Aliyasa. 2009. Keajaiban madu royal. http://blog.unila.ac.id/ aliyasa/2009/10/15/keajaiban-madu-royal-jelly/. Diakses tanggal 3 Januari 2011.
Darmawan S, Nurul Wahyuni, YMM. Anita Nugraheni, 2010. Perekayasaan Bangunan Penurun Kadar Air Madu Hutan Alam Sumbawa Laporan Penelitian . BPTHHBK. NTB
Darmawan S, Nurul Wahyuni, Retno Agustarini, 2011. Teknik Penurun Kadar Air Madu Hutan Alam Di Sumbawa dan Dompu. Laporan Penelitian . BPTHHBK. NTB
Handoko C. 2006. Teknologi peningkatan kualitas madu di NTB. Laporan Penelitian (Publikasi Terbatas). Balai Penelitan dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Kupang.
Purbaya JR. 2002. Mengenal & Memanfaatkan Khasiat Madu Alami. Bandung: Pionir Jaya.
Standar Nasional Indonesia. 2004. SNI 01-3545-2004 : Madu. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta.
Winarno FG. 1982. Madu: Teknologi Khasiat dan Analisa. Jakarta. Ghalia Indonesia.
16 |
MENGENAL LEBAH MADU TRIGONA sp DAN USAHA PEMBUDIDAYAANNYA
Oleh : Septiantina Dyah Riendriasari Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu
Jl. Dharma Bhakti No.7 Ds. Langko, Kec. Lingsar, Kab. Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat
I. PENDAHULUAN
Lebah madu diketahui mempunyai banyak kegunaan bagi kehidupan manusia. Fungsi lebah madu itu antara lain sebagai penghasil madu yang mempunyai beragam manfaat bagi kesehatan tubuh ( Murtidjo, 1991). Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, semakin banyak pertanyaan yang muncul dan membuat manusia menjadi penasaran dan melakukan beragam penelitian ilmiah untuk mengetahui segala sesuatu tentang lebah madu dan produknya. Lebah madu dapat dibedakan menjadi 2 yaitu lebah madu bersengat dan tidak bersengat (stingless bee). Salah satu jenis lebah mau tak bersengat adalah Trigona sp. Trigona sp selain menghasilkan madu, dapat menghasilkan propolis dan bee polen. Hal ini sesuai dengan pernyataan Murtidjo, 1991 produk lebah madu meliputi madu, propolis, royal jelly dan bee polen.
Trigona sp menghasilkan madu dengan mengkonsumsi nektar dari bunga, dan memproduksi propolis dari mengkonsumsi getah serta memproduksi bee polen dari serbuk sari bunga (Riendriasari et al, 2013). Pakan yang dikonsumsi trigona juga merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam usaha pembudidayaannya, karena dari pakan dapat menentukan kualitas produk perlebahan yang dihasilkan (Bankova et al, 2000).
Faktor lain yang menentukan keberhasilan pembudidayaan lebah madu trigona adalah proses pemeliharaannya. Pemeliharaan lebah madu trigona tidak sulit, kandang lebah (stup) diletakkan di tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung serta dibersihkan dari predator seperti sarang semut, sarang laba-laba dan
cicak. Tidak perlu pemberian pakan secara berkala karena pakan trigona banyak tersedia di alam ( Trubus, 2010)
II. METODOLOGI PENELITIAN a. Lokasi Penelitian
Lokasi pengambilan data dilakukan di desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik, Kab. Lombok Timur; Desa Karang Bayan, Kecamatan Lingsar, Kab. Lombok Barat; Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, dan Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kab. Lombok Utara.
b. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah alat tulis, kamera, botol spesimen, pinset. Bahan yang digunakan adalah alkohol 70% dan spesimen Trigona sp.
c. Metode
Metode pengambilan datanya adalah dengan metode observasi langsung dan dianalisis dengan analisis deskriptif.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Lebah madu di dunia dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu lebah madu bersengat dan tidak mempunyai sengat (stingless bee).
