• Tidak ada hasil yang ditemukan

Abdillah, Masykuri, Formalisasi Syariat Islam di Indonesia, Jakarta:

Renaisan, 2005.

Ali, Denny Januar, NKRI Bersyariah atau Ruang Publik

Manusiawi?,Jakarta: Cerah Budaya Indonesia, 2019.

AD/ART FPI BAB II Pengertian Visi dan Misi.

Anshari, Endang Syaifuddin Piagam Jakarta 22 Juni 1945 ; Sebuah Konsensus Nasional Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949), Jakarta: Gema Insani Press, 1997.

Al-Qardhawi, Yusuf, Min Fiqh Ad-Daulah fil Islam, terj. Nasihin, Jakarta:

Robbani Press, cet. I, 1997.

Ash-Shiddiqy, Hasby, Memahami Syariat Islam, Semarang: Pustaka Putra, 2000.

Asymawi, Muhammad Said, Nalar Kritis Syariat, Yogyakarta: Lkis, 2004.

Azra, Azyumardi, Pergerakan Politik dari Fundamentalisme, Modernisme, hingga Post-Modernisme, Jakarta: Paramadina, cet. I, 1996.

____________, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII Akar Pembaruan Islam Indonesia, Jakarta:

Kencana, 2013.

111

Burhani, Ahmad Najib, Muhammadiyah Jawa, Jakarta: Al-Wasat Publising House, cet. I, 2010.

BERG, L.W.C. van den, Le Hadhramout Et Les Colonies Arabes Dans L’

Archipel Indien , terj. Rahayu Hidayat, Jakarta: INIS Jilid III, 1989.

Bolland, B. J., The Struggle of Islam in Moden Indonesia, The Hagus:

Martinus Nijhoff, 1971.

Dahlan, Abdul Aziz (ed), Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid I-II. Cet. I, Jakarta: PT. Ikhtiar Baru, 1996.

Djik, van Kees, Ketakutan Penjajah, 1890-1918; Pan Islamisme dan Persekongkolan Jerman-India, Jakarta; INIS, 2003.

Kurzman, Charles (Ed.), Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam

Kontemporer tentang Isu-isu Global, terj, Bahrul Ulum dan Heri Junaidi, Jakarta: Paramadina, cet. II, 2003.

Kaptein, Niko J.G. (ed), Kekacauan dan Kerusuhan: Tiga Tulisan tentang Pan-Islamisme di hindia-belanda Timur pada Akhir Abad ke-19 dan Awal Abad ke-20,terj. Lillian D. Tedjasudhana, Jakarta:

INIS, 2003.

Engineer, Asghar Ali, Islamic State, terj. Imam Mutaqin, Jogjakarta:

Pustaka Pelajar, 2000.

112

Gibb, H.A.R., Whither Islam; a Survey of Modern Movement in the Moslem World, London: Victor Gollancz LTD 14 Hendrietta Street Covent Garden, 1932

Hadikusumo, Ki Bagus, Islam Sebagai Dasar Negara dan Akhlak Pemimpin, Yogyakarta, Pustaka Rahayu, 1954.

Hamka, Ayahku: Riwayat Hidup DR. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera, cet.ke-4, Jakarta:

UMMINDA,1982.

Hasan, Noorhaidi , Laskar Jihad: Islam, Militansi, dan Pencarian Identitas di Indonesia Pasca-Orde Baru, terj. Hairus Salim, Jakarta:

Pustaka LP3ES Indonesia, 2008.

Hazairin, Piagam Jakarta: Demokrasi Pancasila, Jakarta: Tintamas, 1970.

Iqbal, Mohammad The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Lahore: Sheik Muhammad Ashraf, 1951.

Islam, Suara, Biografi Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab, Jakarta;

Suara Islam, 2012.

John Cooper, Ronald L. Nettler, dan Mohamed Mahmoud, Pemikiran Islam dari Sayyid Ahmad Khan hingga Nasr Hmid, terj. Wakhid Nur Effendi, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2002.

