Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 1996. Pedoman Penerapan Cara Produksi Makanan yang Baik (CPMB). BPOM, Jakarta.
Buckle, K.A., Edwards, R.A., Fleet, G.H., dan Wooton, M. 1987. Ilmu Pangan (H. Purnomo dan Adiono, Penerjemah). UI Press, Jakarta.
BSN (Badan Standardisasi Nasional). 1995. Roti (SNI 01-3840-1995). BSN, Jakarta.
Cahyono, B., 2007. Food safety dan implementasi quality system industri pangan di era pasar bebas. http://www.bappenas.go.id/ [25 Oktober 2007]
Curiel, G.J., Van Eijk, H.M.J., Lelieveld, H.L.M. 1999. Risk and Control of Airborne Contamination. Di dalam Encyclopedia of Food Microbiology Volume 3. Academic Press, Netherland.
Fardiaz, S. 1996. Prinsip HACCP dalam Industri Pangan. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
FDA, 1995. Sanitation, Sanitary Regulation and Voluntary Programs. Di dalam G. Mariot, Norman (ed). Principles of Food Sanitation, Hal. 7. 3rd Edition. Chapman and Hall, New York.
Hadi, F., Rivai, M.N. 1980. Ilmu Teknik Penyehatan 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Jakarta. Hine, D.J. 1987. Modern Processing, Packaging and Distribution System for
Food. Blackie, London.
IAQA, 2000. Recommended Guidelines for Indoor Environment.
Jenie, B.S.L., Rahayu, W. P. 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan. Kanisius, Yogyakarta.
Kusuma, R. 2002. Manajemen Pengendalian Mutu dan Keamanan Pangan di Restoran Padzzi Pondok Ulam Jakarta. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Maskur, M.M. 2007. Katering penyumbang terbesar kasus keracunan makanan.
http://www.library.stttelkom.ac.id/ [30 Maret 2007]
Mortimore, S., Wallace, C. 1995. HACCP: A Practical Approach. Chapman and Hall, London.
Nuraida, L. 2000. Modul Pelatihan: Sanitasi dan Higiene Sebagai Salah Satu Penerapan GMP. IPB, Bogor.
Octavia, M. 2004. Kondisi Sanitasi dan Faktor-faktor yang Mendukung Keamanan Pangan pada Katering (Studi Kasus Tiga Katering di Daerah Bogor). Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB, Bogor.
Pantastico, E.R. 1986. Fisiologi Pascapanen, Penanganan dan Pemanfaatan Buah-buahan dan Sayur-sayuran Tropik dan Subtropik. Terjemahan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Pierson, M.D. dan D.A. Corlett, Jr. 1992. HACCP : Principles and Applications. Chapman and Hall Publ., New York.
Reilly, C. 1980. Metal Contamination of Food. Applied Science Publishers, Ltd., London.
Siswono, 2006. Amankan produk pangan dari cemaran berbahaya.
http://www.gizi.net/ [13 April 2006]
Thaheer, H., 2005. Sistem Manajemen HACCP. Bumi Aksara, Jakarta.
WHO, 1998. Food Safety Programmes in the South East Asia Region, Overview and Perspective. WHO Regional Office South East Asia, New Delhi, India. Di dalam Cahyono, Budi. 2007. Food safety dan implementasi quality system industri pangan di era pasar bebas. http://www.bappenas.go.id/ [25 Oktober 2007]
Winarno, F.G., Surono. 2002. HACCP dan Penerapannya dalam Industri Pangan. M-Brio Press. Bogor.
1.0 TUJUAN
Prosedur ini bertujuan untuk memberikan panduan dalam memelihara aspek-aspek sanitasi di PT Pangan Rahmat Buana agar dapat menjamin keamanan proses produksi sesuai HACCP Plan. 2.0 RUANG LINGKUP
Prosedur ini mencakup 8 (delapan) kunci persyaratan sanitasi yang wajib diterapkan menyeluruh di PT Pangan Rahmat Buana.
