PENDEKATAN LAPANGAN
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Gambaran Desa Balla Tumuka
Desa Balla Tumuka adalah salah satu desa yang tergabung dalam kesatuan wilayah Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat. Pada mulanya di Balla hanya terdapat satu desa yang diberi nama Desa Balla. Kini telah mengalami pemekaran menjadi enam desa yang tergabung dalam satu Kecamatan Balla. Desa Balla dimekarkan berdasarkan musyawarah yang dihadiri tokoh masyarakat, LKMD, tokoh agama dan pemuda. Pemekaran tersebut pada saat itu diusulkan melalui bupati kepada Gubernur Sulawesi Selatan. Kemudian terbitlah Surat Keputusan Gubernur No.210/II/Tahun 1998 tentang Desa Balla Tumuka, serta dikuatkan berdasarkan Surat Keputusan Bupati Polmas No KPTS.28a/BK/II/Tahun 2002 sebagai desa wisata. Secara geografis luas wilayah Balla Tumuka adalah 775 Ha di atas ketinggian antara 1200 mdpl-1400 mdpl. Kondisi lahan di wilayah ini merupakan perbukitan menanjak dan permukaan tanah yang miring sehingga seringkali menimbulkan kesulitan akses transportasi. Desa Balla Tumuka berbatasan dengan desa-desa lain yaitu (a) sebelah utara berbatasan dengan Desa Ulumambi Kecamatan Bambang, (b) sebelah timur berbatasan dengan Desa Pidara, (c) sebelah selatan berbatasan dengan Desa Pambe, dan (d) Sebelah barat berbatasan dengan Desa Porondo Bulawan
Desa Balla Tumuka berjarak sekitar 9 km dari ibukota kecamatan dan 18 km dari ibukota Kabupaten Mamasa. Apabila dibandingkan dengan desa-desa lain di Kecamatan Balla, maka desa ini tergolong memiliki jarak yang paling jauh dan terletak paling tinggi. Selain itu, dalam kesatuan wilayah Desa Balla Tumuka terdapat lima dusun meliputi Dusun Ballapeu‟, Bamba Pongko‟, Gallangrapa, Rante Masanda, dan Rante Puang. Keempat dusun selain Rante Puang masih tergolong dapat terjangkau karena lokasinya yang berdekatan, sedangkan Dusun Rante Puang terletak paling jauh dan kesulitan akses. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya kendaran yang dapat melintas menuju dusun tersebut sekalipun dengan sepeda motor. Akses sepeda motor hanya sampai dusun sebelumnya dan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 30 menit. Kondisi ini menyulitkan warga setempat untuk berpergian keluar dusun sekalipun untuk kepentingan bersekolah, sehingga tidak heran apabila jumlah penduduk Dusun Rantai Puang merupakan yang paling sedikit diantara keempat dusun lain. Berikut jumlah penduduk yang tersebar dalam masing-masing dusun di Desa Balla Tumuka (lihat Tabel 3).
Tabel 4 Jumlah dan persentase penduduk masing-masing dusun menurut jenis kelamin di Desa Balla Tumuka tahun 2014
Jenis Kelamin
Dusun Jumlah %
Balla
Peu‟ Bamba Pongko
Galangrapa‟ Rante Masanda Rante Puang Laki-laki 169 147 152 132 88 691 48.01 Perempuan 184 154 173 148 92 748 51.99 Jumlah 353 301 325 280 180 1439 100 % 24.53 20.92 22.59 19.46 12.51 100
Sumber: Monografi Desa Balla Tumuka 2014 (diolah)
Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa persentase penduduk tertinggi bertempat di Dusun Balla Peu‟ sedangkan persentase terendah bertempat di Dusun Rante Puang. Seperti dijelaskan sebelumnya, kondisi Dusun Rante Puang yang terletak paling jauh dan sulit akses menjadikan dusun tersebut dihuni sedikit orang. Selain itu, apabila dilihat dari kategori umur maka Desa Balla Tumuka secara keseluruhan memiliki persentase penduduk tertinggi di usia 56-60 tahun sedangkan persentase terendah di kategori usia 0-6 tahun. Hal ini berarti bahwa desa tersebut mayoritas dihuni oleh penduduk usia tua sedangkan jumlah bayi, anak-anak hingga remaja lebih sedikit.
