• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

Dalam dokumen Penguatan Sosial Politik Komunitas Adat (Halaman 93-104)

[Bappenas]. 2012. Peran masyarakat adat dalam perumusan kebijakan publik. Jakarta [ID]: Direktorat Politik dan Komunikasi Kementrian PPN.

[PP] Peraturan Pemerintah. 2014. Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No.6 Tahun 2014. [Internet]. [Diunduh 3 Juni 2014].

[UU] Undang-Undang. 2014. UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa. [Internet]. [Diunduh 3 Juni 2014].

Adiwibowo S, Sjaf S, Intan E. 2014. Kajian kebijakan reforma agraria untuk penguatan kapasitas masyarakat dalam rangka kemandirian pangan dan pengentasan kemiskinan Kabupaten Mamasa. Bogor [ID]: LPPM IPB. Afif P. 2012. Penguatan modal sosial untuk pemberdayaan masyarakat dalam

pembanguanan pedesaan (kelompok tani Kecamatan Rambatan).. Padang [ID]:Politeknik Negeri Padang. Polibisnis [Internet]. [Diunduh pada 15 Maret 2014]. 4-1-4-2012.

Al Rasyid M. Harun. 2005. Peran civil society dalam otonomi daerah. Jurnal Madani Edisi I/ hal 84-91 Mei 2005. Bekasi [ID]: Universitas Islam Bekasi. Astuti NB. 2009. Transformasi dari desa kembali ke nagari: studi kasus di

kenagarian IV Koto Palembayan Sumatera Barat. Bogor [ID]. [thesis]. [Internet]. [Diunduh 16 Maret 2014]. [Institut Pertanian Bogor]. Tersedia pada http://repository.ipb.ac.id

Budiardjo M. 2000. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta [ID]: PT Gramedia Pustaka Utama.

Dharmawan AH, Tonny F. 2006. Pembaruan Tata Pemerintahan Berbasis Lokalitas dan Kemitraan. Bogor [ID]: PSP3 IPB.

Horton Paul B, Hunt CL. 1999. Sosiology. (Alih bahasa dari bahasa Inggris oleh Ram A, Sobari T). Jakarta [ID]: Erlangga.

Nurbaya S, Moerdiyanto. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan berwirausaha siswa kelas xii SMKN 1 Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan selatan. Yogyakarta [ID]: UNY. [Internet][Diunduh pada 17 Maret 2014].

Primadona. 2012. Penguatan modal sosial untuk pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan pedesaan (Kelompok Tani Kecamatan Rambatan). Padang [ID]: Politeknik Negeri Padang. Polibisnis [Internet]. [Diunduh pada 17 Maret 2014]. 4-1 ISSN 1858-3717 hal 12-23.

Singarimbun M, Effendi S.1989. Metode Penelitian Survei. Jakarta [ID]: LP3ES. Sewelete JD.2005. Peran tokoh adat dalam perubahan struktur pemerintahan desa.

Bogor [ID]. [thesis]. [Internet]. [Diunduh 16 Maret 2014]. [Institut Pertanian Bogor]. Tersedia pada http://repository.ipb.ac.id

Soekanto S. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta [ID]: PT Raja Grafindo Persada.

Sudibyo A. 2012. Politik Otentik: Manusia dan Kebebasan dalam Pemikiran Hanah Arendt. Tangerang [ID]: Marjin Kiri.

Sjaf S. 2014. Penyusunan perencanaan pengembangan ekonomi masyarakat Kabupaten Mamasa. Bogor [ID]: PSP3 IPB.

Sumarti T, Kolopaking LM, Nasdian FT, Sitorus MTF, Dharmawan AH, Nawireja IK. 2003. Sosiologi Umum. Bogor [ID]: IPB.

Wahyono T. 2009. 25 Model Analisis Statistik dengan SPSS 17. Jakarta [ID]: Elex Media Komputindo.

LAMPIRAN

Lampiran 1 Komparasi substansi UU No.5 Tahun 1979, UU No.22 Tahun 1999, dan UU No.32 Tahun 2004

Substansi UU No.5 Tahun 1979 UU No.22 Tahun 1999 UU No.32 Tahun 2004 Nama dan asas Disebut UU tentang pokok-pokok pemerintahan desa, asas desentralisasi dan tugas perbantuan

yang dalam

praktiknya lebih cenderung pada tugas perbantuan.

