ETNOGRAFI ETNIK MASYARAKAT NIAS
5. Kekerasan, maksudnya: perempuan adalah korban tindak kekerasan yang berupa fisik misalnya : pemerkosaan, pelecehan seksual, penyiksaan terhadap
3.4 Waktu Upacara
Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan atau upacara, etnis Nias selalu berpedoman pada keadaan “bulan langit”.
Dimana kalau bulan dalam keadaan gelap atau baru terbit dan sampai bulan yang ketujug, dianggap kurang baik untuk melaksanakan upacara atau mengerjakan sesuatu/
Demikian juga untuk melaksanakan upacara-upacara perkawinan selalu berpedoman pada ketentukan di atas. Selain dari pada itu yang dperlu diperhatikan ialah bahwa segala upacara yang mereka laksanakan tidak dilakukan bersamaan dengan hari kematian keluarganya. Oleh sebab itu untuk menjelaskan waktu pelaksanaan tiap upacara selalu diadakan pada keadaan siang dan malam.
a. Fame’e Li Untuk melaksanakan upacara ini biasanya pada waktu siang hari
b. Fame’e laeduru Untuk ini dilaksanakan pada siang hari. Tidak lama setelah fame’e li
c. Fanunu Manu Jarak antara fame’e laeduru dengan fanunu manu kadang-kadang berselang lama. Kadang bertahun, bergantung kepada persediaan keperluan dari pihak laki-laki. Waktu pelaksanaannya siang hari.
d. Famalua Li Dilaksanakan waktu siang hari
e. Fame’e Folohe Fakhe Toho Waktu sore hari
f. Fangandrõ Li Nina Dilaksanakan waktu malam hari
g. Fangandrõ ba Dekhemmbõwõ Dilaksanakan waktu malam hari. Biasanya disebut juga Fame’e atau famotu ono nihalõ h. Fangandrõ ba wawõwõkha Dilaksanakan malam hari
i. Famaola ba Nuwu Dilaksanakan mulai siang hari sampai malam hari
j. Famaigi Bawi Dilaksanakan waktu siang sampai pada sore hari atau malam hari
k. Folau Bawi Dilaksanakan sore hari sampai selesai
alat perlengkapan upacara yang perlu dipersiapkan. Adapun alat-alat perlengkapan upacara yang dipergunakan sebagai berikut.
3.5.1 Fame’e li
Perlengkapan dalam upacara fame’e li ini hanyalah “afo”, baik dari pihak yang tamupun lebih-lebih bagi yang sipangkalan. Dimana sudah harus tersedia disetiap rumah tangga. Pemberian “afo” pada upacara ini tidak dengan basa-basi upacara atau langsung disuguhkan saja.
3.5.2 Fame’e laeduru
Alat-alat perlengkapan yang harus disediakan dalam upacara ini, dari pihak keluarga si pemuda ialah “bola nafo” yang diisi lengkap. Sebentuk cincin dari emas yang beratnya “sara siwalu” = 10 gram emas kerkadar 18 karat atau dari perak dan kola (kuningan). Sebagai lampirannya cincin tersebut atau “sekhe-sekhe laeduru” sebesar tambali siwalu (5 gram), untuk samatõrõ,tambali si walu untuk sanema Li, bola nafo yang berisi lengkap untuk diserahkan kepada ibu si gadis dan olõwõta
Dari pihak keluarga si gadis (sowatõ), alat perlengkapan ialah : 2 (dua) ekor anak babi gunanya = satu ekor untuk lauk/ suguhan waktu makan dan satu lagi untuk manu laeduru.
Afo untuk disuguhkan kepada tamu-tamu, 1 (satu) ekor ayam jantan sebagai manu laeduru, daun pisang untuk membungkus nasi, pinggan dan piring-piring, nyiru-nyiru untuk tempat daging babi yang masak yang disuguhkan kepada tome (tamu) dan lainnnya.
