PANCASILA DAN SYARIAT ISLAM
B. Perdebatan Islam atau Pancasila Sebagai Dasar Negara
Selama sidang BPUPKI berlangsung, para anggota sidang terbagi kepada dua kelompok yang saling berseberangan. Terkait kondisi ini, menceritakan
42 Rizieq Syihab, Pengaruh Pancasila, h. 46
43 B. J. Bolland, The Struggle of Islam in Moden Indonesia, (The Hagus;
Martinus Nijhoff, 1971), h. 17. Atau lihat juga dalam buka Endang Syaifuddin Anshari, h.
18-19
40
keadaan dalam sidang pada 31 Mei 1945. Setidaknya di dalam ruangan tersebut terlihat ada dua paham. Satu paham dari anggotanya yang ahli agama, yang menganjur supaya Indonesia didirikan sebagai negara Islam. Di sisi lain, sebagaimana dianjurkan tuan Mohammad Hatta, ialah negara persatuan Indonesia yang memisahkan urusan agama dan urusan negara. Dengan kata lain, bukan negara Islam.
Perlu menjadi catatan pula jika di dalam Pancasila versi Soekarno, Ketuhanan tidak ditetapkan dalam sila pertama sebagai sumber moral bagi sila-sila yang lain. Lebih dari itu, Pancasila-sila dapat disarikan menjadi Trisila-sila. Dan tak berhenti di situ, bahkan sila yang tiga itu bisa dileburkan menjadi Ekasila, dalam bentuk semangat gotong royong. Dalam bentuk sila terakhir ini, semangat Ketuhanan pun telah tersingkir.
Panitia dalam sidang BPUPKI terdiri dari sebanyak 68 orang hanya 15 orang saja yang benar-benar mewakili aspirasi golongan Islam. Wakil-wakil Islam itu antara lain, K.H Ahmad Sanusia (PUI), Ki Bagus Hadikusumo, K.H. Mas Mansur, Abdul Kahar Muzakkir (Muhammadiyah), K.H abdul Wahid Hasyim, K.H Masykur (NU), Sukiman Wiryosanjoyo(PII), Abi Kusno Tjokrossujoso (PSII), Agus Salim, dan K.H Abdul Halim (PUI). Lebih lanjut, dalam konstelasi politik saat itu, kekuatan Islam hanya sekitar 20 persen saja. Tentu itu persentase yang sangat kecil.
Dalam sidang BPUPKI, yang pertama-tama yang dibicarakan mengenai hearing tentang dasar negara, bentuk pemerintahan negara, batas negara, dan dilanjutkan dengan pembahasan filsafat negara. Demikian itu, bertujuan untuk membentuk konstitusi baru bagi sebuah negara yang baru pula.
Terkait bentuk pemerintahan (negara), seperti yang dikutipkan oleh Muhammad Yamin, mayoritas peserta sidang yakni sebanyak 53 suara memilih sistem republik, hanya 7 suara yang menginginkan kerajaan. Dalam pembahasan dasar negara, tensi politik kian hangat. Perdebatan alot pun terjadi. Di akhir, dalam voting sejumlah 45 suara memilih dasar negara berbentuk kebangsaan, dan 15 suara memilih Islam sebagai dasar negara.
41
Menarik mengulik tentang argumen para tokoh Islam dalam perdebatan tentang dasar negara dalam sidang BPUPKI. Ki Bagus Hadikusumo merupakan sosok terkemuka dari kalangan Islam. Ki Bagus mendorong Islam seyogianya menjadi sebagai dasar negara. Hal ini dikarenakan diskriminasi terhadap umat Islam telah lama terjadi, bahkan era Belanda. Islam dianggap sebagai ancaman besar bagi kolonialisme.44
Namun di sisi lain, golongan nasionalis dengan tegas menolak gagasan ini. Supomo, misalnya, ia mengakui Islam sebagai agama yang komprehensif mengatur kehidupan manusia. Namun, bukan berarti ia sepakat untuk menjadikannya sebagai dasar negara. Indonesia sebagai suatu bangsa memiliki ciri khusus. Indonesia tak sama dengan Irak, Syria, Arab Saudi, dan Mesir. Oleh karena gagasan Negara Islam harus ditolak.
Dalam perdebatan alot dalam BPUPKI tersebut belum menemukan titik temu. Pada satu pihak, pendukung Negara Islam ingin melaksanakan isi seluruh syariat Islam secara menyeluruh, tanpa ada reformasi sedikit pun. Formulasi ini penting, agar hukum Islam mampu menjawab tantangan dunia modern yang dihadapi manusia. Di sisi lain, golongan nasionalis sekuler, tampaknya getol ingin memenjarakan Islam dalam sangkar “pribadi seorang Muslim”. Terdapat batas yang jelas antara negara dan agama. Agama itu urusan pribadi warga negara.
Setelah perdebatan panas dalam sidang pertama BPUKI berakhir, tak ada mufakat resmi. Mereka melanjutkan pertemuan guna mencari jalan tengah. Dari hasil pertemuan, mereka membentuk panitia kecil. Tim sembilan sebutannya.