Selain persentase jumlah penduduk menurut umur, jumlah penduduk yang tersebar pada masing-masing dusun menurut jenis kelamin juga dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jenis kelamin perempuan lebih mendominasi di Desa Balla Tumuka. Hal ini terbukti dengan persentasenya yang mencapai 51.99% dari keseluruhan, sedangkan persentase laki-laki sejumlah 48.01%. Nilai persentase tersebut meskipun tidak terpaut jauh namun tidak bisa mengabaikan bahwa jumlah perempuan yang lebih banyak juga mensinyalir kesetaraan posisi diantara keduanya. Perempuan dalam berbagai hal seperti pekerjaan tidak dibedakan dengan laki-laki dan justru posisi perempuan menurut adat terbilang tinggi.
Tabel 3 Jumlah dan persentase penduduk masing-masing dusun menurut golongan umur di Desa Balla Tumuka tahun 2014
Umur (tahun)
Dusun Jumlah Total
Balla Peu‟ Bamba Pongko Galang Rapa‟ Rante Masanda Rante Puang n % n % n % n % n % n % 0 – 6 18 1.2 23 1.6 20 1.3 28 2.0 15 1.1 104 7.4 7 – 12 31 2.2 29 2.0 27 2.0 31 2.1 21 1.4 139 9.6 13 – 18 43 3.0 48 3.3 38 2.6 25 1.7 33 2.2 187 13.0 19 – 24 28 2.0 30 2.1 41 2.8 53 3.8 22 1.6 174 12.0 25 – 55 86 6.0 83 5.8 71 5.0 50 3.4 31 2.1 321 22.3 56 – 60 106 7.3 69 4.8 73 5.1 45 3.1 35 2.5 328 22.7 ≥ 61 41 2.8 19 1.3 55 3.9 48 3.3 23 1.6 186 13.0 Jumlah 353 24.5 301 20.9 325 22.7 280 19.4 180 12.5 1439 100
Selanjutnya, berkaitan dengan masalah kependudukan, maka hal ini akan berkaitan pula dengan kondisi tempat tinggal yang mereka diami. Keadaan topografi di Desa Balla Tumuka bervariasi mulai dari dataran rendah, berbukit hingga bergunung-gunung dengan tingkat kemiringan yang sangat terjal sama halnya dengan kecamatan-kecamatan lain yang memiliki tingkat kemiringan mencapai 5% - 45% (Sjaf 2014). Keadaan topografi yang demikian ditunjang juga oleh iklim tropis yang basah, serta ditunjang dengan kondisi hutan yang relatif masih baik serta sungai yang masih terjaga. Salah satu sungai utama yang melintas langsung di Desa Balla Tumuka adalah Sungai Manta yang sekaligus digunakan bagi keseharian warga untuk irigasi sawah hingga usaha mina padi, sedangkan wilayah hutan dengan bukit-bukit barisan didukung oleh tiga gunung utama di desa ini yaitu Gunung Buntu Mussa, Buntu Learra‟, dan Pepassi. Potensi Sumber Daya Alam (SDA) di Desa Balla Tumuka cukup beraneka ragam antara lain pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan darat dan pariwisata. Komoditas utama dari wilayah ini berupa kopi, kakao, umbi-umbian, hingga padi sebagai makanan utama masyarakat namun pada umumnya masih cenderung subsisten untuk kepentingan sendiri. Selain itu secara umum pembagian lahan-lahan di desa ini juga cukup beragam dari mulai tanah adat hingga tanah yang diusahakan warga ataupun kawasan hutan milik Perhutani. Secara umum klasifikasi pembagian lahan kering di Desa Balla Tumuka dapat dilihat pada Tabel 5.
Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa kategori lahan yang menempati persentase tertinggi adalah wilayah hutan sedangkan persentase terendah adalah pekarangan. Hal ini disebabkan kondisi wilayah hutan yang termasuk hutan lindung serta kondisi rumah yang menempati posisi sesuai kontur lahan menyebabkan sulitnya mengatur kepemilikan pekarangan. Selain itu, dengan potensi sumber daya lahan tersebut setidaknya masyarakat lokal mampu mengusahakan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan mereka yang mayoritas bermatapencaharian sebagai petani. Namun demikian, menurut keterangan sekretaris desa akhir-akhir ini seringkali terjadi pembakaran hutan, sehingga membutuhkan upaya pencegahan serta pengawasan langsung dari pihak pemerintah dan adat, serta dibutuhkan kesadaran langsung dari segala pihak.
Tabel 5 Luas lahan kering di Desa Balla Tumuka tahun 2013
Lahan Kering Luas (ha) Persentase
Tegalan 0.55 6.52 Pekarangan 0.12 1.42 Perkebunan 0.97 11.51 Padang rumput 0.14 1.66 Hutan 6.06 71.89 Ladang 0.59 7.00 Jumlah 8.43 100.00
Karakteristik Sosial dan Ekonomi Responden
Secara keseluruhan pada aspek kependudukan, umur responden dalam penelitian mengenai penguatan sosial politik komunitas adat tersebar menjadi beberapa golongan umur dari mulai usia dewasa hingga tua mengingat kelas umur tersebut yang mampu menjadi objek mengenai topik terkait. Sebaran umur responden dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Jumlah dan persentase sebaran umur responden penelitian
Umur (tahun) Penduduk
n % 19-29 5 11 30-40 18 40 41-51 10 22 52-62 5 11 >62 7 16 Total 45 100
Sebagaimana Tabel 6, golongan umur terbanyak yaitu antara 30-40 tahun sebesar 40% sedangkan persentase terendah pada usia 19-29 tahun serta umur 52-62 tahun. Secara umum sebaran tersebut mayoritas tergolong usia tua. Kondisi ini menjadi kajian lebih lanjut terhadap eksistensi adat di Desa Balla Tumuka. Dengan mayoritas responden yang tersebar dalam usia dewasa hingga tua maka kajian jawaban responden mengenai kesiapan sosisal dan politik cukup mewakili. Hal ini disebabkan apabila responden tersebar dalam usia muda maka diduga pemahaman mereka terhadap adat belum mumpuni.
Kehidupan sosial komunitas Desa Balla Tumuka tergolong memiliki kedekatan dalam berinteraksi. Hal ini didukung oleh jaringan kekerabatan yang erat serta kesatuan nilai adat yang sudah mengakar didalam kehidupan mereka, sehingga dapat dikatakan karakteristik komunitas Desa Balla Tumuka tergolong homogen dan memiliki keguyuban tersendiri. Salah satunya ditunjukan dengan homogenitas mata pencaharian warga yang mayoritas sebagai petani. Interaksi dan kekerabatan diantara masyarakat juga berkaitan dengan mata pencaharian tersebut. Sebagai petani mereka secara terus menerus terlibat dalam interaksi keseharian misalnya antara pemilik dan penggarap. Selain itu mereka juga terlibat dalam sistem atau pola relasi kerja yang sudah diatur sedemikian rupa. Pola relasi ini disebut dengan bahas lokal serta ketentuannya masing-masing yaitu sistem
Ma’petesanan (sistem upah), Massima, Ma’bulelen, Manta’ga, serta
Ma’perurukan. Kelima pola relasi membuat setiap individu terlibat dalam interaksi mendalam sehingga terjalin kedekatan. Misalnya ditunjukkan dengan aturan arisan tenaga kerja yaitu mereka harus saling tolong menolong secara bergantian menggarap lahan antar anggota kelompok petani yang mereka buat. Kedekatan juga ditunjukkan dengan nilai-nilai yang berlaku yaitu apabila seseorang ingin menjual kepemilikan lahan maka harus seizin keluarga dan dipindahtangankan kepada warga lain yang masih dalam kerabat dekat.
