• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMIKIRAN RIZIEQ SYIHAB TENTANG ISLAM DAN PANCASILA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMIKIRAN RIZIEQ SYIHAB TENTANG ISLAM DAN PANCASILA"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

PEMIKIRAN RIZIEQ SYIHAB TENTANG ISLAM DAN PANCASILA

Skripsi

Diajukan Kepada Ilmu Fakultas Ushuluddin

Untuk memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)

Disusun oleh :

Zainuddin 11140331000051

JURUSAN AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1442 H / 2021

(2)

i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

Pemikiran Rizieq Syihab Tentang Islam dan Pancasila

Skripsi

Diajukan ke Fakultas Ushuluddin Untuk Memenuhi Persyaratan Gelar Sarjana Agama (S.Ag)

Oleh:

Zainuddin

NIM: 11140331000051 Dosen Pembimbing

Rosmaria Sjafariah Widjajanti, S.S., M.Si.

NIP.19710409 199803 2 003

PROGRAM STUDI AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1442/2021 M

(3)

ii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi berjudul PEMIKIRAN HABIEB RIZIEQ SYIHAB TENTANG ISLAM DAN PANCASILA telah diajukan dalam sidang munaqasyah, Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Agama (S. Ag) pada Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam.

Jakarta , 25 Juli 2021

Sidang Munaqasyah

Ketua Merangkap Anggota Sekretaris Merangkap Anggota

Dra. Tien Rahmatin, MA Banun Binangningrum, M.Pd

NIP:19680803 199403 2 002 NIP:19680618 199903 2 001

Anggota

Penguji I Penguji II

Dr. Kholid Al Walid, M.Ag Drs. Agus Darmaji, M.Fils.

NIP: 19700920 200501 1 004 NIP:19610827 199303 1 002 Pembimbing

Rosmaria Sjafariah Widjajanti, S.S., M.Si.

NIP.19710409 199803 2 003

(4)

i

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 (satu) di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berada di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 13 Maret 2021

Zainuddin

(5)

ii

Pedoman Transliterasi

Penulis menggunakan pedoman transliterasi Pedoman Akademik Program Strata 1 2013/2014 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagaimana keterangan di bawah ini.

A. Konsonan

Huruf Arab Huruf Latin Keterangan

ا Tidak dilambangkan

ب B Be

ت T Te

ث Ts te dan es

ج J Je

ح ḥ h dan titik bawah

خ Kh ka dan ha

د D De

ذ Dz de dan zet

ر R Er

ز Z Zet

س S Es

ش Sy es dan ye

ص ṣ es dengan titik bawah

ض ḏ de dengan garis bawah

ط ṯ te dengan garis bawah

(6)

iii

ظ ẕ zet dengan garis bawah

ع ‘ koma terbalik di atas, hadap kanan

غ Gh ge dan ha

ف F F

ق Q Ki

ك K Ka

ل L El

م M Em

ن N En

و W We

ه H Ha

ء ` Apostrop

ي Y Ye

B. Vokal

Vokal dalam bahasa Arab, seperti bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rankap atau diftong. Untuk vokal tunggal alih aksaranya sebagai berikut:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin keterangan

ـــَـ A Fatḥah

ـــِـ I kasrah

ـــُـ U ḏammah

Adapun untuk vokal rangkap, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:

(7)

iv

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

ي ــــَـ Ai a dan i

و ـــَـ Au a dan u

C. Vokal Panjang

Ketentuan alih aksara vokal Panjang (madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

اــ Â a dengan topi di atas

يــ Î i dengan topi di atas

وــ Û u dengan topi di atas

Contoh:

لاق

= qâla

ليق

= qîla

لوقي

= yaqûlu

D. Keterangan Tambahan

1. Kata sandang لا (alif lam ma-rifah) ditransliterasikan kedalam bahasa Indonesia dengan al-. Seperti . Kata sandang ini menggunakan huruf kecil, kecuali bila berada pada awal kalimat

2. Tasydid atau syaddad dilambangkan dengan huruf ganda. Seperti

(8)

v

3. Kata-kata yang sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia, di tulis sesuai dengan ejaan yang berlaku. Seperti al-Qur’an, hadis dan lainnya.

E. Singkatan

as. = alaih al-Salâm cet. = cetakan

H. = Hijriah h. = halaman M. = Masehi QS. = Qur’an Surat ra. = raḏiyaAllâhu ‘anh Swt. = subaḥânah wa ta’âlâ Saw. = shallallah ‘alaihi wassalam w. = Wafat

(9)

vi ABSTRAK

Zainuddin NIM: 11140331000051 “PEMIKIRAN RIZIEQ SYIHAB TENTANG ISLAM DAN PANCASILA” Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Studi ini bertujuan ingin menjelaskan bagaimana hubungan antara Islam sebagai agama mayoritas masyarakat Indonesia, dan Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia, dalam pandangan Muhammad Rizieq bin Husein Syihab. Pasalnya, hubungan Islam dan Pancasila memiliki perdebatan panjang sejak pertama kali di rumuskan dalam Badang Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia antara golongan Islam dan Nasionalis-Sekuler.

Perdebatan panas itu akhirnya melahirkan Piagam Jakarta atau gentleman’s agreement.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan studi pustaka (Libaray Research), dengan menggunakan metode kualitatif. Peneliti berusaha mengumpulkan pelbagai literatur secara mendalam dengan objek yang diteliti secara langsung dan berbagai sumber yang bersangkutan dengan objek penelitian. Selanjutnya penelitian menggunakan metode pembahasan deskriptif analitis, yaitu menguraikan, mengklasifikasi data-data yang terkumpul sesuai dengan tema penelitian dan memaparkannya secara sistematis disertai menganalisi bahan dan sumber data.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut pemikiran Rizieq Syihab antara Islam dan lima sila yang terdapat dalam Pancasila sesuai dengan ajaran Islam. Sejatinya, tak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila. Pasalnya, butir- butir dalam Pancasila sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan hadis Nabi. Lebih lanjut, Pancasila menurut Rizieq syihab juga mengizinkan penegakan syariat Islam secara total di Negara Kesatuan Indonesia. Pancasila juga tak melarang penegakan khilāfah islāmiyah. Pemikiran Rizieq Syihab, tentang hubungan Islam dan Pancasila termasuk dalam kategori integralistik. Dalam pengertian konsep integlaristik bahwa antara agama dan negara merupakan suatu kesatuan utuh, tidak boleh dipisahkan.

Kata Kunci: Islam, Pancasila, Muhammad Rizieq Syihab

(10)

vii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur peneliti panjatkan kepada kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya. Shalawat serta salam tidak lupa pula peneliti panjatkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya senantiasa mengamalkan sunnah dan ajarannya.

Selama menyelesaikan tugas akhir peneliti telah melewati proses panjang yang berliku, Namun berkat dukungan dari orang-orang terkasih dan tekad yang kuat akhirnya peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Pemikiran Rizieq Syihab Tentang Islam Dan Pancasila. Peneliti menyadari bahwa dalam penulisan skripsi masih ada kekurangan dan kelemahan. Allhamdulillah skripsi dapat terselesaikan dengan baik karena ada dukungan dan kerjasama beberapa pihak.

Oleh karena itu peneliti ingin mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada:

1. Kepada dosen pembimbing saya, Ibu Rosmaria Syafariyah Widjayanti, S.S., M.Si. yang telah memberikan dukungan, bimbingan, arahan serta saran kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

2. Ibu Prof. Dr. Amany Burhanuddin Lubis MA. Dosen Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Yusuf Rahman MA, Wakil Dekan I Bidang Akademik , Dr. Kusmana, MA, Ph.D, Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, Lilik Ummi Kaltsum, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Dr. Edwin Syarip, M.Ag

(11)

viii

4. Ketua Program Studi Aqidah dan Filsafat Dr Tien Rohmatin, M.Ag beserta sekretaris Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Dra Banun Binaningrum, M.Pd.

5. Segenap dosen Fakultas Ushuluddin yang telah memberikan ilmu yang bermamfaat kepada peneliti selama pendidikan awal perkuliahan hingga selesai.

6. Seluruh staf dan karyawan Fakultas Ushuluddin yang telah membantu peneliti dalam urusan administrasi salam perkuliahan dan penelitian skripsi.