Disebut UU tentang pemerintahan daerah, asas desentralisasi, dekosentrasi dan tugas perbantuan yang mengarah pada prinsip devolusi. Disebut UU tentang pemerintahan daerah, asas desentralisasi, dekosentrasi dan tugas perbantuan yang kental dengan nuansa delegasi. Batasan

“desa” Desa adalah sistem pemerintahan terkecil yang nama dan bentuk kelembagaannya diseragamkan untuk seluruh Indonesia. Dengan penyeragaman diharapkan dapat mempermudah koordinasi pemerintahan kenyataannya, penyeragaman mematikan kekhasan sifat komunitas di Indonesia dan meafikan hak asal usul masyarakat adat

Desa menjadi kesatuan wilayah dan sistem pemerintahan terkecil yang diberikan kewenangan mengatur dan mengurus diri sendiri. menghargai realitas dan hak asal usul desa. Berpotensi memicu ketegangan hubungan kades dan BPD. Perencanaan dan pelaksanaan

pembangunan dapat tersendat.

Desa adalah sistem pemerintahan terkecil yang diberikan kewenangan mengatur sebagian urusan pemerintahan. Meningkatnya peran dan intervensi negara dalam urusan desa dan muncul praktik resentralisasi.

Realitas keragaman masih dihargai. Hubungan Kades dan Bamusdes

diharapkan lebih baik sehingga perencanaan dan pelaksanaan pembangunan berjalan lancar. Fungsi lembaga perwakilan desa Lembaga Musyawarah Desa (LMD) sebagai mitra Kepala Desa (Kades).

Kades tidak

bertanggung jawab kepada LMD.

Badan Perwakilan Desa (BPD) dipilih langsung oleh rakyat. Kades bertanggung jawab kepada BPD.

Badan

permusyawaratan Desa (Bamusdes) dibentuk dari hasil musyawarah desa.

Kades tidak

bertanggung jawab kepada Bamusdes.

Demokrasi dan tata pemerintaha n

Desa menjadi daerah

yang sangat tergantung pada negara/kabupaten dalam menjalankan tata pemerintahannya. Manfikan pluralisme budaya dan heterogenitas sistem pemerintahan lokal. Kepala desa berhak mengatur desa tanpa melibatkan

masyarakat. LMD dapat memberikan

saran dan

pertimbangan kepada Kepala Desa dalam kebijakan publik.

Muncul ruang

demokrasi dalam proses

pertanggungjawaban Kepala Desa kepada BPD. BPD merupakan representasi rakyat karena dipilih langsung oleh rakyat. Dalam mengambil kebijakan publik Kepala Desa berkonsultasi kepada BPD. Menunjukkan bahwa pemerintahan desa adalah perwakilan negara/kabupaten. Selain sebagai pemerintahan yang otonom Bamusdes adalah representasi keterwakilan golongan di masyarakat. Dalam mengambil kebijakan publik Kepala Desa berkonsultasi dengan Bamusdes namun tidak

bertanggungjawab kepada Bamusdes. Administrasi Batas administratif

ditentukan dari atas tanpa

mempertimbangkan pola awal.

Pola administrasi desa banak diwarnai ide dan semangat lokalitas. Kondisi politik lokal sangat mempengaruhi kelancaran administrasi dan pelayanan. Upaya standarisasi (resentralisasi) administrasi desa. Mengurangi pengaruh politik lokal dalam administrasi dan pelayanan. Kelembagaa n Lembaga legislatif (LMD) dan lembaga eksekutif (Kades) berada disatu tangan sehingga menutup ruang kontrol. Kades sekaligus sebagai ketua LMD.

Desa memiliki lembaga pengawasan dan kontrol yaitu BPD yang dipilih dari penduduk desa. Pembentukan lembaga lain lebih aspiratif karena merujuk pada perdesa (pasal 106).