Secara umum, kehidupan petani di desa ini cenderung subsisten untuk kebutuhan sendiri. Namun demikian, sistem subsisten tersebut tidak menutup kemungkinan warga untuk turut melakukan jual beli hasil pertanian mereka. Hasil
pertanian yang melebihi kebutuhan pribadi biasanya dijual untuk tambahan sumber penghasilan. Petani menjual hasil pertanian tersebut ke pasar di pusat Kabupaten Mamasa dan hanya dapat dilakukan setiap hari sabtu dan minggu karena akses transportasi yang dapat mengangkut hasil bumi mereka hanya tersedia di hari-hari tersebut. Selain itu pemasaran yang dilakukan belum pernah untuk skala penjualan besar-besaran keluar Mamasa, sehingga dapat dikatakan hanya berputar dilingkup lokal saja. Kondisi ini sesuai dengan keterangan dari kepala desa dan didukung cerita dari responden sebagai berikut:
“Biasanya hasil-hasil dari lahan seperti ubi, atau seong dijual ke pasar Mamasa saja. Belum pernah sampai keluar Mamasa. Tapi itu nanti dijual pas hari sabtu dan minggu karena mobilnya Cuma ada hari itu. Kalau setiap hari kesana ya repot karena jalannya susah”
(Bapak T)
Dari segi kependudukan, selain mayoritas warga bekerja sebagai petani ada juga beberapa diantaranya yang bekerja sebagai pegawai negeri di instansi terkait atau berwirausaha. Tidak banyak warga lokal yang melakukan migrasi keluar Desa Balla Tumuka untuk bekerja ataupun mengenyam pendidikan tinggi. Hal ini ikut memicu banyaknya pernikahan serumpun sehingga interaksi dan mobilitas masyarakat lokal kurang begitu luas dan hanya sebatas kaum elit yang memiliki sumber daya materil saja yang mampu melakukan hal tersebut. Hal ini diungkapkan salah satu responden sebagai berikut:
“Saya juga heran dengan masyarakat di Balla ini seringnya menikah
dengan itu-itu saja. Mungkin karena tidak banyak keluar daerah yang jauh-jauh, jarang yang seperti saya sampai berani merantau ke
Makassar sampai ke Jawa” (Bapak C)
Dengan demikian relevan apabila pada realitasnya kondisi tersebut mempengaruhi pendidikan warga lokal menjadi kurang berkembang misalnya hingga jenjang pendidikan tinggi. Pada Tabel 7 disajikan data jumlah warga masing-masing dusun yang mengenyam pendidikan pada masing-masing tingkatan.
Tabel 7 Jumlah warga masing-masing dusun menurut tingkat pendidikan di Desa Balla Tumuka tahun 2014
Tingkat Pendidikan
Dusun
Jumlah Balla Peu' Bamba
Pongko Galang Rapa' Rante Masanda Rante Puang n % n % n % n % n % n % SD 38 10.1 53 14.1 48 12.8 31 8.3 19 5.1 189 50.5 SMP 27 7.2 32 8.6 19 5.1 14 3.7 7 1.9 99 26.5 SMA 18 4.8 16 4.2 13 3.4 10 2.7 5 1.3 62 16.5 Perguruan tinggi 8 2.2 5 1.4 7 1.9 4 1.1 0 0 24 6.5 Jumlah 91 24.3 106 28.3 87 23.2 59 15.8 31 8.3 374 100
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa rata-rata pendidikan warga Desa Balla Tumuka adalah SD terbukti dengan persentase sebanyak 50.5% sedangkan perguruan tinggi menempati persentase terkecil yaitu 6.5%. Selain itu, apabila dilihat dari jumlah dan persentase pada masing-masing dusun maka Dusun Bamba Pongko menempati posisi tertinggi sedangkan Dusun Rante Puang tergolong paling rendah hanya dengan persentase sebesar 8.3%.
