Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Cetakan I. Jakarta: Prenada Media Group.
Cristomy dan Untung Yuwono. Semiotik budaya. Penerbit : 2004
Collins English Dictionary–Complete and Unabridged © HarperCollins Publishers, 2003.
Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Dananjaya, James. 1986. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain.
Jakarta: Grafiti Pers, 1986.
Furnivall, J.S. 1939. Netherlands Indie: A Study of Plural Economy. Cambridge:
Cambridge Univ. Press.
Gea, Yafaowoloo. Fondrakö, Peraturan dan Hukum Adat Nias yang Menghukum.
19 Februari 2013. Diakses 4 Desember 2013.
<http://sosbud.kompasiana.com/2013/02/19/fondrak-peraturan-dan-hukum-adat-nias-yang-mengutuk-536424.html>
Gea, Agus. 2013. Asesoris Adat Perkawinan Nias. (Pernah dimuat di Nias Island.com 29 Januari 2009, dimuat kembali di website TOZ dengan penyempurnaan oleh Tim Sekretariat tanpa merubah isi).
Gulö, W. 1997. Nias : Injili–Budaya– SDM. Salatiga: Universitas Kristen Salatiga.
“Indikator Ekonomi Daerah Kabupaten Nias, bekerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Moodal Kabupaten Nias dengan Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias tahun 2010, yang berisikan data-data statistik penduduk Nias.”
Koentjaraningrat. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Gramedia,
Laia, Bamböwö.1983. Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias:Jakarta. Gadjah Mada University Press.
Malinowski. Teori Fungsional dan Struktural. Editor Koentjaratninggrat (1991).
Malm, William P. 1977. Music Cultures of the Pacific, Near East, and Asia.
New Jersey, Englewood Cliffs: Prentice Hall.
Manhart, Thomas Markus. 2005. "A Song for Lowalangi - The Interculturation of Catholic Mission and Nias Traditional Arts with spesial respect to Music". National University of
“Menelusuri Sejarah Kebudayaan Ono Niha.” Diterbitkan internal oleh Pemda Nias padan tahun 1984, yang berisi tentang Asal usul Ono niha, baik mitos, maupun penelitian ilmiah.
Merriam, Alan P. 1964. The Anthropologi of Music. Chicago: Northwestern University Press.
Nettl, Bruno. 1964. Theory and method in ethnomusicology. New York.
Nuryanto, et al. 2010. “Pusaka Nias Dalam Media Warisan” (Kumpulan Artikel dan Opini).
Perwadarminta (ed.), 1985. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Risthina, R. Sirait, et al. “Adat dan Upacara PEerkawinan Daerah Nias.”
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara.1984.
Soedarsono. R.M., 1977. “Tari-tari di Indonesia.” Jakarta, Proyek pengembangan Media dan Kebudayaan.
Sedyawati, Edy, 1981. Tari: Tinjauan dari Berbagai Segi. Jakarta: Pustaka Jaya.
Soehartono, 1995. Metode Penelitian. Jakarta: Gramedia.
Statistik Daerah Kota Gunungsitoli yang diterbitkan oleh Badan Statistik Kabupaten Nias, tahun 2011, yang berisikan statistik Kota Gunung Sitoli.
Takari, Muhammad. Dkk. 2008. Masyarakat Kesenian di Indonesia. Medan: Studi Kultura, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara.
Zebua, HS.1985. Kumpulan Catatan Upacara Perkawinan Daerah Nias. Gunung Sitoli: Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Nias Sumatera Utara.
GLOSARIUM
Afo : Sirih.
Aro Gosali : Sebuah proses musyawarah yang dihadiri ketua adat.
Aramba : Alat musik yang menyerupai gong.
Barasi : Gelar kebangsawanan untuk penganten putri
Bola Nafo : Pemberian sekapur sirih.
Bongi Zalawa : Menentukan waktu pelaksanaan pesta perkawinan kelak.
Bosi : Sistem penggolongan derajat manusia dalam adat Nias.
