Ameliasari. 2003. Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Pengusahaan Teh Hijau (Studi Kasus pada CV. Wijaya Tea, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat). Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Anissa, Kristiana. 2006. Analisis Daya Saing Teh Hitam Indonesia di Pasar
Internasional (Pendekatan Analisis Data Panel). Skripsi. Program Studi Manajemen agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Badan Pembangunan Nasional. 2005. Hasil Kajian Model Pertumbuhan
Pertanian. Bappenas. Jakarta
Badan Pusat statistik. 2006. Indikator Ekonomi Desember 2006. BPS. Jakarta. Badan Pusat Statistik. 2006. Statistik Indonesia 2005/2006. BPS. Jakarta Badan Pusat Statistik. 2006. Statistik Teh Indonesia 2005. BPS. Jakarta
Dadang Surjadi et all, Pengaruh Iklan Terhadap Pengaruh Pembelian Konsumen Teh Dalam Keluarga, Jurnal Agro Ekonomi, Volume 20 No.2 Oktober 2002, hlm 93
Dalimoenthe dan Kartawijaya,W, Mekanisasi Dalam Pemetikan Pucuk Teh untuk Menanggulangi Kekurangan Tenaga Pemetik, Konferensi Pertemuan Teknis Teh Nasional, Bandung (Indonesia), 8-9 Nop 1999, http://www.agrisresult.com
Dede Suganda dan Warli Sukarja, “Pemasaran Internasional Terganggu Perang Irak: Pengiriman 11.000 Ton Produk Teh Terhambat”, http://www.pikiranrakyat.com, 17 Juni 2007
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2006. Statistik Teh 2006. Jakarta
Drajat, Bambang dan Prajogo U. Hadi, Daya Saing Minyak Kelapa Sawit Indonesia di Pasar Eropa Barat, Amerika Serikat,dan Jepang, Jurnal Agro Ekonomi, Volume 15, Nomor 1, Mei 1996, hlm 73
Dradjat, Bambang. 2002. Kinerja Subsektor Perkebunan: Evaluasi Masa Lalu (1994-1998) dan Prospek Pada Era Perdagangan Bebas Dunia (2003-2008). http://www.ipard.com/art_perkebunan, download: 9 Maret 2007, pkl 18.30 WIB
Herzaman, Yodi. 1998. Analisis Daya Saing Teh Hitam dan Pengembangan Wisata Agro di PTPN VIII, Jawa Barat. Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Hidayat, Wahyu. “Pusat Penelitian Teh dan Kina Membantu Kenaikan Produktivitas”, http://www.pikiran-rakyat.com, download: 9 Maret 2007, pkl 18.00 WIB
Husni, Achmad et all. 2005. Prospek Pengembangan Agroindustri dalam Meningkatkan Daya Saing dan Ekspor Berdasarkan Permintaan Jenis Produk Komoditas Pertanian Utama. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
International Tea Comitte. 2006. Annual Bulletin of Statistics 2006. London. International Trade Centre UNCTAD/WTO, Database Perdagangan Internasional Imron, R.,A. 2001. Efisiensi Penggunaan Sumberdaya Untuk Memproduksi Teh
Hitam yang Berkelanjutan. Disertasi Program Pascasarjana. Universitas Padjadjaran. Bandung.
Kirana, Wihana J. 2001. Ekonomi Industri. Yogyakarta: BPFE
Kotler, Philip.2000. Manajemen Pemasaran. Jilid I. Hendra T, Rony AR, Benyamin M, penerjemah; Agus HPA, Bambang S, Yenna W, editor. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Lipsey, Courant, Purvis, Steiner. 1997. Pengantar Mikroeknomi Jilid Dua Edisi ke-10. Binarupa Aksara. Jakarta.
