AKUNTABILITAS KINERJA
4-53 pembangunan perumahan tidak akan memperoleh bantuan rumah
umum (PSU) jika tidak melampirkan Surat Pernyataan kesanggupan membangun dengan konsep hunian berimbang kedalam surat usulan mereka. Disarankan juga perlu dilakukan semacam diseminasi atau
workshop terkait penerapan hunian berimbang di daerah;
Analisis yang digunakan dalam Laporan Akhir Kegiatan Pilotting Penerapan Hunian Berimbang adalah:
1) Analisis Intensitas Ruang (yang memperhitungkan alokasi ruang kawasan perkotaan, perhitungan alokasi untuk perumahan dan komposisi dalam pengadaan rumah MBR); dan
2) Analisis Kebutuhan Perumahan berdasarkan asumsi proporsi perumahan dengan skenario Pola Hunian Berimbang 1:2:3 dan proporsi anggota keluarga 1:5 sebagaimana kondisi eksisting. Hasil analisis : Kota Baru Maja merupakan kota baru yang memiliki lahan yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Dengan ketersediaan lahan yang ada, Kota Baru Maja dapat menampung masyarakat yang membutuhkan rumah khususnya MBR, termasuk menampung arus urbanisasi dari Kota Jakarta, yang dialihkan ke kota-kota baru. Dengan pengembangan Kota Baru Maja, yang juga menerapkan pola Hunian Berimbang, merupakan salah satu bentuk dukungan bagi Program Satu Juta Rumah untuk rakyat, yang telah dicanangkan oleh Presiden RI.
c) Dokumentasi
Rapat Pembahasan Kegiatan Pilotting Penerapan Hunian Berimbang
Tim berdiskusi dengan Kasie Perencanaan dan Pengendalian Perumahan, Dinas PU Prov. Kalimantan Timur terkait pembangunan perumahan secara umum di Kalimantan Timur
4-54
Peresmian Pembangunan Citra Maja Raya, oleh Menteri PUPR dan Menteri Perhubungan didampingi oleh Gubernur Banten, Bupati Lebak, Bupati Tangerang
Menteri PUPR dan Menteri Perhubungan mengunjungi rumah bersubsidi (FLPP) yang telah dibangun oleh Ciputra Group di Citra Maja Raya.
3. Konsultasi Penerapan Hunian Berimbang
Kebijakan mengenai Hunian Berimbang telah diperjelas melalui Permenpera Nomor 10 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman dengan Hunian Berimbang dan perubahannya Permenpera Nomor 7 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman dengan Hunian Berimbang. Hunian Berimbang telah lama diperkenalkan melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Perumahan Rakyat Nomor: 648-384 Tahun 1992; Nomor: 739/KPTS/1992 dan Nomor: 09/KPTS/1992 tentang Pedoman Pembangunan Perumahan dan Permukiman dengan Lingkungan Hunian yang Berimbang. Namun, penerapannya masih mengalami cukup banyak kendala, sehingga sampai saat ini masih sedikit pembangunan perumahan yang menerapkan kebijakan ini. Terkait dengan hal tersebut, perlu dilaksanakan kegiatan “Konsultasi Penerapan Hunian Berimbang”, untuk mengetahui sejauh mana penerapan Hunian Berimbang dapat dilaksanakan serta permasalahan yang dihadapi selama penerapannya.
a) Proses Pelaksanaan Kegiatan 1) Tahapan Kegiatan
a. Diskusi dan Rapat Pembahasan Pelaksanaan Hunian Berimbang
Kegiatan pembahasan yang telah dilaksanakan adalah:
§ Rapat Pembahasan yang membahas tentang garis besar kegiatan Konsultasi Penerapan Hunian Berimbang, termasuk kajian dan peraturan terkait hunian berimbang.
4-55
§ Diskusi yang membahas tentang mengapa kebijakan hunian berimbang ini sulit diterapkan di daerah, konsep apa yang dapat dihasilkan agar daerah dapat mengimplementasikan kebijakan hunian berimbang, apa solusi kedepannya agar kebijakan ini dapat diterapkan, dan sejauh mana kepedulian daerah terhadap kebijakan hunian berimbang, terutama pemerintah daerahnya.
