• Tidak ada hasil yang ditemukan

DALAM BAHASA MELAYU BALI I Nyoman Suparwa

Dalam dokumen Nuansa Bahasa Citra Sastra (Halaman 111-121)

Program Studi Sastra Indonesia

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Abstrak

Tujuan kajian ini adalah untuk menemukan dinamika sapaan dalam bahasa Melayu Bali. Teori yang digunakan mengacu kepada teori T-V Brown-Gilman (1960:253—379), yaitu untuk menganalisis bentuk, fungsi, dan makna. Teori T-V merupakan teori dua makna, yaitu makna kekuasaan (the power semantic) dan makna solidaritas (the solidarity

semantics). Data kajian ini didapat dari informan bahasa

Melayu Bali yang berdomisili di Loloan Barat dan Loloan Timur (dua belas orang; enam orang per desa), Kecamatan Negara, Jembrana, Bali. Terhadap informan dilakukan wawancara mendalam untuk mendapatkan data yang diperlukan, yaitu berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat. Analisis data dilakukan secara kualitatif deskriptif dengan penjelasan bila diperlukan. Hasil kajian menemukan bahwa ada tiga kelompok sapaan menurut kekerabatan, yaitu (a) sapaan dalam keluarga inti, seperti Bapak, Ayah,

Wak, (b) sapaan antara kerabat, seperti Pak/Mak Olong, Pak/ Mak Ngah; dan (c) sapaan pada orang asing, seperti sodare, abang, mas. Berdasarkan hubungan keakraban, ditemukan

juga tiga macam pemakaian istilah sapaan, yaitu (a) tinggi-rendah (TV) untuk menunjukkan kekuasaan, seperti kau; (b) sama tinggi/rendah (VV) untuk keakraban, seperti

Nama diri (misalnya Nana); dan (c) rendah-tinggi (VT)

untuk kesopanan, seperti Abang. Dinamika pemakaian istilah sapaan diperlihatkan oleh tidak digunakannya lagi istilah sapaan, seperti Wak, Encu; diganti dengan istilah sapaan bahasa Indonesia Pak/Bapak, Bi/Bibi unsur bahasa Indonesia.

90

I. Pendahuluan

D

alam kegiatan berkomunikasi, dengan bahasa, kegiatan menyapa merupakan aktivitas pokok karena komunikasi tidak bisa berlangsung tanpa ada saling sapa antarpihak. Begitu pentingnya kegiatan saling menyapa, sehingga dalam proses pembelajaran bahasa, khususnya pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA), materi sapaan ditempatkan pada kegiatan pembelajaran awal. Dalam Buku Ajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing FIB 1, materi sapaan dengan judul “Salam dan Perkenalan” sebagai materi 1; sedangkan dalam buku “Selamat Datang: Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Tingkat Dasar”, materi “salam” sebagai materi 1. Misalnya, dicontohkan “Selamat malam, Pak; nama saya Ketut Restu, panggil Restu”.

Kata panggilan Pak atau panggil Restu pada contoh di atas merupakan kata sapaan karena definisi kata sapaan menurut kamus adalah kata yang digunakan untuk menyapa seseorang (misalnya kata Anda, Saudara, Tuan, Nyonya, Ibu, Bapak, Kakak, dan Adik) (KBBI, 1991:452). Kamus bidang khusus (istilah) linguistik juga mendefinisikan kata sapaan yang mirip dengan itu, yaitu sapaan (address) adalah morfem, kata, atau frasa yang dipergunakan untuk saling merujuk dalam situasi pembicaraan dan yang berbeda-beda menurut sifat hubungan antara pembicara itu (Kridalaksana, 1982:147). Dengan demikian, berbicara masalah sapaan tidak hanya mengulas masalah bahasa, tetapi juga masalah budaya karena di dalamnya terkandung nilai sosial kesopanan, kebiasaan, norma, dan lain-lain.