3.0 TANGGUNG JAWAB
Seluruh karyawan bagian produksi, sanitasi, gudang, maintenance, general affairs bertanggung jawab melaksanakan prosedur di bawah pengawasan Manajer Produksi dan Quality Control Coordinator. 4.0 PROSEDUR
4.1 Keamanan air
4.1.1 Tujuan: Menjamin bahwa air yang digunakan untuk proses produksi aman untuk digunakan (sesuai dengan standar air minum) dan sistem penyaluran yang digunakan untuk menyalurkan air tidak mengakibatkan kontaminasi silang terhadap air.
4.1.2 Pengawasan dan pengendalian:
4.1.2.1 Setiap kali perusahaan mengganti pemasok air, bagian QC berkoordinasi dengan bagian pembelian untuk meminta hasil analisis air dari calon pemasok dan memeriksa kesesuaian hasil analisis air tersebut dengan standar air minum.
4.1.2.2 Setiap kedatangan air, bagian QC mengecek bukti penerimaan air, mengambil sampel air yang datang, memeriksa kualitas air (bau, rasa, warna, kekeruhan, pH), dan mencatatnya dalam formulir receiving raw material.
4.1.2.3 Bagian maintenance mengecek tekanan pompa air pada bak penampungan air, memeriksa instalasi dan kebocoran pipa distribusi air dan steam sepanjang area pipa yang dapat diperiksa (bukan perpipaan bawah tanah) setiap hari. 4.1.2.4 Bagian QC mengambil sampel air pada output air di dalam ruang produksi dan
memeriksa kualitasnya (bau, rasa, warna, kekeruhan, dan pH) setiap hari. Analisis mikrobiologi air juga dilakukan setiap 1 bulan.
4.1.2.5 Setiap 1 tahun, pemasok harus menyerahkan hasil analisis air untuk mengontrol kualitas air yang diterima.
4.1.2.6 Perpipaan yang digunakan untuk mendistribusikan air dan steam harus terbuat dari stainless steel untuk mencegah terjadinya pengkaratan.
4.1.3 Referensi dan standar:
4.1.3.1 Syarat air minum menurut Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 4.1.3.2 Work instruction penerimaan raw material (WI/QC.05)
4.1.4 Tindakan koreksi:
4.1.4.1 Menolak pemasok air yang tidak memenuhi standar air minum.
4.1.4.2 Jika pemeriksaan air pada saat kedatangan air tidak memenuhi standar, bagian QC meminta penggantian air yang baru.
4.1.4.3 Jika terjadi kebocoran pipa distribusi air atau steam, bagian maintenance memperbaiki instalasi.
4.1.4.4 Jika pemeriksaan air output produksi menunjukkan penyimpangan, bagian QC melapor pada leader atau supervisor produksi untuk menghentikan operasi, hold dan cek produk yang mungkin tercemar. Bagian maintenance mengecek kebocoran seluruh jalur pipa. Bagian general affairs mengecek kondisi sanitasi bak penampungan air.
4.1.5 Rekaman:
4.1.5.1 Formulir receiving raw material (FR/QC/01)
4.1.5.2 Formulir permintaan perbaikan mesin atau alat produksi (FR/MTN/002) 4.1.5.3 Formulir metodologi uji laboratorium (FR/QC/11)
4.1.5.4 Formulir hasil uji laboratorium (FR/QC/19) 4.1.5.5 Formulir pemeriksaan air (FR/QC/21)
4.2 Kondisi dan kebersihan permukaan yang kontak dengan bahan makanan
4.2.1 Tujuan: Menjamin bahwa permukaan mesin, alat, atau wadah yang kontak dengan bahan makanan selalu dalam kondisi bersih.
4.2.2 Pengawasan dan pengendalian:
4.2.2.1 Karyawan harus melakukan tindak sanitasi terhadap permukaan yang kontak dengan bahan makanan sebagai berikut:
4.2.2.1.1 membuat larutan sanitasi, 4.2.2.1.2 menyiapkan alat sanitasi,
4.2.2.1.3 melakukan kegiatan sanitasi dengan benar. 4.2.2.2 Personil yang memiliki tugas melakukan tindak sanitasi yaitu:
4.2.2.2.1 Karyawan produksi melakukan sanitasi mesin, alat, dan wadah produksi setiap hari (setiap selesai produksi).
4.2.2.2.2 Karyawan gudang bahan baku melakukan sanitasi chiller dan freezer, dan peralatan (boks, palet, trolley) setiap minggu. 4.2.2.2.3 Karyawan gudang barang jadi melakukan sanitasi krat setiap hari. 4.2.2.2.4 Karyawan general affairs melakukan sanitasi bak penampungan
air setiap 2 bulan.