Nazir, Moh, Ph.D. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta
Pappas, James L dan Mark Hirschey. 1995. Ekonomi Manajerial Jilid II Edisi Keenam. Binarupa Aksara. Jakarta
Prihatmanti, Windhi. 2005. Analisa Struktur Pasar, Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Udang Indonesia di Pasar Amerika Serikat. Skripsi. .Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Porter, Michael E. 1990. The Competitive Advantage of Nations. Macmillan Press. Hongkong.
Putong, Iskandar. 2003. Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro. Jakarta: Ghalia Indonesia
Riskomar, Dedi “Kompetisi Indonesia dalam Penuhi Pasar Teh Dunia”. http://www.pikiran-rakyat.com, download: 9 Maret 2007, pkl 18.45 WIB Salvatore, Dominick. 1996. Ekonomi Internasional. Terjemahan. Erlangga.
Spillane, James J. 1992. Komoditi Teh : Peranannya Dalam Perekonomian Indonesia. Kanisius. Jakarta
Subarna, N., Riyanto, D. Suryadi, Wardiyatmo. 1998. Analisis Gerak dan Waktu dalam Peningkatan Prestasi Kerja Pemetik di Perkebunan Teh. Laporan Hasil Penelitian Tahun 1997/1998. Pusat Penelitian Teh dan Kina. Bandung.
Suprihatini, Rohayati. 2005. Daya Saing Ekspor Teh Indonesia di Pasar Dunia.. Jurnal Agroekonomi, Volume 23 No.1, Mei 2005:1-29
Suprihatini, Rohayati, “Selera Pasar Teh Rusia Terhadap Teh Hitam Orthodox”.http://www.lrpi.com download:11 Mei 2007, pkl 19.00 WIB Suprihatini, Rohayati “Aspek Pertumbuhan, Komposisi Penduduk, Distribusi dan
Daya Saing Teh Indonesia di Pasar Dunia”. http: //www.lrpi.com, download: 9 Mei 2007, pkl 20.00 WIB
Suprihatini, Rohayati et all, “ Faktor-faktor Kunci Percepatan Pengembangan Industri Hilir Teh di Indonesia”. http://www.lrpi.com, download: 9 Mei 2007, pkl 19.20
Suryana, A., 1989. Perspektif Mobilitas Kerja dan Kesempatan Kerja Pedesaan. Prosdising Patanas. Perkembangan Struktur Produksi, Ketenagakerjaan dan Pendapatan Rumah Tangga Pedesaan. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Swaranindita, Eka Dresti. 2005. Analisis Daya Saing Komoditas Udang Nasional di Pasar Internasional. Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Tambunan, Tulus. 2001.”Industrialisasi di Negara Sedang Berkembang Kasus Indonesia”. Ghalia Indonesia. Jakarta
Tambunan, Tulus. 2003.”Perkembangan Sektor Pertanian di Indonesia: Beberapa Isu Penting”. Ghalia Indonesia. Jakarta
Tatakomara, Edwin. 2004. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Komoditi Teh Indonesia, Serta Daya Saing Komoditi Teh di Pasar Internasional. Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
United Nations. Commodity Trade Statistics Database (COMTRADE), Database Perdagangan International. http://comtrade.un.org
Wardiyatmo, Subarna, Riyanto, D. Suryadi,. 1998. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Kerja Perkebunan Teh. Laporan Hasil Penelitian Tahun 1997/1998. Pusat Penelitian Teh dan Kina. Bandung.