Dari sisi ekonomi yang berkaitan dengan tingkat kesejahteraan, komunitas di Desa Balla Tumuka dikategorikan dalam beberapa klasifikasi. Klasifikasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai hal. Namun demikian secara umum dapat dilihat dari kepemilikan dan akses sumberdaya pada masing-masing rumah tangga. Selain itu terdapat hal yang menarik terkait adat, yaitu keturunan elit adat biasanya akan menempati posisi strategis dengan kedudukan tinggi serta kapasitas diri yang mumpuni, sehingga apabila diklasifikasikan menurut tingkatan keluarga sejahtera maka mereka setidaknya akan menempati kelas keluarga sejahtera II. Secara rinci, menurut data dari pemerintah penggolongan tingkat kesejahteraan tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.
Berdasarkan data klasifikasi tersebut, maka dapat dilihat bahwa mayoritas rumah tangga di Desa Balla tumuka termasuk kategori keluarga sejahtera I dengan persentase sebesar 78.24% sedangkan yang menempati kategori keluarga pra sejahtera sebanyak 16.41%. Tingkatan yang lebih atas lagi yaitu kategori keluarga sejahtera II memiliki nilai persentase sebanyak 5.35% sedangkan kategori keluarga sejahtera III dan keluarga sejahtera II plus tidak memiliki jumlah dan persentase sama sekali. Hal ini berarti bahwa tidak ada rumah tangga di Desa
0 50 100 150 200 250 Keluarga pra sejahtera Keluarga sejahtera I Keluarga sejahtera II Keluarga sejahtera III Keluarga sejahtera III plus Jumlah Persentase
Sumber: BKKBN Kab. Mamasa dalam KCDA BPS 2013
Balla Tumuka yang mencapai tingkatan tersebut sekalipun ia memiliki posisi strategis seperti kepala desa.
Selain itu aspek ekonomi akan berkaitan langsung dengan mata pencaharian warga di bidang pertanian, peternakan, dan lain-lain. Di bidang peternakan, hewan yang umumnya dipelihara warga di Desa Balla Tumuka adalah kerbau, sapi, ayam dan babi. Dalam hal ini terdapat sesuatu yang menarik menyangkut kerbau. Selain jumlah populasi kerbau di Kecamatan Balla yang tercatat sebanyak 813 pada tahun 2012 (Sjaf 2014) kerbau juga bukan hanya menjadi simbol hewan peliharaan saja tapi juga lebih dari itu memiliki nilai yang sangat tinggi untuk upacara adat baik bagi komunitas lokal ataupun masyarakat dari luar Mamasa khususnya Tana Toraja. Akibat adanya kepentingan tersebut harga kerbau biasanya akan melambung tinggi terutama kerbau dengan ciri-ciri tertentu yang biasa disebut dalam bahasa lokal “Dotti”. Warga yang memiliki “Dotti” maka otomatis meningkatkan kelas sosial serta ekonominya akibat harga kerbau ini yang dapat mencapai ratusan juta hingga milyaran rupiah. Namun tetap saja tidak semua masyarakat memiliki sumber daya tersebut, bahkan beberapa masih tersebar dan berada pada strata ekonomi yang rendah.