4.2.2.2.5 Petugas eksternal (general cleaning) melakukan sanitasi terhadap mesin-mesin dan peralatan produksi setiap 1 bulan.
4.2.2.3 QC melakukan pemeriksaan terhadap tindak sanitasi yang telah dilakukan personil-personil yang disebutkan pada poin 4.2.2.2. Frekuensi pemeriksaan sesuai dengan jadwal sanitasi masing-masing bagian. Hasil pemeriksaan dilaporkan dalam checklist.
4.2.2.4 QC melakukan pengujian mikrobiologis mesin-mesin dan peralatan yang ada di area produksi maupun gudang setiap bulan dengan kegiatan sebagai berikut: 4.2.2.4.1 menyiapkan bahan dan alat uji sanitasi,
4.2.2.4.2 melakukan uji sanitasi dengan benar (uji TPC, koliform, E. coli, kapang dan kamir),
4.2.2.4.3 melakukan pengamatan hasil uji, 4.2.2.4.4 melaporkan hasil uji.
4.2.3 Referensi dan Standar:
4.2.3.1 Work instruction pembuatan larutan sanitasi (WI/QC-SAN.01)
4.2.3.2 Prosedur sanitasi mesin, alat, dan wadah produksi (SSOP/QC.02 – SSOP/QC/13)
4.2.3.3 Work instruction pencucian krat (WI/WH/FG.05)
4.2.3.4 Work instruction pengujian higiene dan sanitasi (WI/QC-SAN.11) 4.2.4 Tindakan Koreksi:
4.2.4.1 Jika menemukan permukaan mesin, peralatan, atau wadah yang kotor, lakukan kembali tindak sanitasi hingga permukaan bersih.
4.2.4.2 Menyesuaikan kondisi sanitizer. Jika konsentrasi bahan sanitizer ditingkatkan karena kotoran sulit dibersihkan, perlu diperhatikan mengenai batas penggunaan dan residunya.
4.2.4.3 Jika hasil uji tindak sanitasi menunjukkan jumlah mikroba yang menyimpang jauh dari kondisi normal, tingkatkan pengawasan terhadap tindak sanitasi. 4.2.5 Rekaman:
4.2.5.1 Checklist sanitasi alat produksi (CL-SSOP/QC.01 – CL-SSOP/QC.12) 4.2.5.2 Checklist sanitasi gudang raw material (CL/QC-SAN.06)
4.2.5.3 Checklist sanitasi gudang finish good (CL/QC-SAN.08) 4.2.5.4 Checklist sanitasi general cleaning (CL/QC-SAN.11) 4.2.5.5 Formulir audit internal GMP (FR/GMP/02)
4.2.5.6 Formulir metodologi uji laboratorium (FR/QC/11) 4.2.5.7 Formulir hasil uji laboratorium (FR/QC/19) 4.3 Pencegahan kontaminasi silang
4.3.1 Tujuan: Untuk mencegah kontaminasi silang (biologi, kimia dan fisik) terhadap bahan makanan yang berasai dari personel dan lingkungan.
4.3.2 Pengawasan dan pengendalian:
4.3.2.1 Seluruh karyawan harus melakukan tindak pencegahan kontaminasi silang sebagai berikut:
4.3.2.1.1 Mengenakan hairnet, masker, dan sepatu kerja setiap memasuki ruangan produksi dan gudang.
4.3.2.1.2 Mengenakan seragam dengan warna tertentu sesuai dengan bagiannya masing-masing.
4.3.2.1.3 Melakukan tindak sanitasi terhadap tangan di area cuci tangan sebelum menangani bahan baku atau proses yaitu mencuci tangan dengan sabun tepol hingga siku, membilas dengan air Lampiran 3. Lanjutan
bersih, mengeringkan tangan dengan hand dryer, dan menyemprot tangan dengan alkohol 70 %.