Peneliti berharap sikripsi ini dapat bermamfaat bagi siapa saja yang membaca khususnya mahasiswa Jurusan Jurnalistik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 13 Maret 2021

Peneliti

(12)

ix DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1

B. Rumusan Masalah ... 21

C. Tujuan dan mamfaat Penelitian ... 22

D. Metodologi Penelitian ... 23

E. Tinjauan Pustaka ... 24

F. Sistematika Penulisan ... 27

BAB II BIOGRAFI HABIB RIZIEQ SYIHAB A. Biografi Rizieq Syihab ... 30

B. Latar Belakang Keluarga Hadrami ... 32

C. Belajar bahasa Arab di LIPIA ... 41

BAB III PANCASILA DAN SYARIAT ISLAM A. Sejarah Pancasila ... 45

B. Perdebatan Islam atau Pancasila Sebagai Dasar Negara ... 48

C. Kelompok Islam Pada Peristiwa 18 Agustus 1945... 55

D. Pengertian dan Dasar Penegakkan Syariat... 61

(13)

x

E. Konsep Hakimiyah (Divine Law) dalam Islam... 64

BAB IV ISLAM, PANCASILA DAN NKRI BERSYARIAH RIZIEQ SYIHAB

A. Islam Dalam Pandangan Habib Rizieq ... 70 B. Pancasila Menurut Habib Rizieq ... 74 C. Pancasila Sejalan Dengan Ajaran Islam Menurut Rizieq Syihab 81 D. Menegakkan NKRI Bersyariah... 95 E. Kritik Terhadap Konsep NKRI Bersyariah... 101 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 106 B. Saran ... 107 DAFTAR PUSTAKA ... 110 LAMPIRAN

(14)

xi

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Setelah perjuangan panjang, bangsa Indonesia akhirnya dianugerahi kemerdekaan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Setidaknya demikianlah penjelasan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Kemerdekaan Indonesia tak terlepas dari perang para pahlawan bangsa. Mereka yang berjuang dengan sekuat tenaga. Rela hati menyumbangkan darah, harta, dan nyawa demi terlepas dari jajahan kolonialisme Barat dan juga dari kungkungan penjajahan Jepang.

Lantas apakah setelah merdeka persoalan kebangsaan Indonesia selesai?

Tidak. Justru muncul babak baru. Bangsa yang hendak meredeka ini masih saja dirundung pelbagai persoalan dasar. Tepat ketika berada dalam pintu gerbang kemerdekaan Agustus tahun 1945. Muncul persoalan dasar; negara yang baru merdeka ini berdasarkan asas weltanschauung apa? Dan weltanschauung apa yang cocok bagi Indonesia?

Saat itu wakil rakyat terbagi pada dua kelompok besar. Para founding father terkelompok dua kelompotan besar. Kelompok pertama; mereka yang mengajukan pandangan bahwa Indonesia dibangun berdasarkan kebangsaan tanpa kaitan khas ideologi keagamaan apapun. Kelompok ini diwakili mereka yang berpaham sekuler. Kelompok kedua, mereka yang berpendapat Indonesia—negara yang baru merdeka ini—, mengajukan Islam sebagai dasar negara. Golongan ini berpendapat bahwa negara tak bisa dipisahkan dari agama.

Yudi Latief dalam Mata Air Keteladanan Pancasila dalam Perbuatan, menjelaskan terdapat dalam masing-masing golongan ini pun terdapat nuansa perbedaan pandangan. Di dalam golongan Islam misalnya, tak semua menghendaki penyatuan sepenuhnya agama dan negara (Negara Islam). Pun demikian dalam dengan golongan kebangsaan. Ada yang sepenuhnya menghendaki pemisahan urusan agama dan negara. Pun ada juga golongan yang

(16)

2

tak sepenuhnya memisahkan urusan negara dan urusan agama. Bahkan ada pula pelbagai tokoh dari golongan kebangsaan yang ingin melaksanakan syariat Islam dengan sungguh-sungguh.1

Perdebatan panjang itu wajar saja. Pasalnya kedua golongan itu memiliki akar kuat dalam sejarah dan perkembangan gerakan nasionalis Indonesia pada tengah pertama abad ini. Abdoel Kareem Pringgodigdo dalam buku Sejarah Pergerakan Rakyat Rakyat Indonesia, para kelompok nasionalis sekuler berpendapat bahwa pergerakan kemerdekaan Indonesia telah dimulai dengan berdirinya Budi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. Organisasi modern Indonesia pertama yang memiliki pera sentral dalam menumbuhkan rasa nasionalisme kebangsaan. Dari organisasi inilah lahir pelbagai gerakan nasionalis sekuler lainnya, misalnya PNI, Pertindo, Parindra, Gerindo. Gerakan ini lahir sebagai reaksi keras terhadap kolonialisme. Gerakan kebangsaan ini juga menginginkan Indonesia merdeka berdasarkan paham kebangsaan.2

Sementara itu di sisi lain, gerakan Islam menyebutkan bahwa berdirinya Sareket Islam pada tanggal 16 Oktober 1905, merupakan titik tolak pergerakan nasional. Yang lain juga mengklaim bahwa perjuangan untuk kemerdekaan itu bermula jauh sebelum abad ke-20. Gerakan ini lahir sebagai respons terhadap kekuatan asing. Termasuk dalamhal ini gerakan Abdul Hamid Dipenegoro (Pangeran Dipenegoro), Imam Bonjol, Sultan Babullah Ternate, Tengku Tjik di Tiro. Mereka bergerilya berjihad dalam konfrontasi terhadap “kaum asing”.3

Sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-20 ulama-intelek dan intelek-ulama dari kalangan modernis dan tradisionalis telah memainkan peran dalam mengembangkan ruang publik modern di Nusantara. Ulama intelek merupakan istilah ini dimunculkan oleh intelektual Yudi Latif, untuk menggambarkan ulama

1 Yudi Latief dalam Mata Air Keteladanan Pancasila dalam Perbuatan, (Bandung; Mizan Media Utama, 2014), h. 9

2 Abdoel Kareem Pringgodigdo dalam buku Sejarah Pergerakan Rakyat Rakyat Indonesia, (Jakarta; Dian Rakyat, 1967), h. 7-8

3 Endang Syaifuddin Anshari, Piagam jakarta 22 Juni 1945 : Sebuah Konsensus Nasional Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949), (Jakarta; Gema Insani Press, 1997), h.4-5.

(17)

3

yang keluaran pendidikan agama yang melek pengetahuan modern. Adapun intelek-ulama, merujuk pada kaum intelegensia yang keluaran pendidikan sekuler yang melekpengetahuan agama.4

Kelompok ini terentang mulai dari pelbagai profesi yang ditekuni. Mulai dari rumah penerbitan, pers, madarasah, sekolah, sarikat dagang, perkumpulan bergaya Eropa, dan akhirnya membentuk partai politik. Pada abad ini lahir, gerakan Sarekat dagang Islam untuk urusan perekonomian, Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama untuk pergerakan pendidikan, dan Sarekat Islam untuk gerilya dalam bidang politik.

Kemunculan Saarekat Islam, merupakan langkah paling menentukan dalam perkembangan ide kebangsaan Islam sebagai bentuk proto-nasionalisme.

Untuk pertama kalinya nama Islam secara eksplisit digunakan sebagai nama perhimpunan , yang mengindikasikan Islam sekarang telah diaktifkan sebagai basis identitas kolektif dan sebagai sebuah ideologi bagi gerakan proto nasionalisme.5

Dengan kemampuan untuk menyentuh pluralitas kondisi manusia, kehadiran Sarekat Islam (SI) mampu mempersatukan ragam imajinasi sosio- politik. SI dengan segera menjadi perhimpunan pribumi pertama yang mampu menjangkau ke pelbagai belahan Nusantara, yang beroperasi dengan corak ideologi nasionalis berwarna agama atau nasionalis-agama.

Perdebatan antara kaum agama dan sekuler bergulir hingga dalam pelbagai sidang BPUPKI (Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesi).

BPUPKI sendiri merupakan badan yang berdiri atas campur tangan Jepang sebagai realisasi dari janji mereka untuk memberikan kemerdekaan kepada rakyat Indonesia. BPUPKI sendiri dipimpin oleh Dr. Radjiman Wedyodiningrat.

4 Yudi Latif, Negara Paripurna Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, cet. II, 2011), h. 63

5 Yudi Latif, Negara Paripurna Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, h. 64

(18)

4

Dalam BPUPKI ini perdebatan alot antara golongan Islam dan nasionalis sekuler kian memanas. Pandangan yang menginginkan Islam sebagai dasar negara misalnya diutarakan oleh Ki Bagoes Hadikoesoemo pada tanggal 13 Mei.