buah bola nafo yang berisi lengkap yang akan diserahkan kepada:
1. Soboto (ibu si gadis) 2. Uwu (paman si gadis)
3. Iwa (saudara-saudara bapak si gadis) 4. Awe (nenek si gadis)
5. Huwa (keluarga terdekat dengan bapak si gadis atau saudara sepupunya) 6. Sanema li
7. Samantõrõ 8. Si’o 9. Banua
10. Satu buah untuk tamu keseluruhannya.
Setelah selesai penyerahan bola nafo maka mereka yang telah menerima bola nafo tersebut menunjukkan kegembiraannya dengan memperdengarkan beberapa bait“hendri-hendri” atau maola untuk memuji-muji kembut sirih beserta dengan isinya yang telah diterima itu. Contoh hendri-hendri tersebut sebagai berikut:
Ae Bano ta te ma nafo (Kita sudah terima sirih) Moroi ba danga numõnõ (Sirih pemberian menantu) Tawuo Sini, tawuo Lanõ
(Sirih pendingi, sirih penenang) Nifailo Faedronga Tanõ
(Yang diturunkan bersama bumi)
alisi = 48 kg, gunanya untuk bawi wanunu manu yaitu babi untuk upacara. Satu ekor lagi babi sebesar 5 ( lima) alisi ± 60 kg, untuk dijadikan lauk. Satu ekor anak babi untuk olõwõta. Emas 1 (sara) balaki = 10 gr emas yang berkadar 18 karat, untuk lambae daroma, panjar jujuran. Fa’ilasa ba nuwu sebesar sara siwalu (emas 10 gr berkadar 16 karat). Dan emas lagi tambali siwalu , untuk fangaro huhuo (memperkokoh janji atau disebut ana’a zazi, yang diberikan kepada para salawa-salawa kedua belah pihak.
Dari pihak keluarga si gadis, alat perlengkapannya ada tufo= tikar, guna tempat duduk tamu. Selengkapnya afo, untuk disuguhkan kepada tamu. Emas seberat yambali siwalu, gunanya fangaro huhuo untuk para salawa-salawa kedua belah pihak. Satu ekor ayam, guna untuk dibakar oleh Ere dan salawa.
3.5.4 Famalua Li
Alat perlengkapan pada upacara famalua li dari pihak pemuda adalah: 1 buah bola nafo yang berisi lengkap. Olõwõta Fangelama 1 bungkusan (bingkisan peringatan) yang berisi daging anak babi yang sudah masak. Bola nafo dan olõwõtõ itu diberikan kepada orang tua si gadis sebagai syarat bagi mereka, bahwa keluarga si pemuda akan datang menanyakan jumlah jujuran yang dibayar. Disamping itu pihak keluarga pemuda menyediakan 1 (satu) ekor babi sepihak keluarga pemuda menyediakan 1 (satu) ekor babi sebesar ±4 alisi sebagai bawi wamalua li (babi untuk upacara famalua li); emas seberapa yang ada sebagai tanda bentuk sinulo ondronita mbõwõ yaitu angsuran jujuran, emas tambali siwalu untukfawu’usa li (tanda perjanjian yang diberikan kepada para salawa kedua belah pihak) 1 ( satu) ekor babi sebesar 6 (enam) alisi (±70 kg) sebagai diwo untuk lauk para tamu.
nasi, figa yaitu pinggan tempat nasi, niru (nyiru) sebagai tempat daging babi, penghormatan dan aramba(gong), gõndra (gendrang), dan sarainaatau faritia (canang).
3.5.5 Fame’e fakhe toho
Untuk upacara fame’e fakhe toho oleh pihak pemuda menyediakan ulitõ (padi), Emas untuk su’a wakhe(menakar padi),folosi mbawa lauru (meratakan mulut kulak padi),famanaere lauru(memiringkan kulak), masing-masing diberikan untuk: fanu’a wakhe atau tambali siwalu, folosi mbawa laurusama dengan dua saga tambali siwalu (2,5 gram) dan untuk famanaere lauru sama dengan tambali siwalu.
Dari pihak keluarga si gadis adalah lauru ( kulak) ; bawi ni o’wuru = daging babi yang sudah diasin sebagai lauk tamu yang membawa padi tersebut.
3.5.6 Fangandrõ li nina
Untuk upacara ini pihak keluarga pemuda menyediakan 2 ekor babi yang besarnya masing masing 2 alisi dan 3 alisi emas sara balaki untuk persembahan kepada ibu sigadis. Dari pihak si gadis menyediakan 1 (satu) ekor anak babi muda sebesar 4 atau 5 tu’e sebagai lauk suguhan kepada tamu beras dan pinggan, dan lain-lainnya.
