[Bappenas]. 2012. Peran masyarakat adat dalam perumusan kebijakan publik. Jakarta [ID]: Direktorat Politik dan Komunikasi Kementrian PPN.
[PP] Peraturan Pemerintah. 2014. Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No.6 Tahun 2014. [Internet]. [Diunduh 3 Juni 2014].
[UU] Undang-Undang. 2014. UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa. [Internet]. [Diunduh 3 Juni 2014].
Adiwibowo S, Sjaf S, Intan E. 2014. Kajian kebijakan reforma agraria untuk penguatan kapasitas masyarakat dalam rangka kemandirian pangan dan pengentasan kemiskinan Kabupaten Mamasa. Bogor [ID]: LPPM IPB. Afif P. 2012. Penguatan modal sosial untuk pemberdayaan masyarakat dalam
pembanguanan pedesaan (kelompok tani Kecamatan Rambatan).. Padang [ID]:Politeknik Negeri Padang. Polibisnis [Internet]. [Diunduh pada 15 Maret 2014]. 4-1-4-2012.
Al Rasyid M. Harun. 2005. Peran civil society dalam otonomi daerah. Jurnal Madani Edisi I/ hal 84-91 Mei 2005. Bekasi [ID]: Universitas Islam Bekasi. Astuti NB. 2009. Transformasi dari desa kembali ke nagari: studi kasus di
kenagarian IV Koto Palembayan Sumatera Barat. Bogor [ID]. [thesis]. [Internet]. [Diunduh 16 Maret 2014]. [Institut Pertanian Bogor]. Tersedia pada http://repository.ipb.ac.id
Budiardjo M. 2000. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta [ID]: PT Gramedia Pustaka Utama.
Dharmawan AH, Tonny F. 2006. Pembaruan Tata Pemerintahan Berbasis Lokalitas dan Kemitraan. Bogor [ID]: PSP3 IPB.
Horton Paul B, Hunt CL. 1999. Sosiology. (Alih bahasa dari bahasa Inggris oleh Ram A, Sobari T). Jakarta [ID]: Erlangga.
Nurbaya S, Moerdiyanto. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan berwirausaha siswa kelas xii SMKN 1 Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan selatan. Yogyakarta [ID]: UNY. [Internet][Diunduh pada 17 Maret 2014].
Primadona. 2012. Penguatan modal sosial untuk pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan pedesaan (Kelompok Tani Kecamatan Rambatan). Padang [ID]: Politeknik Negeri Padang. Polibisnis [Internet]. [Diunduh pada 17 Maret 2014]. 4-1 ISSN 1858-3717 hal 12-23.
Singarimbun M, Effendi S.1989. Metode Penelitian Survei. Jakarta [ID]: LP3ES. Sewelete JD.2005. Peran tokoh adat dalam perubahan struktur pemerintahan desa.
Bogor [ID]. [thesis]. [Internet]. [Diunduh 16 Maret 2014]. [Institut Pertanian Bogor]. Tersedia pada http://repository.ipb.ac.id
Soekanto S. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta [ID]: PT Raja Grafindo Persada.
Sudibyo A. 2012. Politik Otentik: Manusia dan Kebebasan dalam Pemikiran Hanah Arendt. Tangerang [ID]: Marjin Kiri.
Sjaf S. 2014. Penyusunan perencanaan pengembangan ekonomi masyarakat Kabupaten Mamasa. Bogor [ID]: PSP3 IPB.
Sumarti T, Kolopaking LM, Nasdian FT, Sitorus MTF, Dharmawan AH, Nawireja IK. 2003. Sosiologi Umum. Bogor [ID]: IPB.
Wahyono T. 2009. 25 Model Analisis Statistik dengan SPSS 17. Jakarta [ID]: Elex Media Komputindo.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Komparasi substansi UU No.5 Tahun 1979, UU No.22 Tahun 1999, dan UU No.32 Tahun 2004
Substansi UU No.5 Tahun 1979 UU No.22 Tahun 1999 UU No.32 Tahun 2004 Nama dan asas Disebut UU tentang pokok-pokok pemerintahan desa, asas desentralisasi dan tugas perbantuan
yang dalam
praktiknya lebih cenderung pada tugas perbantuan.