Dari aspek pertanian, mayoritas petani merupakan petani pemilik lahan yang berasal dari warisan secara turun temurun. Bagi masyarakat yang tidak memiliki lahan dapat bekerja sebagai petani penggarap ataupun meminta tanah adat yang tidak dipergunakan sehingga kondisi ini menjadi gambaran adanya jaminan sosial untuk komunitas lokal ataupun pendatang yang sudah mulai menetap disana. Awalnya meskipun petani secara subsisten memiliki lahan sendiri masih saja terjadi kerawanan pangan dan keterbatasan ekonomi karena hambatan komoditas padi varietas lokal. Kondisi ini disebabkan oleh varietas lokal yang ditanam petani hanya mampu dipanen sebanyak satu kali dalam satu tahun dan untuk pemenuhan kebutuhan selanjutnya didukung oleh hasil kebun atau pertanian lahan kering. Namun demikian, setelah datangnya inovasi dari pemerintah tentang varietas padi baru, masyarakat mulai beralih dan merasa lebih tercukupi karena dapat panen dua kali setahun meskipun kualitas padi baru jauh di bawah kualitas padi lokal. Disisi lain lahan-lahan perkebunan khususnya tanaman kopi dan kakao masih diusahakan secara tradisional dan belum ada industri pengolahan sehingga kurang adanya nilai tambah. Oleh karena itu baik Desa Balla Tumuka ataupun Kabupaten Mamasa secara keseluruhan, dalam hal perekonomian di tingkat regional lebih berfungsi sebagai wilayah produksi semata dan hasil produksi tersebut tidak diolah di dalam wilayah Mamasa sendiri sehingga added value wilayah dimanfaatkan oleh daerah lain di luar Mamasa. Kondisi ini sejalan dengan sumbangan sektor pertanian pada tahun 2012 (termasuk peternakan, kehutanan, dan perikanan) sebesar 54,04% terhadap PDRB Kabupaten Mamasa. Sektor pertanian sebagai sektor primer memberikan peluang yang signifikan untuk berkontribusi dalam meningkatkan ketahanan pangan dan penanggulangan kemiskinan, serta meningkatkan dinamika pertumbuhan ekonomi jika dikelola dengan baik. (Adiwibowo et al. 2014)
Sejarah Desa dan Adat
Menurut sejarahnya, secara harfiah Desa Balla Tumuka memiliki arti „tanah yang menanjak‟. Arti ini sesuai dengan kondisi lapang wilayah desa tersebut yang semuanya merupakan daratan yang berbukit-bukit dengan kemiringan mencapai 40%. Awalnya wilayah ini dihuni pertama kali oleh Nenek Tomampu’ yang berasal dari Sa’dang dari keturunan Nenek Pongka Padang yang berkembang di Balla Peu dan tersebar di seluruh dusun lain seperti Bamba Pongko, Gallangrapa‟, Rante Masanda, Rante Puang hingga ke Mamasa secara keseluruhan. Keberadaan adat di Desa Balla Tumuka ini menjadi hal yang paling signifikan sebagai dasar atas kehidupan keseharian warga termasuk sejarah kepemerintahannya. Selain adat dan pemerintahan formal (desa, dusun, dan Rukun Keluarga/RK), lembaga keagamaan juga turut mengambil peran yaitu lembaga agama Kristen Protestan, Katolik dan Pantekosta. Ketiga lembaga agama mayoritas tersebut merupakan agama baru yang berkembang dan menggantikan agama asli penduduk Balla yaitu
Toma’lilin yang menghilang sejak tahun 1984.Awalnya wilayah desa ini tidak mengenal pemerintahan secara resmi karena hanya dipimpin oleh adat yang dikenal dengan sebutan Toma’ Tua (orang yang dituakan di kampung adat dan menurut garis keturunan). Pada saat itu adat diakui oleh semua pihak dan dilantik sebagai bentuk kepemimpinan wilayah. Namun demikian, semenjak kedatangan Belanda kepemimpinan desa mulai dipimpin oleh Pare’e, kepala lingkungan dan kepala dusun hingga kepala desa. Pada akhirnya kondisi saat ini, adat hanya berpengaruh pada hal-hal tertentu saja terkait tradisi leluhur. Secara lebih rinci alur sejarah dapat dilihat pada Gambar 4 yang dikategorikan dari masa kolonial, pasca kolonial hingga masa reformasi.
