• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daerah HAZ ( H ot  Affected Zone  )

Dalam dokumen Laporan KP Masteran (Halaman 45-60)

3.1.2 Pengelasan  SAW (Submerged Arc Welding)

3.2.1 Daerah HAZ ( H ot  Affected Zone  )

Menurut Sindo ( 1987) daerah  HAZ  merupakan daerah yang apabila dietsa akan memberikan penampakan yang berbeda dengan logam induk dan  juga dengan deposit las. Lebar dari  HAZ tergantung pada : masukan panas dan

teknologi yang digunakan, dimana daerah HAZ semakin lebar dengan meningkatnya masukan panas. Harga kekerasan sebenarnya pada tiap titik tergantung pada ( Sindo,1987),

1. Komposisi baja (%C), kandungan paduan dan inklusi

2. Temperatur puncak, waktu pada temperature puncak dan kecepatan  pendinginan.

Kekerasan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan ketangguhan dan kemungkinan terjadinya hydrogen induced cold  cracking , kekerasan Vickers harus lebih kecil atau setara dengan 350 HV.

Sedangkan untuk mencegah terjadinya  stress corrosion cracking  kekerasan Vickers harus setara atau lebih kecil dari 237 HV. Pada kasus multi-run welds akan terjadi pengurangan kekerasan karena adanya proses tempering oleh run berikut ( Sindo, 1987 ) .

3.2.2 Fusion Zone

Jika pengelasan dilakukan tanpa  filler ( autogeneus) dan jika gas  pelindung berfungsi dengan baik, maka komposisi fusion zone akan tergantug  pada komposisi logam induk. Jika tidak maka  fusion zone  tergantung pada

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang

Filler metal biasanya mengandung karbon lebih kecil dari 0.1% dan akan membeku sebagai ferit. Sedangkan pada pendinginan akan terjadi transformasi ferit ke austenite dalam dua cara yaitu (sindo, 1987):

1. Tumbuh secara epitaxial  dari batas ferit

2. Nukleasi dari batas butir ferit, hal ini akan meyebabkan bertambah dan berkurangnya feriite.

Kekuatan sambungan las dihitung berdasarkan tegangan boleh dengan anggapan bahwa hubungan antara tegangan dengan regangan mengikuti hukum Hooke dengan syarat bahwa tegangan terbesar yang terjadi tidak melebihi tegangan boleh yang telah ditentukan (Dieter, 1996).

3.2.3. Base Metal (Logam Induk )

Merupakan bagian logam yang tidak mengalami perubahan struktur akibat pengelasan.

3.3 Prosedur Pengelasan

( Welding procedure)

Dalam buku Standarisasi Simbol Dasar Pengelasan dijelaskan  bahwa (Welding Program Departemen Teknologi Produksi PT INKA 1993) :

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang

3.3.1 Simbol –  Simbol Dasar Pengelasan

Berdasarkan simbol dasar, penelasan dibagi dalam las alur, las sudut, las busur listrik dan las resistensi. Las alur diberi tanda sesuai dengan  bentuk dan las resistensi dibedakan dalam jenisnya misalnya las titik dan las garis. Sedangkan simbol-simbol dasar pengelasan digunakan utnuk menjelaskan  penampakan, penyelesaian permukaan dan lain sebagainya dari permukaan las

secara tertulis pada garis tanda.

Tabel 3.2 Simbol –  Simbol Dasar Pengelasan PT INKA

Jenis Lasan Tanda Keterangan

Las Tumpul Fles Ganda Fles Tunggal Persegi Alur V Alur X Alur Tirus Alur K Aur J Alur J Ganda Alur U Alur U Ganda V Terbuka X Terbuka Tirus Terbuka K Terbuka

