• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRUKTUR MUSIKAL

5.1 Transkripsi Teks dan Melodi Lagu

5.2.4 Jumlah nada

Untuk menentukan jumlah nada pada teks lagu Fanema’o Tome, penulis menghitung jumlah terbanyak kemunculan setiap nada dan menghitung jumlah durasi komulatif. Jumlah nada yang terdapat pada teks lagu Fanema’o Tome, sebagaimana terlihat di bawah ini.

Nada Jumlah

C 10

D 14

E 15

F 5

G 11

B 1

G 1

Tabel 5.1 Jumlah Nada

Dari tabel di atas terlihat bahwa nada yang paling sering muncul adalah E, kemudian disusul oleh nada D, G, C, F, dan yang paling jarang adalah b dan g yang hanya satu kali saja muncul dalam lagu ini.

yang satu dengan nada yang lainnya dalam satu komposisi musik. Sistem pengukuran pada interval disebut “laras” dengan alat ukur cent.

Ada dua jenis interval pada teks lagu Fanema’o Tome, yaitu melangkah (conjunct) dan melompat (disjunct). Analisis interval penulis lakukan dengan menghitung setiap interval dari bawah ke atas atau yang naik maupun yang turun.

Seperti di bawah ini.

Interval Jumlah

Prime 13

Sekunda Mayor 20

Sekunda Minor 6

Ters Mayor 5

Ters Minor 5

Kuart Prime 2

Kuint Prime 3

Sekt Mayor 1

Tabel 5.2 Interval

Interval yang paling sering muncul adalah sekunda mayor, disusul oleh prime, sekunda minor, ters mayor, ters minor, kuint prime dan kuart prime, dan yang hanya muncul sekali saja adalah sekt mayor.

5.2.6 Kontur

Menurut William P.Malm yang diterjemahkan oleh Muhammad Takari, (1993:8-10), bahwa kontur adalah garis suatu lintasan melodi dalam sebuah lagu yang dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis, sebagai berikut:

2. Descending (menurun), yaitu garis melodi yang bergerak turun dari nada yang tinggi ke nada yang rendah.

3. Pendulous, yaitu garis melodi yang bergerak dengan membentuk lengkungan.

4. Terraced, yaitu garis melodi yang membentuk gerakan berjenjang seperti anak tangga.

5. Statis, melodi yang gerakan-gerakan intervalnya terbatas atau garis melodi yang bergerak datar atau statis.

Dari kelima jenis kontur di atas, maka kontur pada sampel lagu maena adalah kontur ascending, Descending, Pendulous, dan Terraced.

Pada transkripsi teks lagu Fanema’o Tome, terlukis kontur, descending, pendulous, statis. Seperti di bawah ini:

X G F E D C Y

Tabel 5.3 Kontur Lagu Fanema’o Tome

Keterangan: - Garis x menujukkan nama nada - Garis y menunjukkan nilai nada

5.2.7 Formula

Bentuk (form) adalah bentuk komposisi musik yang hanya dikaitkan dengan jalur utama melodi atau bunyi. Menurut Malm (1977), bentuk (form) dapat dibagi dalam beberapa jenis yaitu:

1. Repetitive, yaitu bentuk nyanyian atau lagu yang diulang-ulang

2. Literative, yaitu bentuk nyanyian atau lagu yang memakai formula melodi yang kecil dengan kecenderungan pengulangan-pengulangan dalam keseluruhan nyanyian.

3. Reverting, yaitu bentuk nyanyian atau lagu yang terjadi pengulangan pada frase pertama setelah terjadi penyimpangan melodis

4. Progressive, yaitu bentuk nyanyian atau lagu yang terus berubah-ubah dengan menggunakan materi melodi yang selalu baru

5. Strophic, yaitu bentuk nyanyian atau lagu yang diulang dengan formalitas yang sama tetapi teks nyanyian yang selalu baru.

Jika dilihat dari perjalanan melodi yang terdapat pada lagu diatas, maka jenis formula melodi yang terdapat adalah jenis melodi Repetitive karena setelah didengar dan dianalisis lagu yang dimainkan, terjadi pengulangan melodi yang sama tetapi ada yang berubah di dalam pengualngan tersebut yaitu pengulangan melodi tersebut disertai dengan nada harmoni tiap melodi. Bentuk dari formula melodi dapat dilihat sebagai berikut.