Argumen yang ditonjolkan adalah bahwa agama adalah pangkal persatuan. Islam akan membangun pemerintahan yang adil dan menegakkan keadilan, berdasarkan kerakyatan dan musyawarah, serta memeluk kebebasan dalam beragama. Islam juga merupakan ajaran lengkap yang menyuruh masyarakat berhukum dengan hukum Allah.6

Pada sisi lain, M. Natsir juga menekankan pentingnya Islam sebagai dasar negara. Natsir mendaku bahwa Islam sumber persatuan Indonesia. Di bawah Islam, perbedaan identitas bisa melebur dalam satu kelompok. Melalui Islam perbedaan suku, budaya, dan bahasa dapat disatukan dalam masyarakat yang homogen. Pendek kata, Islam telah mampu mendobrak kekuatan nasionalisme lokal—yang bersikap daerah,misalnya Jong Sumatranen Bond, Pasundan, Jong Ambon, Jong Java. Ini semua lebur di bawah semangat Islam. Berikut kutipan M.

Natsir;

Pergerakan Islam pulalah pertama-tama yang mampu meretas jalan di negeri ini bagi kegiatan politik yang mencita-citakan kemerdekaan. Yang menekankan benih persatuan Indonesia. Yang telah mengubah wajah isolasi pelbagai pulau dan juga roman muka provinsialis , yang juga pertama-tama menanamkan benih persaudaraan dengan orang seiman sekeyakinan di luar batas-batas Indonesia,”7

Di ujung lain, ada banyak orang yang menolak gagasan Islam sebagai dasar negara. Penolakan itu tercermin dari penolakan Soepomo pada 31 Mei.

Dalam pandangan Soepomo mendirikan negara Islam berarti, itu berarti tidak mendirikan persatuan. Mendirikan negara Islam artinya mendirikan negara yang akan mempersatukan diri dengan golongan terbesar, yaitu golongan yang beragama Islam. Mendasarkan negara denga Islam, hanya akan memperkeruh suasana. Pasalnya banyak agama kecil-kecil yang tak bisa hidup dan bersatukan diri dengan Islam.

6 Yudi Latif, Negara Paripurna Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, h 70

7 Endang Syaifuddin Anshari, Piagam jakarta 22 Juni 1945, h. 7

(19)

5

Soepomo membantah, menolak Islam sebagai dasar agama,dan menjadi negara nasional bukan berarti tanpa agama (a religius). Negara nasional yang bersatu itu akan memelihara budi-pekerti manusia yang luhur, akan memegang tuguh cita-cita moral rakyat yang luhur. Negara nasional itu tempat bernaung semua suku, agama, budaya, ras, dan keyakinan.8

Penolakan Seopomo terhadap negara Islam dan dukungan terhadap pemisahan terhadap urusan agama dan negara, tidak membuatnya mengesampingkan dasar Ketuhanan. Menurut Soepomo perkataan “Negara Islam”

lain artinya dari pada perkataan “Negara berdasar atas cita-cita luhur dari agama Islam,”.9

Terdapat pelbagai analisis terhadap alasan perbedaan pandangan antara dua kubu tersebut, selain masalah latar belakang pergerakan. Perbedaan sikap kedua kubu yang bersiteru juga diakibatkan lingkungan pengetahuan (epistemic community). Kubu yang menyerukan negara Islam pada umumnya,—seperti dijelaskan Yudi Latif, dalam Negara Paripurna; Histrorisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila— , berasal dari lingkungan pendidikan Islam yang kurang bersentuhan dengan diskursus negara modern dan nasionalisme kewargaan (civic nationalism).

Rujukan utama kelompok yang ingin negara Islam, berasal dari tradisi politik masa kejayaan Islam. Tentu dengan interpretasi sejarah yang menyatukan antara komunitas keagamaan dan komunitas politik. Dalih-dalih yang digunakan berasal dari Al-Qur’an dan hadis.

Sementara mereka yang menolak gagasan Islam sebagai dasar negara dan menolak negara Islam, berasal dari lingkungan pendidikan Barat yang sangat terpengaruh oleh modernisme Eropa. Saat itu gema sekularisme kian

8 Yudi Latif, Negara Paripurna Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, h 71

9 Yudi Latief dalam Mata Air Keteladanan Pancasila dalam Perbuatan, h.71

(20)

6

mengencang, sehingga mengakibatkan kurang memahami alam keagamaan, terlebih agama Islam.10

Seokarno sebagai pemimpin berlatar pendidikan Barat yang mempunyai keterpautan historis dengan organisasi Islam, mencoba menjembatani kesenjangan antara kedua kutub terseut dalam desain institusional. Dalam giliran pidatonya 1 Juni 1945, apa yang disebutnya sebagai “Philofische Gronslag”. Seoekarno tidak mendukung Islam sebagai dasar negara, tetapi memberikan peluang bagi golongan Islam mengorganisasikan diri secara politik yang akan mempengaruhi dalam lembaga perwakilan.

Dalam sidang 1 Juni ini, Bung Karno pun tampil ke depan dan mengemukakan pandangannya tentang dasar negara Indonesia. Dasar negara ini akan dibangun dari spirit dan jati diri yang dianut anak bangsa. Nilai-nilai itu kemudian tertuang dalam apa yang ia sebut dengan Pancasila.11 Dalam kesempatan itu, Soekarno mengusulkan lima dasar negara dengan istilah Pancasila, yaitu; Kebangsaan Indonesia. 2. Internasionalisme atau Prikemanusiaan. 3. Mufakat atau Demokrasi. 4. Keadilan Sosial. 5. Ketuhanan.12

Mendengar pidato Bung Karno itu, sebagian kalangan Islam merasa keberatan terhadap peletakan SilaKetuhanan pada sila terakhir. Pasalnya mereka memandang itu sebagai skala prioritas. Belakangan hari, Ruslam Abdoelgani meluruskan kesalapahaman itu. Menurutnya, urutan sila-sila dalam pidato Seokarno itu hanyalah mengikuti sistematik penjelasan saja. Sejatinya diartikan sebagai sesuatu yang mengunci di dalam kekuasaan keempat dasar sebelumnya.13

10 Yudi Latif, Negara Paripurna Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, h 72

11 Sayidiman Suryohadiprojo, Mengobarkan Kembali Api Pancasila, (Jakarta:

PT Kompas Media Nusantara, 2014), h. 3

12 Soekarno, Lahirnya Pancasila , dalam tujuh Bahan Indoktrinasi (Jakarta;

Dewan Pertimbangan Agung, 1961), h. 5

13 Yudi Latif, Negara Paripurna Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, h. 75

(21)

7

Setelah pidato Seokarno yang disambut dengan gegap gempita, ketua BPUPK membentuk panitia kecil di bawah pimpinan Soekarno. Pasalnya pertikaian antara kelompok kebangsaan dan kelompok Islam tak juga menemukan titik tengah. Panitia kecil yang beranggotakan 9 orang. Komposisinya seimbang; 5 orang mewakili kelompok kebangsaan, dan 4 orang mewakili kelompok Islam.

Panitia ini bertugas untuk menyusun rancangan pembukaan UUD. Yang di dalamnya termuat dasar negara.14

Sejatinya pembentukan Panitia Sembilan sebagai ikhtiar untuk mempertemukan pandangan antar dua kelompok yang bertikai terkait dasar negara. Meskipun berjalan alot dan penuh perdebatan, panitia ini berhasil merumuskan dan menyetujui rancangan Pembukaan UUD, yang kemudian ditandatangani oleh setiap anggota Panitia Sembilan pada 22 Juni. Oleh Soekarno rancangan pembukaan UUD ini diberi nama “Mukaddimah”. Oleh Yamin dinamakan “Piagam Jakarta”. Dan oleh Soekiman Wirjosandjojo disebut sebagai

“gentlemen’s Agreement”.

Ujung kompromi antara golongan Islam dan kebangsaan bermuara pada alinea terakhir. Rumusan ini mengandung dasar negara berdasarkan prinsip Pancasila. Islam memang tidak dijadikan sebagai dasar negara, akan tetapi terjadi perubahan dalam Pancasila dengan yang diungkapkan Soekarno pada tanggal 1 Juni. Prinsip sila Ketuhanan dalam hal ini dimunculkan dalam sila pertama Pancasila. Serta tujuh kata “Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.15

Tujuh kata itu menjadi juru damai antara kaum Islam dan kebangsaan. Ini adalah kemenangan bagi kedua belah pihak yang sejak awal tak menemui kata sepakat. Sehingga solusi dengan adanya “Piagam Jakarta” ini menjadi win win solution antara kelompok Islam dan nasionalis-sekuler.