4.3.2.1.4 Melepaskan seragam, hairnet, masker, dan sepatu kerja jika keluar dari area produksi atau gudang bahan baku.
4.3.2.1.5 Karyawan tidak diperkenankan keluar masuk ke area proses yang lain, ataupun membantu pekerjaan karyawan lain di sub bagian yang berbeda.
4.3.2.1.6 Karyawan tidak diperkenankan mengenakan perhiasan dan jam tangan selama menangani bahan baku atau proses, dan tidak diperbolehkan berkuku panjang.
4.3.2.1.7 Karyawan tidak diperkenankan makan, merokok, meludah, mengobrol dan bercanda serta melakukan aktivitas lain yang dapat mencemari bahan baku atau proses.
4.3.2.1.8 Karyawan berkewajiban masuk ruang produksi dan gudang melalui jalur yang sudah ditentukan.
4.3.2.1.9 Karyawan harus melepaskan perlengkapan kerjanya (seragam, hairnet, masker, sepatu kerja, hand shield atau hand glove) setiap memasuki toilet dan mengganti alas kaki dengan bakiak atau sepatu khusus.
4.3.2.1.10 Karyawan berkewajiban mencuci tangan dengan sabun dan merendam tangan di dalam larutan klorin 200 ppm yang disediakan di luar toilet setiap keluar toilet.
4.3.2.1.11 Karyawan gudang bahan baku harus menyimpan bahan baku di atas palet bersih, memberi jarak bahan dengan lantai, dinding, dan langit-langit, dan menutup rapat pintu gudang, termasuk chiller. 4.3.2.1.12 Karyawan harus menjaga agar bahan baku dan produk akhir di
dalam area produksi terpisahkan dengan baik agar tidak terjadi pencemaran bahan baku terhadap produk akhir atau sebaliknya.. 4.3.2.1.13 Karyawan sanitasi bertanggung jawab dalam melakukan tindak
sanitasi setiap hari terhadap ruangan produksi, yaitu menyiapkan bahan dan alat sanitasi, melakukan tindak sanitasi dengan benar, dan melaporkan dalam checklist. Karyawan gudang baik bahan baku maupun barang jadi bertanggung jawab dalam pelaksanaan sanitasi di gudang.
4.3.2.1.14 Petugas eksternal (general cleaning) berkewajiban melakukan tindak sanitasi setiap bulan terhadap ruangan produksi, gudang, dan ruangan office yaitu menyiapkan bahan dan alat sanitasi, melakukan tindak sanitasi dengan benar, dan melaporkan dalam checklist.
4.3.2.1.15 Karyawan general affairs berkewajiban memelihara kebersihan dan kerapian lingkungan pabrik setiap hari termasuk memotong rumput halaman, membersihkan mushola, dan membuang sampah pabrik dan barang bekas.
4.3.2.2 QC berkewajiban melakukan pemantauan terhadap tindak sanitasi ruang dan higiene personel, melaporkan hasil pemantauan, dan melakukan pemantauan terhadap tindak pencegahan kontaminasi silang lainnya.
4.3.2.3 QC melakukan pemantauan terhadap tindak higiene personel, tata letak bahan dalam gudang, kebersihan ruang produksi, gudang, dan pabrik dalam program audit internal GMP setiap dua minggu. Kegiatan sanitasi oleh karyawan sanitasi dan gudang dipantau setiap hari dan dilaporkan dalam checklist sanitasi.
4.3.2.4 Supervisor produksi melakukan pemantauan terhadap arus pergerakan dan higiene personil serta memantau penjagaan kontaminasi silang selama proses produksi.
4.3.2.5 QC melakukan pengujian mikrobiologis personel dan ruangan setiap bulan dengan kegiatan sebagai berikut:
4.3.2.5.1 menyiapkan bahan dan alat uji sanitasi,
4.3.2.5.2 melakukan uji sanitasi dengan benar (uji TPC, koliform, E. coli, kapang dan kamir),
4.3.2.5.3 melakukan pengamatan hasil uji, 4.3.2.5.4 melaporkan hasil uji.