Wishnubroto, Sukardi dan Rosich Attaqy, Prakiraan Hasil Pucuk Teh Atas Dasar Jumlah Hujan Bulanan di Kebun Pagilaran, Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Volume 3(1) 2002, hlm 42
Y09. “Jerat Kusut Perdagangan Teh Indonesia”. http://www.kompas.com, download: 12 Maret 2007, pkl 20.00 WIB
Lampiran 1. Negara Tujuan Ekspor Teh Berdasarkan Kode HS
Kode HS Teh Negara Tujuan
090210 Australia, Selandia Baru, Malaysia, Singapore, Vietnam, Jerman, Inggris, Belanda, Jepang, Thailand
090220 Afghanistan, Belanda, Polandia, Pakistan, Jerman, Inggris, Australia, Swiss, Saudi Arabia, Suriname, Chili, FS Micronesia
090230 Inggris, Pakistan, Rusia, Belanda, Amerika Serikat, Malaysia, Polandia, Irak, Saudi Arabia, India, Mesir, Turki, Irlandia 090240 Rusia, Pakistan, Inggris, Malaysia, Jerman, Ukraina, India,
Kanada, Sri Lanka, Belanda, Iran, Singapore, Australia Sumber: UN Comtrade, 2007
Lampiran 2. Perkembangan Ekspor Teh Vietnam
Tahun Ekspor (Ton) Laju Pertumbuhan (%)
2001 68 217 22,56 2002 74 812 9,67 2003 59 900 -19,93 2004 70 000 16,86 2005 88 000 25,71 Rata-rata 72 186 10,97 Sumber: ITC, 2006
Lampiran 3. Perkembangan Harga Teh Dunia (dalam dollar per kg)
Tahun Harga Teh (dollar per kg)
Jakarta Coonor Cochi Colombo
1996 1,14 1,08 1,26 1,88 1997 1,65 1,57 1,70 2,02 1998 1,70 1,57 1,80 2,08 1999 1,05 1,26 1,44 1,63 2000 1,20 0,87 1,16 1,75 2001 0,97 0,88 1,11 1,61 2002 1,01 0,76 0,99 1,55 2003 0,95 0,74 0,99 1,54 2004 1,02 0,80 1,16 1,78 2005 1,04 0,98 1,15 1,84 Sumber: ITC, 2006
1.1Latar Belakang
Sektor pertanian di Indonesia merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Sektor pertanian secara potensial mampu memberikan kontribusi yang besar dalam perekonomian Indonesia. Menurut BPS (2006), sampai tahun 2005 sektor pertanian menyumbang 14,54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha serta menyerap 44,04 persen tenaga kerja dari 94,9 juta angkatan kerja nasional.
Tabel. 1 Produk Domestik Bruto Indonesia Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (miliar rupiah) Tahun 2002-2005
Lapangan Usaha 2002 2003 2004 2005
Sektor Pertanian
a. Tanaman Bahan Makanan 114 981,5 119 164,8 122 611,7 125 757,5 b. Tanaman Perkebunan 37 073,3 38 693,9 39 548,0 40 429,9 c. Peternakan dan hasilnya 29 430,5 30 647,0 31 672,5 32 581,2
d. Kehutanan 17 125,4 17 213,7 17 333,8 16 981,9
e. Perikanan 33 002,8 34 667,9 37 056,8 38 640,8
Total Sektor Pertanian 231 613,5 240 387,3 248 222,8 254 391,3 Pertambangan dan
penggalian 169 932,0 167 603,8 160 100,4 162 642,0 Industri Pengolahan 419 387,8 441 754,9 469 952,4 491 699,5 Listrik, Gas, dan Air 9 868,2 10 349,2 10 889,8 11 596,6
Kontruksi 84 469,8 89 621,8 96 333,6 103 403,8
Perdagangan, Hotel dan
Restoran 243 266,6 256 516,6 271 104,9 294 396,3
Pengangkutan dan
Komunikasi 76 173,1 85 458,4 96 896,7 109 467,1
Keuangan, Real Estat dan
Jasa Perusahaan 131 523,0 140 374,4 151 187,8 161 959,6
Jasa-jasa 138 982,4 145 104,9 152 137,3 159 990,7
Produk Domestik Bruto 1 505 216,4 1 557 171,3 1 656 825,7 1 749 546,9 Sumber: BPS, 2006
Sektor pertanian mencakup sub sektor tanaman pangan, tanaman perkebunan, peternakan, kehutanan, perikanan dan hasil-hasilnya. Sub sektor perkebunan memegang peranan penting dalam pembangunan pertanian terutama
dalam penghasil devisa, penyerapan tenaga kerja dan kontribusi terhadap produk domestik bruto. Pada tahun 2005, pendapatan nasional dari sub sektor perkebunan atas dasar harga konstan sebesar 40.429,9 miliar rupiah yaitu menyumbang sebesar 2,31 persen terhadap PDB atau sebesar 15,89 persen terhadap sektor pertanian.