Ekses konflik

perseorangan menjadi konflik lembaga. Program desa dapat terhambat. Prakarsa pengaturan kelembagaan desa berada ditangan kabupaten. Melemahkan peran masyarakat sipil, rawan menipulasi dan kepentingan elit desa. Melemahnya peran lembaga legislatif desa. Program desa lebih terjamin

keberlangsungannya. Keuangan

desa

Desa tergantung pada kabupaten/kota desa hanya menjadi sumber keuangan, namun keputusan penggunaan tetap berada di kabupaten. Desa mengatur keuangan melalui APBDes. Rujukan pendirian badan usaha mempersempit ruang inisiatif desa.

Mengindikasikan desa peran desa hanya terbatas pada sumber pungutan untuk kepentingan kabupaten.

Prinsip pembiayaan/ anggaran desa Fungsi mengikuti anggaran (Function follows finance). Pembangunan desa tergantung dari pemberian Subsidi Daerah Otonom dan INPRES dari pusat.

Anggaran mengikuti anggaran (finance follows function). Besarnya pembiayaan pembangunan desa sesuai dengan fungsi perencanaan yang telah ditetapkan desa dengan persetujuan BPD. Anggaran mengikuti fungsi (finance follows function). Besarnya pembiayaan pembangunan desa sesuai dengan fungsi perencanaan yang telah ditetapkan desa dengan konsultasi Bamusdes. Kedudukan dan kewenangan Kepala Desa

Hak kewenangan dan kewajiban kepala desa diatur dari atas, sehingga kepala desa kehilangan

otonominya. Hak untuk mengatur dan mengurus

pemerintahan desa menjadi kewenangan pemerintah diatasnya.

Peran kabupaten hanya berfungsi menerima laporan, kepala desa memainkan peran yang besar untuk mengatur kehidupan warganya sekaligus mempertanggungjawab kan melalui BPD (Pasal 99-103) Desa ditempatkan sebagai domain politik dan kekuasaan kabupaten. Kewenangan desa masih abstrak, memberikan cek kosong kepada kabupaten untuk mengatur desa sesukanya. Hubungan dengan supra desa Sergam-sentralisasi. Pemerintahan kabupaten/ kota memiliki kekuasaan yang besar untuk mendelegasikan tanpa berunding dengan orang desa. Pengaturan hubungan desa-supra desa memberikan kekuasaan tertinggi kepada kabupaten/kota. Kabupaten sebagai lembaga yang menerima laporan kepala desa. Kabupaten memainkan peran yang menguat terhadap pemerintahan desa. Kerjasama desa

Desa tidak dapat memutuskan dengan

siapa akan

membangun kerjasama.

Kerjasama dibangun dengan lebih fleksibel tanpa harus memalaui kabupaten. Prakarsa dalam kerjasam dengan pihak ketiga mendapat kontrol (dikendalikan) oleh supra lokal (pasal 214)

Penghargaan terhadap otonomi desa

Otonomi desa hampir tidak ada. Peran Kepala Desa sangat dominan da berperan sebagai perpanjangan tangan pemerintahan supra desa. Pertumbuhan demokrasi dan penghargaan terhadap otonomi desa mulai diakui (pengakuan hak asal-usul desa, BPD, desa berhak menolak intervensi supra desa).

Desa menjadi

subordinat

kabupaten. Tidak ada kejelasan pembagian dan pemisahan kekuasaan.

Civil society Kesadaran politik masyarakat desa ditekan. Desa menjadi arena deideologisasi melalui kooptasi partai Golkar.

Secara umum substansi UU ini memberikan penghargaan terhadap perkembangan civil society di desa. UU ini tidak membahas secara spesifik civil society didesa selain lembaga-lembaga yang berhubungan dengan negara. Pembanguna n dan investasi Pembangunan ekonomi dirumuskan para teknorat dan birokrasi pusat. Keputusan

pembangunan dan investasi ada ditangan kepala desa sebagai legislatif sekaligus eksekutif. Pembangunan dan investasi ke desa ditentukan oleh kabupaten. Kebijakan pembangunan

bersifat state oriented dibandingkan society oriented.