4.3.3 Referensi dan standar:
4.3.3.1 Manual GMP (GMP/QC/01)
4.3.3.2 Alur proses dan layout (PRB-HACCP/10) 4.3.3.3 Work instruction audit internal GMP (WI/GMP/01)
4.3.3.4 Work instruction pengujian higiene dan sanitasi (WI/QC-SAN.11)
4.3.3.5 Work instruction penerimaan dan penyimpanan raw material (WI/WH/RM/02) 4.3.3.6 Work instruction pembuatan larutan sanitasi (WI/QC-SAN.01)
4.3.3.7 Work instruction pembersihan kaca, dinding, dan lantai (WI/QC-SAN/02) 4.3.3.8 Work instruction pemberian disinfektan (WI/QC-SAN.04)
4.3.3.9 Schedule sanitasi (SC/SAN/01 – SC/SAN/05) 4.3.4 Tindakan koreksi:
4.3.4.1 Jika ditemukan area produksi atau gudang, atau lingkungan pabrik yang masih kotor, personil yang tidak melakukan tindak higiene, QC membuat laporan ketidaksesuaian dan menyerahkannya kepada bagian yang bersangkutan untuk segera melakukan tindak sanitasi atau memperbaiki tindak higiene (personil).
4.3.4.2 Jika hasil pengujian mikrobiologis personil dan ruangan menunjukkan jumlah mikroba yang menyimpang jauh dari kondisi normal, tingkatkan pengawasan terhadap tindak higiene personil dan sanitasi ruangan.
4.3.5 Rekaman:
4.3.5.1 Formulir audit personal (FR/GMP/01) 4.3.5.2 Formulir audit GMP (FR/GMP/02)
4.3.5.3 Formulir non-conformity report (FR/GMP/03) 4.3.5.4 Formulir metodologi uji laboratorium (FR/QC/11) 4.3.5.5 Formulir hasil uji laboratorium (FR/QC/19)
4.3.5.6 Checklist sanitasi (CL/QC-SAN/01 – CL/QC-SAN/11) 4.4 Fasilitas sanitasi
4.4.1 Tujuan: Untuk memfasilitasi pelaksanaan sanitasi. 4.4.2 Pengawasan dan pengendalian:
4.4.2.1 Setiap hari, karyawan sanitasi bertanggung jawab dalam memelihara dan mengontrol kelengkapan fasilitas sanitasi, mencakup:
4.4.2.1.1 Mengecek ketersediaan air bersih dan membersihkan wastafel di area cuci tangan, toilet, area make up, dan seluruh area packaging.
4.4.2.1.2 Mengecek dan membersihkan fasilitas hand dryer di area cuci tangan.
4.4.2.1.3 Mengecek wadah sabun dan mengisi isi ulang sabun cuci tangan di setiap tempat yang mempunyai fasilitas cuci tangan.
4.4.2.1.4 Mengisi ulang alkohol 70 % di setiap tempat yang menyediakan alkohol 70 %.
4.4.2.1.5 Mengisi bak klorin 200 ppm yang tersedia di depan toilet karyawan.
4.4.2.1.6 Membersihkan toilet karyawan.
4.4.2.1.7 Mengecek ketersediaan air dingin dan air hangat di area pencucian alat dan mengecek fungsi kran.
4.4.2.1.8 Mengecek ketersediaan bahan dan alat sanitasi di area pencucian alat.
4.4.2.2 Bagian QC melakukan pemantauan terhadap kegiatan karyawan sanitasi setiap hari dan melaporkan dalam checklist sanitasi.
4.4.3 Referensi dan standar:
Jadwal pekerjaan cleaner dan jadwal mingguan pembersihan (SC/SAN.01 – SC/SAN.02) 4.4.4 Tindakan koreksi:
4.4.4.1 Jika terjadi kerusakan fasilitas sanitasi, misalnya kran cuci tangan atau hand dryer tidak berfungsi, karyawan sanitasi menginformasikan kepada supervisor produksi.