Bowo : Mahar.
Dawa Sowanua : Orang pendatang yang telah mempunyai tanah sendiri.
Famatoro Töi : Memberi nama.
Fame’e : Saat dimana keluarga perempuan memberi nasihat kepada pengantin perempuan.
Fame’e Alfo : Memberikan sirih penghormatan.
Fame tou ono nihalo : Penyerahan pengantin perempuan kepada pihak keluarga pengantin laki-laki.
Falowa : Sebutan upacara adat pernikahan dalam adat Nias.
Fanaba olola zumange : Sepatah kata penyerahan suguhan penghormatan .
Fangowalu : Upacara perkawinan dalam adat Nias.
Fanema’o tome : Penerimaan tamu.
Fangaetu golola : Puncak pembicaraan pengetua-pengetua adat yang menyatakan pernikahan telah sah.
Fangandro rook : Meminta rokok dari pengantin pria.
Fangaruwusi : Memperlihatkan kandungan.
Fame’e laeduru : Memberikan cincin pernikahan.
Fanunu manu : Membakar ayam.
Famalua li : Menyampaikan hasrat.
Fame’e fakhe toho : Membawa padi jujuran.
Fangandro li nina : Memohon waktu dari ibu si gadis (mempelai wanita).
Fame’e : Menasihati calon pengantin.
Famaola ba nuwu : Memberitahukan ke paman calon pengantin perempuan.
Famaigi mbawi walowa: Melihat babi adat jujuran.
Folau mbawi : Membawa babi jujuran.
Fame’e go : Memberi makan pengantin.
Famuli nukha : Pengambilan pakaian .
Fangowalu : Upacara perkawinan dalam adat Nias.
Fantuno Maena : Syair maena.
Fenehe maena wangowai dome : Syair berisi sapaan.
Fanou’ö olöwöta : Penyerahan bingkisan daging babi.
Femanga : Acara makan dan minum.
Folau bawi : Menghantarkan dua ekor babi.
Fondrako : Hukum adat Nias.
Fo’ere : Dukun.
Gondra : Alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul dengan alat pemukul yang terbuat dari rotan.
Hia walangi sinada ina : Sebutan raja di salah satu daerah Nias.
Interval : Jarak antara nada yang satu dengan nada lainnya.
Kadensa : Penggarapan nada-nada akhir setiap bentuk melodi.
Kontur : Garis suatu lintasan melodi dalam sebuah lagu.
Lowalangi : Di atas langit.
Maena : Tarian yang dipertunjukkan dalam upacara Perkawinan dalam adat Nias.
Maknan denotasi : Makna yang sebenarnya.
Makna konotasi : Makna kiasan.
Ngambato : Suami dan istri.
Nidada : Tuhan.
Olola huhuo : Pembicaraan adat pernikahan oleh kedua belah pihak.
Ono niha : Orang Nias.
Ono maena : Peserta maena.
Ofa sagi : Gerakan yang membentuk segi empat.
Poliandri : Seorang perempuan yang kawin dengan lebih dari satu orang lelaki.
Salawa : Orang yang dihormati.
Sanomba adu : Kepercayaan kepada patung-patung buatan manusia baik berupa kayu maupun batu besar.
Sambua alahoita : Berkumpul di bawah kayu besar.
Sanatunu maena : Pemimpin gerakan maena.
Sese : Lelaki.
Sitenga bo’o : Kerabat.
Tamburu : Alat musik yang ukurannya lebih kecil dari gondra.
Teori fungsionalisme : Teori yang menekankan pada saling
ketergantungan pada institusi-institusi pada masyarakat tertentu.
Tingkeban : Upacara tujuh bulanan dalam budaya Jawa.
Tolu sagi : Gerakan yang membentuk segitiga.
Tumbu : Lahir.
Wilayah nada : Daerah dari nada yang frekuensinya paling rendah
sampai frekuensi yang paling tinggi.
Ya’ahowu : Semoga diberkati.
LAMPIRAN 1 :