Lampiran 2 Jadwal penelitian skripsi

Kegiatan Juni Juli September Oktober November Desember Januari

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Penyusunan proposal skripsi Kolokium Perbaikan proposal skripsi Penjajagan lapang Pengambilan data lapangan Pengolahan dan analisis data Penyusunan draft skripsi Sidang skripsi Perbaikan skripsi

Lampiran 4 Daftar responden

No. Nama Alamat

1 Datuh Balla Peu'

2 Tamo' Balla Peu'

3 Sambotasi Balla Peu‟

4 Katanan Balla Peu‟

5 Alex Balla Peu‟

6 Cornelius Pallalunan Balla Peu‟

7 Daniel D Balla Peu‟

8 Arniati Balla Peu‟

9 Marten Balla Peu‟

10 Limbong Gayang Balla Peu'

11 Henrika Balla Peu‟

12 Luter Balla Peu‟ 13 Adolvina Balla Peu‟ 14 Tasik Gallang Rapa'

15 Adelia Dwi S Gallang Rapa‟

16 Natalia Aruanbalanda Gallang Rapa‟

17 Demmarua Gallang Rapa‟

18 Pampang Karaeng Gallang Rapa' 19 Damin Gallang Rapa‟ 20 Demianus Gallang Rapa‟ 21 Minanga Gallang Rapa‟ 22 Tikumangembah Gallang Rapa‟ 23 Dematara Gallang Rapa‟

24 Lanto Tuboyong Rante Masanda

25 Renden Rante Masanda

26 Arumbamba Rante Masanda

27 Bunggawarane Rante Masanda

28 Moron Rante Masanda

29 Pualilin Rante Masanda

30 Ludia Rante Masanda 31 Serlin Rante Masanda

32 Yohana Rante Masanda

33 Leonard Rante Masanda

34 Oktavianus Bamba Pongko

35 Marianus Bamba Pongko

36 Herman Bamba Pongko

37 Demianus Bamba Pongko

38 Bongka Bamba Pongko

40 Leonard Bamba Pongko

41 Yulianus Bamba Pongko

42 Agustinus Bamba Pongko

43 Dedemakanan Bamba Pongko

44 Tanjoga Bamba Pongko

Lampiran 5 Dokumentasi

FGD bersama masyarakat Masyarakat dan peneliti

Sumber daya lahan Desa Balla Tumuka Proses wawancara kuesioner

Kerbau “Dotti” Desa Balla Tumuka tampak atas

RIWAYAT HIDUP

Tri Sintya dilahirkan di Cirebon pada tanggal 01 Juli 1993 dari pasangan Rosiah dan Supardi. Pendidikan formal yang pernah dijalani adalah di SDN 1 Pamijahan, SMPN 1 Plumbon dan SMAN 1 Sumber tahun 2008-2011. Pada tahun 2005 penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor dengan Program Studi Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat sekaligus sebagai penerima Beasiswa Bidik Misi. Selain aktif dalam perkuliahan penulis juga aktif sebagai anggota OMDA IKC sebagai anggota Divisi HRD tahun 2012, anggota Departemen Kominforel BEM FEMA masa kepengurusan 2012-2013, anggota Majalah Komunitas FEMA masa kepengurusan 2012-2013 serta FORSIA FEMA Divisi Kominforel dengan masa kepengurusan tahun 2013-2014.

Pengalaman dan prestasi yang pernah diraih diantaranya sebagai Asisten Praktikum Sosiologi Umum tahun 2013 – 2014 dan Asisten Praktikum Ilmu Penyuluhan 2014. Penulis pernah menjadi asisten riset dalam proyek PI 8 IPB di Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat terkait pembangunan pertanian, kajian agraria dan ketahanan pangan tahun 2014. Selain itu ia juga pernah menjadi Presentator in International Conference and Regional Conference Semarang Indonesia tahun 2013 dan menerima Invitation Presentator Paper in 2nd International Conference on Economic and Social Sciene di Thailand juga Invitation in Paper Conference AICS Taiwan Tahun 2013. Selain itu penulis pernah menjadi Kontributor Penulis Buku 68 Surat Cinta Untuk Indonesia, Juara 1 Lomba menulis Cerpen „Impian Terbaikmu‟ Public Speaking University, Finalis Lomba Essai Nasional STAIN Purwokerto, Finalis Lomba Essai FISIP UNY, Finalis ASIA (All Enterpreneurship In Action) TPB IPB serta Juara 1 Lomba essai pertanian IGTS.

Dalam dokumen Penguatan Sosial Politik Komunitas Adat (Halaman 93-104)

Dokumen terkait