Disebut UU tentang pemerintahan daerah, asas desentralisasi, dekosentrasi dan tugas perbantuan yang mengarah pada prinsip devolusi. Disebut UU tentang pemerintahan daerah, asas desentralisasi, dekosentrasi dan tugas perbantuan yang kental dengan nuansa delegasi. Batasan
“desa” Desa adalah sistem pemerintahan terkecil yang nama dan bentuk kelembagaannya diseragamkan untuk seluruh Indonesia. Dengan penyeragaman diharapkan dapat mempermudah koordinasi pemerintahan kenyataannya, penyeragaman mematikan kekhasan sifat komunitas di Indonesia dan meafikan hak asal usul masyarakat adat
Desa menjadi kesatuan wilayah dan sistem pemerintahan terkecil yang diberikan kewenangan mengatur dan mengurus diri sendiri. menghargai realitas dan hak asal usul desa. Berpotensi memicu ketegangan hubungan kades dan BPD. Perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan dapat tersendat.
Desa adalah sistem pemerintahan terkecil yang diberikan kewenangan mengatur sebagian urusan pemerintahan. Meningkatnya peran dan intervensi negara dalam urusan desa dan muncul praktik resentralisasi.
Realitas keragaman masih dihargai. Hubungan Kades dan Bamusdes
diharapkan lebih baik sehingga perencanaan dan pelaksanaan pembangunan berjalan lancar. Fungsi lembaga perwakilan desa Lembaga Musyawarah Desa (LMD) sebagai mitra Kepala Desa (Kades).
Kades tidak
bertanggung jawab kepada LMD.
Badan Perwakilan Desa (BPD) dipilih langsung oleh rakyat. Kades bertanggung jawab kepada BPD.
Badan
permusyawaratan Desa (Bamusdes) dibentuk dari hasil musyawarah desa.
Kades tidak
bertanggung jawab kepada Bamusdes.
Demokrasi dan tata pemerintaha n
Desa menjadi daerah
yang sangat tergantung pada negara/kabupaten dalam menjalankan tata pemerintahannya. Manfikan pluralisme budaya dan heterogenitas sistem pemerintahan lokal. Kepala desa berhak mengatur desa tanpa melibatkan
masyarakat. LMD dapat memberikan
saran dan
pertimbangan kepada Kepala Desa dalam kebijakan publik.
Muncul ruang
demokrasi dalam proses
pertanggungjawaban Kepala Desa kepada BPD. BPD merupakan representasi rakyat karena dipilih langsung oleh rakyat. Dalam mengambil kebijakan publik Kepala Desa berkonsultasi kepada BPD. Menunjukkan bahwa pemerintahan desa adalah perwakilan negara/kabupaten. Selain sebagai pemerintahan yang otonom Bamusdes adalah representasi keterwakilan golongan di masyarakat. Dalam mengambil kebijakan publik Kepala Desa berkonsultasi dengan Bamusdes namun tidak
bertanggungjawab kepada Bamusdes. Administrasi Batas administratif
ditentukan dari atas tanpa
mempertimbangkan pola awal.
Pola administrasi desa banak diwarnai ide dan semangat lokalitas. Kondisi politik lokal sangat mempengaruhi kelancaran administrasi dan pelayanan. Upaya standarisasi (resentralisasi) administrasi desa. Mengurangi pengaruh politik lokal dalam administrasi dan pelayanan. Kelembagaa n Lembaga legislatif (LMD) dan lembaga eksekutif (Kades) berada disatu tangan sehingga menutup ruang kontrol. Kades sekaligus sebagai ketua LMD.
Desa memiliki lembaga pengawasan dan kontrol yaitu BPD yang dipilih dari penduduk desa. Pembentukan lembaga lain lebih aspiratif karena merujuk pada perdesa (pasal 106).