Komoditi teh (Camelia sinensis) merupakan salah satu komoditi sub sektor perkebunan yang penting karena khasiatnya yang sangat baik untuk kesehatan. Bagi Indonesia teh selain bermanfaat untuk kesehatan juga merupakan salah satu penghasil devisa yang diandalkan. Komoditi ini menjadi salah satu usaha andalan pemerintah karena memberikan kontribusi ekspor cukup besar diantara komoditi pertanian lainnya. Menurut data BPS tahun 2005, komoditi teh turut menyumbang devisa negara sebesar US$ 48 juta. Selain itu teh juga berperan dalam penyedia lapangan kerja dan pelestarian lingkungan.
Tabel 2. Nilai Ekspor Pertanian Indonesia Tahun 2001 – 2005 (dlm juta US$)
Komoditi 2001 2002 2003 2004 2005 Getah Karet 7,5 6,8 12,3 14,7 6,4 Kopi 182,5 218,8 251 281,5 497,7 Udang 940,1 840,4 852,7 824,0 846,9 Teh 94,6 98,1 91,8 64,8 48,0 Rempah-rempah 174,2 188,1 186,3 153,7 138,0 Tembakau 80,8 66,5 44,5 45,6 62,9 Biji Coklat 276,5 521,3 410,4 370,2 468,2 Ikan 358,8 377,6 424,1 470,7 480,5 Biji-bijian 5,2 9,7 11,8 23,2 31,1 Mutiara 25,1 11,4 17,2 5,9 7,2 Damar 17,9 22,5 20,8 16,8 15,4 Sayur-sayuran 29,9 33,2 33,2 29,9 28,7 Buah-buahan 31,7 45,8 54,1 61,4 62,7 Lainnya 213,7 130,2 116 133,7 132,6 Total 2.438,5 2.570,4 2.526,2 2496,2 2826,3 Sumber: BPS,2006
Indonesia sebagai salah satu produsen dan eksportir komoditi teh terbesar kelima di dunia memandang bahwa liberasi perdagangan dunia merupakan peluang yang cukup terbuka bagi industri teh. Di sisi lain hal ini dipandang
sebagai tantangan untuk meningkatkan daya saing agar dapat menghasilkan produk teh yang semakin kompetitif di pasar internasional. Peningkatan daya saing komoditi merupakan tantangan terbesar bagi komoditi teh di Indonesia, terutama untuk menghadapi era perdagangan bebas. Mengingat iklim persaingan yang semakin ketat, ditambah lagi dengan sudah tidak diberlakukannya kuota menyebabkan komoditi teh nasional mendapat ancaman serius dari negara-negara yang juga merupakan negara produsen teh seperti Vietnam.
Daya saing komoditi teh suatu negara produsen teh dapat dikaji secara umum dari kinerja pertumbuhan ekspor tehnya. Menurut ITC (2006), komoditi teh Indonesia sebanyak 62 persen dari total produksi Indonesia diperuntukkan untuk ekspor. Hal ini menjadi sangat penting karena memberi manfaat secara ekonomi bagi negara yaitu kontribusi terhadap devisa negara serta posisi daya saing teh Indonesia di dunia. Total ekspor komoditi teh Indonesia sejak tahun 2001 – 2005 cukup mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 ekspor teh Indonesia secara keseluruhan bernilai US$ 121.496.000. Namun, penguasaan pangsa pasar ekspor teh Indonesia terhadap total ekspor teh dunia dalam lima tahun terakhir menurun yaitu pada tahun 2001 sebesar 7,2 persen dan terus menurun sampai 6,6 persen pada tahun 2005 (tabel 3).