Gambar 4 Alur sejarah Desa Balla Tumuka
Keberadaan tiga lembaga di komunitas (pemerintah, adat dan tokoh agama) selalu berupaya untuk hidup berdampingan, menjaga keseimbangan kelembagaan, dan saling berkoordinasi satu dengan lainnya. Berbeda halnya dengan realitas dimasa lalu yang menjadikan adat sebagai sistem pemerintahan wilayah. Oleh karena itu akhirnya perangkat adat atau yang disebut Toma’ Tua pun peran dan keberadaannya disesuaikan dengan kepentingan desa formal. Sebaliknya, kriteria pemilihan kepala desa juga disesuaikan dengan kriteria adat sehingga menjadi lebih prestisius. Pemilihan tersebut dilakukan dengan memilih orang sesuai karakteristik khusus yaitu yang berintegritas tinggi, melihat track record dari jabatan dan garis keturunan adat sehingga kepemimpinan kepala desa seringkali merupakan orang-orang yang juga memiliki kedekatan dengan keturunan Toma’
Tua serta memiliki posisi adat yang cukup tinggi. Dengan kata lain, keturunan Toma’ Tua juga sudah melebur dengan kepemimpinan formal seperti kepala desa saat ini.
Di sisi lain, keberadaan dan peran Toma’ Tua merupakan suatu hal yang berjalan seumur hidup, sehingga setelah salah satu Toma’ Tua meninggal maka barulah dilakukan pergantian. Proses pengangkatan Toma’ Tua dilakukan berdasarkan aspirasi seluruh warga kampung adat namun disesuaikan dengan perubahan dan penurunan nilai-nilai luhur hingga saat ini. Dengan kata lain, pengangkaan Toma’ Tua tidak diperkenankan apabila hanya mempertimbangkan garis keturunan langsung tapi juga berdasarkan kriteria kualitas kepribadian, pengalaman dan pemahaman terkait adat. Hingga sekarang, di Desa Balla Tumuka terdapat tujuh Toma’ Tua, yang masing-masing memiliki „wilayah kerja dan kewenangan‟ yang berbeda satu dengan lainnya. Di sisi lain, melihat perubahan dan perkembangan adat yang terjadi di masyarakat Mamasa, terdapat upaya untuk melegalkan keberadaan adat. Hal ini didasarkan dengan alasan agar keberadaan adat tetap eksis serta memiliki peranannya tanpa tergusur oleh intervensi zaman dan waktu, yaitu dengan dibentuknya Dewan Adat Kabupaten Mamasa yang diinisiasi pada tahun 2006. Dewan adat ini mewadahi Toma’ Tua-Toma’ Tua yang tersebar di Desa Balla Tumuka serta wilayah Kabupaten Mamasa pada umumnya yang berperan menjadi pemberi nasehat bagi keberlangsungan kelembagaan pemerintahan formal.
Atas dasar eksistensi adat yang melekat selama bertahun-tahun di Desa Balla Tumuka, maka bekas-bekas sejarah tidak dapat dihilangkan bahkan berupaya untuk dilestarikan. Hal yang menarik dalam pewarisan sejarah tersebut yaitu dengan adanya kelas-kelas yang menjadi dasar stratifikasi sosial pada masyarakat lokal di Kabupaten Mamasa. Strata kelas-kelas tersebut diantaranya terdiri dari beberapa kalangan yaitu kalangan atas Tana’ Bulawan (emas), Tana’
Basi (besi), Tana’ Karurung (kayu), dan Tana’ Koakoa yang digolongkan berdasarkan posisi keturunan adat. Keempat istilah ini menggambarkan bagaimana posisi seseorang di masyarakat sesuai dengan representasi nama, misalnya emas sebagai logam mulia dijadikan simbol bagi kaum bangsawan, hingga posisi terendah yang disimbolkan dengan kayu. Namun demikian menurut pengakuan warga Balla Tumuka, sistem seperti ini sudah tidak terlalu bertahan, hanya diakui secara personal oleh masing-masing individu dan hanya menyebar diantara mereka saja sehingga tidak dapat diidentifikasi sebaran masing-masing kalangan menurut jenis pekerjaan saat ini. Selain itu alasan penggolongan juga
tidak disebabkan kepemilikan sumber daya namun lebih karena garis keturunan dan budaya yang sudah ada secara turun temurun.
Stratifikasi sosial yang membagi anggota komunitas dalam strata-strata