3.5.7 Fangandrõ ba dekhembõwõ
Dalam upacara ini alat perlengkapan yang disediakan oleh pihak sigadis adalah : 1 ( satu) ekor anak babi muda guna sebagai sajian pada dewa jujuran. 1 (Satu) ekor babi sebesar ± 4 alisi sebagai lauk untuk jamuan adat bagi pihak laki-laki yang disebut “bawi wamagõlõ yaitu babi untuk permufakatan, emas sara siwalu untuk fangandrõ ba Dekhembõwõ dan seekor babi sebesar 2 alisi untuk upacara fame’e yang diberikan khusus kepada kaum ibu-ibu.
keluarga si pemuda yaitu: 1 ekor anak babi untuk sajikan pada sang dewa siraha wamailo, 1 ekor babi sebesar 4 alisi untuk famagõlõ (pemufakatan) yang diberikan kepada kelompok laki laki, 1 ekor lagi babi sebesar 4 alisi untuk famatõrõdõimbene’õ = memberi gelar penganten perempuan, yang diberikan kepada kelompok ibu-ibu dan emas tambali siwalu untuk para salawa.
3.5.9 Famaola ba nuwu
Alat perlengkapan dalam upacara famaola ba Nuwu dan Fanaba Li baNuwu, yaitu : dari pihak keluarga si gadis. Yang disediakan adalah:
1. Olõwõta, satu ekor babi sebesar 4 alisi yang disebut bawi famaola 2. Emas sebesar sara siwalu yang disebut ana’a famaola
3. Emas sebesar sara baliki yang disebut õmõ ndraono”yaitu utang anak 4. Emas sebesar sara siwalu yang disebut tefe-tefe nidanõ
5. Afo selengkapnya
Yang disediakan oleh pihak laki-laki ialah:
1. Olõwõta, sebesar 1 alisi
2. Emas sebesar sara baliki yang disebut aya Nuwu = jujuran untuk penghormatan pada paman si gadis
3. Afo selengkapnya.
Yang disediakan oleh pihak Uwu yang ditemui ialah:
1. Beras secukupnya untuk keperluan upacara
2. Seekor anak babi sebesar 4 alisi untuk lauk tamunya.
3. Seekor anak babi yang “betina” yang diserahkan kepada ibu si gadis yang disebut “manu Ndraono”
3.5.9 Famaigi Bawi
Untuk upacara famaigi bawi, peralatan yang dibutuhkan oleh keluarga si gadis ialah: Su’asu’a mbawi yang disebut “fanu’a mbawi terdiri dari daun kelapa muda yang spesial, berwarna putih (daun kelapa muda yang putih) dan Afore = sejenis alat pengukur besarnya babi.
Dari pihak keluarga si pemuda, alat perlengkapan yang harus disediakan adalah:
1. 2 (dua) ekor babi walõwa yang besar-besar,
2. 1 (satu) ekor babi sebesar 4 (empat) alisi guna fonõnõ mbawi zo’onoyaitu tambahan besarnya babi untuk orang tua si gadis,
3. 1 (satu) ekor babi sebesar 2 (dua) alisi guna fonõnõ mbawi mbanuayaitu tambahan besarnya babi untuk banua.
4. Emas sebesar tambali siwalu untuk guna famaigi mbawi zo’ono (tambahan melihat babi untuk orang tua si gadis).
5. Emas sebesar tambali siwalu untuk melihat besarnya babi untuk banua 6. Emas sebesar tambali siwalu, guna untuk “famatõfa ba gafore yaitu
mengukur dengan afore,
7. Emas sebesar sara siwalu, guna untuk famatõfa ba mbulu nohi safusi mengukur dengan daun kelapa putih yang muda.
3.5.10 Folau bawi
Alat perlengkapan untuk upacara folau bawi dari pihak pemuda, adalah:
1. 1 (satu) ekor anak babi guna untuk sajian kepada arwah leluhur sebesar 4 (empat) tu’e = 12 kilogram,
3. 3 (Tiga) ekor anak babi muda sebesar masing-masing 4 tu’e, guna untuk : suru duo sasoso (sejenis bingkisan untuk kawannya tuak yang diminum), dan juga bersama dengan suru duo sataha,6
4. Olõwõta daging babi yang baru dimasak untuk disuguhkan kepada pengetua-pengetua adat dalam banua tersebut,
5. 1 (satu) ekor babi sebesar 1 (sara) alisi, guna untuk i’o mbawi, tambahan untuk ekor babi walõwa,
6. Emas sebesar tambali siwalu, guna sebagai tabo mbawi, imbalan karena telah menerima tahõ.
7. Afo selengkapnya dan faritia atau saraina, yaitu canang yang dipukul sepanjang perjalanan waktu membawa babi walõwa itu.