Latif, Yudi, Mata Air Keteladanan Pancasila Dalam Perbuatan, Bandung:

Mizan, cet. 2014.

113

________, Wawasan Dasar Pancasila Bintang Penuntun Untuk Pembudayaan, Bandung: Mizan, cet. I, 2018.

__________ Negara Paripurna Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, cet. II, 2011.

LPBA, Prospektus Lemabaga Pengajaran Bahasa Arab As-su’udi di Indonesia,Jakarta: LPBA, 1985.

Mangkusasmito, Prawoto, Pertumbuhan Historis Rumus Dasar Negara dan Sebuah Proyeksi, Jakarta: Hudaya, 1970.

______, Politik Melalui Jalur Dakwah, Jakarta: Abadi, 1998.

Maarif, M. Syafi’i, Islam dan Politik diIndonesia, Yogyakarta; IAIN Sunankalijaga Press, cet. I, 1988.

Maududi, Abu A’la, The Islamic Law and Constitution, Bandung: Mizan.

Cek. I, 1990.

__________________, Khilafah dan Kerajaan, Bandung: Mizan Media Utama, 2007.

Miswanto, Agus, Sejarah Islam Dan Kemuhammadiyahan, Magelang:

Pusat Pengembangan Studi Islam Universitas Muhammadiyah Magelang, 2012.

114

Mujani, Syaiful, Muslim Demokrat; Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca Orde Baru, Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama, 2007.

Natsir, Mohammad, Islam sebagai dasar Negara, Bandung: Pimpinan Fraksi Masyumi dalam Majelis Konstituante, 1957.

______, Islam sebagai Ideologi, edisi ke-2, Jakarta: Penyiaran Ilmu,1951.

Nashir, Haedar Islam Syariat: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia, Bandung: PT Mizan Pustaka, 2013.

Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan Jakarta: Bulan Bintang, 1994.

Noor, Deliar, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta:

LP3ES, 1980.

Pimpinan Wilayah Masyumi Jawa Timur, Hari Ulang Tahun Partai Masyumi ke-XI, Surabaya: Pimpinan Wilayah Masyumi Jawa Timur, 1956.

Raharjo, M. Dawam, Pembaruan Pemikiran Islam Indonesia,ed. Tantowi Anwari & Evi Rahmawati, Jakarta: KEMI dan LSAF, 2006.

Rahman, Fazlur , Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalis, edited and with introduction Ebrahim Moosa, Oneworld Publications, 2 Des 1999.

115

Rahmat, M. Imadun, Arus Balik Islam radikal: Transmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005.

Robert, van Niel, The Emergence of the Modern Indonesian Elite, Leiden:

KTSV, 1984.

Sa’id Al-Khin, Mushthafa, Al-‘Aqidah al-Islāmiyah, Beirut : Dar Al-Kalim Ath-Thoyyib, 1996.

Sayyid Qutbh, Milestone, New Delhi: Islamic Book Service, 1998.

Shobron, Sudarno, Studi Kemuhammadiyahan: Kajian Historis, Ideologis, dan Organisasi, Surakarta: LPID UMS, 2006.

Shihab, Habib Rizieq, Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariat, Jakarta: Suara Islam Press, 2012.

_______________, Dialog Paham Jakarta: Kumpulan Jawaban al Habib Muhammad Rizieq Bin Hussein Sihab Seputar Keraguan Terhadap Penegakkan Syariat Islam di Indonesia, Jakarta:

Komite Penegakkan Syariah Islam di Indonesia, 2006.

_______________, wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah, Jakarta: Suara Islam Press, 2012.

_______________, Hancurkan Liberalisme Tegakkan Syariat Islam, Jakarta: Islam Press, 2013.

116

_______________, Dialog FPI Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Jakarta:

Pustaka Ibn Sidah, 2008.

Soedja, Haji, Muhammadiyah dan Pendirinya, Yogyakarta: PP Muhammadiyah, Majlis Pustaka, 1989.

Soekarno, Lahirnya Pancasila, dalam tujuh Bahan Indoktrinasi, Jakarta:

Dewan Pertimbangan Agung, 1961.