Tabel 3. Perbandingan Volume Ekspor Teh Indonesia dengan Beberapa Negara Produsen Teh lainnya (Ton)
Negara 2001 2002 2003 2004 2005 China 249 678 252 273 259 980 280 193 286 563 India 179 857 198 087 170 277 193 908 188 208 Kenya 258 118 272 459 269 268 333 802 339 134 Sri Lanka 287 503 285 985 290 567 290 604 298 769 Indonesia 99 721 100 185 88 175 98 572 102 294 Grand Total 1 388 920 1 437 925 1 397 389 1 536 141 1 556 511 Sumber: ITC, 2006
Ekspor teh Indonesia secara umum dibedakan menjadi dua jenis yaitu teh hijau (Green Tea) dan Teh hitam (Black Tea). Menurut ITC (2006), selama periode tahun 2001-2005 teh Indonesia yang diekspor sebagian besar dalam bentuk teh hitam yakni berkisar antara 90,68 – 96,24 persen dari total volume ekspor teh, sedangkan sisanya berkisar antara 3,76 – 9,32 persen saja yang berupa teh hijau. Rata-rata laju pertumbuhan volume ekspor teh Indonesia periode 2001-2005 sebesar -13,29 persen. Pada tahun 2001-2005 volume ekspor teh hijau mencapai angka sebesar 9 531 ton atau 9,32 persen dengan nilai ekspor sebesar US$ 23,13 juta, sedangkan teh hitam volume ekspornya mencapai 92 763 ton atau 90,68 persen dengan nilai ekspor sebesar US$ 98,4 juta. Perkembangan teh hijau dan teh hitam Indonesia tahun 2001 – 2005 dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini.
Tabel 4. Perkembangan Ekspor Teh Indonesia Tahun 2001 – 2005 Tahun
Teh Hijau Teh Hitam Jumlah
Pertumbuhan Volume (%) Volume (ton) Nilai (000US$) Volume (ton) Nilai (000US$) Volume (ton) Nilai (000US$) 2001 6 666 6 617 93 056 93 237 99 721 99 854 -5,55 2002 5 485 6 032 94 700 97 394 100 185 103 426 0,47 2003 3 564 3 967 84 611 91 849 88 175 95 816 -11,99 2004 3 707 7 235 94 865 108 783 98 572 116 018 11,79 2005 9 531 23 133 92 763 98 363 102 294 121 496 3,78 Sumber: ITC, 2006
Kondisi perdagangan teh internasional mengalami ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi atau terjadinya over supply. Hal ini terlihat pada tabel 5 perkembangan produksi teh dunia tahun 2001 – 2005 mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, sedangkan untuk konsumsi teh dunia perkembangannya berfluktuasi selama periode tahun 2001 – 2005.
Pada tahun 2005 produksi teh dunia sebesar 3 419 579 ton, sedangkan konsumsi teh dunia sebesar 1 445 600 ton. Kelebihan produksi sebesar 1 973 979 ton adalah dari jenis teh hitam, sedangkan dari jenis teh hijau justru sebaliknya. Data dari ITC mengungkapkan bahwa permintaan teh hijau dunia cenderung
meningkat dari tahun ke tahun. Kendati volumenya lebih kecil dibandingkan jenis teh hitam, namun harganya lebih baik. Kondisi perdagangan pasar teh internasional yang mengalami over supply tersebut menuntut suatu negara produsen seperti Indonesia supaya memiliki daya saing terhadap negara produsen lainnya untuk dapat mempertahankan atau meningkatkan pasar yang dimilikinya. Tabel 5. Perbandingan Produksi dan Konsumsi Teh Dunia Tahun 2001-2005
Tahun Produksi Teh Dunia (Ton) Konsumsi Teh Dunia (Ton)
2001 3 060 683 1 322 200 2002 3 081 255 1 371 600 2003 3 197 509 1 345 200 2004 3 310 348 1 425 100 2005 3 419 579 1 445 600 Sumber : ITC, 2006
Menurut Kotler (2000), memperoleh pangsa pasar merupakan hal yang tidak mudah karena pemasar harus dapat mempertimbangkan dan mengevaluasi berbagai hal dalam menentukan pasar sasaran. Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor teh kelima terbesar di dunia perlu mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar yang dimilikinya di pasar internasional, terutama karena teh merupakan salah satu komoditi perkebunan utama di Indonesia yang memberikan kontribusi dalam menambah devisa negara.
