• Tidak ada hasil yang ditemukan

4-57 d. Konsinyasi Pelaksanaan Hunian Berimbang

Dalam dokumen BAB II PERENCANAAN KINERJA... (Halaman 93-97)

AKUNTABILITAS KINERJA

4-57 d. Konsinyasi Pelaksanaan Hunian Berimbang

Konsinyasi ini dilaksanakan dalam rangka menjaring masukan/tanggapan dari dalam lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, terkait Rapermen PUPR tentang Penyelenggaraan Perumahan dengan Hunian Berimbang.

2) Permasalahan dan Tindak Lanjut

Adapun uraian permasalahan dan solusi pemecahan masalah kegiatan Konsultasi Penerapan Hunian Berimbang, sebagai berikut:

a. Permasalahan yang Dihadapi

§ Belum disahkannya rancangan Peraturan Menteri Pekerjaan

Umum dan Perumahan Rakyat tentang Penyelenggaraan Perumahan dengan Hunian Berimbang;

§ Pergantian pejabat di lingkungan Direktorat Rumah Umum dan Komersial, dalam hal ini pergantian Direktur Rumah Umum dan Komersial serta Kasubdit Fasilitasi Hunian Berimbang, sehingga memerlukan penyesuaian kebijakan kembali;

§ Banyaknya kegiatan di luar rencana yang telah dirancang sebelumnya, yang mengakibatkan terjadinya penambahan atau pengurangan survey lapangan dan FGD di daerah, sehingga data dan informasi yang didapatkan tidak seperti yang diharapkan. b. Pemecahan Masalah

§ Melakukan koordinasi, diskusi dan pembahasan dengan pihak-pihak terkait agar rancangan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tentang Penyelenggaraan Perumahan dengan Hunian Berimbang dapat segera disahkan;

§ Melakukan penyesuaian dengan cepat terhadap perubahan yang terjadi secara dinamis dan memanfaatkan semaksimal mungkin data dan informasi yang didapat dengan sebaik-baiknya. Dapat juga memanfaatkan data sekunder, masukan serta informasi yang didapat dari para narasumber dan pakar di bidang perumahan. b) Hasil Pelaksanaan Kegiatan

Berdasarkan diskusi, rapat pembahasan, FGD, konsinyasi serta survey lapangan yang telah dilaksanakan, maka hasil pelaksanaan kegiatan “Konsultasi Penerapan Hunian Berimbang” yang didapat, sebagai berikut:

1) Hunian Berimbang merupakan bagian dari upaya penyelenggaraan pembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman yang berkelanjutan dan berkeadilan;

2) Hunian berimbang merupakan alat/instrument/strategi dalam rangka pengurangan backlog (penyediaan perumahan), segresi sosial

4-58

(harmonisasi) atau keduanya, untuk memenuhi rumah yang layak huni dan terjangkau;

3) Belum berjalannya konsep penyelenggaraan perumahan dengan hunian berimbang di daerah dikarenakan:

§ Kurangnya sosialisasi akan pentingnya pelaksanaan penyelenggaraan perumahan dengan hunian berimbang;

§ Kurang pahamnya pemerintah daerah dan pelaku pembangunan akan pentingnya pelaksanaan penyelenggaraan perumahan dengan hunian berimbang. Konsep hunian berimbang banyak disalahpahami sebagai hanya sekedar menguransi backlog, padahal filosofi utamanya adalah untuk menjaga keserasian sosial dalam masyarakat melalui hidup berdampingan diantara beragam strata sosial dalam satu lingkungan hunian;

§ Belum adanya reward & punishment serta penegakkan hukum (law enforcement) yang kuat dan jelas, terkait penyelenggaraan perumahan dengan hunian berimbang di daerah;

§ Isu pergeseran tanggungjawab penyediaan perumahan dari Pemerintah ke pengembang;

§ Tidak terkendalinya harga tanah akibat dilepas ke pasar;

§ Penerapan konsep hunian berimbang perlu memperhatikan keberagaman daerah (kearifan lokal), dan tidak menerapkan skema “one fit for all”;

§ Konsep hunian berimbang belum terakomodasi/terinternalisasi ke dalam skema Rencana Tata Ruang;

§ Penerapan skema hunian berimbang kurang mengakomodasi konsep sejenis yang telah ada sebelumnya, seperti skema Kawasan Siap Bangun (Kasiba) dan Lingkungan Siap Bangun (Lisiba);

§ Penerapan suatu kebijakan publik, dalam hal ini hunian berimbang, membutuhkan dasar pijak yang kuat berupa hasil evaluasi pelaksanaan hunian berimbang;

§ Pengaturan skema hunian berimbang melalui SKB 3 (tiga) Menteri tidak memiliki legitimasi yang kuat.