_______, Pancasila Sebagai Dasar Negara, Jakarta; Kementrian Penerangan, t.t.

Stoddard, Lothrop, Dunia Baru Islam, terj. M. Mulyadi Djoyomartono dkk.

Jakarta: Gunung Agung, 1966.

Suryohadiprojo, Sayidiman, Mengobarkan Kembali Api Pancasila, Jakarta:

PT Kompas Media Nusantara, 2014.

Syubagya, P. Joko, Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek, Jakarta:

Rineka Cipta, 1990.

Wahid, Abdurrahman, Ilusi Negara Islam; Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, Jakarta: The Wahid Institut, 2009.

Yamin, Muhammad, Pembahasan Undang-undang Dasar Republik Indonesia, Jakarta; Prapanca, t.t.

Zada, Khamami, Islam Radikal: Pergulatan Ormas-Ormas Islam Garis Keras di Indonesia,Jakarta Selatan: Penerbit Teraju, 2002.

117

Zeffry, J. Alkatiri, Catatan Seorang Pejalan dari Hadrami, Jakarta:

Komunitas Bambu, 2004.

JURNAL

Bamualim, Chaider S. , Islamic Militancy and Resesment against Hadramis in Post Soeharto Indonesia: A Case Study of Habib Rizieq Syihab and His Islamic Defenders Front, Comparative of Studies South Asia, Afrika and Middle East, vol. 31, No. 2, 2011.

Bayagub, Ryusdi, Rekonstruksi Pemikiran Reformasi Islam Ahmad surkati , al-A’dalah, Volume 15 Nomor 2. Desember, 2011.

Ismail, Hadi, Teologi Muhammad ‘Abduh: Kajian Kitab Risâlat

Al-TawhÎd, Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam Volume 2 , Nomor. 2 , Desember 2012

Makrum, Teologi Rasional: Telaah Atas Pemikiran Kalam Muhammad Abduh, IAIN Mataram: Ulumuna, Volume XIII Nomor 2, Desember, 2009.

Mark Woodward, Muhammad Sani Umar, Inayah Rohmaniyah, and Mariani Yahya, Terrorism Research Institute is collaborating with

JSTOR, Salafi Violence and Sufi Tolerance? Rethinking

Conventional Wisdom, Perspectives on Terrorism, Vol. 7, No. 6 December 2013.

118

Maula, Iqbal, Pandangan muhammad Rizieq Shihab Tentang Pancasila, Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama ISSN 2089-8835 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2019.

Zakariya, H, From Makkah to Bukit Kamang?: The Moderate versus Radical Reforms in West Sumatra (1784-1819),” International Journal of Humanities and Social Sciences Vol. 1, No.14, Oktober 2011.

TESIS

Aisyah, Siti, Pemikiran Ahmad Hassan Bandung Tentang Teologi Islam, Tesis Master, Program studi Pemikiran Islam, UIN SU, 2017.

Nasution, Harun, The Islmaic State in Indonesia ; The Rise of the Ideology the Movement for ist Creation and the Theory of the Masyumi, Tesis; Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, 1965.

Syihab, Muhammad Rizieq Bin Husein, Pengaruh Pancasila Terhadap Penerapan Syariah Islam Di Indonesia, Tesis sarjana Syariah, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 2012.

SKRIPSI

119

Asih, Isnul Rahmawati Dwi, Habib Rizieq Shihab dan Politik (Pandangan Front Pembela Islam (Fpi) Dpw Sidoarjo Terhadap Aktivitas Politik Habib Rizieq Shihab), Skripsi: Fakultas Ushuluddin Dan Filsafat, UIN Sunan Ampel, 2018.

ARTIKEL

Tim Detik.com, Ini Pernyataan Habib Rizieq Dukung ISIS yang Jadi Alasan Pelarangan FPI, diakses dari https://news.detik.com/berita/d- 5316418/ini-pernyataan-habib-rizieq-dukung-isis-yang-jadi-alasan-pelarangan-fpi/2 pada 2 Februari 2021.

