ISLAM, PANCASILA DAN NKRI BERSYARIAH RIZIEQ SYIHAB
B. Pancasila Menurut Rizieq Syihab
Setelah berbicara Islam dalam pandangan Rizieq Syihab, perdebatan alot tentang Pancasila telah berlanjut begitu larut. Perjalanan bangsa Indonesia tak pernah lepas dari perdebatan itu. Perdebatan panas antara golongan Islam, Nasionalis-sekuler, komunis, dan sosialis. Dimulai dari BPUPKI, PPKI, Konstituante, hingga reformasi. Meskipun Pancasila telah disepakati sebagai dasar negara yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Namun ketidakpuasan tentang Pancasila tetap mewarnai politik kebangsaan Indonesia hingga saat ini. Penyababnya jelas, tujuh kata yang dihapus dari piagam Jakarta, Dekrit Presiden 5 Juli 1959, dan UUD tentang Presiden dan wakil Presiden yang mewajibkan orang Indonesia asli dan beragama Islam.
Habib Rizieq Syihab merupakan tokoh di era reformasi yang gigih menyuarakan kebobrokan proses perjalanan Pancasila. Imam Besar Front Pembela Islam ini membagi empat pembagian perkembangan Pancasila.
Perumusan Pancasila I, terjadi tatkala Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai yang kemudian dikenal dengan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
8 Muhammad Rizieq Syihab, Dialog FPI Amar Ma’ruf Nahi Munkar, (Jakarta;
Pustaka Ibn Sidah, 2004),h. 115
67
Rizieq berpandangan jika rumusan Pancasila I adalah yang asli. Rumusan ini merupakan hasil keputusan resmi Sidang Kedua BPUPKI yang dilaksanakan dari 10 s/d 16 Julai 1945. Keputusan sidang ini juga diterima secara aklamasi oleh seluruh anggota BPUPKI. Bahkan disepakati untuk dijadikan sebagai Preumbul (Pembukaan) Undang-Undang Dasar 1945. Bila ditilik lebih jauh, Rumusan Pancasila I seyogianya Konsensus Nasional yang disepakati oleh founding father.
Hal ini tercantum pada sidang BPUPKI periode yang melahirkan Piagam Jakarta. Piagam Jakarta ini dikemudian hari yang menjadi polemik. Pada tahap selanjutnya tujuh kata “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dihapuskan.
Kemudian Rizieq Syihab menyebut dengan tahap Perumusan II. Secara tegas pada tahap ini, Rizieq menyebut perumusan kontroversial. Dalam perumusan tahap II ini, terjadi penghapusan anak kalimat ”Dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dari Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang tidak lain adalah Piagam Jakarta. Kejadian ini terjadi pada 18 Agustus 1945.
Asal-muasal pengkhianatan pancasila tersebut karena perubahan empat butir perubahan Piagam Jakarta. Usul tersebut diterima mayoritas sidang.
Pasalnya tidak satu pun tokoh kalangan Islam yang hadir dalam sidang yang berlangsung selama dua jam. Rizieq Syihab berpendapat jika wajar jika umat Islam kecewa dan merasa dikhianati. Ini dikarenakan Syariat Islam dengan mudah dihapuskan dari dasar negara Indonesia.
68
Rizieq Syihab tidak setuju pada penghapusan tujuh kata dari sila pertama.
Alasan ini paradoks. Faktanya meskipun syariat Islam telah dihapuskan, tetap saja ada gerakan separatis dari Indonesia Timur, misalnya; Organisasi Papua Merdeka, Rakyat Maluku Selatan, bahkan Timor-Timor pun memisahkan diri dari Republik Indonesia.
Imbas pengkhianatan Pancasila ini, menurut Rizieq Syihab yang memantik pemberontakan yang dilakukan oleh SM. Kartosuwiryo di Jawa Barat. Di Sulawesi Selatan pun Kahar Muzakkar ikut andil dalam pemberontakan. Nama Daud Beureuh dari Aceh, dan dilanjutkan oleh Gerakan Aceh Merdeka pun memberontak akibat pengkhianatan Pancasila ini. Pendek kata, para pemberontak itu bukan penjahat, tapi mereka semua adalah pejuang kemerdekaan yang menuntut keadilan dna melakukan perlawanan terhadap pengkhianatan.9
Tindakan ini dianggap sebagai bentuk pengkhianatan baginya karena tidak mampu meredam pergolakan dari kaum minoritas Kristen di Indonesia bagian timur. Menurutnya persatuan mayoritas yang penuh loyalitas terhadap NKRI dipertaruhkan hanya untuk memuaskan minoritas yang tidak jelas loyalitasnya terhadap NKRI.