Bahasa Melayu Bali adalah sebuah bahasa daerah yang hidup dan berkembang di daerah pergaulan antaretnis (multikultural) di Indonesia, khususnya di Bali, tepatnya Desa Loloan (barat dan timur) Kota Negara, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Daerah pakai itu merupakan daerah pusat dan pemakaian bahasa itu juga tersebar di beberapa desa pinggir pantai, yaitu Desa Tegal Badeng Barat, Tegal Badeng Timur, Banyubiru, Air Kuning, Cupel, Pengambengan yang berada di wilayah Kecamatan Negara, dan Desa Tuwed serta Melaya (pantai) yang berada di wilayah Kecamatan Melaya, Jembrana Bali. Keberadaan bahasa Melayu sebagai bahasa minoritas di lingkungan bahasa

Pendalaman dan Pembaruan dalam Kajian Bahasa dan Sastra

mayoritas (bahasa Bali) menyebabkan bahasa ini berinteraksi secara ekstralingual. Penutur bahasa Melayu Loloan, umumnya, dwibahasawan (menguasai bahasa Melayu Loloan dan bahasa Indonesia serta mengerti bahasa Bali) dengan pemakaian bahasa Melayu Loloan dalam ranah informal, seperti intrakeluarga, upacara adat, dan pengajian (Suparwa, dkk., 2014:514).

Dinamika bahasa Melayu tersebut tentu tidak lepas dari daya sentripetal dan sentrifugal (Kridalaksana, 1996:1). Daya sentripetal merupakan usaha penutur bahasa untuk mempertahankan bahasanya karena bahasa Melayu Loloan itu merupakan ciri identitas Melayu Islam di Jembrana. Daya sentrifugal merupakan usaha akomodasi bahasa tersebut dalam perkembangannya sebagai alat komunikasi di dalam pergaulan intraetnis dan antaretnis. Dalam hal ini pengaruh bahasa Bali sebagai bahasa mayoritas di Jembrana dan di Bali serta bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional di Indonesia tidak bisa dihindari. Dalam linguistik, pengaruh itu menimbulkan unsur retensi (kebertahanan) dan unsur inovasi (perubahan).

Perubahan/dinamika unsur bahasa secara mikrolinguistik telah dikerjakan berupa artikel berjudul “Dinamika Fonologis Bahasa Melayu Bali” oleh Suparwa, dkk. (2014) dan Dynamics of

the Sentences System in Balinese-Malay Language oleh Suparwa dkk.

(2017). Akan tetapi, unsur bahasa yang bersifat makrolinguistik, termasuk dinamika unsur sapaan belum pernah diteliti. Untuk itu, kajian ini perlu dilakukan untuk mengungkap sistem sapaan dalam bahasa Melayu Bali. Secara eksplisit, kajian yang dilakukan ini menganalisis masalah, “Bagaimanakah dinamika sapaan dalam bahasa Melayu Bali?”

Teori yang diterapkan dalam kajian ini adalah teori T-V Brown-Gilman (1960:253—379). Teori tersebut digunakan untuk menganalisis bentuk, fungsi, dan makna sapaan dalam bahasa Melayu Bali. Teori T-V merupakan teori dua makna, yaitu makna kekuasaan (the power semantic) dan makna solidaritas (the solidarity

semantics). Makna kekuasaan adalah makna yang ditentukan

berdasarkan usia, status, jenis kelamin, dan yang lainnnya. Dalam makna kekuasaan itu terdapat hubungan nonresiprokal

superior. Dalam hal ini, T adalah superior dan V adalah inferior

92

perbedaan kekuasaan atau usia. Di pihak lain, makna solidaritas adalah makna yang dihasilkan oleh adanya norma hubungan resiprokal, yaitu saling menyatakan V (baik pembicara maupun penerima) karena adanya persamaan status, kekuasaan, usia, dan yang lainnnya.

Data kajian ini didapat dari informan bahasa Melayu Bali yang berdomisili di Loloan Barat dan Loloan Timur (dua belas orang; enam orang per desa), Kecamatan Negara, Jembrana, Bali. Terhadap informan dilakukan wawancara mendalam untuk mendapatkan data yang diperlukan, yaitu berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat. Analisis data dilakukan secara kualitatif deskriptif dengan penjelasan bila diperlukan.

