3.1.2 Pengelasan SAW (Submerged Arc Welding)
3.1.7 F lux Ar c Welding (F CAW )
Flux cored arc welding ( FCAW ) merupakan las busur listrik fluk inti tengah / pelindung inti tengah. FCAW merupakan kombinasi antara proses SMAW, GMAW dan SAW . Sumber energi pengelasan yaitu dengan menggunakan arus listrik AC atau DC dari pembangkit listrik atau melalui trafo
Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang
dan atau rectifier. FCAW adalah salah satu jenis las listrik yang memasok filler elektroda secara mekanis terus ke dalam busur listrik yang terbentuk di antara ujung filler elektroda dan metal induk. Gas pelindungnya juga sama-sama menggunakan karbon dioxida CO2. Biasanya, pada mesin las FCAW ditambah robot yang bertugas untuk menjalankan pengelasan biasa disebut dengan super anemo.
Gambar 3.10 Las FCAW ( Nursyahid, 2015)
Flux cored arc welding atau las busur berinti flux mirip dengan proses las GMAW, yaitu menggunakan elektroda solid dan tubular yang diumpankan secara kontinyu dari sebuah gulungan. Elektroda diumpankan melalui gun atau torch sambil menjaga busur yang terbentuk diantara ujung elektroda dengan base metal. FCAW menggunakan elektroda dimana terdapat serbuk flux di dalam batangnya. Butiran-butiran dalam inti kawat ini menghasilkan sebagian atau semua shielding gas yang diperlukan. Jadi berlawanan dengan GMAW , dimana seluruh gas pelindung berasal dari sumber luar. FCAW bisa juga menggunakan gas pelindung tambahan, tergantung dari jenis elektroda, logam yang dilas, dan sifat dari pengelasan yang dikerjakan.
Ada dua jenis variasi FCAW yang memiliki kegunaan berbeda- beda tergantung dari metode gas pelindung yaitu:
1. Self shielding FCAW (Pelindungan sendiri) , yaitu melindungi las yang mencair dengan gas dari hasil penguapan dan reaksi inti fluks.
2. Gas shielding FCAW (perlindungan gas) adalah dual gas, yaitu melindungi las yang mencair selain dengan gas sendiri juga
Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang
ditambah gas pelindung dari luar sistem. Kedua jenis pelindung di atas sama2 menghasilkan terak las yang memadai untuk melindungi metal las yang akan beku.
Pelindung gas umumnya menggunakan gas CO2 atau campuran CO2 dengan argon. Namun dengan keberadaan oksigen kadang akan menimbulkan problem baru yaitu dengan porositi yang dihasilkan reaksi CO2
dan oksigen yang ada di udara sekitar lasan, sehingga perlu memilih fluks yang mengandung zat yang bersifat pengikat oksigen atau deoxydizer .
3.1.7.1 Kelebihan dan Kekurangan
1. Kelebihan dari metode pengelasan FCAW adalah :
Proses FCAW-G mempunyai keunggulan yaitu penetrasinya lebih dalam dan laju pengisian lebih tinggi dibandingkan dengan proses SMAW. Dengan demikian proses las ini menjadi lebih ekonomis pada pekerjaan di bengkel-bengkel las. Unsur-unsur paduan bisa ditambahkan pada inti flux untuk membuat jenis komposisi menjadi lebih banyak, termasuk beberapa logam paduan rendah dan stainless steel . Flux memberikan perlindungan bagus pada kawah las dengan membentuk selubung gas pelindung dan lapisan slag. Meskipun demikian, proses ini tidak mentolerir tiupan angin lebih dari 5 mph tanpa porositi berlebihan. FCAW-G cocok untuk pengelasan semua posisi tanpa menimbulkan masalah lack of fusion seperti yang terdapat pada GMAW hubungan singkat.
2. Kekurangan dari metode pengelasan FCAW adalah :
Proses FCAW-G menghasilkan lebih banyak asap dari pada kawat solid GMAW . Kawat FCAW-SS bahkan menimbulkan lebih banyak asap, sehingga pada pekerjaan di bengkel-bengkel las dibutuhkan ventilasi yang memadai dan kadang-kadang memerlukan alat khusus pembuang asap di daerah welding gun. Tingkat asap pada FCAW-SS stainless steel atau pada kawat-kawat FCAW-G hampir sama dengan elektroda stick, dan lebih kecil dari pada kawat carbon steel berpelindung diri ( self-shielded wires). Pengelasan yang dilakukan dengan kawat FCAW-SS perlu kontrol yang
Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang
ketat terhadap tebal dan lebar bead dan elektrode stickout guna mendapatkan sifat-sifat ketangguhan yang tinggi.
3.1.8 Jenis-Jenis Sambungan Las
Ada lima jenis sambungan dasar pada pengelasan. Kelima jenis sambungan tersebut antara lain: butt joint, lap joint, T-joint, edge joint , dan corner joint . Berikut ilustrasi dari kelima jenis sambungan tersebut.
Gambar 3.11 Jenis-jenis Sambungan Las (Mahendratyo, 2016)
1. Butt joint merupakan sambungan di mana kedua benda kerja berada pada bidang yang sama dan disambung pada ujung kedua benda
kerja yang saling berdekatan.
2. Lap joint merupakan sambungan yang terdiri dari dua benda kerja yang saling bertumpukkan.
3. T-joint merupakan sambungan di mana salah satu benda kerja tegak lurus dengan benda kerja lainnya sehingga membentuk huruf “T”. 4. Edge joint merupakan sambungan di mana kedua benda kerja sejajar
satu sama lain dengan catatan salah satu ujung dari kedua benda kerja tersebut berada pada tingkat yang sama.
5. Corner joint merupakan sambungan di mana kedua benda kerja membentuk sudut sehingga keduanya dapat disambung pada bagian pojok dari sudut tersebut.
Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang
3.19 Pengelasan
F illet
Tukang las menggunakan las fillet saat menghubungkan flensa untuk pipa, pengelasan penampang infrastruktur, dan ketika ikat logam dengan baut
tidak cukup kuat.
Gambar 3.12 Fillet Welding ( PT INKA, 2017)
3.1.9.1 Pengelasan
fillet I ntermittent
atauPartial Joint Penetration
( PJP ) Fillet las intermiten adalah salah satu yang tidak terus menerus di seluruh sendi. Pengelasan ini digambarkan sebagai seperangkat dua angka di sebelah kanan segitiga bukan hanya satu. Nomor pertama seperti yang disebutkan sebelumnya mengacu pada panjang lasan. Angka kedua, dipisahkan dari yang pertama oleh "-", pengelasan intermiten digunakan ketika salah seorang las kontinu tidak diperlukan, atau ketika las kontinu mengancam sendi oleh warping. Las PJP ini dilakukan jika konstruksi tersebut tidak menerima beban langsung pada lasan fillet.Departemen Teknik Mesin Universitas Diponegoro Semarang
3.1.9.2
F ull Penetration/ Completed Joint Penetration
( CJP )Fillet las penuh adalah las di mana ukuran las adalah sama dengan ketebalan objek tipis bergabung bersama-sama. Digunakan jika sambungan tersebut menerima tegangan tarik lansung pada lasan butt maupun tee joint.
3.2 Zona Daerah Pengelasan