Ekses konflik
perseorangan menjadi konflik lembaga. Program desa dapat terhambat. Prakarsa pengaturan kelembagaan desa berada ditangan kabupaten. Melemahkan peran masyarakat sipil, rawan menipulasi dan kepentingan elit desa. Melemahnya peran lembaga legislatif desa. Program desa lebih terjamin
keberlangsungannya. Keuangan
desa
Desa tergantung pada kabupaten/kota desa hanya menjadi sumber keuangan, namun keputusan penggunaan tetap berada di kabupaten. Desa mengatur keuangan melalui APBDes. Rujukan pendirian badan usaha mempersempit ruang inisiatif desa.
Mengindikasikan desa peran desa hanya terbatas pada sumber pungutan untuk kepentingan kabupaten.
Prinsip pembiayaan/ anggaran desa Fungsi mengikuti anggaran (Function follows finance). Pembangunan desa tergantung dari pemberian Subsidi Daerah Otonom dan INPRES dari pusat.
Anggaran mengikuti anggaran (finance follows function). Besarnya pembiayaan pembangunan desa sesuai dengan fungsi perencanaan yang telah ditetapkan desa dengan persetujuan BPD. Anggaran mengikuti fungsi (finance follows function). Besarnya pembiayaan pembangunan desa sesuai dengan fungsi perencanaan yang telah ditetapkan desa dengan konsultasi Bamusdes. Kedudukan dan kewenangan Kepala Desa
Hak kewenangan dan kewajiban kepala desa diatur dari atas, sehingga kepala desa kehilangan
otonominya. Hak untuk mengatur dan mengurus
pemerintahan desa menjadi kewenangan pemerintah diatasnya.
Peran kabupaten hanya berfungsi menerima laporan, kepala desa memainkan peran yang besar untuk mengatur kehidupan warganya sekaligus mempertanggungjawab kan melalui BPD (Pasal 99-103) Desa ditempatkan sebagai domain politik dan kekuasaan kabupaten. Kewenangan desa masih abstrak, memberikan cek kosong kepada kabupaten untuk mengatur desa sesukanya. Hubungan dengan supra desa Sergam-sentralisasi. Pemerintahan kabupaten/ kota memiliki kekuasaan yang besar untuk mendelegasikan tanpa berunding dengan orang desa. Pengaturan hubungan desa-supra desa memberikan kekuasaan tertinggi kepada kabupaten/kota. Kabupaten sebagai lembaga yang menerima laporan kepala desa. Kabupaten memainkan peran yang menguat terhadap pemerintahan desa. Kerjasama desa
Desa tidak dapat memutuskan dengan
siapa akan
membangun kerjasama.
Kerjasama dibangun dengan lebih fleksibel tanpa harus memalaui kabupaten. Prakarsa dalam kerjasam dengan pihak ketiga mendapat kontrol (dikendalikan) oleh supra lokal (pasal 214)
Penghargaan terhadap otonomi desa
Otonomi desa hampir tidak ada. Peran Kepala Desa sangat dominan da berperan sebagai perpanjangan tangan pemerintahan supra desa. Pertumbuhan demokrasi dan penghargaan terhadap otonomi desa mulai diakui (pengakuan hak asal-usul desa, BPD, desa berhak menolak intervensi supra desa).
Desa menjadi
subordinat
kabupaten. Tidak ada kejelasan pembagian dan pemisahan kekuasaan.
Civil society Kesadaran politik masyarakat desa ditekan. Desa menjadi arena deideologisasi melalui kooptasi partai Golkar.
Secara umum substansi UU ini memberikan penghargaan terhadap perkembangan civil society di desa. UU ini tidak membahas secara spesifik civil society didesa selain lembaga-lembaga yang berhubungan dengan negara. Pembanguna n dan investasi Pembangunan ekonomi dirumuskan para teknorat dan birokrasi pusat. Keputusan
pembangunan dan investasi ada ditangan kepala desa sebagai legislatif sekaligus eksekutif. Pembangunan dan investasi ke desa ditentukan oleh kabupaten. Kebijakan pembangunan
bersifat state oriented dibandingkan society oriented.
