Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu dengan menggambarkan atau mengamati fakta-fakta yang sedang berlangsung dan pengujiannya tidak menggunakan statistik serta peneliti ikut terjun dalam penelitian. Teknik pengumpulan data dan penelitian ini adalah observasi dan wawancara. Teknik pengolahan dan analisa data menggunakan metode deskripsi kualitatif yaitu menguraikan bagaimana makna lagu Maena pada upacara falõwa di Õri Laraga Kota Gunung Sitoli. Sesuai dengan masalah yang diajukan, maka penulis memakai metode deskriptif, untuk mengumpulkan informasi mengenai lagu Maena yang sebenarnya. Ini sesuai dengan yang dikatakan Arikunto, (2003:309-310) yaitu penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status, atau gejala yang ada yaitu gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Adapun pengertian deskriptif menurut Sukardi (2003:15) adalah metode yang berusaha menggambarkan objek atau subjek yang diteliti sesuai
dengan apa adanya. Tujuannya adalah menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek yang diteliti secara tepat.
Menurut Merriam dalam etnomusikologi, dikenal istilah teknik lapangan dan metode lapangan. Tekhnik mengandung arti pengumpulan data-data secara rinci di lapangan. Metode lapangan sebaliknya mempunyai cakupan yang lebih luas, yang meliputi dasar dasar teoritis yang menjadi acuan bagi teknik penelitian lapangan. Teknik menunjukkan pemecahan masalah pegumpulan data hari demi hari, sedangkan metode mencakupi teknik-teknik dan juga berbagai pemecahan masalah sebagai bingkisan kerja dalam penelitian lapangan (Merriam, 1964:39-40)
Selain itu dalam penelitian seni dikenal metode penelitian kualitatif dan kuantitaif. Penelitian kualitatif pada hakekatnya bertujuan untuk mencari makna makna yang terkandung daripada kegiatan atau artefak tertentu. Selanjutnya penelitian kuantitatif biasanya bertujuan untuk mengukur fenomena yang ada berdasarkan rentangan-rentangan kuantiti tertentu. Sejauh pengamatan penulis, kajian seni lebih banyak menggunakan metode kualitatif. Namun tidak menjadi alasan metode kuantitatif tidak diperlukan dalam pengkajian seni. Kedua metode tersebut digunakan sesuai dengan permasalahan yang dianalisis. Misalnya untuk mengkaji seberapa banyak degrasi jumlah ronggeng Melayu di Sumatera Utara, tentu metode yang sesuai adalah metode kuantitaif. Sebaliknya untuk mengetahui sejauh mana makna semiotik yang ingin dikomunikasikan seniman dalam pertunjukkan guro-guro aron, tentulah lebih sesuai didekati dengan metode kualitatif. Dalam konteks peneliti tertentu, bahkan kedua-dua metode diperlukan.
Denzin dan Lincoln menyatakan secara eksplisit tentang penelitian kualitatif sebagai berikut:
Qualitative [sic] research has a long and distinguished history in human disiplines. In sociiology the work of the “Chicago Scholl” inthe 1920s and 1930s established the importance of qualitiative research for teh study of human group life. In Anthropology, during the same period, charted the outlines of the field work method, where in tthe observer went to a foreign setting to study customs and habits of another society and culture... Qualitatif research is a field of inquiry in its own right . Its crosscuts disiplines, fieldsm], and subject matter. A complex, Interconnected, family of terms, concepts, and assumtions suurond the term qualitative research (Denzim and Lincoln, 1995 :1)
Lebih jauh Nelson mentafsirkan mengenai penelitian kualitatif itu mengikuti keberadaannya dalam dunia ilmu pengetahuan sebagai berikut:
Qualitative research is an interdisiplinary, transdisiplinary, and somteimes counterdisiplinary field. It crosscuts the humanities and the social and physical sciences. Qualitative research is many things at the same time. It is multiparadigmatic in focu. Its practinioners are sensitve to the value of the multimethod approch. They are commited ti thenaturalistic perspective, and to the interpretive understanding of human experience. At the same time, the field is inherently political and shaped by multiple ethical and political positions (Nelson and Grossberg, 1992:4).
Dari kedua kutipan di atas secara garis besar dapat dinyatakan bahwa penelitian kualitatif umumnya ditunjukkan untuk mempelajari kehidupan kelompok manusia. Biasanya manusia di luar kumpulan peneliti. Peneliti ini melibatkan berbagai jenis disiplin, baik dari ilmu kemanusiaan, sosial ataupun ilmu alam. Para peneliti percaya kepada perpektif naturalistik, serta penginterprestasikan untuk mengetahui pengalaman manusia, yang oleh karena itu biasanya inheren dan dibentuk oleh berbagai nilai etika posisi politik.
Namun demikian, penelitian seni dengan metode kualitatif juga sellau melibatkan data-data yang bersifat kuantitaif dengan melihat kepada pernyataan S.
Nasution bahwa setiap peneliti (kualitatif dan kuantitaif) harus direncanakan.
Desain penelitian merupakan rencana tentang cara pengumpulan data menganalisa
data agar dapat dilaksanakan secara ekonomis serta serasi dengan tujuan penelitian itu. Dalam desain pelitian antara lain harus dipikirkan: (a). Populasi sasaran, (b) Metode Sampling, (c) Besar Sampling, (d) Prosedur pengumpulan data, (e) Cara-cara menganalisis data setelah terkumpul, (f) Perlu tidaknya menggunakan statistik, (g) Cara mengambil kesimpulan, dan sebagainya (Nasution, 1982:31).