14 Yudi Latif, Negara Paripurna Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, h. 76

15 Yudi Latif, Negara Paripurna Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, h. 78

(22)

8

Meski demikian, Piagam Jakarta itu mendapat yang tajam dari umat Kristiani dari daerah Timur Indonesia. Latuharhary dalam tanggapannya pada tanggal 11 Juli 1945 menegaskan keberatan yang sangat atas anak kalimat dalam sila pertama Pancasila. Berikut kutipan pandangan keberatannya;

“Akibatnya sangat besar sekali, umpamanya terhadap agama lain. Maka dari itu, saya harap supaya dalam hukum dasar, meskipun ini berlaku buat sementara waktu, dalam hal ini tidak dibolehkan diadakan benih-benih atau kemungkinan yang dapat diartikan dalam rupa-rupa macam,”.16

Pada 17 Juli 1945 di sidang kedua BPUPKI, Piagam Jakarta tetap dipertahankan dengan tujuh kata. Tidak ada perubahan sama sekali. Namun meski demikian, sebenarnya ada suasana kebathinan yang dirasakan golongan kebangsaan. Yakni ketidaksetujuan merekaterhadap perlakuan khusus bagi umat Islam. Perlakuan istimewa ini dimiliki umat Islam dalam suatu hukum dasar yang menyangkut warga negara secara keseluruhan.

Suasana kebathinan inilah yang mewarnai dalam persidangan lanjutan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Panitia ini didirikan tanggal 12 Agustus 1945. Pada awalnya PPKI terdiri dari 21 anggota yang diketuai oleh Seokarno dan Mohamad Hatta, dan Wediodiningrat bertindak sebagai wakil ketua.

Pada tanggal 17 Agustus, Proklamasi Indonesia dikumandangkan. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Seokarno dan Hatta dinobatkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pertama. Pada saat yang sama—PPKI pada tanggal 18 Agustus—, menyetujui naskah “Piagam Jakarta”sebagai pembukaan UUD 1945.

Di samping itu, tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang di belakang Ketuhanan dihapuskan, dan diganti dengan kata “Yang Maha Esa”. Lengkapnya sila pertama

“Ketuhanan yang Maha Esa”.17

16 Yudi Latief dalam Mata Air Keteladanan Pancasila dalam Perbuatan, h.38

17 Yudi Latif, Negara Paripurna Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, h. 83

(23)

9

Penghapusan tujuh kata itu membuat kekecewaan yang besar di sebagian golongan Islam. Pasalnya ini merupakan tindakan yang melanggar kompromi sebelumnya. Secara de facto dan de jure, mencerminkan realitas politik yang ada serta memiliki keabsahan. Kekuatan representasi politik Islam di PPKI nyata tak seberapa.

Di sisi lain, kelompok Islam mengesampingkan dulu persoalan Pigama Jakarta tersebut. Pasalnya, Indonesia kian genting. Indonesia masih dalam masa revolusi. Kalahnya Jepang, membuat tentara sekutu kembali mendarat untuk kembali menjajah Indonesia, maka membahas Piagam Jakarta dirasa bukan waktu yang tepat. Seokarno pun angkat bicara terkait penghapusan tujuh kata dalam sila pertama.

Nanti, kalau kita telah bernegara di dalam suasana yang tentram, kita akan kembali mengumpulkan Majelis Perwakilan Rakyat yang dapat membuat Undang- Undang Dasar yang lebih lengkap dan lebih sempurna,”18

Setahun setelah pemilihan umum 1955, Konstituante pun akhirnya terbentuk. Majelis Konstituante bertugas seperti sebelum-sebelumya merumuskan UUD. Tak ada perbedaan dari tahun-tahun sebelumnya. Perdebatan alot masih saja mewarnai pelbagai sidang. Islam dan Pancasila masih menjadi lahan basah perdebatan. Yang tak pernah ada ujung.

Mejelis ini menemui jalan buntu pada bulan Juni 1959. Hal ini disebabkan karena mayoritas para anggotanya –terutama yang berasal dari kalangan fraksi bukan Islam— menolak untuk menghadiri lagi sidang di Bandung. Presiden Soekarno menghadapi krisis konstitusional ini turun tangan dengan sebuah dekrit Presiden yang disetujui oleh kabinet pada tanggal 3 Juli 1959.19

Dekrit itu dirumuskan di Istana Bogor pada tanggal 4 Juli 1959. Kemudian diumumkan secara resmi oleh Presiden pada hari Minggu, 5 Juli tahun 1959 pukul

18 Muhammad Yamin, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, (Jakarta;

Yayasan Prapanca, 1959), h. 110

19Muhammad Yamin, Pembahasan Undang-Undang Dasar Republik, (Jakarta;

Yayasan Prapanca, 1960), h. 133

(24)

10

17.00 WIB di depan Istana Merdeka, Jakarta. Adapun teks itu menurut kalangan Islam memuat kembali dihidupkannya Piagam Jakarta. “Bahwa Kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai UUD 1945 danadalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut,”.20 Itulah salah satu isi Dekrit Presiden tersebut.

Toh pada kenyataannya Piagam Jakarta tak juga dihidupkan hingga saat ini. Di samping itu, percikan perdebatan terkait hubungan Islam dan Pancasila masih ada hingga saat ini. Sebagian kelompok kaum muslimin berkeinginan untuk memformalisasikan syariat Islam. Dan ingin menghidupkan kembali Piagam Jakarta. Pasalnya, kelompok ini beranggapan Piagam Jakarta, yang notabenenya merupakan butiran sila dari Pancasila, pintu masuk untuk memformalkan pelbagai ajaran dan syariat Islam.

Salah tokoh era Reformasi yang konsen dalam membahas Islam dan Pancasila adalah Habib Maulana Muhammad Rizieq bin Husein Syihab (kedepannya akan ditulis dengan Rizieq Syihab). Rizieq Syihab tokoh yag getol ingin menegakkan syariat Islam di Indonesia. Melalui tesisnya di Universitas Malaysia yang berjudul

“Pengaruh Pancasila Terhadap Penerapan Syariah Islam di Indonesia” Membahas seputar Islam dan Pancasila. Piagam Jakarta adalah pintu gerabng untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia yang memiliki asas legalitas konstitusi dan historis yang sangat kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, penerapan Islam merupakan pengejewantahan amanat piagam Jakata 22 Juni 1945 sekaligus pelaksanaan amanat Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Penerapan syariat Islam itu tidak boleh diartikan sebagai pembangkangan Pancasila.

Rizieq Syihab dalam Tesisnya dan pelbagai bukunya tentang Islam dan Pancasila, menjelaskan bahwa Pancasila tak menghalangi penerapan syariat Islam.

20 Endang Syaifuddin Anshari, Piagam jakarta 22 Juni 1945, h. 109-111

(25)

11

Itulah yang menjadi titik perbedaannya dengan tokoh Islam pada masa BPUPKI, PPKI, dan Konstituante. Bila dulu ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara, dan menghidupkan Piagam Jakarta, Rizieq Syihab bergerak lebih maju, dengan keinginan menerapkan syariat Islam atau formalisasi syariat Islam di Indonesia.

Di samping itu, ia juga berjuang untuk menghidupkan Piagam Jakarta. Dan juga tujuh kata yang dihapuskan dalam sila pertama Pancasila. Hal itu ia sampaikan dalam pelbagai ceramah, buku, dan Tesis akademiknya. Itulah titik persamaan,sekaligus perbedaan Rizieq Syihab dengan pendahulunya (yang membahas Islam dan Pancasila).

Apa sebenarnya yang menjadikan Rizieq Syihab memiliki pemahaman Pancasila seperti itu? Pemahaman keagamaan seperti apa yang dianut Rizieq Syihab? Penulis melihat, cara pandang terhadap Islamlah yang melatarbelakangi pemahamannya terhadap Pancasila. Islam menurutnya merupakan ajaran yang bersifat total. Islam menyediakan seperangkat aturan yang dapat digunakan bagi kehidupan sepanjang masa.

Islam adalah agama dan negara. Islam sebagai agama wajib dijalankan syariatnya oleh setiap individu muslim, dan Islam sebagai negara wajib ditegakkan syariatnya oleh perangkat hukum negara. Orang Islam tidak diperkenankan meminjam budaya lain yang tidak sesuai dengan Islam. Prinsip utamanya adalah penegakkan kekuasaan dan kedaulatan Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, Al-Qur’an dan hadits harus diletakkan di atas kekuasaan manusia dalam institusi masyarakat.