Panitia kecil ini terdiri dari Soekarno, Mohammad Hatta, AA. Maramis, Haji Agus Salim, Abi Koesno, Abdul Kahar Muzakkir, Ahcmad Soebarjo, Abdul Wahid Hasjim, dan Muhammad Yamin. Setelah melalui pelbagai pendekatan, akhirnya para panitia kecil ini mencapai kesepakatan dengan pihak Islam di satu sisi. Begitu pun dengan pihak nasionalis sekuler di pihak lain.
44 Ki Bagus Hadikusumo, Islam Sebagai Dasar Negara dan Akhlak Pemimpin, (Yogyakarta; Pusataka Rahayu, 1954), h. 17
42
Peristiwa ini direkam Muhammad Yamin dalam catatannya. Pada tanggal 10 Juli 1945, Soekarno menyampaikan pidato dalam sidang paripurna. Isi pidato tersebut merupakan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Ini merupakan hasil kesepakatan yang ditandatangani oleh seluruh anggota Panitia Sembilan.
Peristiwa itu terjadi pada 22 Jun 1945. Isi kesepakatan tersebut oleh Muhammad Yamin disebut dengan nama The Djakarta Charter, dan diistilahkan oleh Sukiman dengan nama Gentleman's Agreement. Kita lebih mengenalnya dengan sebutan Piagam Jakarta.
Di dalam Piagam Jakarta tersebut ada Ketuhanan, terutama sekali kewajiban umat Islam untuk menjalankan syariat Islam. Kebulatan nasionalisme Indonesia, yaitu persatuan bangsa Indonesia masuk didalamnya. Kemanusiaan atau Indonesia merdeka di dalamnya susunan peri kemanusiaan. Kemudian yang terakhir adalah keadilan sosial, social rechvaardigheid. Maka oleh karena itu, panitia kecil berkeyakinan, bahwa inilah preambul yang dapat menghubungkan sekaligus mempersatukan anggota-anggota Dokuritau Zyunbi Tyoosakai.
Tak mengherankan bila Piagam Jakarta ini oleh para politik Islam sebagai suatu kemenangan, bahkan ketika era reformasi telah bergulir. Tokoh Islam konservatif kanan, Rizieq Syihab dalam disertasinya bahkan menyebut Piagam Jakarta merupakan Rumusan Pancasila I tulen. Sebab, keputusan rasmi Sidang Kedua BPUPKI yang dilaksanakan dari 10 s/d 16 Julai 1945, dan diterima secara aklamasi oleh seluruh anggota BPUPKI. Lebih dari itu, disepakati sebagai Preumbul (Pembukaan) Undang-Undang Dasar 1945 atau Pernyataan Kemerdekaan Indonesia.
Harapan untuk menyudahi polemik tampaknya jauh dari harapan.
Preambul piagam Jakarta ramai dibicarakan, terutama pada bagian “Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
Pada 11 Juli 1945, seorang Protestan dan anggota Badan Penyidik, Latuharhari membuat pernyataan keberatan. Ia beralasan akan berakibat buruk
43
terhadap agama lain dan akan menimbulkan gejolak terhadap hukum adat-istiadat masyarakat Indonesia.45
Agus Salim pun angkat bicara. Sebagai seorang pemimpin Islam ia mengungkapkan pertikaian antara hukum agama dan adat di Indonesia umumnya telah selesai. Soekarno yang memimpin persidangan pun menjadi penegah antara golongan yang bertikai kata. Ia mengingatkan kepada hadirin peserta sidang, bahwa preambul itu adalah kompromi antara golongan Islam dan kebangsaan yang hanya didapat dengan bersusah payah. Bung Karno pun berharap pokok-pokok lain dalam preambul tak jadi bahan perselisihan dan merupakan keputusan bersama panitia sembilan.
Pada 12 Juli 1945, Soekarno membentuk Panitia Kecil Perancang Undang-undang Dasar. Supomo bertindak selaku ketua. Sedangkan Soebardjo, Maramis, Singgih, Agus Salim, dan Sukiman merupakan anggota. Tanggal 13 Juli 1945 sidang paripurna pun digelar. Perdebatan panas pun seketika lahir. Musababnya, tatkala membahasa Pasal 4 ayat 2 tentang Presiden. Diksinya berbunyi, “Yang dapat menjadi Presiden dan Wakil Presiden hanya orang Indonesia asli,”.
Selanjutnya, Pasal kedua yang menimbulkan perdebatan hangat adalah pasal 28 tentang agama. Bunyinya; Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama apa pun dan untuk beribadat menurut agamanya masing-masing”.
Perwakilan Islam Abdul Wahid Hasyim, mengusulkan pada Pasal 4 ayat 2 untuk menambah diksi; “Yang beragama Islam”. Perwakilan NU ini pun mengungkapkan alasannya. “Buat masyarakat Islam, penting sekali ada hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Jika Presiden beragama Islam, maka perintah-perintah berbau Islam dan akan besar pula pengaruhnya.