Edi Sedyawati juga mengungkapkan perlunya tahapan-tahapan dalam meneliti seni tari. Peneliti seni tari juga dapat kita bagi ke dalam tiga macam atau tahap, yakni (1) Pengumpulan, (2) Penggolongan, dan (3) Penganalisasian dan Penulisan dan terakhir yakni pengolahan atau persembahan (Sedyawati, 1984:116).
1.5.2 Penelitian lapangan
Penelitian lapangan (field work) adalah menjadi fokus utama kegiatan penulis melakukan penelitian mengenai analisis syair lagu maena pada acara adat pernikahan masyarakat Laraga. Hal ini dilakukan mengacu kepada disiplin etnomusikologi dan antropologi yang sangat mementingkan penelitian lapangan.
Hal ini selaras dengan yang dikemukakan Barden dalam konteks kegiatan ilmuwan entomusikologi di dunia ini. Menurut I Made Bande, entomusikologi merupakan sebuah bidang keilmuwan yang topiknya menantang dan menyenangkan untuk diwacanakan. Sebagai disiplin ilmu musik yang unik, entnomusikologi mempelajari musik dari sudut pandangan sosial dan budaya.
Sebagai disiplin yang amat populer saat ini, etnomusikologi merupakan ilmu pengetahuan yang relatif muda umurnya.
Setting atau lingkungan riset pada penelitian ini adalah lingkungan noncontrived setting atau lingkungan riil (field setting). Kerja lapangan yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara.
Observasi adalah pengamatan dengan cara mengamati dan menjadi pengamat yang terlibat dalam kegiatan seni secara langsung guna untuk mendapatkan informasi lebih teraktual, serta wawancara dilakukan kepada informan informan khususnya key people (narasumber) guna mengetahui makna makna syair dan tarian maena yang ditampilkan di pesta adat pernikahan Ori Laraga.
1.5.3 Fokus penelitian
Adapun fokus penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, pada Tari Maena, fokus terhadap syair dan lagu tari, runtutan mulai dari:
1. Penyambutan tamu (maena dari tuan rumah/sipangkalan) so omo, 2. Penyerahan sekapur sirih (maena dari tamu) tome,
3. Mendaulat pengantin laki-laki untuk menyerahkan rokok dan minuman bagi penari maena/ono maena (maena dari tuan rumah),
4. Penyerahan pengantin perempuan ke keluarga pengantin laki-laki.
1.5.4 Teknik pengumpulan data
Strategi pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik observasi dan wawancara. Sumber data yang digunakan pada merupakan data primer dan sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari hasil observasi dan wawancara, sedangkan data sekunder merupakan data yang
diperoleh dari pustaka atau teori-teori yang sudah dikemukakan (data tidak langsung).
1.5.4.1 Observasi
Observasi merupakan teknik atau pendekatan untuk mendapatkan data primer dengan cara mengamati langsung objek datanya. Observasi yang dilakukan merupakan observasi sederhana yang tidak mempunyai pertanyaan-pertanyaan riset. Observasi sederhana digunakan pada penelitian exploratory (kualitatif) yang belum diketahui dengan jelas variabel-variabel yang akan digunakan. Pentingnya melakukan observasi ini adalah untuk melihat langsung pertunjukkan dan kemudian melakukan wawancara. Selepas itu, penulis akan menganalisisnya dan melakukan penafsiran-penafsiran kultural beradasarkan ilmu dan pengalaman yang penulis peroleh selama ini.
1.5.4.2 Wawancara
Wawancara merupakan komunikasi dua arah untuk mendapatkan data dari responden. Wawancara (interview) pada penelitian ini menggunakan wawancara personal yaitu wawancara yang dilakukan dengan cara tatap muka langsung dengan responden (ketua adat suku Nias), baik yang berada di Gunung Sitoli Nias, maupun pengetua adat y Nias yang ada di Medan. Wawancara dilakukan dengan para Dinas Pariwisata, Pendidikan serta tetua adat yang mengetahui maena secara keseluruhan serta beberapa masyarakat Nias yang mengetahui mengenai maena.
Wawancara dilakukan sesuai dengan format yang telah penulis siapkan dengan tujuan data-data yang diinginkan akan diuraikan, sehingga mendukung hasil
penelitian. Hal-hal yang diwawancarai berkaitan dengan makna tarian maena, susunan acara adat pernikahan adat masyarakat Nias, serta struktur analisis maena lebih mendalam.
1.5.5 Teknik analisis data
Teknik analisis data merupakan aktivitas mempersiapkan semua data yang sudah dikumpulkan untuk diproses lebih lanjut. Teknik analisis data digunakan untuk mengetahui apakah yang data telah dikumpulkan telah menjawab pertanyaan penelitian. Analisis data pada tradisi pernikahan masyarakat Nias dengan tahapan:
1. Mengumpulkan data fisik yang berhubungan dengan infomasi tentang Nias.
2. Mengumpulkan data terkait tradisi pernikahan masyarakat suku Nias.
3. Melakukan analisis terhadap setiap gerakan kaki, tangan, syair dan lagu pada tarian maena.