Hal inilah yang kemudian menarik penulis untuk meneliti lebih dalam pemikiran Rizieq Syihab dalam suatu judul skripsi “Pemikiran Rizieq Syihab tentang Islam dan Pancasila”.

(26)

12 B. Batasan dan Rumusan Masalah

Dari apa yang telah dipaparkan di atas, penulis perlu melakukan pembatasan agar penelitian ini tidak terlalu melebar, lebih terfokus dan sistematis.

Pembahasan yang akan diangkat dalam penelitian ini terkonsentrasi pada pandangan Habib Rizieq tentang Islam dan Pancasila. Agar tidak melebar maka penulis rumuskan menjadi beberapa pertanyaan yang akan dijawab melalui penelitian ini adalah

1. Bagaimana Islam dalam pandangan Habib Muhammad Rizieq Syihab?

2. Bagaimana Pancasila dalam pandangan Muhammad Rizieq Syihab?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang Islam dan Pancasila dalam pandangan Habib Rizieq Syihab, karena satu sisi Pancasila merupakan dasar negara dan dilain sisi Islam merupakan agama mayoritas penduduk indonesia. Untuk lebih rincinya dibawah ini adalah tujuan dilakukannya penelitian :

1. Untuk mengetahui pemikiran yang ditawarkan oleh Habib Rizieq tentang Islam

2. Untuk mengetahui pemikiran yang ditawarkan oleh Habib Rizieq Shihab tentang konsep NKRI Bersyariah

3. Untuk mengetahui pemikiran yang ditawarkan oleh Habib Rizieq tentang Pancasila

4. Untuk mengetahui bagaimana usaha-usaha yang dilakukan oleh Habib Rizieq Shihab dalam mewujudkan cita-cita NKRI Bersyariah

(27)

13

2. Manfaat Penelitian

Di samping tujuan di atas tentunya ada manfaat dari penulisan ini : a. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan

bagi kalangan intelektual, akademisi, dan masyarakat umum tentang hubungan Islam dan Pancasila.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan nilai lebih dalam pembaharuan pemikiran politik Islam tentang kaitan Pancasila dengan ajaran Islam.

c. Menambah khazanah pengetahuan di bidang akademik dengan topik Islam dan Negara khususnya pergerakan Islam tanah air

D. Metode Penelitian

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus yang penelaahannya dilakukan secara mendalam dan komprehensif. Penulisan ini menggunakan data kualitatif yang berwujud kata-kata, gambar dan bukan angka- angka.21 Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini menggunakan studi pustaka (Libaray Research) pelbagai literatur secara mendalam dengan objek yang diteliti secara langsung dan berbagai sumber yang bersangkutan dengan objek penelitian.

Selanjutnya penelitian menggunakan metode pembahasan deskriptif analitis, yaitu menguraikan, mengklasifikasi data-data yang terkumpul sesuai

21 P. Joko Syubagya, Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek, (Jakarta:

Rineka Cipta, 1990), h. 95

(28)

14

dengan tema penelitian dan memaparkannya secara sistematis disertai menganalisi bahan dan sumber data.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah studi dokumenter, yaitu studi yang dilakukan dengan mempelajari sumber- sumber informasi milik obyek yang ditulis secara langsung tanpa perantara penulis lainnya.

Sedangkan untuk memperoleh data yang berkenaan dengan judul penulis menggunakan metode pengumpulan data yang meliputi :

a. Data primer

Yaitu buku-buku karangan Al Habib Muhammad Rizieqbin Husein Syihab yang berkaitan dengan pembahasan penelitian ini. Di antaranya adalah buku Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah dan buku Hancurkan Liberalisme Tegakkan Syariah Islam. Di samping itu ada juga Tesis yang ditulis oleh Habib Rizieq sendiri yaitu Pengaruh Pancasila dalam Penerapan Syariah Islam Indonesia, serta buku yang diterbitkan oleh Komite Penegakkan Syariah Islam di Indonesia serta yang juga merupakan buah karya Muhammad Rizieq Shihab berjudul, Dialog Paham Jakarta: Kumpulan Jawaban al Habib Muhammad Rizieq Bin Hussein Sihab Seputar Keraguan Terhadap Penegakkan Syariat Islam di Indonesia, selanjutnya komentar-komentar Habib Rizieq terkait Islam dan Pancasila yang dimuat di media cetak, elektronik, dan video hasil ceramah beliau.

b. Data Sekunder :

Adalah data yang diambil dari studi pustaka. Di antaranya tulisan–

tulisan, baik dalam bentuk buku, Jurnal, artikel maupun melalui informasi media internet.

(29)

15 E. Tinjauan Pustaka

Dalam penelitian ini, sebelumnya sudah ada penelitian yang membahas telah pemikiran tokoh. Yaitu Skripsi yang dibuat oleh Praga Adidhatama yang berjudul “Islam dan Negara: Pemikiran Abu Bakar Ba’asyir Tentang Negara Islam. Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2009. Peneliti menemukan perbedaan yang mendasar. Yaitu perbedaan mengenai ketokohan yang dibahas. Dalam skripsi itu yang dibahas adalah pemikiran seorang Abu Bakar Ba’asyir dengan pembahasan cakupan yang cukup luas mengenai pandangan seorang Abu Bakar Ba’asyir mengenai negara dengan perspektif Islam. Lalu bagaimana Ba’asyir melihat fenomena pemboman yang terjadi di Indonesia yang mengatasnamakan jihad fisabilillah. Berbeda dengan peneliti yang hanya mengfokuskan kajian kepada pemikiran Habib Rizieq mengenai konsep NKRI Bersyariah.

Lalu peneliti juga menemukan penelitian yang serupa yang ditulis oleh Julimah, dengan judul skripsi Pemikiran Agus Salim Tentang Hubungan Islam dan Negara. Jurusan Ilmu Politik Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2009. Penelitian ini juga mempunyai perbedaan yang siginifikan, karena tokoh yang dibahas jelas memiliki perbedaan. Lalu penelitian ini membahas, bagaimana hubungan relasi antara Islam dan negara.

Penelitian ini lebih mengkhususkan bagaimana pandangan Agus Salim melihat hubungan Islam dan negara. Berbeda dengan topik penulis yang menelaah konsep NKRI Bersyariah gagasan Habib Rizieq, bukan bagaimana pandangan hubungan negara dan agama. Walaupun skripsi penulis pasti akan bersinggungan dan sedikit membahas hubungan agama dan negara, tetapi point penting dari skripsi penulis adalah bagaimana konsep NKRI Syariah dan bagaimana usaha Habib dalam memperjuangkan gagasannya.

Selanjutnya sebagai tinjauan pustaka lainnya adalah, buku yang berjudul Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah yang ditulis langsung oleh

(30)

16

Habib Muhammad Rizieq Bin Husain Shihab diterbitkan oleh Suara Islam Press tahun 2012. Dalam buku ini, Habib Rizieq mencoba menjawab tuduhan-tuduhan tidak sedap yang dialamatkan kepada gerakan Islam, dimana dalam tuduhan itu gerakan Islam sering kali di tuding sebagai gerakan yang anti terhadap empat pilar negara, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Dalam buku ini Habib Rizieq coba menjawab menjelaskan wawasan kebangsaan dengan kacamata Islam yang sama sekali tidak bertentangan dengan empat pilar negara.

Perbedaan dengan skripsi yang dibuat penulis adalah, lagi-lagi fokus penulis adalah gagasan NKRI Bersyariah bukan mengenai persepsi atau tudingan masyarakat akan gerakan Islam, juga objek penelitian penulis fokus pada Habib Rizieq, bukan pada gerakan Islam.

Kemudian, ada buku yang disusun oleh Muhammad Rizieq Shihab , Dialog Paham Jakarta: Kumpulan Jawaban al Habib Muhammad Rizieq Bin Hussein Sihab Seputar Keraguan Terhadap Penegakkan Syariat Islam di Indonesia. Buku ini merupakan kumpulan tanya jawab seputar gagasan Islam yang di kemukan oleh Habib Rizieq.

Deliar Noer dalam bukunya yang berjudul “Islam Pancasila dan Asas Tunggal” menjelaskan bahwa pemilihan Pancasila sebagai dasar negara dikarenakan hanya dengan dasar negara seperti ini yang memungkinkan tiap pihak memberikan kontribusinya bagi kebangkitan dan kemakmuran bangsa. Di dalam buku ini juga dijelaskan bahwa Pancasila memang tidak bertentangan dengan Islam, tetapi ini bergantung pada tafsiran yang diberikan.

