilities Total Assets
Menurut IAI (2018), total liabilities (liabilitas) adalah kewajiban kini entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu, yang penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas yang mengandung manfaat ekonomik. Menurut Weygandt et al. (2015), “liabilities are defined as creditors’
46 claims on total assets and as existing debts and obligation” yang artinya adalah
“liabilitas didefinisikan sebagai klaim kreditor dari total aset yang dimiliki dan sebagai seluruh utang dan kewajiban yang ada”. Menurut Weygandt et al. (2015), perusahaan harus membayar atau menyelesaikan klaim, utang, dan kewajiban pada waktu tertentu di waktu yang akan datang dengan mentransfer aset atau jasa yang dinyatakan seperti “companies must settle or pay these claims, debts, and obligations at some time in the future by transferring assets or services”. Menurut IAI (2018), karakteristik esensial liabilitas adalah bahwa entitas memiliki kewajiban kini. Kewajiban adalah suatu tugas atau tanggung jawab untuk bertindak atau melakukan sesuatu dengan cara tertentu.
Menurut Kieso et al. (2014), liabilities dilaporkan pada laporan posisi keuangan (statement of financial position). Liabilities diklasifikasi menjadi non- current liabilities yang terdiri dari bonds payable, dan long-term notes payable, serta current liabilities yang terdiri dari account payable, notes payable, current maturities long-term debt, short-term obligations expected to be refinanced, dividends payable, customer advances and deposits, unearned revenues, sales and value-added taxes payable, dan employee-related liabilities (Kieso et al., 2014).
Dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat dan kombinasi yang berbeda dalam laporan keuangan.
Dasar pengukuran liabilitas adalah (1) biaya historis (historical cost), liabilitas dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban, atau dalam keadaan tertentu (sebagai contoh, pajak penghasilan), pada jumlah kas atau setara kas yang diekspektasikan akan dibayarkan untuk memenuhi liabilitas dalam
47 pelaksanaan usaha yang normal; (2) biaya kini (current cost), liabilitas dicatat sebesar jumlah kas atau setara kas yang tidak didiskontokan yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini; (3) nilai penyelesaian (settlement value), liabilitas dicatat sebesar nilai penyelesaiannya, yaitu jumlah kas atau setara kas yang tidak didiskontokan yang diekspektasikan akan dibayarkan untuk memenuhi liabilitas dalam pelaksanaan usaha normal; (4) nilai kini (present value), liabilitas dicatat sebesar arus kas keluar neto masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang yang diekspektasikan akan diperlukan untuk menyelesaikan liabilitas dalam pelaksanaan usaha normal (IAI, 2016).
Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh entitas sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan darimana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh oleh entitas. Manfaat ekonomik masa depan aset adalah potensi dari aset tersebut untuk memberikan kontribusi, baik langsung maupun tidak langsung, pada arus kas dan setara kas kepada entitas. Entitas biasanya menggunakan aset untuk memproduksi barang atau jasa yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan pelanggan; karena barang atau jasa ini dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan pelanggan, maka pelanggan bersedia membayar sehingga memberikan kontribusi kepada arus kas entitas. Aset entitas berasal dari transaksi atau peristiwa di masa lalu. Entitas biasanya memperoleh aset melalui pembelian atau produksi sendiri, tetapi transaksi atau juga dapat menghasilkan aset (IAI, 2018). Menurut Kieso et al.
(2014), aset dilaporkan pada laporan posisi keuangan (statement of financial position).
48 Aset diklasifikasikan menjadi non-current assets yang terdiri dari property, plant and equipment, serta current assets yang terdiri dari inventory, prepaid expenses, notes receivable, accounts receivable, interest receivable, dan cash (Kieso et al., 2014). Dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat dan kombinasi yang berbeda dalam laporan keuangan. Dasar pengukuran aset adalah (1) biaya historis (historical cost), aset dicatat sebesar jumlah yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan; (2) biaya kini (current cost), aset dicatat sebesar jumlah kas atau setara kas yang seharusnya akan dibayarkan jika aset yang sama atau aset yang setara diperoleh sekarang; (3) nilai terealisasi (realizeble value), aset dicatat sebesar nilai penyelesaiannya, yaitu jumlah kas atau setara kas yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual aset dalam pelepasan normal; (4) nilai kini (present value), aset dicatat sebesar arus kas masuk neto masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diekspektasikan akan memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal (IAI, 2016).