4.4.4.2 Bagian maintenance akan menerima work order dari supervisor produksi dan memperbaiki fasilitas sanitasi, kemudian mencatat hasil pekerjaannya di dalam formulir work order. Jika dibutuhkan pembelian fasilitas baru atau bagian-bagiannya, bagian maintenance membuat permintaan ke bagian pembelian. 4.4.5 Rekaman:
4.4.5.1 Checklist sanitasi (CL/QC-SAN.01 – CL/QC-SAN.10) 4.4.5.2 Formulir work order (FR/PRO.14)
4.4.5.3 Formulir permintaan perbaikan mesin atau alat produksi (FR/MTN.002) 4.5 Perlindungan bahan pangan dari cemaran (adulteran)
4.5.1 Tujuan: Menjamin bahan makanan, kemasan, dan produk terhindar dari bahan-bahan kontaminan.
4.5.2 Pengawasan dan pengendalian:
4.5.2.1 Selama produksi, karyawan menjaga dan mengontrol bahan-bahan non pangan yang dapat berpotensi menjadi adulteran (dapat mencemari bahan pangan) tidak diperbolehkan berada di dalam ruang produksi maupun gudang. Bahan-bahan non pangan tersebut dapat berupa bahan sanitasi, pelumas, tinta untuk mesin packaging.
4.5.2.2 Bahan sanitasi personil berupa alkohol 70 % yang ditempatkan di beberapa ruang produksi yang kritikal seperti ruang packaging, harus ditempatkan dalam botol spray yang tidak bocor, diberi label yang jelas, dan tidak boleh ditempatkan di atas meja tempat menangani produk atau dekat dengan produk (sehingga memungkinkan tumpah atau tercecernya bahan ke produk). Setelah menggunakannya, karyawan harus mengembalikannya ke tempat yang aman, jauh dari produk. Bagian QC melakukan pemantauan setiap 2 minggu dalam program audit internal GMP.
4.5.2.3 Setiap menggunakan alkohol 70 % untuk menyemprot meja atau media lain dan tangan, karyawan harus memastikan paparan alkohol tersebut telah menguap seluruhnya sebelum meja/media atau tangan dipergunakan kembali untuk menangani produk.
4.5.2.4 Peralatan sanitasi (sapu, ember pel, kain pel, sikat) harus ditempatkan dengan rapi dan jauh dari produk untuk menghindari paparan ke produk.
4.5.2.5 Karyawan harus segera membuang produk atau bahan yang sudah tidak terpakai ke tempat sampah bertutup. Karyawan sanitasi memeriksa keadaan tempat sampah, jika sudah penuh maka sampah segera dibuang ke tempat pembuangan sampah/limbah.
4.5.2.6 Karyawan sanitasi yang akan melakukan penyemprotan lalat di luar area pabrik harus memastikan seluruh pintu produksi tertutup agar produk tidak terkontaminasi.
4.5.4 Tindakan koreksi:
4.5.4.1 Jika ditemukan bahan-bahan berpotensi sebagai adulteran tersebut berada di ruang produksi, karyawan mengembalikan bahan-bahan tersebut kepada bagian sanitasi untuk disimpan di tempat yang aman.
4.5.4.2 Jika ada produk yang terkena tumpahan alkohol 70 % atau terpapar langsung dengan alat sanitasi, pisahkan produk tersebut dan laporkan pada supervisor produksi.
4.5.4.3 Karyawan harus melepaskan pakaian kerja yang terpapar bahan toksik dalam jumlah banyak, menyimpannya di tempat yang aman, dan tidak diperbolehkan menggunakan pakaian kerja tersebut untuk kembali menangani proses. 4.5.5 Rekaman:
4.5.5.1 Formulir audit internal GMP (FR/GMP/02) 4.5.5.2 Formulir non-conformity report (FR/GMP/03) 4.6 Pelabelan, penyimpanan, dan penggunaan bahan toksin yang benar
4.6.1 Tujuan: Menjamin bahwa pelabelan, penyimpanan dan penggunaan bahan toksin telah dilaksanakan dengan baik untuk melindungi produk dari kontaminasi.