Frase A1 – A1 – B1 – B2

kemudian diulang lagi dengan bentuk yang sama Frase A1 – A1 – B1 – B2

setiap bentuk melodi. Penulis menggunakan 3 atau 4 nada terakhir dari tiap frase untuk menunjukkan pola-pola kadensa. Adapun pola kadensa yang terdapat dalam lagu Fanema’o Tome adalah sebagai berikut

Frase A1

Frase 1B

Frase 2A

Frase 2B

6.1 Maena

Seandainya kita melihat ke belakang mengenai sejarah tarian maena ini, entah sejak kapan maena ini dikenal oleh masyarakat Nias. Banyak para arkeolog juga menyatakan bahwa mereka belum pernah baca literatur atau laporan hasil penelitian mengenai asal muasal budaya yang masyarakat Nias banggakan ini.

Namun yang pasti, bahwa hanya suku Nias yang memiliki produk budaya tarian yang dikenal orang dengan sebutan maena dan tarian ini tidak ditemukan pada etnis manapun di dunia ini. Oleh sebab itu selayaknya kita bangga untuk mempertunjukkan maena kapanpun dan dimanapun.

Satu hal yang patut kita kagumi adalah kearifan para leluhur kita ketika melahirkan sebuah karya budaya bernilai tinggi yaitu maena. Para leluhur mencipta tanpa meniru atau mereduksi produk budaya suku lain, karena memang pada masa lampau Nias sangat terisolir, tidak ada alat telekomunikasi dan informasi seperti sekarang ini. Interaksi dengan dunia luar Nias sangat terbatas, hanya bisa menggunakan sampan sebagai alat transpotasi untuk mengharungi lautan luas ketika ingin merantau. Kalaupun ada yang berhasil merantau, maka maena-pun tidak ditemukan di daerah lain. Jadi, kita sangat yakin bahwa maena adalah hasil daya cipta leluhur Nias yang diwariskan kepada kita secara turun-temurun.

Apabila maena dilaksanakan sesuai dengan aslinya, maka maena menjadi seni dan sastra bernilai tinggi serta memuat pendidikan karakter manusia Nias. Metode pendidikan karakter yang diperadapkan leluhur melalui maena adalah khas, karena maena mengandung berbagai makna, antara lain:

terdengar indah jika dilakukan secara bersama-sama. Semakin banyak orang yang menari bersama dengan gerak yang sama pula, serta menyanyikan syair secara serentak maka maena itu semakin indah. Dalam tarian maena dapat membaur laki-laki dan perempuan, tua, muda atau anak-anak bahkan tamu dapat diajak sebagai sarana adaptasi dan keakraban. Jadi, maena adalah sarana mendidik jiwa orang Nias untuk hidup dalam kebersamaan, persaudaraan, kegotongroyongan. Out come dari tradisi maena pada akhirnya adalah terciptanya rasa damai dan ketenteraman di tengah-tengah masyarakat. Manfaat itu mungkin tak pernah kita sadari, bahkan juga oleh pemerintah kita sampai sekarang.

2. Maena adalah sebuah tarian. Tarian Gangnam Style yang mendunia sebenarnya adalah tarian biasa dan sederhana. Gangnam Style digemari tua dan muda karena dikemas dengan gerakan sederhana tapi kocak, diiringi music yang ceria serta ditarikan oleh artis-artis cantik dan sexy, disajikan pula dengan seni klip yang menggugah. Tarian seperti ini bisa berumur pendek di hati para penggemarnya, cepat pudar diingatan kemudian lenyap karena membosankan. Tidak demikian halnya dengan maena, gerak aslinya yang lunglai menggambarkan kelemahlembutan manusia Nias, manusia Nias tidak hidup dalam kekerasan tetapi hidup dengan sikap yang tegas tetapi santun. Beragam gerak maena dapat dilakukan secara otomatis berkesinambungan, misalnya gerak kaki segi-4 ke gerak segi-3, kemudian membentuk lingkaran dan selang seling atar barisan yang satu dengan barisan yang lain. Gerak maena yang dapat dilakukan dengan berbagai

menggapai sebuah cita-cita. Sungguh luar biasa daya cipta leluhur kita untuk mendidik kaum keturunannya dengan cara yang tak pernah kita sadari.

3. Maena adalah nyanyian. Menyanyi adalah mengungkapkan isi hati disertai