2.8 Pengaruh Debt Ratio (DR) Terhadap Perubahan Laba
Weygandt et al. (2015) menyatakan bahwa “the higher the percentage of total liabilities to total assets, the greater the risk that the company may be unable to meet its maturing obligations”, yang dapat diartikan “semakin besar persentase total utang dari total aset, maka semakin besar risiko perusahaan tidak dapat melunasi kewajibannya”. Menurut Oktanto dan Nuryatno (2014), apabila perusahaan tidak mampu menutupi seluruh beban bunga yang harus dibayar karena
49 dana utang yang digunakan perusahaan terlampau tinggi, maka akan mengakibatkan penurunan laba yang diperoleh perusahaan. Semakin tinggi dana utang yang digunakan, akan mengakibatkan beban bunga akan semakin besar.
Menurut penelitian Oktanto dan Nuryatno (2014) serta penelitian Grisely (2015), DR memberikan pengaruh terhadap perubahan laba. Menurut penelitian Ifada dan Puspitasari (2016), DR berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perubahan laba. Berbeda dengan penelitian menurut penelitian Riana dan Diyani (2016) serta penelitian Ramadhan et al. (2018) yang menemukan bahwa DR tidak memberikan pengaruh terhadap perubahan laba.
Berdasarkan teori yang telah diuraikan, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:
Ha2: Debt Ratio (DR) berpengaruh negatif terhadap perubahan laba.
2.9 Debt to Equity Ratio (DER)
DER menurut Subramanyam (2014) “measure of the relation between total debt and total capital” yang dapat diartikan sebagai “mengukur hubungan antara total utang dengan total modal”. Menurut Hidayat (2015), DER termasuk dalam rasio solvabilitas yaitu rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar utang jangka panjangnya. Hidayat (2015) menyatakan DER adalah perbandingan antara utang dengan ekuitas perusahaan, yang menunjukkan perbandingan antara total kewajiban dengan seluruh ekuitas.
Menurut Gitman dan Zutter, (2015), struktur modal adalah salah satu area yang paling kompleks dari keputusan finansial karena keterkaitannya dengan
50 keputusan finansial lain, yang dikatakan dengan, “capital structure is one of the most complex areas of the financial decision making because of its interrelationship with other financial decision variables”. Sumber struktur modal terdiri dari dua komponen yaitu utang dan ekuitas. Pemberi pinjaman memiliki prioritas klaim yang lebih tinggi terhadap pendapatan atau aset yang tersedia sebagai pembayaran, dan dapat memberikan tekanan hukum yang jauh lebih besar terhadap perusahaan untuk melakukan pembayaran, dibandingkan dengan pemilik saham. Tidak seperti utang yang perlu dibayar oleh perusahaan dalam jangka waktu tertentu, equity capital yang diinvestasikan dalam perusahaan tidak memiliki jangka waktu (Gitman dan Zutter, 2015).
Pada umumnya, semakin besar modal perusahaan yang berasal dari utang, semakin besar pula financial leverage perusahaan. Leverage membuat klaim milik pemegang saham biasa lebih berisiko, yang dikatakan dengan “leverage makes the claims of common stockholders even more risky”. Perusahaan yang meningkatkan penggunaan leverage secara signifikan dapat melihat bahwa biaya utang (costs of debt) bertambah, dan pemberi pinjaman semakin ragu mengenai kemampuan perusahaan membayar utangnya. Tingkat financial leverage perusahaan dalam suatu industri atau suatu lini bisnis berbeda dengan lini bisnis lain karena memiliki karakteristik operasional yang berbeda (Gitman dan Zutter, 2015).
Menurut Subramanyam (2014), perusahaan menggunakan utang dan ekuitas dalam pembiayaannya, hal ini dijelaskan dengan “companies typically carry both debt and equity financing”. Subramanyam (2014) mengatakan bahwa “creditors are generally unwilling to provide financing without protection provided by equity
51 financing. Financial leverage refers to the amount of debt financing in a company’s capital structure.” yang dapat diartikan “kreditor pada umumnya tidak bersedia memberikan pembiayaan tanpa perlindungan dari pembiayaan (jaminan) melalui ekuitas. Financial leverage menunjukkan jumlah pembiayaan utang dalam struktur modal perusahaan”. Financial leverage menurut Subramanyam (2014) adalah penggunaan utang untuk meningkatkan pendapatan, dinyatakan dengan “financial leverage is the use of debt to increase earnings”. Utang harus dibayar kembali pada suatu waktu tertentu tanpa memperhatikan kondisi finansial perusahaan, dan juga perlunya membayar beban bunga secara periodik. Kegagalan pembayaran utang pokok beserta bunganya biasanya menyebabkan berlanjut ke proses hukum yang menyebabkan pemegang saham kehilangan kontrol atas perusahaan secara keseluruhan ataupun sebagian. Ketika proporsi utang terhadap modal lebih besar, lebih tinggi pula biaya tetap yang harus dibayarkan oleh perusahaan (Subramanyam, 2014).