4.6.2 Pengawasan dan pengendalian:
4.6.2.1 Karyawan gudang bahan baku/kemasan bertanggung jawab terhadap penerimaan, penyimpanan, dan pelabelan bahan toksin di dalam gudang, dengan urutan kegiatan sebagai berikut:
4.6.2.1.1 Menyiapkan stok bahan toksin (bahan sanitasi, pelumas, tinta packaging, insektisida) di gudang sesuai kebutuhan pabrik. 4.6.2.1.2 Pada saat kedatangan bahan toksin, kejelasan label dan
keterangan keamanan bahan diperiksa.
4.6.2.1.3 Bahan toksin dikelompokkan dan disimpan di boks tertutup, boks diberi label identitas yang jelas.
4.6.2.1.4 Ruangan untuk menyimpan bahan toksin harus selalu ditutup dan hanya karyawan gudang bahan baku/kemasan yang dapat mengaksesnya.
4.6.2.1.5 Setiap pengeluaran dan pemasukan bahan toksin harus selalu dicatat dalam laporan stok.
4.6.2.2 QC melakukan pemantauan terhadap pelabelan dan penyimpanan bahan toksin setiap dua minggu dalam program audit internal GMP.
4.6.2.3 QC melakukan pemantauan harian terhadap penggunaan bahan-bahan toksin oleh karyawan, termasuk konsentrasi bahan sanitasi atau insektisida dan penyimpanannya.
4.6.2.4 QC bertanggung jawab dalam melabeli wadah-wadah aplikasi alkohol 70 % di area ruangan produksi dan bak klorin 200 ppm untuk keperluan toilet.
4.6.3.1 Work instruction cara penyimpanan bahan dan alat sanitasi (WI/QC-SAN.06) 4.6.3.2 Work instruction pembuatan larutan sanitasi (WI/QC-SAN.01)
4.6.4 Tindakan koreksi:
4.6.4.1 Jika dalam penyimpanan atau penggunaan bahan toksin tercecer atau tumpah, karyawan yang bersangkutan berkewajiban untuk membersihkannya.
4.6.4.2 Pada saat penerimaan, bahan toksin yang pelabelan atau keterangan keamanan bahannya tidak jelas dikembalikan kepada pemasok.
4.6.4.3 Bahan toksin yang tidak disimpan dengan benar harus dikembalikan lagi ke tempatnya.
4.6.4.4 Segera membuang wadah-wadah bahan toksin yang sudah rusak atau tidak dipakai lagi.
4.6.4.5 Wadah aplikasi alkohol atau klorin yang tidak dilabeli dengan jelas harus segera diberi label.
4.6.5 Rekaman:
4.6.5.1 Formulir audit internal GMP (FR/GMP/02) 4.6.5.2 Formulir non-conformity report (FR/GMP/03) 4.7 Pengendalian Kesehatan Personil
4.7.1 Tujuan: Mencegah penularan penyakit dari personil ke dalam produk.
4.7.2 Pengawasan dan pengendalian:
4.7.2.1 Karyawan yang bekerja menangani produk bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan pribadi setiap hari, menerapkan prosedur cuci tangan dengan baik sebelum dan sesudah menangani produk, dan melapor kepada supervisor produksi jika sakit atau terluka.
4.7.2.2 Perusahaan menetapkan kebijakan bahwa karyawan yang sedang sakit dan mengalami luka besar harus mengistirahatkan diri di rumah untuk menghindari kontaminasi mikrobiologis terhadap produk ataupun menularkan penyakit kepada karyawan yang lain.
4.7.2.3 Dalam melakukan perekrutan karyawan, perusahaan meminta surat keterangan kesehatan dari calon karyawan untuk menjamin bahwa hanya karyawan yang sehat yang diterima bekerja.
4.7.2.4 QC melakukan pemantauan terhadap kesehatan personil setiap dua minggu dalam program audit internal.
4.7.3 Referensi dan standar:- 4.7.4 Tindakan koreksi:
Karyawan yang mengalami luka atau sakit ketika bekerja harus segera melapor kepada leader produksi. Luka kecil harus segera ditutupi dengan plester. Karyawan yang terkena luka besar atau sakit harus segera dipulangkan.