Penerimaan Pancasila oleh kalangan Islam karena mereka memberikan tafsiran yang tidak berlawanan dengan Islam. Selain itu, Islam adalah agama yang ajarannya luas, mencakup hal- hal yang oleh Pancasila mungkin tidak terfikirkan.

Oleh karenanya, Pancasila tanpa agama akan kosong. Sebaliknya dengan beragama (Islam) kita sudah otomatis menegakkan Pancasila (kelima sila itu tegak dengan sendirinya.

(31)

17

Munawir Sjadzali dalam bukunya “Islam dan Tata Negara (Ajaran, Sejarah dan Pemikiran),” di dalam buku ini terdapat penjelasan tentang pandangan salah satu tokoh nasional yakni Muhammad Natsir terhadap Islam dan Pancasila. Ia mengemukakan bahwa terdapat perkembangan maupun pergeseran dalam sikap Natsir. seperti tulisan Natsir yang dimuat oleh majalah mingguan Hikmah terbitan 9 Mei 1954 memuat tulisan Natsir yang berjudul Bertentangankah Pancasila dengan Al-Quran”. Dalam tulisannya itu dia membandingkang tiap sila dari Pancasila dengan ajaran Al-Quran. Kemudian Natsir mengemukakan bahwa Pancasila adalah pernyataan dari niat dan cita-cita kebajikan yang harus dilaksanakan dalam negara dan bangsa kita.

Sementara sikap berbeda ditunjukkan Natsir dalam sidang Konstituante di Bandung pada tahun 1957 bahwa Natsir menolak Pancasila sebagai dasar negara, dan penolakan itu dengan sendirinya juga merupakan sikap resmi Masyumi.

Menurut sementara pengamat politik, penolakan itu terjadi karena terdapat penafsiran Pancasila secara sekuler, kususnya oleh Soekarno yang dalam pidatonya pada rapat Gerakan Pembela Pancasila di Jakarta pada tanggal 17 Juni 1954 memberikan kesan bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa itu merupakan ciptaan manusia. Pengamat yang sama tidak menganggap penolakan Natsir terhadap Pancasila sebagai dasar negara di Konstituante itu sebagai perubahan pendirian, oleh karena pandangan Natsir tentang Pancasila selalu dihubungkan dengan al-Quran.

Adian Husaini dalam bukunya yang berjudul “Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam” menjelaskan seputar Piagam Jakarta dan polemik Pancasila sebagai dasar negara. Adian Husaini mengatakan bahwa Pancasila dijadikan alat bagi kaum Kristen dalam membungkam umat Islam dalam memperjuangkan syariat Islam. Hal itu terjadi karena Pancasila ditafsirkan dengan beragam tafsir, sehingga munculnya anggapan, apabila tujuh kata Islamis yang semula tercantum dalam sila Pancasila tetap dipertahankan akan menimbulkan perpecahan dan konflik. Terlepas dari itu, ia juga menjelaskan

(32)

18

bahwa penyusunan dan makna Pancasila itu sendiri tidak lepas dari aspirasi kaum Muslim.

F. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan tulisan ini, agar mempermudah dalam memahami, terarah dan sistematis, maka penulis membagi tulisan ini menjadi lima bab. Adapun sitematika sebagai berikut :

BAB I

Berisi pendahuluan yang menjelaskan latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, metodologi penelitian, sistematika penulisan, serta tinjauan pustaka yang akan dibahas pada skripsi ini.

BAB II

Berisi mengenai teori mengenai hubungan Islam dan Pancasila dan konsep umum mengenai negara Islam. Dalam tahapan ini juga dibahas mengenai kontroversi mengenai hubungan Islam dan Negara beserta para tokoh yang menentangnya.

BAB III

Bab ini berisi tentang profil lengkap Habib Rizieq, karir dakwah beliau, latar belakang pendidikan, perjalan politik hingga membentuk ormas FPI sebagai kendaraan juang dalam berdakwah. Serta dalam bab ini juga akan dibahas mengenai sejarah berdirinya FPI, prosedur/garis perjuangan perjuangan, dan pro kontra pembubaran ormas ini.

BAB IV

Bab ini berisi mengenai inti dari pemikiran Habib Rizieq mengenai wacana NKRI Bersyariah yang digagasnya. Bagaimana cara ia memperjuangkan wacana ini serta mengapa wacana ini menjadi perlu didukung oleh umat Islam. Juga kritik Habib Rizieq mengenai system demokrasi yang sekarang di terapkan di Indonesia, serta bagaimana umat Islam bersikap dalam system ini.

(33)

19 BAB V

Merupakan penutup kesimpulan tahap akhir dalam penulisan skripsi ini, serta berisikan saran dan tanggapan terhadapa konsep NKRI Bersyariah yang ditawarkan oleh Habib Rizieq.

(34)

20 BAB II

BIOGRAFI HABIB RIZIEQ SYIHAB A. Biografi Rizieq Syihab

Ketika reformasi, gerakan Islam garis keras juga bermunculan. Misalnya, Gerakan Front pembela Islam, Laskar Jihad, Majelis Mujahidin Indonesia, dan lain-lainnya. 1 Organisasi baru inilah yang menjadi aktor utama revivalisme Islam di Indonesia kentemporer. Pelbagai organisasi ini yang disebut oleh Imdadun Rahmat2 sebagai “Gerakan Islam Baru” (new Islamic movement) dapat dilacak asal-muasal pemikirannya dari berabagai organisasi gerakan Islam di Timur Tengah.

Searah dengan Imdadun, peneliti Noorhaidi Hasan mencoba mengulik fenomena gerakan Islam ini pada era 1980-an, ia menyebut awal “Ekspansi kaum Salafi”. Tanda-tanda dapat identifikasi dengan munculnya para pemuda dengan yang memakai jalābiyah (jubah panjang), imāmaāh (serban), isbal (pantalon yang panjang hanya samapi mata kaki), dan lihyah (jenggot panjang), serta perempuannya yang memakai niqob (bentuk pakaian warna hitam yang menyelubungi seluruh tubuh) di ruang-ruang publik di berbagai kota di Indonesia, seperti Yogyakarta, Solo, Semarang, Bandung, Jakarta, dan Makasar.3

Salah satu tokoh pergerakan Islam yang lahir dari rahim Reformasi adalah Habib Muhammad Rizieq Syihab ibn Husein Syihab. Ia lahir 24 Agustus 1965 M atau bertepatan dengan 27 Rabiust tsani 1385 H di Jakarta. Keluarganya berasal dari keturunan Arab, ayahnya Habib Sayyid Husein Syihab dan ibunya bernama Syafirah Sidah Al-Atthas, Putri dari Habib Alwi Al-Atthas, seorang penegak Amar Ma’ruf Nahi Munkar.4

1 Jamhari dan Jajang Jahroni, gerakan Salafi,h. 18

2 Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal, h. 74-75

3 Noorhaidi hasan, Laskar Jihad, h. 31-32

4 Habib Rizieq Syihab, Hancurkan Liberalisme; Tegakkan Syariat Islam, (Jakarta: Suara Islam Press, 2013), h. 203

(35)

21

Bulan Juli tahun 1966, Habib Husein suami dari Syarifah Sidah dan ayah dari bayi Muhammad Rizieq menghembuskan nafas terakhirnya. Suami sekaligus ayah yang pemberani ini, wafat pada usia 46 tahun. Gelar yatim pun disandang oleh Muhammad Rizieq yang kala itu belum genap berusia 1 tahun.5 Semenjak ditinggal oleh sang suami, Muhammad Rizieq diasuh oleh ibunya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, janda Habib Husein ini bekerja sebagai penjahit dan perias pengantin. Sidah Alattas juga bertanggungjawab mengurus 6 orang anaknya yang lain. Satu hal yang patut diteladani, meski menjadi janda beranak tujuh, Sidah tetap memperhatikan pendidikan anak-anaknya. .

Ayib adalah nama panggilan kesayangan dari Syarifah Sidah pada putranya yaitu Muhammad Rizieq. Bukan ibunya saja yang memanggilnya dengan sebutan Ayib, melainkan seluruh keluarga dan temannya juga memanggil namanya dengan sebutan Ayib. Saat usianya 4 tahun ia mulai tumbuh menjadi sosok bocah tampan. Sorot matanya tajam tapi teduh, ada gingsul dibarisan gigi putihnya. Diantara temannya fisik tubuhnya memang tak terlalu besar. Sopan dalam bertutur kata. Sikap santun dalam bersikap dan berprilaku. Kebanyakan orang-orang telah menyebutknya sebagai pribadi yang memiliki otak yang brilian dan memiliki kreatifitas yang bagus. Tak heran banyak sekali orang-orang yang selalu memujinya.6

Menginjak usia 6 tahun, ia disekolahkan oleh ibundanya di SD Negeri 1 Petamburan. Lokasinya terletak dijalan Petamburan IV, Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Jarak antara rumah dan sekolah beliau tidak terlalu jauh hanya berkisar 10 menit jika ditempuh dengan jalan kaki.