Menurut Manurung dan Silalahi (2016), semakin tinggi DER menunjukkan semakin tinggi penggunaan utang sebagai sumber pendanaan perusahaan. Hal ini dapat menimbulkan risiko yang cukup besar bagi perusahaan ketika perusahaan tidak mampu membayar kewajiban tersebut pada saat jatuh tempo, sehingga akan mengganggu kontinuitas operasi perusahaan. Selain itu, perusahaan akan dihadapkan pada biaya bunga yang tinggi sehingga dapat menurunkan laba perusahaan. Menurut Makiwan (2018), bagi bank (kreditor), semakin besar rasio ini, akan semakin tidak menguntungkan karena akan semakin besar risiko yang ditanggung atas kegagalan yang mungkin terjadi di perusahaan. Sebaliknya, dengan
52 rasio DER yang rendah, semakin tinggi tingkat pendanaan yang disediakan pemilik dan semakin besar batas pengamanan bagi peminjam.
Menurut Makiwan (2018), semakin rendah DER, semakin tinggi tingkat pendanaan yang disediakan pemilik dan semakin besar batas pengamanan bagi peminjam jika terjadi kerugian atau penyusutan nilai aset. Menurut Pramono (2015), sebagian investor menganggap bahwa DER dipandang sebagai besarnya tanggung jawab perusahaan terhadap pihak ketiga yaitu kreditor yang memberikan pinjaman kepada perusahaan. Menurut Erselina (2014), utang (pinjaman) melibatkan komitmen untuk membayar beban tetap dalam bentuk bunga dan pembayaran kembali pokok pinjaman. Maka Menurut Zulkifli (2018), DER yang rendah berarti biaya bunga yang dibayarkan oleh perusahaan juga rendah sehingga laba perusahaan akan meningkat. Menurut Subramanyam (2014), perhitungan DER adalah dengan rumus:
Debt-Equity Ratio = Total Debt Shareholder's Equity
Total Debt sama dengan total liabilitas. Liabilitas adalah klaim kreditor atas total aset dan juga utang serta kewajiban yang ada. Seluruh bisnis biasanya meminjam uang dan membeli barang dagang secara kredit. Perusahaan harus menyelesaikan atau membayar klaim, utang, dan kewajiban ini di masa depan dengan mentransfer aset atau jasa.
Liabilities dibagi menjadi 2 (dua), yaitu current liabilities dan non-current liabilities. Liabilitas jangka pendek adalah utang yang diperkirakan akan dibayar oleh perusahaan dalam jangka waktu satu tahun atau satu siklus operasional
53 perusahaan. Liabilitas yang tidak termasuk dalam kriteria tersebut disebut non- current liabilities. Current liabilities terdiri dari notes payable, accounts payable, unearned revenues, dan accrued liabilities (pajak, gaji, bunga). Sedangkan non- current liabilities terdiri dari bonds, yaitu secured and unsecured bonds yang terdiri dari mortgage bond, dan sinking fund bond. Bonds juga terdiri dari convertible and callable bonds (Weygandt et al., 2015).
Shareholder’s Equity (ekuitas) menurut Kieso et al. (2014) adalah “Equity is the residual interest in the assets of the company after deducting all liabilities.
Equity is often referred to as shareholders’ equity, stockholders’ equity, or corporate capital” yang artinya adalah “Ekuitas adalah sisa keuntungan dalam aset perusahaan setelah mengurangi seluruh liabilitas. Ekuitas sering dimaksudkan untuk ekuitas pemegang saham, atau modal perusahaan”. Menurut Kieso et al.
(2014), ekuitas diklasifikasi di dalam laporan posisi keuangan ke dalam kategori:
share capital, share premium, retained earnings, accummulated other comprehensive income, treasury shares, dan non-controlling interest (minority interest). Menurut IAI (2018), ekuitas adalah hak residual atas aset entitas setelah dikurangi seluruh liabilitas. Menurut IAI (2018), jumlah ekuitas ditampilkan dalam laporan posisi keuangan bergantung pada pengukuran aset dan liabilitas.