1.2 Perumusan Masalah
Teh sebagai salah satu dari komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia. Selain sebagai salah satu penghasil devisa negara, teh juga bersifat padat karya (labour intensive) sehingga banyak menyerap tenaga kerja seperti pemetik teh dan mendukung pelestarian lingkungan.
Potensi komoditi teh Indonesia dilihat dari sisi komparatif sebenarnya memiliki prospek yang baik, karena iklim serta cuaca Indonesia yang cocok untuk
budidaya teh. Menurut ITC (2006) luas areal tanaman di Indonesia menduduki peringkat keempat terluas di dunia dengan luas 142.782 hektar setelah Cina, India dan Sri Lanka.
Keunggulan komoditi teh Indonesia tersebut seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya terutama berkaitan dengan daya saing komoditi teh agar dapat bersaing di pasar internasional. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini volume ekspor teh Indonesia berfluktuasi sehingga Indonesia banyak kehilangan pangsa pasar di negara-negara yang menjadi tujuan ekspornya. Hal ini terlihat dari pangsa pasar ekspor teh Indonesia yang mengalami penurunan. Akibat ketidakstabilan volume ekspor maka beberapa pasar utama teh yang telah dikuasai Indonesia telah diambil alih oleh negara produsen teh lainnya. Pasar-pasar yang kurang dapat dipertahankan Indonesia atau telah diambil tersebut adalah Pakistan, Inggris, Belanda, Jerman, Irlandia, Rusia, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Siria, Taiwan, Mesir, Maroko, dan Australia.
Dilihat dari segi kualitas teh Indonesia juga belum bisa dikatakan stabil karena teh dari Indonesia hanya sebagai teh pencampur dan bisa diganti dengan teh yang lain. Berbeda halnya dengan teh dari Sri Lanka dan India yang dijadikan teh utama dalam kancah perdagangan teh dunia. Ketidakstabilan kualitas teh Indonesia juga dipengaruhi musim di Indonesia. Kadang kualitasnya sangat bagus, kadang jauh menurun. Saat musim kemarau, kualitas bagus, produksi sedikit dan harga tinggi. Namun di musim hujan kualitasnya rendah, produksi tinggi dan harganya turun. Akibat ketidakstabilan kualitas teh maka teh Indonesia sulit ditempatkan sebagai teh utama dalam kancah perdagangan teh dunia1.
Dalam perdagangan dunia, daya saing akan menentukan posisi suatu produk di pasar. Data terakhir berdasarkan data Global Competitiveness Report, World Economic Forum 2006, menunjukkan posisi daya saing Indonesia paling rendah di Asia Pasifik yaitu di urutan ke 50 dari 125 negara. Pada posisi ini Indonesia sebagai negara berkembang tidak memiliki kekuatan untuk bersaing terutama dengan negara-negara maju dalam kancah internasional. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekspor Indonesia yang terus menurun di kancah dunia. Pada tahun 2005 penguasaan ekspor Indonesia di dunia hanya sebesar 0,87 persen dari total keseluruhan ekspor dunia (COMTRADE, 2007).
