DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
1. Struktur tegakan awal pada hutan bekas tebangan 3 tahun…... 54 2. Peta PT. Mamberamo Alasmandiri... ... ... 55 3.Print outpersamaan model………...………56 4. Pertumbuhan tegakan secaraperiodik………...60
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada pengelolaan hutan menggunakan sistem silvikultur TPTI, terjadi penurunan siklus tebang dan batas diameter minimal pohon layak tebang yang diatur dalam Permenhut No. 11 tahun 2009. Hal ini menyebabkan besarnya volume tebangan yang tidak diiringi dengan peningkatan riap pertumbuhan pohon yang mengakibatkan tingkat kelestarian hutan sulit dicapai pada siklus tebang berikutnya. Riap pohon berbeda-beda untuk jenis pohon yang berbeda, tergantung oleh beberapa faktor antara lain : kesuburan tanah, iklim, dan ketersediaan air (Wartono & Manan 1992).
Penurunan siklus tebang berdampak pula pada tingginya laju deforestasi hutan dan degradasi lahan. Laju deforestasi dan degradasi hutan Indonesia selama tahun 2003–2006 mencapai 1,089 juta hektar per tahun (Kementerian Kehutanan 2009). Berbagai upaya untuk pengurangan laju deforestasi kini mulai dilakukan oleh pihak yang memiliki perhatian terhadap masalah hutan dan lingkungan hidup. Hal ini dilakukan agar dampak negatif akibat kegiatan deforestasi dapat dikurangi atau bahkan dihentikan.
Suatu tindakan adaptasi lingkungan melalui pengurangan laju deforestasi hutan dan degradasi lahan dengan cara mempertahankan kandungan karbon di hutan dapat memberikan manfaat tambahan dalam segi lingkungan maupun pendapatan yang dihasilkan dari kompensasi jasa penyerapan karbon ketika perdagangan karbon berlaku. Indonesia melakukan kerjasama dengan Norwegia dengan cara menyediakan jasa penyerapan karbon tersebut, kemudian Norwegia siap mengalokasikan 3 miliar NOK (satuan mata uang Norwegia) per tahun untuk menyokong upaya REDD (Reducing emissions from deforestation and degradation) di negara-negara berkembang yang bersedia membantu menurunkan emisi global (Angelsenet al.2010).
Kompensasi dari penyerapan karbon bisa menjadi income tambahan bagi negara yang menghasilkan jasa penyerapan karbon disamping pendapatan pokok dari sektor kehutanan yang terdiri dari sumber penerimaan negara bukan pajak
sebesar ± Rp. 2.201.613.190 yang berasal dari dana reboisasi sebesar ± Rp. 1.454.865.578.120, provisi sumberdaya hutan sebesar ± Rp. 674.358.139.370, dan iuran hak pengusahaan hutan sebesar ± Rp. 72.389.473.500 (Departemen Kehutanan 2009). Selain itu, perusahaan juga dapat memanfaatkan potensi lain selain kayu sebagai nilai tambah ketika perdagangan karbon berlaku untuk menutupi biaya tetap yang dikeluarkan dan memperoleh keuntungan tambahan disamping kompensasi penyerapan karbon. Potensi yang dapat dimanfaatkan dari hasil hutan bukan kayu yang memiliki pasar cukup baik antara lain : pemanfaatan sarang semut, usaha minyak lawang dan usaha sagu.
Sarang semut merupakan salah satu tumbuhan epifit dari hidnophytinae (Rubiaceae) yang dapat bersimbiosis dengan semut dan menempel pada tumbuhan lain tetapi tidak hidup secara parasit pada inangnya. Sarang semut merupakan hasil hutan bukan kayu yang berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit ringan dan berat, seperti kanker dan tumor, asam urat, jantung koroner, wasir, TBC, migren, rematik, dan leukemia. Tanaman ini mengandung senyawa aktif penting seperti flavanoid, tokoferol, fenolik dan kaya akan berbagai mineral yang berguna sebagai anti-oksidan dan anti-kanker (Subroto 2007).
Potensi lain yang bisa dimanfaatkan adalah kulit pohon lawang yang dapat diolah menjadi minyak lawang. Minyak Lawang adalah minyak yang dikenal sangat panas, digosokkan pada bagian yang sakit akan mendatangkan pemulihan dari sakit yang diderita. Diolah melalui proses penyulingan yang diambil dari kulit pohon lawang. Minyak lawang sangat berkhasiat untuk meredakan nyeri yang ditimbulkan oleh rematik baik rematik karena udara dingin maupun oleh karena asam urat yang berlebih. Minyak Lawang cocok digunakan untuk wilayah yang dingin sebagai penghangat badan.
Sagu (Metroxylon sagoRottb.) merupakan sumber karbohidrat yang cukup potensial di Indonesia dan sebagian besar berada di Papua. Di sekitar areal kerja perusahaan banyak ditemui tanaman sagu yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan sebagai makanan pokok. Meski sudah diketahui potensinya besar, namun bahan pangan yang satu ini belum banyak tersentuh dalam konteks pemenuhan kebutuhan pangan pokok. Selama ini sagu belum dibudidayakan secara efektif, bahkan bisa dikatakan sekedar tumbuh secara liar.
Sagu (Metroxylon spp) termasuk ordo Sapindiciflorae, sub famili Calamoideae dari familiPalmae. Nama tanaman sagu yang dengan bahasa latin Metroxylonspp, berasal dari 2 (dua) kata, yaitu :Metrayang berarti empulur, dan Xylon yang berarti Xylem. Metroxylon sagu berarti tanaman yang tumbuh di daerah berair, berbunga hanya sekali, serta toleran terhadap salinitas. Sagu termasuk salah satu dari beberapa jenis palem yang penting dan telah diolah sejak dahulu kala. Sagu dinggap penting karena memproduksi atau menghasilkan pati (tepung sagu) yang merupakan sumber karbohidrat (Flach 1983).
Potensi hutan di Indonesia yang semakin menurun setiap tahunnya diakibatkan oleh pemanfaatan kayu secara berlebihan, sehingga menyebabkan stok tegakan sebagai penyerap karbon semakin sedikit. Hal ini berkorelasi negatif dengan tingginya emisi global yang semakin bertambah setiap tahunnya. Untuk itu perlu adanya simulasi skenario pengelolaan hutan yang tepat dengan cara mengkombinasikan pengelolaan hutan berbasis karbon dengan hasil hutan bukan kayu lainya agar kelestarian tegakan dan manfaat lingkungan dapat terjaga, selain itu dari segi ekonomi perusahaan bisa memperoleh keuntungan yang maksimal.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Membuat model simulasi tegakan pada pengelolaan hutan menggunakan sistem TPTI.
2. Membuat model simulasi tegakan pada pengelolaan hutan berbasis karbon. 3. Membuat dan memilih skenario pengelolaan hutan terbaik yang dapat
dikombinasikan dengan pengelolaan hutan berbasis karbon.
1.3 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah memperoleh skenario pengelolaan hutan terbaik dengan memperhatikan manfaat kelestarian ekonomi, ekologi dan sosial. Informasi yang diperoleh dapat dijadikan arahan bagi para pemegang kebijakan atau dalam hal ini pihak pengelola HPH PT. Mamberamo Alasmandiri yang dapat digunakan sebagai indikator dalam menentukan strategi pengelolaan dan pemanfaatan hutan secara optimal.