II. Pembahasan

Sapaan dalam bahasa Melayu Bali ditemukan bervariasi menurut hubungan kekeluargaan dan variasi kelompok umur. Menurut hubungan kekeluargaan dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) sapaan dalam keluarga inti, (2) sapaan antar-kerabat, dan (3) sapaan pada orang asing. Sementara itu, berdasarkan kelompok umur dibedakan atas (a) kelompok umur 40 sampai dengan 60 tahun, (b) kelompok umur 25 sampai dengan 39 tahun, dan (c) kelompok umur 15 sampai dengan 20 tahun. Pengelompokan tersebut dapat memperlihatkan dinamika penggunaan sapaan antar-beda generasi dan antar-kelompok hubungan kekeluargaan.

1. Sapaan dalam Keluarga Inti

Dalam keluarga inti, terdapat orang tua dan anak. Istilah sapaan antara orang tua dan anak ditemukan beberapa variasi yang berbeda pada tiga kelompok informan. Informan dengan rentang usia 40—60 tahun menggunakan istilah wak ‘bapak’ atau

bapak kepada orang tuanya laki-laki dan mak ‘ibu’ pada orang

tua perempuan. Istilah ini mengalami sedikit perubahan pada informan dengan rentang usia 25—39 tahun yang menggunakan istilah bapak untuk mengacu kepada orang tua laki-laki dan mak atau mamak untuk mengacu kepada orang tua perempuan. Pada rentang usia ini, istilah wak ‘bapak’ sudah tidak ditemukan. Pada informan dengan rentang usia 15—20 tahun ditemukan variasi

Pendalaman dan Pembaruan dalam Kajian Bahasa dan Sastra

yang lebih banyak dalam penggunaan istilah sapaan antara orang tua dan anak. Pada rentang usia tersebut, istilah wak ‘bapak’ sudah tidak lagi dikenal. Pada rentang usia tersebut, istilah yang banyak digunakan adalah bapak atau ayah untuk orang tua laki-laki dan ibu, bunda dan sebagian kecil mak ‘ibu’ untuk orang tua perempuan.

Dalam penggunaan istilah sapaan ini, terdapat pola Perhatikan contoh berikut.

A: Nak kemane, Na?

Mau kemana Nd ‘Mau pergi kemana, Na?’

B: Ke rumah kawan Mak. Nana maleman pulang

Ke rumah teman bu Nd malam Pulang ‘Ke rumah teman, Bu. Saya pulang agak malam.’

A: Iye baek-baeki lanan

Iya hati-hati ‘Baik, hati-hati.’

Pada contoh tersebut, penggunaan istilah sapaan mak ‘ibu’ mengacu kepada orang tua perempuan. Sapaan Na pada contoh tersebut merupakan nama dari addressee yang menunjukkan kedekatan sekaligus kesopanan dalam tuturan tersebut. Untuk istilah sapaan untuk diri sendiri, penutur bahasa Melayu Bali menggunakan nama diri. Hal itu menunjukkan kedekatan serta kesopanan dibandingkan dengan penggunaan awak untuk mengacu kepada diri sendiri. Pola yang terlihat pada contoh tersebut adalah pola V-V yang menunjukkan hubungan simetris antara A sebagai orang tua dan B sebagai anak. Penggunaan pola V-V ini bukan berarti orang tua tidak memiliki kekuasaan atau kekuatan kepada anak. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan yang didasarkan pada kesopanan dan kasih sayang kepada anak.

94

A: sudah uwak taoi kau jangan maen

sudah bapak beritahu 2T jangan bermain sampe’ malem-malem tinggal an

sampai malam-malam masih saja

‘Sudah bapak beritahu untuk tidak keluar malam, masih saja.’

Pada contoh tersebut, sapaan kau ‘kamu’ digunakan untuk menunjukkan kekuasaan yang dimiliki oleh A sehingga tuturan yang diekspresikan akan memiliki kekuatan untuk mengatur ataupun memberikan perintah. Pola sapaan antara orang tua dan anak diterangkan dalam tabel berikut.