Agung Nara Indra, Putu, FPI dalam Lintasan Sejarah, diakses

https://tirto.id/fpi-dalam-lintasan-sejarah-b1NT#top pada Selasa 2 Februari 2021.

120

“Amanat saya selaku imam besar FPI, kepada seluruh aktivis dan kader FPI dari seluruh sayap juangnya di seluruh Indonesia. Agar di usia FPI yang ke-21 ini FPI harus memantapkan langkah perjuangan utnuk merajut persaudaraan dan menjaga bangsa dan negara. Dengan dakwah, hisbah konstitusional untuk mewujudkan NKRI Bersyariah dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara.Ingat, NKRI Bersyariah bukan NKRI Komunis Sosialis. “

“NKRI Bersyariah bukan NKRI Liberal Kapitalis. Kenapa harus NKRI Bersyariah? Karena hanya Syariah yang mampun menjaga NKRI dan Pancasila agar tidak diterkam komunis dan sosialis.

Kenapa harus NKRI Bersyariah? Karena hanya syariah yang mampu melindungi NKRI dan Pancasila agar tidak dicabik-cabik oleh liberal kapitalis. Kenapa harus NKRI Bersyariah? Karena hanya bersyariah yang mampu melestarikan tauhid yang Ketuhanan YME sebagai dasar RI.”

05.44-

07.29

“Ingat Tauhid dan syariah adalah ruh dari NKRI dan Pancasila.

Sejak kemerdekaan 17 Agustus 1945. Bahkan sejak dulu kala sejak dipimpin oleh kesultanan Islam yang harus tunduk terhadap Tauhid dan Syariah. Yang kemudian dengan sukarela kesultanan islam tersebut melebutkan dalam NKRI tanpa pamrih. Semata-mata untuk bersatu dengan Tauhid dan Syariah yang maha kuasa.”

“Allhamdulillah dalam pembukaan dan pasal 29 ayat 1 UUD 1945 telah dinyatakan dengan tegas dan jelas bahwa dasar negara republik indonesia adalah Ketuhanan YME. Artinya Tauhid merupakan landasan IDIL NKRI sehingga Indonesia patut dan layak untuk disebut sebagai negara Tauhid. Bukan negara komunis anti Tuhan. Bukan negara liberal yang bebas Tauhid dan bebas Tuhan. Dalam dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959

121

dinyatakan tegas dan jelas bahwasanya Pancasila dijiwai Piagam Jakarta dan menjadi satu kesatuan konstitusi yang tidak terpisahkan.”

07.31

08.29

“Ruh syariah Islam dalam Piagam Jakarta menjadi ruh Pancasila sejati yang tidak boleh dipisahkan dari Pancasila. Catat! Bahwa Pancasila yang berintikan Tuhan YME adalah dasar negara RI bukan pilar negara. Saya ulangi sekali lagi dan catat. Hei seluruh anak bangsa, mujahid FPI, para pejuang NKRI bahwa Pancasila yang berintikan Ketuhahan YME adalah dasar negara RI. Bukan pilar negara.”

“Mereka yang menyebut Pancasila sebagai pilar negara mereka tidak paham konstitusi bahkan gagal paham dasar negara republik Indonesia. Ironisnya justru rezim perselingkuhan antara komunis sosialis dan liberal kapitalis yang mulai berkuasa sejak reformasi latin kiri 1998 yang meras NKRI dan paling Pancasilais dan telah sengaja menggeser Pancasila. Berintikan Ketuhanan YME dari dasar negara menjadi pilar negara. “

11.15

12.00

“Karenanya pergeseran Pancasila yang berintikan Ketuhanan YME dari dasar negara menjadi pilar negara patut dicurigai ssebagai gerakan perselingkuhan antara komunis sosialis dengan liberal kapitalis untuk menghilangkan Tauhid dan Syariah dari ruh Pancasila. Dan faktanya adalah memang gerombolan ini secara rasis, masif dan sistematis menstigma tauhid sebagai musuh negara yang diberangus. Sehingga mereka sangat alergi dan murka karena bendera Tauhid mauopun istilah NKRI Bersyariah.”