Sebagai seorang orator ulung , kata-kata yang diungkapkan Rizieq Syihab pun terlihat ciri khas orator saat mengungkapkan nilai Keislaman yang terkandung di dalam Pancasila.
Diksi yang dituangkan pun laiknya propaganda yang mampu menaikkan tingkat antusias pendengar. Lebih lanjut, dua pendapat terakhir yang digaungkan
9 Rizieq Syihab, Wawasan Kebangsaan, h. 6-7
69
oleh Habib Rizieq tergolong kontroversial. Dan tak semudah itu untuk mensimplikasi persoalan, terlebih masalah gerakan separatis yang lahir jauh hari setelah peristiwa 18 Agustus 1945.
Selanjutnya, Rizieq Syihab turut mengomentari Pancasila pada era Indonesia berbentuk serikat. Melalui Konferensi meja bundar, pada 29 Oktober 1949 di Scheveningen, tercetuslah Piagam Persetujuan antara RI dan BFO, yang menyepakati terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS). Kemudian, pada 14 Desember 1949, Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah RI melegalisasi Piagam Persetujuan tersebut sebagai Konstitusi. Untuk selanjutnya, 27 Desember 1949 mulai dilaksanakan.
Sejalan dengan terbentuknya Republik Indonesia Serikat, lima dasar negara Indonesia pun dalam Pembukaan Konstitusi RIS pada 29 Oktober 1949 sebagai berikut;
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Perikemanusiaan 3. Kebangsaan
4. Kerakyatan, dan 5. Keadilan Sosial
Lima dasar negara ini kemudian hari dikenal dngan Pancasila RIS 1949.
70
Lambat laun, Republik Indonesia Serikat dinilai sebagai politik adu-domba yang dikembangkan oleh Belanda. Para elit bangsa terbelah dalam hasil konfrensi Meja Bundar tersebut. Tidak mau terjebak dalam lingkaran tipu-tipu daya Belanda jilid II, maka pada 3 April 1950, M. Natsir melalui Dewan Perwakilan Rakyat Federal mengajukan mosi integral. Belakang hari populer dengan sebutan Usul Integral Natsir.
Untuk selanjutnya, 19 Mei 1950 digelar konferensi RIS – RI. Hasil konfrensi tersebut menyepakati untuk membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan pada 20 Julai 1950, disetujui Undang-Undang Dasar Sementara NKRI 1950 yang baru dikuatkuasa pada 14 Ogos 1950.10 Rizieq Syihab menyebut sebagai Perumusan IV. Pancasila dalam tahap ini tak berbeda dengan rumusan Pancasila dalam RIS. Tidak ada perubahan dalam susunan reaksi.
Rizieq juga menyebut Pancasila pada masa RIS dan UUD Sementara 1950 dengan “Pancasila palsu” dan “Pancasila penyelewengan”. Sekali lagi, kekecewaan Rizieq ini imbas dari tujuh kata yang dalam Piagam Jakarta yang tak kunjung kembali.
Perjalanan Pancasila dalam konstituante juga menjadi pembahasan Rizieq Syihab. Baginya, Konstituante merupakan bentukan Soekarno pada tahun 15 Desember 1955. Majelis ini bertugas untuk merumuskan kembali UUD Negera
10 Prawoto Mangkusasmito, Pertumbuhan Historis Rumus Dasar Negara dan Sebuah Proyeksi, h.43-44.
71
Indonesia. Namun pada akhirnya, Majelis ini dibubarkan oleh Soekarno melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Setelah sekian lama bersidang majelis ini tak kunjung menemui titik temu dan menemui jalan buntu.