Lampiran 2 Jadwal penelitian skripsi
Kegiatan Juni Juli September Oktober November Desember Januari
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Penyusunan proposal skripsi Kolokium Perbaikan proposal skripsi Penjajagan lapang Pengambilan data lapangan Pengolahan dan analisis data Penyusunan draft skripsi Sidang skripsi Perbaikan skripsi
Lampiran 4 Daftar responden
No. Nama Alamat
1 Datuh Balla Peu'
2 Tamo' Balla Peu'
3 Sambotasi Balla Peu‟
4 Katanan Balla Peu‟
5 Alex Balla Peu‟
6 Cornelius Pallalunan Balla Peu‟
7 Daniel D Balla Peu‟
8 Arniati Balla Peu‟
9 Marten Balla Peu‟
10 Limbong Gayang Balla Peu'
11 Henrika Balla Peu‟
12 Luter Balla Peu‟ 13 Adolvina Balla Peu‟ 14 Tasik Gallang Rapa'
15 Adelia Dwi S Gallang Rapa‟
16 Natalia Aruanbalanda Gallang Rapa‟
17 Demmarua Gallang Rapa‟
18 Pampang Karaeng Gallang Rapa' 19 Damin Gallang Rapa‟ 20 Demianus Gallang Rapa‟ 21 Minanga Gallang Rapa‟ 22 Tikumangembah Gallang Rapa‟ 23 Dematara Gallang Rapa‟
24 Lanto Tuboyong Rante Masanda
25 Renden Rante Masanda
26 Arumbamba Rante Masanda
27 Bunggawarane Rante Masanda
28 Moron Rante Masanda
29 Pualilin Rante Masanda
30 Ludia Rante Masanda 31 Serlin Rante Masanda
32 Yohana Rante Masanda
33 Leonard Rante Masanda
34 Oktavianus Bamba Pongko
35 Marianus Bamba Pongko
36 Herman Bamba Pongko
37 Demianus Bamba Pongko
38 Bongka Bamba Pongko
40 Leonard Bamba Pongko
41 Yulianus Bamba Pongko
42 Agustinus Bamba Pongko
43 Dedemakanan Bamba Pongko
44 Tanjoga Bamba Pongko
Lampiran 5 Dokumentasi
FGD bersama masyarakat Masyarakat dan peneliti
Sumber daya lahan Desa Balla Tumuka Proses wawancara kuesioner
Kerbau “Dotti” Desa Balla Tumuka tampak atas
RIWAYAT HIDUP
Tri Sintya dilahirkan di Cirebon pada tanggal 01 Juli 1993 dari pasangan Rosiah dan Supardi. Pendidikan formal yang pernah dijalani adalah di SDN 1 Pamijahan, SMPN 1 Plumbon dan SMAN 1 Sumber tahun 2008-2011. Pada tahun 2005 penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor dengan Program Studi Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat sekaligus sebagai penerima Beasiswa Bidik Misi. Selain aktif dalam perkuliahan penulis juga aktif sebagai anggota OMDA IKC sebagai anggota Divisi HRD tahun 2012, anggota Departemen Kominforel BEM FEMA masa kepengurusan 2012-2013, anggota Majalah Komunitas FEMA masa kepengurusan 2012-2013 serta FORSIA FEMA Divisi Kominforel dengan masa kepengurusan tahun 2013-2014.
Pengalaman dan prestasi yang pernah diraih diantaranya sebagai Asisten Praktikum Sosiologi Umum tahun 2013 – 2014 dan Asisten Praktikum Ilmu Penyuluhan 2014. Penulis pernah menjadi asisten riset dalam proyek PI 8 IPB di Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat terkait pembangunan pertanian, kajian agraria dan ketahanan pangan tahun 2014. Selain itu ia juga pernah menjadi Presentator in International Conference and Regional Conference Semarang Indonesia tahun 2013 dan menerima Invitation Presentator Paper in 2nd International Conference on Economic and Social Sciene di Thailand juga Invitation in Paper Conference AICS Taiwan Tahun 2013. Selain itu penulis pernah menjadi Kontributor Penulis Buku 68 Surat Cinta Untuk Indonesia, Juara 1 Lomba menulis Cerpen „Impian Terbaikmu‟ Public Speaking University, Finalis Lomba Essai Nasional STAIN Purwokerto, Finalis Lomba Essai FISIP UNY, Finalis ASIA (All Enterpreneurship In Action) TPB IPB serta Juara 1 Lomba essai pertanian IGTS.