Garis tegak disebelah kiri

Simetri terhadap garis tanda

Garis tegak disebelah kiri

Simetri terhadap garis tanda

Garis tegak disebelah kiri

Simetri terhadap garis tanda

Simetri terhadap garis tanda

Simetri terhadap garis tanda

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang

kiri

Simetri terhadap garis tanda

Las Sudut Tunggal

Ganda

Garis tegak disebelah kiri

Simetri terhadap garis tanda

Las Isi Manik Pelapisan Las Proyeksi Titik (Spot

Welding) Proyeksi Tumpang Pijar atau Lantak

Simetri terhadap garis tanda

Simetri terhadap garis tanda

Simetri terhadap garis tanda

Simetri terhadap garis tanda

Tabel 3.3 Simbol –  Simbol Dasar Tambahan (Suplementary) PT INKA

Pembagian Tanda

Tambahan

Keterangan

Kontur Lasan Datar

Cembung

Cekung

Cembung keluar terhadap garis tanda

Cekung Keluar terhadap garis tanda Penyelesaian Pahat Gerinda Mesin T G M

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang Pengelasan dilapangan Pengelasan Keliling Pengeasan Keliling Dilapangan

Bila sudah jelas harus dilas dilapangan tanda ini tidak  perlu lagi

3.3.2 Penggunaan dan Penempatan Tanda Gambar Las

Tabel 3.3 Contoh Penggunaan dan Penempatan Tanda PT INKA

1 Las Tumpul Alur V Tanda gambar bersudut 90

derajat Sisi Panah Dibalik anah Tebal : 19 mm Dalam Alur 16 mm Sudut Alur 60 derajat Celah akar 2 mm Dengan pelat  penahan Tebal : 12 mm Sudut Alur 45 derajat Celah akar 4.8 mm Penyelesaian dengan mesin

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang

Kedua sisi

2 Las Tumpul Alur Tirus Tunggal dan Ganda

Gris tegak dan garis miring membuat sudut 45 Sisi Panah Dibalik panah Sambungan dengan  penahan Sudut alur 45 Celah akar 6.4 mm Kedua sisi Sisi panah Dalam Alur 16 mm Sudut Alur 45 derajat Dibalik panah Celah akar 2 mm Sudut alur 45 derajat Dalam alur 9 mm

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang

Sambungan T Celah akar 2 mm Sudut alur 45 derajat Dalam alur 10 mm

3 Las Sudut Beranjut Segi tiga siku-siku

Sisi panah Dibalik panah Kedua sisi Panjang kaki 6 mm Panjang kaki 6 mm dan 12 mm Panjang kaki 6 mm Panjang lasan 500 mm

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang Panjang kaki 6 mm Panajng kaki 6 mm dan 9 mm

4 Las Sudut Terputus (Intermitent)

Sejajar ,Tergeser Tambahkan harga pajang lasan (L) dan harga jarak lasan (P)

Sisi panah Dibalik panah Kedua sisi Las sudut Panjang lasan 50 mm Jarak lasan 150 mm Las sudut tergeser Panjang kaki sisi Bawah 6 mm

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang Dibalik panah 9 mm Panjang lasan 50 mm Jarak lasan 300 mm

Las sudut tergeser Panjang kaki 6 mm Panjang las 50 mm Jarak las 300 mm

3.3.3 Perhitungan Parameter

Welding Procedure

Pada perhitungan parameter welding procedure bertujuan untuk mengetahui nilai energy (Kj/cm), energy total (Kj) Time required welding (s), Daya (watt), besar kawat yag dibutuhkan (m), dan jumlah kawat yang dibutuhkan. Speed  Weld  V   A cm  J   Energy( )60* * tot   L tot   L tot  Weld   Energy  Kj  Energy . . * 1000 ) ( weld  tot  Time  Energy  Kwatt   Daya * 60 ) ( weld   speed 

kawat  m Wire  Time

 L ( ) * 1000 * ) ( kawat   jenis(m/gr ) kawat   Berat   L kg  W  weldspeed  lengthweld   s ed  Timerequir  ( ) Keterangan:

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang

V = tegangan yang digunakan ( volt)

Weld speed  = kecepatan pengelasan (cm/mnt)

Energi (E) = tenaga yang dibutuhkan tiap pengelasan (Kj/cm) Energi total (KJ) = tenaga total yang dibutuhkan tiap pengelasan Weld l.tot = panjang lasan total (cm)

Daya (watt) = energi persatuan waktu

Time required  (s) = waktu yang dibutuhkan saat pengelasan (s) 3.3.4

Quality Level (Welding Class)

Merupakan penjelasan tentang kualitas pengelasan pada basis type , ukuran, jumlah, ketidaksempurnaan las / cacat las.