Trigona sp merupakan salah satu genus lebah madu yang tidak
bersengat. Berdasarkan hasil penelitian Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (BPTHHBK) tahun 2012, di pulau Lombok teridentifikasi 2 jenis trigona yaitu Trigona clypearis dan Trigona
sapiens. Kedua jenis trigona mempunyai ukuran yang sangat kecil,
panjang tubuhnya antara 3 mm sampai dengan 4,5 mm saja. Karena ukuran tubuh yang sangat kecil, trigona hanya dapat diidentifikasi jenisnya dengan menggunakan mikroskop.
T. clypearis ditemukan di Desa Lendang Nangka
(Kab.Lombok Timur), T. sapiens ditemukan Desa Genggelang dan Desa Sigar Penjalin (Kab. Lombok Utara) dan di Desa Karang Bayan (Kab. Lombok Barat) ditemukan kedua jenis tersebut (Trigona
clypearis dan Trigona sapiens). Pada tahun 2012 dan 2013, penelitian
18 |
Gb 1. Madu trigona yang sudah dipisahkan dari penutup madu
informasi pembudidayaan trigona di Pulau Sumbawa. Dari ke 4 lokasi diatas, mempunyai karakteristik habitat yang berbeda. Desa Lendang Nangka berada di wilayah dengan topografi dataran tinggi, Desa Genggelang mempunyai karakteristik dataran yang cukup tinggi, Desa Sigar Penjalin terletak di dataran rendah (pantai) dan Desa Karang Bayan merupakan wilayah pemukiman dan kebun masyarakat dengan didominasi tanaman buah. Dari perbedaan habitat yang tergambar diatas, maka dapat dijelaskan bahwa trigona dapat hidup dan beradaptasi di wilayah dengan karakteristik apapun. Dari habitat dataran rendah (pantai) sampai dengan dataran tinggi (pegunungan), trigona dapat bertahan hidup dan berkembang biak.
Lebah trigona yang diteliti merupakan trigona hasil budidaya oleh masyarakat. Masyarakat di Pulau Lombok telah menyadari nilai ekonomi yang dapat dihasilkan dari budidaya trigona ini. Nilai ekonomi yang dimaksud adalah produk perlebahan yang dihasilkan oleh trigona, antara lain madu, propolis, bee polen dan royal jelly. Ketika membicarakan produk perlebahan yaitu madu, yang terlintas adalah madu yang rasanya manis dan dihasilkan oleh lebah madu yang berukuran besar dan menyengat. Lebah penghasil madu tersebut adalah Apis sp. Apis sp dapat teridentifikasi dengan jenis Apis cerana,
Apis mellifera dan Apis dorsata. Namun lain halnya dengan Trigona
sp, madu yang dihasilkan oleh trigona mempunyai keunikan yaitu rasanya yang asam dan tingkat keasamannya tergantung dari nektar yang dikonsumsi pada saat mereka menghinggapi bunga tertentu. Dari sisi produksi madu, Apis sp menghasilkan lebih banyak madu bila dibandingkan trigona. Dari 1 stup madu trigona dapat dihasilkan 200-1000 ml madu/panen tiap 3 bulan (komunikasi pribadi, 2013).
Selain madu, trigona dapat menghasilkan propolis. Propolis atau lem lebah merupakan suatu zat yang dihasilkan oleh lebah madu, dikumpulkan oleh lebah dari pucuk daun-daun yang muda untuk kemudian dicampur dengan air liurnya, digunakan untuk menambal dan mensterilkan sarang. Propolis bersifat antibakteri yang membunuh semua kuman yang masuk ke sarang lebah. Propolis yang dihasilkan oleh lebah madu dilaporkan berfungsi sebagai antibakteri, virus, jamur, maupun protozoa. Propolis juga memacu system imun dan memperbaiki kerusakan jaringan pada berbagai organ (Ghisaberti, 1979 dalam Wijayanti et al, 2003). Jadi fungsi propolis tak kalah penting jika dibandingkan dengan madu bagi kesehatan manusia. Pada umumnya, propolis mentah mempunyai bentuk dan warna yang berbeda-beda. Ada yang lembek, remah dan kering, warnanya pun ada yang kuning kehitaman, coklat kehitaman, coklat tua.
Gb 2. Propolis dengan warna coklat kehitaman
Photo by : Septiantina DR
Gb 3. Propolis dengan warna Kuning kehitaman
Photo by : Septiantina DR
Gb 4. Propolis dengan warna hitam Gb 5. Propolis dengan warna coklat tua Photo by : Septiantina DR