Lebih lanjut, Wahid Hasjim pun mengusulkan agar Pasal 28 itu direvisi sehingga berbunyi; “Agama negara ialah agama Islam, dengan menjamin kemerdekaan orang-orang yang beragama lain”. Tentu saja usulan ini kembali memancing perdebatan di tengah sidang. Wahid Hasjim dalam poin kedua ini mendapat dukungan dari Sukiman. Sedangkan Haji Agus Salim dalam pasal
45 Muhammad Yamin, Naskah Undang-undang , h. 259-260
44
tentang agama, menolak usulan Wahid Hasjim, meskipun keduanya dalam barisan golongan agamis.
Bertindak selaku ketua, Profesor Supomo pun angkat bicara. I dari kubu nasionalis menerima secara bulat Pasal 28 BAB X tentang agama:
1. Negara berdasarkan Ketuhanan, dengan kewajiban syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan untuk beribadat menurut agamanya masing-masing.
Perdebatan selanjutnya berkaitan dengan kepala negara. Apakah Presiden harus orang Muslim atau tidak. Sosok pertama yang angkat bicara adalah Raden Abdoelrahim Pratalykrama. Ia mengusulkan agar kepala negara Republik Indonesia hendaknya orang Indonesia asli, berumur minimal 40 tahun, dan beragama Islam.
Usulan ini mendapat sokongan dari K.H. Masjkur. Jika Republik Indonesia memasukkan ‘kewajiban menjalan syariat Islam bagi pemeluknya’, maka presiden haruslah dari kalangan Muslim. Bila presiden bukan seorang beragama Islam, tidak akan terlaksana hukum dan akan mendapatkan penolakan dari golongan Islam
Perdebatan itu pun berakhir pada keputusan Soekarno. Pada sidang yang digelar Gedung Tyuuoo Sangi-In (sekarang merupakan Gedung Kementerian Luar Negeri), bertepatan 15 Juli ini, dikatakan bahwa Presiden Indonesia harus beragama Islam. Tanggal 16 Juli, lagi-lagi Soekarno berbicara dihadapan para hadirin peserta rapat. Ia mengimbau kepada seluruh peserta, terutama pada pihak kebangsaan untuk berkorban.
Keputusan ini bukan pilihan mudah bagi golongan bukan Islam, terutama Latuhahari dan Maramis. Sehingga dalam persidangan, Soekarno meminta pengorbanan besar bagi mereka yang bukan dari Muslim tersebut, demi Indonesia utuh.46
Tak berselang lama setelah BPUPKI bersidang, Indonesia pun merayakan proklamasi kemerdekaan. Gegap gempita, masyarakat menyambut sirene
46 Muhammad Yamin, Naskah Undang-Undang Dasar, h. 391-393
45
kebebasan. Namun rupanya, UUD 1945 masih tetap dirasakan sebagai suatu yang mengganggu para anggota BPUPKI, terutama mereka yang beragama minoritas.
Adalah kalimat “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
Melihat fenomena ini, pada tanggal 18 agustus Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang diketuai oleh Soekarno dan Hatta mengadakan rapat.
Pada awalnya Panitia Persiapan ini hanya memiliki 20 anggota. Bertindak sebagai ketua adalah Soekarano dan Mohammad Hatta selaku wakilnya. Tapi, atas saran Soekarno, anggota pun ditambah 6 orang lagi. Bung Hatta menceritakan secara detail peristiwa ini dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Awalnya anggota baru akan ditambah 9 orang. Namun, Chairul Saleh dan Adam Malik menolak untuk bergabung. Kedua orang ini berpikir Panitia Persiapan tersebut bentukan Jepang.
Keesokan harinya, pada 18 Agustus 1945, PPKI langsung menggelar sidang perubahan Undang-Undang Dasar 1945 yang pernah dibuat dan ditetapkan BPUPKI sebelumnya. Dalam pidato pembukaan sidang 18 Agustus 1945, Soekarno menyampaikan arti historik saat ini, ia menekankan kepada peserta untuk bekerja tepat dan cepat. Dalam sidang itu Hatta menyampaikan usul perubahan ;
1 . Kata ”Muqaddimah” diganti dengan kata ”Pembukaan”.
2. Dalam Preumbul UUD 1945, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Piagam Jakarta, anak kalimat : ”berdasarkan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemelukpemeluknya” diubah menjadi ”berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.
3. Pasal 6 ayat 1 yang berbunyi : ”Presiden ialah orang Indonesia asli dan beragama Islam” diubah menjadi ”Presiden ialah orang Indonesia asli”.
4. sej alan dengan perubahan yang kedua di atas, mak Pasal 29 ayat 1 menjadi ”Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa”, sebagai
46
pengganti”Negara berdasarkan atas Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.47
Dengan demikian, isi kandungan Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945 hasil Sidang PPKI pada 18 Agustus 1945 pun berubah. Rumusan Pancasila dengan susunan redaksi dan sistematikanya sebagai berikut :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab . 3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tidak sekadar menghilangkan atau mengubah kata dari sila pertama. Namun juga menunjukkan bahwa adanya perbedaan pandangan dan keberagam tidak menghilangkan semangat pembentukan Piagam Jakarta.