• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok Islam Pada Peristiwa 18 Agustus 1945

PANCASILA DAN SYARIAT ISLAM

C. Kelompok Islam Pada Peristiwa 18 Agustus 1945

Perubahan di atas merupakan kekalahan politik wakil-wakil Islam.

Kekecewaan para politisi Islam pun berlanjut, baik itu di konstituante hingga zaman reformasi. Perdebatan demi perdebatan mewarnai politisk Indonesia antara kalangan Islam dan nasionalis. Ditambah lagi nanti dari kalangan Komunis dan kaum sosialis kiri.

Terkait sikap legowo kalangan Islam politik dalam peristiwa 18 Agustus 1945 tersebut, kondisi Indonesia masih dalam tahap revolusi, sehingga kalangan nasionalis-Islami merasa bukan saat tepat untuk mendesak cita-cita Islami mereka.

Sikap mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari jajahan sekutu yang berkeinginan untuk mengembalikan Belanda untuk menjajah Indonesia jauh lebih penting. Sikap diam dari kalangan Islam semata-mata mempertimbangkan

47 Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta, h. 46-47

47

Indonesia. Kalahnya Jepang dari sekutu, dan mendaratnya kembali Belanda, sehingga tak tepat membicarakan filsafat dan konstitusi negara secara mendalam.

Di sisi lain, pada tahun 1978, Menteri Agama, Alamsyah Ratu Perwiranegara, memandang peristiwa tersebut sebagai hadiah kalangan Islam kepada bangsa dan kemerdekaan Indonesia. Tujuannya demi menjaga marwah, persatuan, dan kesatuan anak bangsa. Ini menjadi penegasan komitmen kalangan Islam terhadap bangsa, di tengah tuduhan pihak-pihak tertentu yang menyebut loyalitas kalangan tertentu terhadap Kebhinenekaan Indonesia.48

Setelah peristiwa 18 Agustus 1945, tak dapat dipungkiri kalangan Islam banyak yang merasa kecewa. Momentum kemerdekaan Indonesia, merupakan peluang yang diambil oleh pelbagai golongan masyarakat untuk berserikat.

Kesempatan ini pula yang dimanfaatkan oleh golongan Islam untuk membentuk partai politik. Pada tanggal 7 November 1945, kongres umat Islam di Jogjakarta pun diadakan.

Melalui kongres ini, terbentuklah Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Meski diakui beberapa tahun sebelumnya, Masyumi juga pernah dibentuk oleh pemerintahan Jepang. Tapi yang ini jauh berbeda dari yang sebelumnya.

Dalam kongres bulan November itu tercatat sebagai ketua panitia adalah Mohammad Natsir. Bertindak sebagai anggota; Soekiman Wirjosendjojo, Abikusno, Wachid Hasjim, Wali AL-Falah, Sri Sultan Hamengkubuwono, Sri Paku Alam VIII, dan Gaffar Ismail. Pelbagai hasil keputusan kongres, tapi ada dua hal yang menjadi sorotan.

Pertama, Masyumi adalah satu-satunya partai politik Islam di Indonesia.

Kedua, Masyumi merupakan partai yang akan memperjuangkan aspirasi politik Islam. Dalam kongres tersebut, terpilih sebagai ketua Majelis Syura, K.H Hasjim Asy’ari, Badan Eksekutif dikomandoi oleh Soekiman Wirdjosendjojo. Sedangkan, Natsir kala itu masih berstatus sebagai anggota Pengurus Besar Masyumi bersama anggota yang lain.

48 Syafii Maarif, Islam dan Pancasila, h. 148

48

Dalam tempo singkat, partai baru ini telah tersebar keseantero penjuru negeri. Elektabilitas partai pun meningkat tajam. Partai Masyumi telah muncul sebagai partai yang mengakar di tengah masyarakat Indonesia. Pelbagai ulama.

Kyai, dan ustadz berbondong-bondong ingin meleburkan diri bergabung dengan partai bulan sabit ini. Bila ditelaah, kebanyakan peminat partai ini berasal dari kalangan sub-kultural dan paham keagamaan.

Sebagai suatu partai, Masyumi telah menyusun tujuan jangka panjang yang menjadi cita-cita politik. Tercantum dalam Anggaran Dasar Partai Masyumi, dengan gamblang, “Tujuan Partai adalah terlaksananya ajaran dan hukum Islam di dalam kehidupan seorang, masyarakat dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi”.49

Untuk mencapai tujuan tersebut, Masyumi menggerakkan saluran partai dengan pelbagai strategis yang efektif guna mewujudkan Indonesia yang bercorak Islami. Meskipun partai memperjuangkan membentuk masyarakat Islam, tetapi mereka membebaskan golongan lain memperjuangkan aspirasi politik yang sesuai dengan ajaran agama dan ideologi.