2.10 Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) Terhadap Perubahan Laba
DER yang rendah berarti semakin sedikit aset perusahaan yang dibiayai oleh utang serta semakin kecil beban bunga yang harus dibayar sehingga laba perusahaan
54 semakin meningkat. Jika kewajiban atau utang dapat dimanfaatkan dengan efektif, maka hasil yang diperoleh berupa laba dapat cukup untuk membayar biaya bunga secara periodik ditambah dengan kewajiban pokoknya (Agustina dan Silvia, 2012 dalam Wahyuni et al., 2017). Menurut Zulkifli (2018), DER yang rendah berarti biaya bunga yang dibayarkan oleh perusahaan juga rendah sehingga laba perusahaan akan meningkat.
Hasil penelitian Pramono (2015) menemukan bahwa DER memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap perubahan laba. Sedangkan penelitian menurut Oktanto dan Nuryatno (2015) menunjukkan DER memberikan pengaruh positif terhadap perubahan laba. Selain itu, menurut penelitian Hidayat (2015), DER memiliki pengaruh terhadap perubahan laba. Berbeda dengan hasil penelitian Erselina et al. (2014), penelitian Manurung dan silalahi (2016), serta penelitian Suharti dan Kalim (2019), yang menyatakan bahwa DER tidak memberikan pengaruh terhadap perubahan laba.
Berdasarkan teori yang telah diuraikan, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:
Ha3: Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif terhadap perubahan laba.
2.11 Inventory Turnover (ITO)
Menurut Oktanto dan Nuryatno (2014), ITO atau rasio perputaran persediaan merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam persediaan berputar dalam suatu periode. Menurut Safitri (2016), ITO
55 merupakan ukuran tentang seberapa cepat perputaran persediaan dalam siklus produksi normal. Menurut Weygandt et al. (2015), “ITO measures the number of times, on average, the inventory is sold during the period.” yang artinya adalah
“ITO mengukur berapa banyak, secara rata-rata, persediaan terjual selama periode berjalan”. Rata-rata persediaan terjual dapat dihitung menggunakan persediaan awal dan persediaan akhir. Menurut Subramanyam (2014), ITO mengukur kualitas dan likuiditas komponen persediaan. Kualitas persediaan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menggunakan dan menjual persediaan. Menurut Riana dan Diyani (2016), ITO atau perputaran persediaan menunjukkan kecepatan perputaran persediaan dalam siklus produksi normal.
Menurut Gunawan dan Wahyuni (2013) dalam Valerian dan Kurnia (2018), cepatnya perputaran persediaan akan memperkecil dana yang dibutuhkan untuk ditanamkan dalam persediaan dan semakin besar dana yang ditanamkan untuk kegiatan usaha lainnya sehingga mengakibatkan bertambahnya pendapatan. Selain itu, menurut Amalina dan Sabeni (2014) dalam Valerian dan Kurnia (2018), makin cepat perputaran persediaan, berarti penjualan semakin banyak dan laba yang diperoleh semakin banyak.
Menurut Oktanto dan Nuryatno (2014), ITO yang rendah memperlihatkan kurangnya pengendalian persediaan yang efektif. Rendahnya persediaan berputar dalam satu tahun menandakan rendahnya efektivitas manajemen persediaan yang dapat mempengaruhi proses produksi dalam meningkatkan penjualan atau pendapatan. Menurut Weygandt et al. (2015), ITO dihitung dengan membandingkan harga pokok penjualan (cost of goods sold) dengan rata-rata
56 persediaan (average inventory) yang dimiliki perusahaan selama 1 periode, dengan menggunakan rumus:
Inventory Turnover = Cost of Goods Sold Average Inventory
Menurut Weygandt et al. (2015), “cost of goods sold is the total cost of merchandise sold during the period. This expense is directly related to the revenue recognized from the sale of goods” yang artinya adalah “harga pokok penjualan adalah jumlah biaya persediaan yang terjual di periode berjalan. Beban ini berhubungan langsung dengan pendapatan dari penjualan barang yang diakui”.
Menurut Horngen et al. (2018), cost of goods sold adalah biaya barang jadi yang terjual kepada konsumen pada periode akuntansi saat ini. Menurut IAI (2018), biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai. Biaya persediaan dihitung dengan mengurangi harga jual persediaan dengan presentase margin bruto yang sesuai.