Tabel 1 Istilah sapaan antara Orang Tua dan Anak Addresser Addressee Istilah Keterangan Pola

Orang tua Anak Nama Resiprokal V-V Orang tua Anak kau Nonresiprokal T-V Anak Orang tua Bapak, Ayah, Wak NonresiprokalResiprokal V-VV-T Anak Orang tua Mak, Ibu, Bunda NonresiprokalResiprokal V-VV-T

Selain antara orang tua dan anak, istilah sapaan dalam keluarga juga ditemukan pada sapaan antara saudara. Variasi sapaan yang digunakan antara saudara dari yang lebih muda kepada yang lebih tua yaitu menggunakan istilah bang ‘kakak’ atau abang ‘kakak’ kepada saudara laki-laki atau akak ‘kakak’ kepada saudara perempuan. Penutur usia 40—60 mengenal istilah bang olong dan kak olong untuk saudara tertua. Sebagian penutur tersebut juga mengenal istilah sapaan bang/kak ngah untuk saudara kedua, bang oman/kak oman untuk saudara ketiga, bang

cik/kak cik untuk saudara keempat dan seterusnya. Akan tetapi,

istilah ini sangat jarang ditemukan penggunaannya. Sapaan yang digunakan umum kepada saudara yang lebih tua biasanya hanya menggunakan istilah bang atau kak saja kepada yang lebih tua sedangkan kepada yang lebih muda menggunakan nama yang bersangkutan. Hal tersebut digunakan untuk menunjukkan

Pendalaman dan Pembaruan dalam Kajian Bahasa dan Sastra

kedekatan sekaligus kesopanan. Terkadang istilah kau ‘kamu’ juga digunakan dalam menunjukkan kekuatan. Akan tertapi, hal tersebut dianggap kurang sopan dan cenderung merujuk pada kondisi emosi seseorang.

Penggunaan sapaan antara saudara ini dapat dilihat dari tabel berikut.

Tabel 2 Istilah Sapaan antara Saudara

Addresser Addressee Istilah Keterangan Pola

Lebih tua Lebih muda Nama Resiprokal V-V Lebih tua Lebih muda kau Nonresiprokal

Resiprokal

T-V T-T Lebih muda Lebih tua Abang, akak Nonresiprokal

Resiprokal

V-T V-V Lebih muda Lebih tua kau Resiprokal T-T

2. Sapaan antara Kerabat

Istilah sapaan lain yang terdapat dalam bahasa Melayu Bali berkaitan erat dengan sistem kekerabatan dalam kebudayaan Melayu (Loloan) Bali. Sapaan yang digunakan kepada orang yang lebih tua dari orang tua ego, akan sangat bervariasi bergantung pada posisinya dalam kekerabatan. Sebagai contoh, Ayah/ Ibu ego merupakan anak keempat dari lima bersaudara maka sapaan saudara tertua Ayah/Ibu adalah pak/mak olong, untuk saudara kedua menggunakan istilah pak/mak ngah, untuk saudara ketiga menggunakan istilah pak/mak oman, dan yang seterusnya menggunakan pak/mak encu atau encu saja. Jika orang tua ego merupakan anak tertua maka ego tidak memiliki pak/mak olong.

Sapaan untuk mengacu kepada diri sendiri digunakan istilah diri yang bersangkutan atau nama diri untuk menunjukkan kedekatan hubungan. Hal itu menunjukkan keakraban.

Perhatikan contoh berikut.

A: bile encu nak Ke Denpasar? Kapan bibi/paman akan prep Denpasar? ‘Kapan bibi/paman ke Denpasar?

96

B: Paling besok encu ke sane. Ina nak mekot? Mungkin besok Pron ke sana Nd mau ikut? ‘Mungkin besok saya ke sana. Kamu mau ikut?’