Meskipun kesehariannya banyak menyentuh ilmu agama namun otak encernya

5 Isnul Rahmawati Dwi Asih, Habib Rizieq Shihab dan Politik (Pandangan Front Pembela Islam (Fpi) Dpw Sidoarjo Terhadap Aktivitas Politik Habib Rizieq Shihab), (Skripsi: Fakultas Ushuluddin Dan Filsafat, UIN Sunan Ampel, 2018), h. 84

6 Isnul Rahmawati Dwi Asih, Habib Rizieq Shihab dan Politik, h. 86

(36)

22

juga menguasai dalam mata pelajaran umum. Pada tahun 1975 ia lulus SD dengan nilai yang sangat memuaskan.7

Ada yang menarik dari perjalanan hidup Ayib kecil, tumbuh dilingkungan keluarga Arab, Rizieq yang akrab dengan pendidikan agama Islam8, tapi siapa sangka Ayib kecil menempuh sekolah lanjutan pertama di sekolah Kristen, yang bernama sekolah SMP Bethel Kristen. Meskipun pada awalnya beliau menentang dan menolak untuk disekolahkan di sana. Lokasi tempat tinggal beliau dengan SMP Bethel Kristen tersebut cukup dekat, kondisi ini yang menjadi alasan Sidah menyekolahkan anaknya di sana.

B. Latar Belakang Keluarga Hadrami

Muhammad Rizieq Syihab dbesarkan dalam lingkungan keluarga Hadrami, yang memiliki semangat agama yang kuat. Tumbuh dilingkungan keluarga Arab, Rizieq sejak awal akrab dengan pendidikan agama Islam. Di samping memasuki sekolah formal, orang tua Rizieq senantiasa menekankan pentingnya agama dalam kehidupan. Ayahnya, Sayyid Husein adalah seorang keturunan Arab yang berasal dari Hadramaut, sebuah wilayah yang kini bernama Yaman. Sayyid Husein juga seorang yang aktif dalam dunia pergerakan. Sang ayah bersama kawan-kawannya pada sekitar tahun 1937, mendirikan Pandu Arab Indonesia (PAI) suatu perkumpulan kepanduan yang didirikan oleh orang Indonesa keturunan Arab yang berkedudukan di Jakarta, yang selanjutnya menjadi Pandu Islam Indonesia (PII).

9

Ayah Rizieq Syihab juga adalah seorang pejuang kemerdekaan. Tokoh yang dekat dengan ulama Betawi terkemuka sepert Habib Ali Alhabsi dar Kwtang, Jakarta Pusat, ini menjadi pemimpin Pandu Arab Indonesia. Setelah Belanda kembal ke negeri ini setelah proklamasi kemerdekaan RI, Huesein Syihab – waktu itu berusia 20 tahunan— bekerja Rodi Kruis (kini Palang Merah IndonesiaI) di bagian logistik. Posisi ini dimanfaatkan dengan memberikan suplai

7 Isnul Rahmawati Dwi Asih, Habib Rizieq Shihab dan Politik, h. 87

8 Jajang Jahroni dan Jamhari, Gerakan Salafi Radikal, h. 27

9 Jajang Jahroni dan Jamhari, Gerakan Salafi Radikal, h. 138-139

(37)

23

makanan dan pakaian untuk para pejuang yang bergerilya di daerah Jakarta dan sekitarnya. 10

Sebagai keturunan Arab, ketika kembali dari King Saud University, Riyadh-Arab Saudi, Rizieq Syihab mulai mengajar bahkan menjadi kepala sekolah Madrasah Aliyah Jamiat Kheir, Jakarta. Sekolah ini berafiliasi dengan Jamiat Kheir, organisasi Arab yang didirikan di Jakarta pada tanggal 17 Juli 1905. Pendiri organisasi ini adalah Sayyid Muhammad al-Fachir bin Abdurrahman al-Masjhur, Sayyd Muhammad bin Abdullah bin Sjihab, Sayyid Idrus bin Ahmad bin Sjihab dan Sayyid Sjehan bin Sjihab. Anggota dan pemimpin organisasi ini umumnya orang-orang yang berada, yang memungkinkan penggunaan sebagian waktunya kepada perkembangan organisasi tanpa merugikan usaha pencaharian nafkah. 11

Dua bidang diperhatikan sangat oleh organisasi ini. Yang pertama, pendirian dan pembinaan satu sekolah pada tingkat dasar, yang kedua pengriman anak-anak muda ke Turki untuk melanjutkan pelajaran. Maka sekolah dasar Jamiat Khair bukan suatu sekolah dasar biasa yang semata-mata belajar agama tetapi merupakan suatu sekolah dasar di mana bermacam-macam pelajaran diajarkan seperti berhitung, sejarah, dan ilmu bumi. Kurikulum disusun, sedangkan kelas-kelas telah terorganisir. Bahasa perantaranya adalah bahasa Indnesia atau bahasa Melayu. Di samping anak-anak Arab ini, anak-anak Indonesia pun dari berbaga daerah, seperti Lampung, terdaftar di sekolah tersebut.

Bahasa Belanda tidak diajarkan, sebagai gantinya bahasa Inggris merupakan pelajaran Wajib.12

Jamiat Khair mengundang guru-guru dari daerah lain dan juga dari luar negeri untuk mengajar di sekolah tersebut. Pada tahun 1907 seorang guru didatangkan dari Padang, Haji Muhammad Mansur untuk mengajar di sekolah tersebut. Ia dipilih menjadi guru karena kemampuannya dalam bahasa Melayu dan

10 Habib Rizieq Syihab, Hancurkan Liberalisme, h. 203

11 Deliar Noor, Gerakan Modern Islam di Indonesia, h. 68

12 Deliar Noor, Gerakan Modern Islam di Indonesia, h. 68-69

(38)

24

juga pengetahuannya dalam bidang agama. Dari luar negeri pun didatangkan, ia adalah Hasjimi, yang berasal dari Tunisia, dan pernah memberontak kepada Prancis. Ia datang ke Indonesia pada tahun 1911, memperkenalkan gerakan kepanduan dan juga olahraga dalam lingkungan Jamiat Khair. Hasjimi diterima di Jamiat Khair dengan perantara Abdullah Al-Attas yang pernah tinggal di Istanbul dan duduk di staf Jamiat Khair. 13

Tak berselang lama, tahun 1911 juga tiga orang guru dari negeri Arab ikut bergabung dengan Jamiat Khair. Mereka adalah Syaikh Ahmad Surkatti dari Sudan, Syaikh Muhammad Thaif dari Maroko, dan Syaikh Muhammad Abdul Hamid dari Mekkah. Pada masa berikutnya, Surkati dikenal sebagai salah satu pelopor gerakan moderen Islam di Indonesia. Ia memainkan peranan penting dalam penyebaran pemikiran-pemikiran baru dalam lingkungan masyarakat Islam di Indonesia.