Huru-hara pun melanda partai Islam ini. Ikrar dan perjuangan partai tampaknya tak begitu saja lurus. Pada bulan Juli 1947, Sarekat Islam memisahkan diri dari Masyumi. Sebagaimana diketahui, Amir Sjarifuddin mengajak Masyumi masuk dalam kabinet.

Namun, ajakan itu ditolak oleh petinggi Masyumi. Perdana Menteri dari golongan kiri itu sebelumnya berkonflik panas dengan Masyumi-Partai Nasionalis Indonesia. Penyebabnya, Perjanjian Linggarjati dan Renville adalah buah dari siasat kaum kiri. Saat itu, PKI dan PSI masih dalam satu perahu. Masyumi dan PNI bekerjasama menriakkan slogan anti Amir Sjarifuddin.

Meskipun SI keluar, itu tak memberikan efek besar bagi Masyumi. Sebab, posisi SI dalam Masyumi merupakan golongan kecil. Justru petaka besar terjadi

49 Lebih lanjut lihat, artikel yang diterbitkan Pimpinan Masyumi Bagian Keuangan dengan judul Pedoman Perjuangan Masyumi, tahun 1955.

49

pada tahun 1952, giliran NU yang mengikuti jejak SI tarik diri dari Masyumi.

Keputusan itu diambil setelah mengadakan kongres di Palembang. Harus diakui jamaah NU memiliki andil besar bagi Masyumi terutama di wilayah Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.

Salah satu penyebab keluarnya NU dari Masyumi, adanya ketidakpuasan NU terkait dewan partai. Dalam susunan Partai Masyumi, didominasi oleh kalangan reformis, terlebih saat Mohammad Natsir menjadi ketua. Sedangkan NU ditempatkan dalam dewan penasihat. Padahal kala itu, gairah politik NU sedang membuncah. Dalam pandangan NU, kyai juga bisa menjadi menteri, anggota dewan, dan pejabat publik. Bukan hanya menjadi menteri agama semata.

Pemilihan umum akhirnya terlaksana pada 29 September 1955. Pemilihan umum yang berasaskan langsung, umum, bebas, dan rahasia dalam suasana demokratis. Peserta pemilu 1955 dapat dipetakan dalam tiga kelompok besar yakni, Islam, Nasionalis, dan Komunis-Sosialis. Dalam pemilu ini aliran Islam berhasil memiliki suara sebanyak 45, 2 % suara (116 dari 257 kursi dalam DPR hasil Pemilu).

Aliran Nasionalis 27, 6 % (71 dari 257 kursi). Selanjutnya, aliran sosialis-komunis memperoleh 15, 2 % (39 dari 257 kursi). Sedangkan sosialis kanan hanya memperoleh 2 % suara (5 dari 257 kursi); golongan Kristen/Katolik menyumbang 4,6 % (14 dari 257 kursi). Dari data di atas, pemilu 1955 melahirkan empat partai besar dengan perimbangan di DPR sebagai berikut; PNI (57 kursi), Masyumi (57 kursi), NU (45 kursi), dan PKI (39 kursi).50

Setelah pemilihan umum 1955, Soekarno membentuk majelis konstituante pada 10 November 1956. Dalam perjalanan sidang konstituante, kembali terjadinya pelbagai perdebatan tentang perumusan dasar negara.

Pada permulaan sidang, ada tiga usulan yang masuk sebagai dasar negara;

Pancasila, Islam, dan sosial ekonomi. Usul pertama, Pancasila didukung oleh PNI

50 Syafii Maarif, Islam dan Politik di Indonesia, h. 41

50

(116 anggota), PKI (PKI, termasuk fraksi Republik Proklamasi, 80) Perkindo (16 anggota), Partai Katolik (10 anggota), PSI (10 anggota), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI, 8 anggota), dan pelbagai kecil lainnya. Bila ditotal sebanyak 273 wakil. Kedua, usul tentang Islam, didukung oleh Masyumi (112 anggota), NU (91 anggota), PSII (16 anggota), Perti (7 anggota), dan empat partai kecil sisanya. Total suara sebanyak, 230 anggota yang diutus dalam majelis Konstituante.51

Usulan ketiga tentang sosial-ekonomi, hanya didukung sebanyak 9 anggota; 5 orang perwakilan Partai Buruh. Sedangkan 4 orang dikirim oleh Partai Murba. Usulan yang ketiga ini tak banyak dibicarakan dalam sidang konstituante sebab hanya didukung kelompok kecil.