Penggunaan encu ‘paman/bibi’ yang digunakan A mengacu kepada kata ganti orang kedua tunggal. Berbeda dengan

encu ‘paman/bibi’ yang digunakan oleh B merupakan acuan

pengganti saya sebagai kata ganti orang pertama tunggal. Begitu juga dengan penggunaan Ina yang merupakan nama seseorang digunakan untuk mengacu kepada kata ganti orang kedua tunggal. Istilah sapaan yang pada contoh tersebut digunakan untuk menunjukkan kedekatan antara satu sama lainnya. Brown dan Gilman (1960: 257—258) menjelaskan bahwa penggunaan V merupakan bentuk keintiman atau kedekatan dan T merupakan bentuk penghormatan dan bentuk formal. Dalam bahasa Melayu Bali, keintiman, penghormatan, dan bentuk formal juga dapat diwakilkan oleh T tersebut. Tabel berikut menjelaskan sapaan yang digunakan antar kerabat dan pola yang terdapat di dalamnya.

Tabel 3 Istilah sapaan antar- kerabat

Addresser Addressee Istilah Keterangan Pola

Saudara ayah/ibu keponakan

Pak/mak olong, pak/ mak ngah, pak/mak oman, pak/mak encu, encu

Resiprokal V-V Keponakan Saudara ayah/ibu Nama diri Resiprokal V-V

Selain yang terdapat pada tabel tersebut, ditemukan juga istilah sapaan dari bahasa daerah yang lain. Hal ini ditemukan jika penutur bahasa Melayu Bali menikah dengan pasangan dari luar daerah. Istilah sapaan yang digunakan untuk pasangannya tersebut menggunakan istilah dari tempat asalnya. Sebagai contoh, jika pasangannya tersebut berasal dari jawa, maka keponakannya akan menggunakan istilah pakdhe/budhe atau

Pendalaman dan Pembaruan dalam Kajian Bahasa dan Sastra

3. Sapaan pada Orang Asing

Untuk istilah sapaan pada orang asing, sapaan yang digunakan oleh responden usia 40—60 tahun adalah adik, sodare,

abang, akak, bapak, atau ibu bergantung pada usia orang tersebut.

Untuk penutur lain, ditemukan juga penggunaan istilah mas,

mbak yang merupakan serapan bahasa Indonesia. Penggunaan

istilah tersebut digunakan untuk orang yang berasal dari luar daerah penutur bahasa Melayu Bali.

III. Simpulan

Berdasarkan analisis yang dilakukan di dalam bahasa Melayu Bali, khususnya mengenai istilah sapaan, ditemukan tiga kelompok istilah sapaan menurut hubungan kekerabatan, yaitu (a) sapaan dalam keluarga inti, seperti Bapak, Ayah, Wak, (b) sapaan antara kerabat, seperti Pak/Mak Olong, Pak/Mak Ngah; dan (c) sapaan pada orang asing, seperti sodare, abang, mas. Berdasarkan hubungan keakraban, ditemukan juga tiga macam pemakaian istilah sapaan, yaitu (a) tinggi-rendah (TV) untuk menunjukkan kekuasaan, seperti kau; (b) sama tinggi/rendah (VV) untuk keakraban, seperti Nama diri (misalnya Nana); dan (c) rendah-tinggi (VT) untuk kesopanan, seperti Abang. Dinamika pemakaian istilah sapaan diperlihatkan oleh tidak digunakannya lagi istilah sapaan, seperti Wak, Encu; diganti dengan istilah sapaan bahasa Indonesia Pak/Bapak, Bi/Bibi unsur bahasa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Brown, R dan A. Gilman. 1960. ‘The Pronouns of Power and Solidarity’ dalam T.A. Seobeok (ed.), Style in Language. MIT Press, halaman 253—276.

Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.

Sumarsono. 1993. Pemertahanan Bahasa Melayu Loloan di Bali. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Suparwa, I Nyoman dan Made Sri Satyawati. 2017. “Dynamics of the Sentences System in Balinese-Malay Language” dalam Jurnal

98

Suparwa, I Nyoman, A.A. Pt. Putra, Ni Luh Nyoman Seri Malini.

2014. Dinamika Fonologis Bahasa Melayu Bali. https://docplayer.

info/69929420-Dinamika-fonologis-bahasa-melayu-bali.html

Tim Penyusun. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Balai Pustaka

PENGGUNAAN BENTUK-BENTUK

Dalam dokumen Nuansa Bahasa Citra Sastra (Halaman 111-121)