Penjelasan tentang simbol las dapat dijelaskan dengan keterangan: a = nilai tebal throat lasan fillet

 b = lebar penguatan lasan (reinforcement) d = diameter gas pore

h = ketinggian atau lebar cacat s = nilai ketebalan las butt weld t= kuran tebal material

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang

Tabel 3.6 Standart Keberterimaan Pengelasan AWS D.15PT INKA

3.4 Cacat Las

3.4.1 Distorsi

Distorsi (distortion)  merupakan cacat las yang terjadi akibat kontraksi logam las selama pengelasan yang mendorong/menarik benda kerja untuk bergerak.

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang

Gambar 3.15 Cacat Distorsi ( Regello, 2012)

1. Penyabab pengerutan benda kerja dikarenakan, heat input   yang terlalu besar dan take welding yang kurang kuat.

2. Cara mengatasinya adalah dengan mengurangi arus yang terlalu  besar, memperkuat take welding, meningkatkan kecepatan  pengelasan serta saat mengelas dalam segmen yang kecil, tunggu

hingga dingin kemudian lanjutkan las kembali.

3.4.2

Undercut 

 atau Pengerukan

Undercut   adalah salah satu jenis cacat las. Undercut   merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah alur ( groove) benda kerja yang mencair dan terletak pada tepi/kaki lasan (manik-manik las) di mana alur  benda kerja yang mencair tersebut tidak terisi oleh cairan las. Undercut 

menyebabkan slag terjebak di dalam alur yang tidak terisi oleh cai ran las.

Gambar 3.16 Undercut ( Regello, 2012)

1. Penyebab cacat undercut   dapat terjadi ketika arus yang terlalu tinggi, kecepatan pengelasan yag terlalu cepat, posisi elektroda

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang

 pada saat pengelasan tidak tepat dan ayunan elektroda saat  pengelasan tidak teratur.

2. Cara mengatasi cacat undercut diantanranya dengan menyetel arus yang tepat, mengurangi kecepatan mengelas, mempertahankan  panjang busur nyala yang tepat serta mengupayakan ayunan

elektroda yang teratur.

3.4.3 Porositas

 Porosity adalah salah satu jenis cacat pada las. Porosity merupakan sekelompok gelembung gas yang terjebak di dalam lasan.  Porosity  bisa terjadi karena proses pemadatan yang terlalu cepat. Porosity berupa rongga-rongga kecil  berbentuk bola yang mengelompok pada lokasi-lokasi lasan. Terkadang terjadi rongga besar berbentuk bola yang tunggal atau tidak mengelompok. Rongga besar tersebut adalah blow hole.

Gambar 3.17 Porositi ( Regello, 2012)

1. Penyebab cacat tersebut bisa terjadi adalah ketika, arc length terlalu panjang, benda kerja kotor, elektroda basah atau lembab, arus terlalu rendah, kecepatan las terlalu tinggi serta kandungan  belerang terlalu tinggi. Pendinginan las yang cepat dan terciptanya

gas hydrogen akibat panas las.

2. Solusi pencegahan untuk cacat ini adalah dengan menggunakan elektroda yag kering, bersihkan benda kerja dari minyak, oli, cat, debu, lapisan,  slag , embun, dan kotoran sebelum melakukan  pengelasan atau digerinda, jaga arc length selalu tepat, memperpendek nyala busur, arus disesuaikan dengan prosedur yang ditentukan, penggunaan elektroda low-hydrogen,

Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang

menggunakan baja dengan kandungan belerang yang rendah, mengurangi kelembaman dengan cara memberikan  pre-heat   serta hindari pendinginan terlalu cepat.

Dalam dokumen Laporan KP Masteran (Halaman 45-60)

Dokumen terkait