§ Rapat Pembahasan yang membahas kegiatan Konsultasi Penerapan Hunian Berimbang, terutama terkait rencana pelaksanaan FGD di daerah.
§ Rapat Pembahasan yang membahas dan berdiskusi tentang kegiatan Konsultasi Penerapan Hunian Berimbang, terutama tentang bagaimana mekanisme serta progres persiapan FGD yang akan dilaksanakan di Kota Balikpapan (Provinsi Kalimantan Timur).
§ Rapat Pembahasan yang membahas dan berdiskusi tentang kegiatan Konsultasi Penerapan Hunian Berimbang. Bagaimana progres kegiatan tersebut, apa kendala dan permasalahannya serta apa rencana kedepan agar daerah terdorong untuk menerapkan konsep hunian berimbang ini.
§ Rapat Pembahasan yang membahas permasalahan dan usulan dari DPP REI terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman serta rancangan peraturan menteri tentang hunian berimbang;
§ Diskusi yang membahas persiapan Gerakan dan Kampanye Publik Hunian Berimbang dalam rangka mendukung penerapan hunian berimbang di daerah serta Paparan mengenai Dasar Teori dan Implikasi Kebijakan Perumahan dan Kawasan Permukiman.
§ Diskusi yang membahas laporan pelaksanaan kegiatan
Konsultasi Penerapan Hunian Berimbang yang telah diselenggarakan selama ini serta persiapan Gerakan dan Kampanye Publik Hunian Berimbang dalam rangka mendukung penerapan hunian berimbang di daerah.
§ Diskusi yang membahas kemajuan laporan pelaksanaan kegiatan Konsultasi Penerapan Hunian Berimbang yang telah diselenggarakan selama ini serta persiapan Gerakan dan Kampanye Publik Hunian Berimbang dalam rangka mendukung penerapan hunian berimbang di daerah.
b. Survey Lapangan
Pelaksanaan survey lapangan merupakan salah satu bagian dari kegiatan konsultasi penerapan hunian berimbang. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan sejauh mana
4-56
pelaksanaan hunian berimbang telah dilaksanakan serta sejauh mana apabila hunian berimbang tersebut tidak dilaksanakan dengan beberapa permasalahan yang melingkupinya. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peranan pemerintah daerah dalam pelaksanaan hunian berimbang di masing – masing wilayahnya.
§ Provinsi Maluku, mengunjungi Citra Land & Perumahan Bliss Village.
§ Provinsi Jawa Barat, mengunjungi Perumahan Bukit Kencana, Perumahan Bumi Parahyangan Kencana dan Perumahan Bukit Griya Kencana.
§ Provinsi Papua Barat, Hunian Berimbang masih belum berjalan dan belum ada perkembangan di Kota Sorong dan Kabupaten Sorong (kebanyakan pelaksanaan rumah swadaya).
c. Focus Group Discussion (FGD)
Kegiatan ini diselenggarakan untuk mengetahui permasalahan terkait penyusunan kebijakan dalam penerapan hunian berimbang di masing-masing daerah serta kendala dalam penerapan hunian berimbang dari berbagai sisi, baik dari sisi pemerintah daerah maupun dari sisi pelaku pembangunan perumahan. Selain itu, juga untuk mendapatkan informasi terkait program/kegiatan dari pemerintah daerah yang mendukung penerapan kebijakan hunian berimbang di daerahnya. Pemilihan lokasi pelaksanaan FGD berdasarkan pada perwakilan wilayah dan untuk melihat kota-kota dengan indeks kemahalan yang cukup tinggi dalam penerapan hunian berimbang.
§ Kota Balikpapan
Diperoleh beberapa masukan dalam pokok bahasan mengenai permasalahan penerapan hunian berimbang di Provinsi Kalimantan Timur.
§ Kota Pekanbaru
Diperoleh berbagai masukan terkait permasalahan penerapan hunian berimbang serta berbagai permasalahan dalam pembuatan kebijakan terkait hunian berimbang.
§ Kota Jakarta Selatan
Dimaksudkan untuk menyamakan persepsi antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, pelaku pembangunan, pakar perumahan serta akademisi terkait hunian berimbang, agar semua pihak yang terkait tersebut dapat mencapai tujuan yang sesungguhnya, yakni menyediakan rumah layak huni bagi masyarakat Indonesia.
4-57