“Gerombolan rasis dan masif ini merusak nilai-nilai Pancasila secara brutal. Satu sila Ketuhanan yang maha esa, mereka merusak dengan membiarkan bahkan melindungi beraneka ragam aliran sesat dan berbagai penodaan agama. Dua sila kemanusian yang adil dan beradab mereka rusak dengan kriminalisasi agama dengan persekusi para dai dan makarisasi umat Islam, dengan terorisasi ormas islam. Tiga, sila persatuan Indonesia mereka rusak degan sikap rasis dan fasis serta pecah belah umat beragama dan ado dumba atas anak bangsa.”

13.00 “Keempat, sila kerakyatan yang dipimpin oleh permusyawatan dan perwakilan. Juga mereka rusak dengan menjadikan Indonesia yang semula sebagai negara musyawarah menjadi negara dmeokrasi liberal sehingga punya rasa malu mereka menggelar secara terang terangan telanjang mata siapa pun bisa melihat mereka menggelar pemilu yang zalim dan curang. Yaitu secara

122 14.05

terstruktur, masif, fasis dan brutal. Kelima, keadlian seluruh rakyat indoesia. Mereka rusak dengan menjual aset kepada asing sehingga negara semakin bangkrut utang yang melilit dan berlipat hingga semakin terpuruk.”

“Akibat penyelewengan Pancasila yang dilakukan oleh rezim zalim dan curang telah menimbulkan ketidakpuasan rakyat di berbagai daerah. Sehingga menyuburkan gerakan separatis yang menghantarkan kepada disentigrasi bangsa Indonesia. Ingat, NKRI dari sambang sampai merauke tetap harus bersatu sejengkal tanah pun tidak boleh lepas dari pangkuan ibu pertiwi.

Lebih baik rezim zalim segera bubar, jangan NKRI yang bubar.”

14.47

15.57

“Jangan korbankan NKRI untuk rezim yang curang dan zalim meruntuhkan sendi keadilan dan merusak nila-nilai pancasila selama ini. oleh karena itu FPI wajib berada di garis terdepan menjaga NKRI untuk selamatkan agama, bangsa dan negara dengan segala resikonya. Semboyan juang FPI adalah hidup mulia atau mati syahid. Jadi kesimpulan akhir dari paparan dari amanat FPI yang ke 21 ini adalah sesungguhnya secara legal konstitusional maupun sosial historynya Indonesia sudah sangat benar FPI menyebut NKRI sebagai negara Tauhid.”

“Dan sudah sangat tepat FPI melebelkan NKRI sebagai negara musyawarah. Serta sudah tepat dan benar pula FPI memperjuangkan NKRI Bersyariah. Hanya NKRI Bersyariah yang menjunjung ayat suci di atas konstitusi sehingga harus selalu dijaga agar tidak bertentangan dengan ayat suci yang tidak boleh diganti. Karena merupakan wahyu Ilahi yang firman maha tinggi. Ayo semua mujahi FPI dan pejuang NKRI kibarkan bendera merah putihmu. Semuanya kibarkan bendera bangsa dan negaramu.”

17.57 “Amanat ini saya sampaikan untuk menjadi pegangan bagi seluruh pengurus dan seluruh kader di semua sayap juang dalam memantapkan perjuangan ke depan yang penuh ancaman dan tantangan. Insyaallah selama kita ikhlas dan bersatu, istiqomah berjuang di jalan Allah niscaya akan tebruka aneka jalan menuju kemenangan. Allah nyatakan dalam Al-Quran. Dan jika allah sudah buka, maka niscaya kemenangan akan diraih dalam waktu dekat.”

“Pertolongan datang dari Allah dan kemenangan sudah dekat, maka berikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.

Saya meminta dengan sangat, dari lubuk paling dalam, tolong doakan saya sekeluarga yang sudah satu tahun lebih untuk

123

mencabut pencekalan saya di Arab Saudi agar bisa segera kembali ke tanah air agar bisa bergabung untuk melawan segala kezaliman dan kecurangan.”