Pada tahun 1913, gelombang ketiga ; guru-guru yang didatangkan dari luar negeri. Mereka yang datang semuanya adalah sahabat Surkati sendiri. Mereka semua adalah Muhammad Noor, al-Ansari, Muhammad Abul Fadl al Ansari (Saudara Surkati) dan Hasan Hamid al Ansari. Yang keempat adalah Ahmad al- Awif , diperuntukkan bagi Jamiat Khair yang didirikan di Surabaya. Dari keempat guru yang datang itu, hanya Muhammad Noor yang pernah belajar di Al-Azhar di Kairo, Mesir (1899-1906) dan pernah belajar langsung dari Abduh. Tetapi tak bisa dipungkiri para guru yang tiga lainnya juga telah mendengar dan berkenalan dengan karya-karya dari pembaharu Mesir ketika mereka berada di negeri asal mereka. Mereka pun semuanya menganggap diri meraka sebagai pengikut- pengikut Abduh.14

Sebagai sebuah organisasi Jamiat Khair tidak semata-mata terbatas pada orang-orang Jakarta.Anggota-angotanya terdiri juga dari orang-orang yang berada di luar Jakarta. Tetapi mereka semua memberikan alamat mereka di Jakarta, oleh sebab peraturan pemerintah yang membatasi kegiatan-kegiatan organisasi ini

13 Deliar Noor, Gerakan Modern Islam di Indonesia, h. 69

14 Deliar Noor, Gerakan Modern Islam di Indonesia, h. 70

(39)

25

secara geografis. Memang ada organisasi dengan nama yang sama (Jamiat Khair) di tempat-tempat lain, tetapi ini hanya mempunyai arti behawa mereka mengikuti jejak saudara-saudara mereka di Jakarta. Hubungan orginisatoris tidak ada.15

Jamiat Khair yang memulai organisasi dengan bentuk moderen dalam masyarakat Islam (dengan anggaran dasar, daftar anggota yang tercatat, rapat- rapat berkala). Lalu mendirikan suatu sekolah dengan cara-cara yang banyak sedikitnya telah moderen (kurikulum, kelas, dan pemakaian bangku, papan tulis dan sebagainya). Ide-ide ini berkumandang di kota-kota lain , tetapi orang-orang yang ada di Jakarta membeku; ia cepat merasa puas dengan prestasi yang telah dicapai.16

Sejak kedatangan mereka, orang-orang Hadrami telah memainkan peran aktif dalam dinamika Islam di Nusantara. Mazhab hukum Syafi’i yang merupakan ciri penting Islam di Hadramaut, muncul sebagai mazhab paling berpengaruh. Karena peranan mereka yang menonjol, orang-orang Hadrami (terutama yang bergelar sayyid) menikmati otoritas keagamaan dan mengadakan berbagai kegiatan yang diikuti oleh komunitas di sekitarnya. Orang-orang Hadrami mengklaim sebagai pemimpin alamiah orang-orang Islam pribumi, karena adanya penghormatan terhadap mereka, hal ini tampak menjadi kecenderungan intrinstik kelompok ters ebut. 17

Menarik apa yang yang diulas van den Berg, tentang ciri khas orang Hadramaut: Orang Hadromaut kata berg adalah menghargai peradaban jiwa.

Dalam ilmu pengetahuan mereka gemar terhadap teologi, jurisprudensi, dan khususnya pada tata bahasa. Mereka orang Arab juga sangat mematuhi prinsip- prinsip hukum Islam mengenai zakat. Orang Arab semiskin apapun , dapat

15 Deliar Noor, Gerakan Modern Islam di Indonesia, h. 71

16 Deliar Noor, Gerakan Modern Islamn di Indonesia, h. 71

17 Noorhaidi Hasan, Laskar Jihad, h. 85

(40)

26

menjaga anak perempuannya terhadap pelacuran, suatu hal yang patuh dihargai, mengingat penduduk pribumi kelas bawah sangat mudah melakukannya.18

Di era kolonial, orang Hadrami juga berperan aktif dalam bidang politik.

Mereka menjalin persekutuan dengan kalangan elite setempat dipelbagai kerajaan di Nusantara, seperti di Sumatera Timur dan Kalimantan Barat. Peranan ini didukung oleh keberhasilan mereka dalam kegiatan-kegiatan ekonomi. Penguasa Belanda selanjutnya menggunakan posisi kaum Hadrami yang menonjol ini untuk kepentingan politik mereka. Sebagai contoh mereka tak sungkan untuk memanfaatkan jaringan internasional Hadrami bagi kepentingan diplomatik Belanda. Sebagai timpal baliknya, elite Hadrami menduduki karir administratif yang menonjol dalam sistem kolonial Belanda.19

Menurut catatan L.W.G van den Berg, pada abad pertengahan telah terjalin hubungan dagang yang cukup erat antara Arab Selatan, khususnya Maskat, teluk Persia, dan Nusantara. Dapat dikatakan bahwa para navigator dan pedagang Arablah yang telah memperkenalkan Islam di Nusantara; pertama di negeri Aceh, kemudian Palembang, dan pada abad ke XVIII di Pulau Jawa. Meskipun, teori ini kata van der Berg, memiliki kelemahan, pasalnya tidak ditemukan peninggalan dari navigator dan pedagang itu.20

Bukti lain diungkapkan oleh Azyumardi Azra21, kehadiran Muslim Timur Tengah –khususnya dari Hadramaut – di Nusantara telah terjadi sejak abad ke-7 Masehi. Di sisi lain juga, terlihat bukti, sejak abad ke-7 telah terjalin hubungan antar kerajaan Sriwijaya (Nusantara) dan Dinasti Muawiyah (Timur Tengah).

Bukti-bukti historis bagi hubungan politik dan diplomatis internasional kedua kerajaan besar terlihat dari dua pucuk surat yang mengandung bukti kuat dikirim oleh Maharaja Sriwijaya kepada dua Khalifah di Timur Tengah.

18 Van den Berg, Le Hadhramout Et Les Colonies Arabes Dans L’ Archipel Indien , terj. Rahayu Hidayat, (Jakarta: INIS jilid III, 1989), h.79-82

19 Noorhaidi Hasan, Laskar Jihad,h. 86

20 L.W.C. van den BERG, Le Hadhramout Et Les Colonies Arabes, h. 67

21 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII Akar Pembaruan Islam Indonesia, Edisi Parenial (Jakarta:

Kencana, 2013), h. 23-24.

(41)

27

Surat pertama, atau tepatnya bagian pendahuluan surat, dikutip oleh al- Jahizh (Amr al-Bahr, 163-255/783-869), Al-jahizh mendengar berita tentang surat Maharaja (Sriwijaya) yang ditujukan kepada Khalifah Mu’awiyah (41/661), surat itu berbunyi:

(Dari raja al-Hind- atau tepatnya kepulauan India) yang kadang binatangnya berisikan seribu Gajah, (dan) istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani seribu putri raja-raja, dan yang memilki dua sungai besar (Batanghari dan Musi), yang mengairipohon Gaharu (al- oes) kepada Muawiyah.

Surat kedua, yang mempunyai nada yang sama, jauh lebih lengkap. Baik pembukaan dan isi surat itu diselamatkan oleh Ibn Abd’ al-Rabbih (246-329/860- 940) dalam karyanya Al-I’qad al-Farid. Surat yang dialamatkan kepada U’mar bin `Abd al-Aziz (99-102/717-720) itu menunjukkan betapa hebatnya maharaja dan kerajaannya:

Nu’aym bin Hammad menulis: ‘Raja al-Hindi (kepulauan ) mengirim sepucuk surat kepada U’mar bin ‘Abd al-Aziz, yang berbunyi sebagai berikut: “ Dari Raja Diraja (Malik al-Malik=Maharaja); yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga adalah anak cucu seribu raja;

yang dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu- bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wewangiannya sampai menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab (‘Umar bin `Abd al- Aziz), yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan Anda hadiah , yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak , tetapi sekadar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya tentang hukum- hukumnya ( atau dalam versi lain , yang akan mengajarkan Islam dan menjelaskan kepada saya. 22

Perjalanan dari Hadramaut ke Nusantara dahulu berlangsung berbulan- bulan. Pertama harsu berangkat dari al-Mokalla atau asy-Syihr menuju Bombay.

Dari sana menuju pulau Ceilon (Sri Langka) dan akhirnya ke Aceh atau

22 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama,h. 27-29

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian Pancasila disahkan menjadi dasar falsafah negara pada sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), tanggal 18 Agustus 1945. 2) Latar belakang

Warga Negara diatur pada pasal 27 s/d 34 UUD 1945 termasuk didalamnya ada hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia. 

Hubungan Pancasila dan UUD 1945 Secara Formal Rumusan Pancasila sebagai Dasar Negara RI tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, terutama pada alinea 4 yang merupakan inti dari

internasional antara lain sebagai berikut: 1) Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia tahun 1948 (pasal 18), UUD Negara RI Tahun 1945, UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

Mencermati Pasal 28A dan 28I ayat (1) UUD 1945 tersebut di atas dengan tegas dinyatakan bahwa hak untuk hidup adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurang

Pengertian Pancasila sebagai Dasar Negara tercantum dalam pembukaan UUD 1945, sedangkan UUD 1945 itu merupakan pokok kaidah Negara yang fundamental,yang mempunyai

2) Sistem hukum nasional yang dibangun berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 3) Tidak ada hukum yang memberi hak istimewa pada warga negara tertentu berdasarkan

Kesimpulan Hak kebebasan berserikat merupakan hak asasi manusia yang kemudian dimasukkan dalam UUD NRI 1945, salah satu bentuk implementasi dari hak kebebasan berserikat, yaitu