Lampiran 3. Lanjutan
4.7.5 Rekaman:
4.7.5.1 Formulir audit personil (FR/GMP/01) 4.7.5.2 Formulir non-conformity report (FR/GMP/03) 4.8 Pengendalian hama
Prosedur pengendalian hama diatur lebih rinci dalam manual pest control management (PC/QC/01), work instruction pest control (WI/PC/01).
5.0 PELATIHAN
Pelatihan karyawan mengenai SSOP dilakukan bersamaan dengan pelatihan GMP dan telah tertuang dalam manual GMP (GMP/QC/01).
Lampiran 4. Persyaratan air minum menurut Menteri Kesehatan RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990
No Parameter Satuan yang Diperbolehkan Kadar Maksimum Keterangan
1 2 3
A. FISIK
Bau
Jumlah zat padat terlarut Kekeruhan - mg/L Skala NTU - 1000 5 Tidak bau
4 5 6 Rasa Suhu Warna - oC Skala TCU - Suhu udara ± 30oC 15 Tidak terasa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 B. KIMIA a. Kimia Anorganik Air raksa Aluminium Arsen Barium Besi Flourida Kadmium Kesadahan (CaCO3) Klorida Kromium, valensi 6 Mangan Natrium Nitrat, sebagai N Nitrit, sebagai N Perak pH Selenium Seng Sianida Sulfat Sulfida (sebagai H2S) Tembaga Timbal b. Kimia Organik
Aldrin dan diektrin Benzene
Benzo (a) pyrene Chloridane (total isomer) Chlorofora 2-4-D DDT Detergent 1.2-Dichloroethane 1.1-Dichloroethane Heptachlor dan hept-Cl epoxide Hexachlorobenzene Gamma-HCH (Lindana) Methoxychlor Penthachlorophenol Pestisida total mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L - mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L 0.001 0.2 0.05 1.0 0.3 1.5 0.005 500 250 0.05 0.1 200 10 1.0 0.05 6.5 – 8.5 0.01 5.0 0.1 400 0.05 1.0 0.05 0.0007 0.01 0.00001 0.0003 0.03 0.10 0.03 0.05 0.01 0.0003 0.003 0.00001 0.004 0.03 0.01 0.1 Merupakan batas min. dan maks.
Lampiran 4. Persyaratan air minum menurut Menteri Kesehatan RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 (Lanjutan)
No Parameter Satuan yang Diperbolehkan Kadar Maksimum Keterangan
17
18 2,4,6-trichlorophenol Zat organik (KMnO4) mg/L mg/L 0.01 10 1 C. Mikrobiologi
2 Total koliform Jml per 100 ml
ml 0 95% dari sampel yang diperiksa
selama setahun kadang-kadang boleh ada 3/100 ml sampel air, tetapi tidak berturut-turut 1 2 D. Radioaktivitas
Aktivitas alpha Cross (alpha activity)
Aktivitas Beta Cross (beta activity) Bq/L Bq/L 0.1 1 Keterangan: mg = miligram ml = mililiter L = liter Bq = bequerel
NTU = Nephelpmetrik Turbidity Units TCU = True Color Units
Lampiran 6. Contoh Checklist Sanitasi Gudang Bahan Baku
!" " #$# $ % & 1 dari 1 Tgl :
No Pekerjaaan Status Penanggung Jawab Checked QC
Jam Hasil SENIN
1 Air curtain 2 Pintu dan kaca 3 Lantai
4 Dinding dan langit-langit SELASA 1 Pintu dan kaca
2 Lantai
RABU 1 Pintu dan kaca
2 Lantai
KAMIS 1 Pintu dan kaca
2 Lantai
JUMAT 1 Pintu dan kaca
2 Lantai
3 Palet, boks, dan trolley SABTU 1 Chiller dan manual defrost 2 Pintu dan kaca
3 Lantai
MINGGU 1 Shifter
2 Pintu dan kaca 3 Lantai
Note : V = bila kondisi bersih dan sesuai standar X = bila kondisi kotor dan tidak sesuai standar
Lampiran 7. Contoh Manual Pest Control Management
PEST CONTROL MANAGEMENT
(Manajemen Pengendalian Hama)
II. Latar Belakang
PT Pangan Rahmat Buana mempunyai komitmen untuk menjaga agar produk yang dihasilkan baik dan