4) Salah satu cara agar penyelenggaraan perumahan dengan hunian berimbang dapat diterapkan di daerah, diperlukan koordinasi dan sinergi antar seluruh pemangku kepentingan, yakni antara pemerintah, pengembang, dan perbankan, dapat dilihat dalam tabel 4.8 berikut:

Tabel 4.8 Sinergi Antar Pemangku Kepentingan dalam Penyelenggaran Hunian Berimbang di daerah

PENGEMBANG PEMERINTAH PERBANKAN

1. Pemanfaatan teknologi konstruksi 1. Membentuk komite percepatan 1. Memastikan pengembang

4-59

PENGEMBANG PEMERINTAH PERBANKAN

tepat guna (kualitas

prima, harga

murah)

pembangunan dan rencana tata ruang hunian berimbang (rumah murah) terproteksi dari pergerakkan bunga 2. Menciptakan win win situation dengan skala ekonomi dibandingkan pematokan harga tinggi 2. Membuat dan menggalakkan aturan wajib membangun hunian berimbang bagi pengembang besar, yang disertai insentif

2. Memberi bunga yang menguntungkan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) 3. Mengimplementasik an aturan Pemerintah untuk membangun hunian berimbang (rumah murah) sesuai proporsi 3. Membentuk Bank Tanah secepat mungkin 3. Memberi waktu periode maksimum bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)

5) Rekomendasi atau saran yang dapat dilakukan sebagai tindaklanjut yang didapat dari diskusi, rapat pembahasan, FGD, konsinyasi serta survey lapangan yang telah dilaksanakan, sebagai berikut:

§ Mempercepat proses pengesahan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tentang Penyelenggaraan Perumahan dengan Hunian Berimbang;

§ Review dan revisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman;

§ Penyusunan Program Gerakan Nasional Hunian Berimbang, agar dapat memicu dan mendorong semua pihak untuk melaksanakan penyelenggaraan perumahan dengan hunian berimbang di daerahnya. Gerakan ini dapat dilakukan pada tingkat Nasional, provinsi, dan kabupaten/kota;

§ Disusunnya Peraturan Presiden tentang Penyelenggaraan Perumahan dengan Hunian Berimbang;

§ Penerapan hunian berimbang di daerah melalui kontrol izin site

plan;

4-60

c) Dokumentasi

Diskusi dengan peserta rapat Koordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Sorong

FGD Pembangunan Perumahan dengan Hunian Berimbang

Konsinyasi

4. Monitoring dan Evaluasi Pembangunan Rumah Umum dan Komersial dalam Rangka Mendukung Program Satu Juta Rumah Tahun 2017 Dalam rangka mengatasi kekurangan rumah yang layak dan terjangkau di Indonesia, Presiden Republik Indonesia pada 29 April 2015 mencanangkan Program Satu Juta Rumah Untuk Rakyat. Program ini dilaksanakan selama periode 2015-2019 dengan target 1.000.000 unit rumah setiap tahun. Untuk mempercepat terealisasinya program ini, pemerintah telah melakukan berbagai upaya yaitu melakukan pembangunan rumah melalui dana APBN dan dukungan regulasi melalui penyesuaian regulasi yang sudah ada dan penyusunan regulasi baru untuk mendukung program ini. Meskipun begitu, pelaksanaan pembangunan rumah umum dan komersial yang dilakukan oleh para stakeholder belum terpantau dan tercatat secara akurat. Sehingga perlu dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pembangunan rumah umum dan komersial untuk memastikan pelaksanaan Program Satu Juta Rumah dapat teralisasi dengan baik dan tepat sasaran. Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi, nantinya juga diharapkan dapat mengidentifikasi permasalahan serta menilai kinerja atau capaian pelaksanaan Program Satu Juta Rumah.

4-61

Dalam dokumen BAB II PERENCANAAN KINERJA... (Halaman 93-97)