Terdapat 2 macam metode pencatatan harga pokok penjualan yaitu metode perpetual dan periodik dengan 2 metode arus biaya, yaitu First-in, First-out (FIFO) dan average cost. Perusahaan yang menggunakan metode periodik melakukan perhitungan dan pencatatan harga pokok penjualan di akhir periode, sedangkan perusahaan yang menggunakan metode perpetual mencatat harga pokok penjualan setiap terjadi penjualan. Metode FIFO artinya persediaan yang lebih dahulu dibeli, lebih dahulu dijual, sehingga harga pokok yang dicatat adalah biaya pembelian
57 persediaan yang lebih dahulu dibeli. Persediaan akhir yang tercatat apabila perusahaan menggunakan metode FIFO adalah sebesar biaya pembelian terakhir (most recent purchase). Sedangkan metode average cost, harga pokok penjualan dialokasikan sesuai dengan weighted-average unit cost, yang didapat dari persediaan tersedia untuk dijual (cost of goods available for sale) dibagi dengan total unit persediaan yang tersedia untuk dijual (total units available for sale).
Metode average-cost pada pencatatan perpetual disebut metode moving-average cost. Perusahaan menghitung rata-rata setiap melakukan pembelian dengan membagi persediaan tersedia untuk dijual dengan jumlah unit yang dimiliki saat itu (Weygandt et al., 2015).
Inventory atau persediaan adalah aset tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa, dalam proses produksi untuk penjualan tersebut, atau dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Persediaan diukur pada mana yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi neto. Nilai realisasi neto adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan (IAI, 2018).
Menurut Horngren et al. (2018), terdapat 3 tipe persediaan di perusahaan manufaktur, yaitu: persediaan bahan baku, yaitu persediaan yang merupakan stok yang digunakan oleh perusahaan untuk proses manufaktur atau proses produksi;
persediaan barang dalam proses, yaitu persediaan yang merupakan stok yang sudah dikerjakan sebagian namun belum selesai. Persediaan ini juga biasa disebut sebagai work in process; dan persediaan barang jadi, yaitu persediaan yang merupakan stok
58 barang yang sudah selesai proses pengerjaannya, namun belum terjual ke pihak eksternal.
Terdapat berbagai tipe biaya yang berbeda yang terkait dengan persediaan selain biaya aktual pembelian barang. Biaya terkait inventory dibagi menjadi 6 (enam) kategori, yaitu: (i) purchasing costs, yaitu harga pokok barang yang diperoleh dari pemasok, termasuk biaya angkut; (ii) ordering costs, yaitu biaya yang digunakan untuk mempersiapkan dan menerbitkan purchase orders, menerima dan melakukan inspeksi barang yang dipesan, mencocokkan invoice yang diterima dengan purchase orders, dan mencatat pembayarannya; (iii) carrying costs, yaitu biaya yang timbul ketika barang disimpan di perusahaan; (iv) stockout costs, adalah biaya yang timbul ketika perusahaan tidak memiliki persediaan sesuai dengan permintaan konsumen (stockout); (v) quality costs, adalah biaya yang terjadi untuk mencegah dan menilai kualitas inventory yang dimiliki oleh perusahaan; dan (vi) shrinkage costs, yaitu biaya yang timbul karena adanya pencuri dari luar, penggelapan karyawan, dan kesalahan klasifikasi persediaan (Hongren, 2018).
2.12 Pengaruh Inventory Turnover (ITO) Terhadap Perubahan Laba
Menurut Oktanto dan Nuryatno (2014), perusahaan menggunakan sumber daya yang dimiliki guna menunjang aktivitas perusahaan, dimana pengguna aktivitas ini dilakukan secara sangat maksimal dengan maksud memperoleh hasil yang maksimal. Menurut Hanafi dan Halim (2009) dalam Wahyuni et al. (2017), ITO
59 yang tinggi menandakan semakin tingginya persediaan berputar dalam satu tahun yang menandakan efektivitas manajemen persediaan. Hal ini berarti efektivitas perputaran persediaan yang dimiliki perusahaan sangat baik, sehingga persediaan yang dimiliki dapat meningkatkan aktivitas operasional perusahaan terutama dalam hal kemampuan untuk meningkatkan pertumbuhan laba perusahaan. Menurut Amalina dan Sabeni (2014) dalam Valerian dan Kurnia (2018), makin cepat perputaran persediaan, berarti penjualan semakin banyak dan laba yang diperoleh semakin banyak.