Munculnya pesaing-pesaing baru dalam perdagangan teh dunia seperti Vietnam mempengaruhi atau bahkan dapat menurunkan daya saing Indonesia ke negara konsumen teh di dunia. Negara Vietnam sebagai pesaing Indonesia memiliki beberapa kesamaan dengan Indonesia terutama ditandai oleh rendahnya aplikasi teknologi dan padat karya. Menurut ITC (2006), pada periode 2001 – 2005 penguasaan pangsa pasar ekspor teh Vietnam terhadap dunia cenderung meningkat dan rata-rata laju pertumbuhan volume ekspor teh selama lima tahun sebesar 10,97 persen, sedangkan rata-rata laju pertumbuhan ekspor Indonesia pada periode yang sama hanya sebesar -13,29 persen. Hal ini merupakan ancaman serius bagi produk komoditi teh Indonesia.
Hal diatas menunjukkan bahwa komoditi teh Indonesia harus memiliki daya saing yang tinggi agar dapat bersaing dengan komoditi teh dari negara lain seperti Vietnam serta lebih memberikan perhatian serius terhadap upaya-upaya pengembangan sektor perkebunan khususnya komoditi teh. Pengembangan produksi dan ekspor teh dalam jangka panjang sangat bergantung pada
peningkatan kualitas komoditi, dan kemampuan daya saing dalam mendapatkan pangsa pasar baru. Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana perkembangan produksi dan ekspor komoditi teh di Indonesia? 2. Bagaimana struktur pasar kelompok komoditi teh yang dihadapi Indonesia
dalam perdagangan teh internasional?
3. Bagaimana posisi daya saing ekspor kelompok komoditi teh Indonesia di pasar internasional?
1.3Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah diatas, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Mengkaji perkembangan produksi dan ekspor komoditi teh di Indonesia. 2. Menganalisis struktur pasar kelompok komoditi teh yang dihadapi
Indonesia dalam perdagangan teh internasional.
3. Menganalisis posisi daya saing ekspor kelompok komoditi teh Indonesia di pasar internasional.
1.4Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi:
1. Para pengambil keputusan dan para pelaku ekonomi dalam sektor perkebunan khususnya komoditi teh sebagai upaya untuk merekomendasikan konsep pengembangan daya saing komoditi teh dalam menghadapi pasar internasional.
2. Masyarakat akademik, penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan untuk meneliti lebih lanjut mengenai kondisi perdagangan teh di Indonesia.
3. Pemerintah dan pihak-pihak yang berkepentingan, penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu bahan acuan dalam menetapkan kebijakan-kebijakan yang mendukung kelangsungan perdagangan teh nasional.
1.5Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dibatasi pada beberapa hal:
1. Komoditi teh yang dimaksud didasarkan pada data COMTRADE dengan kode HS 090210 (Teh hijau dikemas 3kg); HS 090220 (Teh hijau dikemas 3kg); HS 090230 (Teh hitam dikemas 3kg); HS 090240 (teh hitam dikemas 3 kg). Pemilihan kode HS tersebut didasarkan pada perbedaan negara tujuan ekspor dari masing-masing kode HS.
2. Pada penelitian ini menggunakan pembanding negara Sri Lanka, India, Kenya, Cina, Argentina, Uganda dan Tanzania. Pemilihan negara-negara tersebut karena merupakan negara produsen teh terbesar di dunia.
3. Batasan periode analisis penelitian dari tahun 2001 sampai 2005 karena keterbatasan ketersediaan data dari negara-negara produsen teh di dunia.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Keragaman Jenis Teh
Menurut Spillane (1992) teh pada umumnya digolongkan dalam empat golongan, yaitu: (1) teh yang difermentasikan atau teh hitam (fermented) ; (2) teh yang tidak difermentasikan atau teh hijau (non fermented) ; (3) teh yang setengah difermentasikan atau oolong (semi fermented) ; dan (4) teh ekstrak (extract tea).