Munculnya Dekrit Presiden Soekarno ini, merupakan angin segar bagi penegakan syariat Islam. Dekrit 5 Juli menurut Rizieq masuk pada Rumusan Pancasila V, sama dengan Rumusan Pancasila II, tetapi mesti menjiwai Rumusan Pancasila I. Artinya rumusan I dan II, merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisah. Rizieq berkesimpulan bahwa Rumusan Pancasila I yaitu Pancasila Piagam Jakarta berdasarkan Dekrit Presiden 5 Julai 1959. Dengan demikian, tuntutan pengembalian Piagam Jakarta sesuai dengan isi Dekrit tersebut, hingga kini Dekrit tersebut tetap berlaku dan tidak pernah dibatalkan.11
Setelah mengurai Pancasila dari pra kemerdekaan dan orde lama, selanjutnya giliran Orde Baru yang juga dikupas oleh Rizieq Syihab. Sasaran kritik tajam itu dialamatkan kepada Soeharto. Pancasila di era Orde Baru dijadikan sebagai ideologi dan filsafat negara. Lebih dari itu, Pancasila dianggap kitab suci, sekaligus diposisikan sebagai agama. Sebab, Pancasila dijadikan sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia.
Terlebih lagi di-era 1980, saat asas tunggal Pancasila diberlakukan.
Pancasila makin sakti. Pancasila menjadi semacam justifikasi berkehidupan masyarakat dan bernegara. Sehingga timbul kesan, bahwa Pancasila menjadi alat bagi mereka yang berlawanan politik. Imbasnya, banyak tokoh Islam yang dibui,
11 Rizieq Syihab, Pancasila dan Penegakan Syariat Islam di Indonesia, h. 90-91
72
seperti; Abu Bakar Ba’asyir, A.M. Fatwa, Idrus Jamaullail, dan Mohammad Natsir. Pendek kata, pada masa Orde Baru, Pancasila dihadapkan-hadapkan kepada Islam.
Terkait era Reformasi, Rizieq Syihab menyindir lewat Tesis miliknya yang berjudul, Pancasila dan Upaya Penagakan Syariat Islam di Indonesia, masa reformasi meskipun telah terjadi empat kali Amandemen UUD 1945, tafsiran Pancasila tak jauh berbeda. Era reformasi ketika rakyat Indonesia sedang dilanda euforia demokrasi, maka tafsiran pancasila pun mulai diarahkan untuk mengikut arus pemikiran liberal pluralis. Imbasnya, lahirlah berbagai bentuk kebebasan tanpa batas dan pelbagai kebijakan yang merusak aqidah. Kondisi ini berkembang dengan pesat di bawah naungan Pancasila atas nama Hak Asasi Manusia (HAM).12
Terlihat jelas kritikan Rizieq Syihab terhadap proses pembentukan Pancasila. Bagi peneliti setidaknya ada tiga sikap Rizieq Syihab dalam menanggapi proses Pancasila. Pertama, Rizieq Syihab menyebut Perumusan Pancasila I itu sebagai Perumusan Pancasila asli. Dalam sidang BPUPKI periode ini lahirlah Piagam Jakarta. Dengan masih adanya kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
Ada pun Perumusan lain, dianggap tak absah—Rizieq Syihab menyebutnya dengan palsu, agitasi, hasil pengkhianatan—karena menyalahi konstitusi. Perjuangan untuk mengembalikan Piagam Jakarta dan Dekrit 5 Juli
12 Rizieq Syihab, Pancasila dan Penegakan syariat Islam, h. 163
73
1959 hingga kini masih menjadi konsen Rizieq Syihab dan gerakan organisasi masyarakat yang ia dirikan.
Kedua, Pancasila seyogianya ditafsirkan dalam interpretasi Islam. Rizieq Syihab ingin meng-Islam-kan Pancasila, yaitu dengan memberikan nilai-nilai transendental sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur’an dan Hadist. Langkah ini untuk mencari relasi antara Islam dan Pancasila. Tampaknya inilah menjadi perhatian khsusus Rizieq Syihab selama ini. Gerakan penegakan syariat Islam yang selama ini ia gaungkan, tentu dengan pintu masuk utamanya Pancasila.
Pelbagai semboyan yang dibentuknya; NKRI Bersyariah, Indonesia tanpa maksiat.
Rizieq Syihab melihat jika Pancasila harus berada dalam naungan Keislaman. Tanpa adanya Keislaman, Pancasila dapat ditelan oleh imperialisme.
Serta dapat terpengaruh oleh paham komunisme.