Hasil penelitian Oktanto dan Nuryatno (2014), serta penelitian Riana dan Diyani (2016) menunjukkan bahwa ITO tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan laba. Sedangkan menurut penelitian Linggi dan Astuti (2016), ITO memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan laba. Menurut penelitian Haqiqi dan Santoso (2016) serta penelitian Ramadhan et al. (2018) ITO berpengaruh signifikan dan negatif terhadap perubahan laba.
Berdasarkan teori yang telah diuraikan, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:
Ha4: Inventory Turnover (ITO) berpengaruh positif terhadap perubahan laba.
2.13 Total Asset Turnover (TATO)
Menurut Hidayat (2015), TATO menunjukkan bagaimana efektifitas perusahaan menggunakan seluruh aset untuk menciptakan penjualan dan laba. Menurut Menurut Pattiasina et al. (2018), “TATO ratio measures effectiveness of the use of the total assets.” yang artinya adalah rasio TATO mengukur efektifitas penggunaan
60 total aset. Menurut Robbins dan Coulter (2016), efektifitas adalah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tepat, atau menyelesaikan aktivitas-aktivitas yang secara langsung mendorong tercapainya sasaran organisasi. Selain itu, Pattiasina et al.
(2018) juga menyatakan “it examines how far the ability of all assets to generates sales”, yang artinya adalah TATO menguji seberapa jauh kemampuan seluruh aset untuk menghasilkan penjualan. Pramono (2015), rasio TATO mengukur aktivitas dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan dari aset tersebut.
TATO berfungsi untuk mengukur kemampuan perusahaan menggunakan total asetnya dalam menghasilkan penjualan bersih (Pramono, 2015).
Menurut Grisely (2015), keseimbangan kecepatan perputaran antara penjualan dan aset menunjukkan manajemen telah bekerja secara optimal.
Optimalisasi penggunaan aset dalam usaha-usaha menghasilkan laba melalui penjualan dapat dilihat dari TATO yang semakin besar. Semakin besar TATO, semakin besar pula penjualan yang dapat dihasilkan dari satu aset (Grisely, 2015).
Menurut Andriyani (2015), semakin tinggi rasio TATO berarti semakin efisien penggunaan keseluruhan aset di dalam menghasilkan penjualan. Efisiensi menurut Robbins dan Coulter (2016) adalah melakukan pekerjaan secara tepat sasaran, atau menghasilkan output sebanyak mungkin dari input sesedikit mungkin. Hal ini dikarenakan TATO yang menunjukkan perusahaan dapat memanfaatkan aset yang dimiliki untuk meningkatkan penjualan yang berdampak pada peningkatan laba (Haqiqi dan Santoso, 2016). Sehingga, menurut Pattiasina et al. (2018), semakin tinggi TATO perusahaan, semakin tinggi perubahan laba yang terjadi. Menurut Nugroho dan Yuyetta (2014), perputaran aset yang tinggi seharusnya menunjukkan
61 peningkatan penjualan yang diperoleh perusahaan dan menjadi salah satu sumber laba bagi perusahaan.
Menurut Suharti dan Kalim (2019), ketika efektivitas pengelolaan sumber daya yang dimiliki perusahaan dari ketersediaan total aset kurang baik, menyebabkan ketersediaan aset yang dimiliki tidak dapat meningkatkan aktivitas operasional perusahaan terutama dalam hal kemampuan untuk meningkatkan laba bersih yang dihasilkan semakin menurun karena perusahaan tidak dapat memanfaatkan aset secara maksimal untuk meningkatkan penjualan yang berpengaruh pada pendapatan. Menurut Ifada dan Puspitasari (2016), apabila perusahaan beroperasi dengan volume yang memadai bagi kapasitas investasinya, maka perusahaan dapat lebih efisien dalam menggunakan seluruh asetnya untuk menunjang kegiatan penjualannya. Menurut Weygandt et al. (2015), TATO dapat dihitung dengan membagi pendapatan bersih (net sales) perusahaan dengan rata- rata total aset (average total assets) yang dimiliki perusahaan, yang dapat dituliskan seperti:
Total Asset Turnover = Net Sales Average Total Assets
Net sales (Sales atau Revenue) menunjukkan nilai penjualan, diskon, allowance¸ retur, dan informasi lain yang berkaitan (Kieso et al., 2014). Menurut Weygandt et al. (2015), net sales didapat dari sales revenue yang dikurangi dengan contra revenue accounts, yaitu retur, allowances, dan diskon. Prinsip pengakuan pendapatan adalah pendapatan diakui dalam periode akuntansi apabila kewajiban telah selesai dilaksanakan (Weygandt et al., 2014).