Terkait usul tentang Islam sebagai dasar negara, salah satu tokoh yang getol memperjuangkannya adalah Mohammad Natsir. Dalam pidatonya yang berjudul Islam sebagai Dasar Negara di Majelis Konstituante pada 1957. Dalam pidatonya, Natsir berpendapat bahwa Indonesia hanya punya dua pilihan tentang dasar negara; sekularisme (ladiniyah), atau paham berdasar agama (din). Pancasila posisinya berada dalam tempat sekularisme. Karena ia sekuler, tidak mau mengakui wahyu sebagai sumbernya. Pancasila tutur Natsir, merupakan hasil dari penggalian nilai dan budaya dari masyarakat.

Selain itu, di sidang Konstituante, Natsir sempat berpolemik dengan tokoh PNI, Roeslan Abdulgani. Bagi Roeslan, sila terpenting dalam Pancasila adalah sila Kebangsaan (nasionalisme). Dalam pidatonya, Roeslan mengungkapkan, bahwa kebangsaan Indonesia bukan suatu kebangsaan yang hanya berlandaskan kepada materialisme semata, tetapi ia juga berlandaskan kepada keyakinan dan pengakuan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa.

Polemik Roslan dan Natsir pun berlanjut. Pancasila adalah adalah sebuah sintesis dari gagasan Islam modern, ide demokrasi, marxisme, dan gagasan-gagasan demokrasi asli seperti dijumpai di desa-desa dan komunal penduduk asli.

51 Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta, h. 77

51

Tak sebatas itu, Pancasila adalah suatu filsafat sosial yang sudah dewasa, yang besar pengaruhnya atas jalan revolusi. Pendek kata, Pancasila adalah Islam, demokrasi liberal Barat, Marxisme, dan demokrasi asli.

Seyogianya, pendapat Roslan merupakan sebuah penolakan dari argumen Natsir yang menyebut Pancasila adalah sekuler. Dengan menyebut kata “Pancasila bersumber dari Islam” sejatinya ia ingin melawan narasi yang diungkapkan Natsir; “Pancasila adalah suatu abstraksi atau suatu konsep teoritik (pure concept), sekuler dalam arti tanpa agama (la diniyah) dan netral.

Pancasila sebagai falsafah negara merupakan tindakan yang kabur.

Langkah ini tak membawakan sesuatu apapun kepada jiwa umat Islam yang sudah memiliki pandangan hidup yang tegas, terang dan lengkap. Islam sudah hidup dalam kalbu rakyat Indonesia dan merupakan sumber kekuatan lahir dan batin.

Sehingga keduanya saling berintegrasi dan tidak dapat dipisahkan. Urusan negara diatur dalam risalah Islam. Natsir mencatut firman Allah dalam Al-Qur’an Q.S al-Zariyat/ 51; 56 “Dan kami tidak jadikan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdi kepada Ku”. Bagi seorang reformis seperti Natsir, Negara berfungsi sebagai alat bagi Islam untuk melaksanakan hukum Allah demi keselamatan dan hidup sentosa.

Natsir lebih banyak menyasar hukum moral. Meskipun harus diakui dalam beberapa kesempatan, ia juga berbicara tentang tentang politik dan hukum syariat Islam. Dalam kesempatan ini, penulis ketengahkan pandangan politik-moral Natsir terkait persoalan Al-Qur’an dan persoalan negara.

Tentang gelar kepala pemerintahan, apakah harus bergelar khalifah, imam, atau sultan sebagaimana disinggung dalam pembahasan politik Islam klasik dan modern. Natsir nampak menawarkan solusi lebih modern dari para pendahulunya.

Kepala negara boleh dipanggil Amir, Khalifah, amir al mukminun, atau presiden pun bisa saja. Kunci utamanya, sang kepala negara harus memenuhi kewajiban sebagaimana yang digarisbawahi oleh Islam.

52

Perdebatan itu berakhir pada 2 Juni 1959, tanpa menghasilkan suatu keputusan. Dengan demikian, pembuatan Undang-Undang Dasar permanen terbengkalai. Kondisi ini kemudian yang dimanfaatkan oleh Presiden soekarno untuk menerbitkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dalam pengambilan keputusan ini, Presiden mendapat sokongan kuat dari militer untuk kembali ke UUD 1945.

Dengan demikian, Majelis Konstituante pun dibubarkan.52

Sebagaimana dalam Dekrit 5 Juli tertera ‘bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut. Tampaknya jelas dekrit ini merupakan kompromi politik antara golongan kebangsaan dan Islam atau yang mendukung Pancasila dan pendukung dasar negara Islam.

Dekrit Soekarno yang diikuti oleh pelaksanaan Demokrasi terpimpin telah menyumbat saluran legal bagi umat Islam, terutama kelompok modernis, untuk menyatakan ide-ide san aspirasi politik mereka. Demokrasi terpimpin merupakan pintu untuk menggulung politik Islam di Indonesia.