Tanaman teh merupakan salah satu tanaman perdu yang selalu berdaun hijau (evergreen shrub) yang dapat tumbuh 15 sampai 30 kaki tingginya, akan tetapi penanaman teh terus menerus dipotong pada ketinggian tiga sampai lima kaki saja. Tanaman ini tumbuh baik dataran tinggi, dan paling produktif di dataran tropis. Daerah komersial teh dunia terpusat pada pegunungan yang terletak dekat atau di sekitar khatulistiwa antara 42° LU dan 33° LS. Tanaman teh dapat tumbuh subur di daerah dengan ketinggian 200 sampai 2 000 meter di atas permukaan air laut. Semakin tinggi letak daerahnya, semakin menghasilkan mutu teh yang baik. Menurut Spillane (1992) berdasarkan ketinggian lokasinya, pengusahaan teh dapat digolongkan ke dalam lima golongan yaitu :
1. High Grown, untuk teh dari perkebunan dengan ketinggian di atas 1 500 m seperti : Perkebunan Sinumbra, Perkebunan Sperata di Jawa Barat.
2. Good Medium, untuk teh dari perkebunan di daerah antara 1 200 – 1 500 m, seperti : Perkebunan Malabar, Perkebunan Kertamanah, Perkebunan Gunung mas, Perkebunan Goalpara di Jawa Barat.
3. Medium, untuk teh dari perkebunan di daerah antara 1 000 – 1 200 m, seperti : Perkebunan Wonosari di Jawa Timur, Perkebunan Panghaeotan di Jawa Barat.
4. Low Medium, untuk teh dari perkebunan di daerah antara 800 – 1 000 m, sperti : Perkebunan Pasir Nangka, Perkebunan Cikopi Selatan dan lainnya di Jawa Barat.
5. Common, untuk teh dari perkebunan di daerah di bawah 800 m, seperti Perkebunan Gunung Raung.
Faktor-faktor lain yang dapat mendukung bagi pengusahaan teh yang baik adalah letak dan sarana perhubungan antara perkebunan dengan pabrik pengolahan. Hal ini berkaitan dengan mutu teh yang dihasilkan mengingat pucuk teh adalah barang yang cepat busuk, dan harus segera diolah setelah dipetik paling lama 1,5 hari. Bagian yang dipanen adalah daunnya. Daun ini kemudian diolah menjadi teh hitam, teh hijau, dan teh oolong. Ketiga jenis teh ini dihasilkan dari daun tanaman yang sama dengan proses pengolahan yang berbeda. Dari ketiga teh ini yang diperdagangkan Indonesia adalah teh hitam dan teh hijau.
Teh hitam adalah teh yang dihasilkan dari proses fermentasi (proses pemeraman) yang merupakan ciri khasnya. Teh hitam ini dihasilkan dari proses pelayuan (withering) untuk menurunkan kadar air dan memudahkan penggulungan pada proses berikutnya. Pada proses penggulungan, daun teh disortasi untuk memisahkan daun yang berukuran besar dan kecil dengan tujuan agar proses fermentasi dapat dilakukan dengan sempurna dan merata hasilnya. Kemudian dilakukan fermentasi dalam ruang khusus yang dijaga kelembabannya.
Setelah proses fermentasi, daun teh dikeringkan dalam mesin pengering yang dialiri udara panas.
Teh hijau dihasilkan melalui proses pengolahan tanpa proses fermentasi, hanya melalui proses pengeringan daun setelah dipetik. Pengolahan dilakukan secara sederhana dengan proses pemanasan yang menggunakan alat yang sederhana pula. Sebelum dikonsumsi, umumnya teh hijau dicampur dengan daun melati yang telah dikeringkan. Pencampuran ini berguna untuk menghilangkan bau yang tidak dapat hilang akibat tidak difermentasi.
Teh oolong merupakan jenis peralihan antara teh hitam dan teh hijau yang mengalami setengah fermentasi, berbeda dengan proses pengolahan teh hitam, untuk menghasilkan daun teh yang telah dilayukan kemudian dipanaskan dengan menggunakan panas api atau udara panas. Setelah proses pemanasan dilakukan proses fermentasi, selanjutnya dimasukkan dalam mesin penggulung dan akhirnya dikeringkan. Teh oolong ini tidak dikenal di Indonesia dan merupakan teh khas