• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Fonologis Melampaui Batas Leksikon

Dalam dokumen Nuansa Bahasa Citra Sastra (Halaman 28-35)

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

IV. Proses Fonologis

4.2 Proses Fonologis Melampaui Batas Leksikon

Proses fonologis merupakan kajian yang menangani permasalahan perubahan bunyi yang terjadi yang disebabkan tidak hanya oleh lingkungan bunyi dan suku kata yang berada di dalam satu unit morfem, tetapi dapat juga disebabkan oleh lingkungan yang berada di atas tataran morfem. Tataran yang berada di atas unit morfem tersebut meliputi tataran kata (yakni, hubungan antarmorfem yang membentuk sebuah kata), frase dan klausa. Proses-proses fonologis yang disebabkan oleh semua tataran tersebut mencakup tidak hanya proses fonologi segmental tetapi juga proses suprasegmental. Jumlah proses fonologis pada

Pendalaman dan Pembaruan dalam Kajian Bahasa dan Sastra

tataran morfem, secara frekuentif, mencapai tingkat kekerapan yang paling tinggi dibandingkan dengan tataran-tataran kata, frase dan klausa.

4.2.1 Proses Fonologis pada Tataran Morfem

Berikut ini disajikan data bahasa Lardil sebagai salah satu bahasa Aborigin Australia yang digunakan oleh penutur di Pulau Mornington, Australia. (Data dari Halle dalam Kentowicz and Kisseberth, 1979:112).

yalul yalulu-n yalulu-r ‘api’

mayar mayara-n mayarara-r ‘pelangi’ wiwal wiwala-n wiwala-r ‘mangga semak’

karikar karikari-n karikari-wur ‘minyak ikan’

yiliyil yiliyili-n yiliyili-wur ‘tiram’

Daftar kata yang paling kiri masing-masing terdiri dari satu morfem, sementara daftar kata yang berada di tengah dan paling kanan masing-masing terdiri atas dua morfem, yakni morfem dasar dan sufiks (-n, -r, dan -wur). Proses fonologis yang terjadi adalah bunyi vokal akan dilesapkan apabila berada di posisi akhir kata (satu morfem). Sebaliknya, bunyi vokal tidak dilesapkan apabila ditutup oleh konsonan. Proses fonologis yang terjadi sebaliknya, yakni sebuah bunyi vokal disisipkan sebelum sufiks konsonan, tidak dapat diterima. Jika penyisipan ini diterima, maka akan terjadi ketidakwajaran karena bunyi vokal yang disisipkan tidak bersistem. Artinya, bunyi-bunyi vokal yang berbeda, yakni, u, a dan i, tidak mungkin disipkan pada lingkungan yang sama.

4.2.2 Proses Fonologis pada Tataran Kata

Proses fonologi dapat terjadi akibat pertemuan antarmorfem yang membentuk kata. Proses ini sangat produktif terjadi pada bahasa-bahasa Nusantara, seperti bahasa-bahasa Sulawesi yang ditampilkan berikut ini.

(i) Keselarasan Vokal pada Afiks

Data diambil dari bahasa-bahasa Tomini-Tolitoli (Himmelmann, 2001: 77)

8 me-itoŋ ‘hitam’ me-meas ‘putih’ mo-tuug ‘kering’ mo-jolo ‘dingin’ ma-basag ‘besar’

Pada data di atas, afiks yang menyatakan bentuk statif adalah

mV-. Vokal pada prefiks ini kemudian mengalami keselarasan

bergantung pada vokal yang ada pada morfem dasarnya. (ii) Asimilasi Nasal N

Contoh asimilasi nasal berikut ini diambilkan dari bahasa Tomini, bahasa Tahe, dan bahasa Tajio, yang dilaporkan oleh Himmelmann (2001: 78).

Bahasa Tomini

moN-pangkuŋ → momangkuŋ ‘memukul dengan keras’

moN-sunsut → moɲusut ‘berasap’

Bahasa Tahe: moN -vava → mombava ‘membawa’

Bahasa Tajio: moN- feen → mombeen ‘give’

Pada keempat data tersebut terjadi proses perubahan bunyi secara berurutan. Proses pertama adalah N mengasimilasi tempat artikulasi konsonan awal dari morfem dasar; kemudian, konsonan tersebut dilesapkan apabila tergolong konsonan hambat tidak bersuara. Jika konsonan awal tersebut frikatif tidak bersuara, maka konsonan tersebut tidak dilesapkan tetapi menjadi konsonan bersuara (artinya, terjadi asimilasi penyuaraan). (iii) Penyisipan o

Berikut ini disajikan data dari bahasa Tomini dan Dampalas dari Himmelmann (2001: 78-79)

Bahasa Tomini:

laboŋ - ɲe → laboŋoɲe ‘rumahnya’

na-tasa-me → natasa’ome ‘sudah matang/masak’

Bahasa Dampalas:

tutumba-ɲa → tutumba-a-ɲa ‘tombaknya’

mo-’uŋkeŋ-mo mouŋkeŋemo ‘sudah lelah’

Data bahasa Tomini di atas menunjukkan bahwa o disisipkan di antara konsonan yang berada pada perbatasan morfem;

Pendalaman dan Pembaruan dalam Kajian Bahasa dan Sastra

sementara dalam bahasa Dampalas, bunyi vokal disisipkan bergantung pada ciri bunyi vokal pada suku akhir morfem awal (yakni, a disipkan di antara perbatasan morfem karena vokal pada suku terakhir dari morfem dasar berisi a, dan e disipkan di antara perbatasan karena morfem dasar berisi e pada suku terkahir).

(iv) Penambahan Bunyi Konsonan Akhir pada Morfem Dasar Dua data bahasa berikut ini: bahasa Patapa dan bahasa Tanam-pedagi Taje dikutip dari Himmelmann (2001: 79).

Bahasa Patapa

petaa-+-i petaasi ‘menunggu’

mo-naβu-+-a’o monaβusa’o ‘jatuh’

Bahasa Tanampedagi Taje

vayo + -ɲa → vayoŋ/vayoŋɲa ‘bayangan’

sunda + - ɲa → sundaɲa/sundaŋɲa ‘emas kawin’ maŋinjoyo + -mo → maŋinjoyomo/maŋinjoyoŋmo ‘bersembunyi

Data pada kedua bahasa tersebut menunjukkan bahwa tejadi proses penmambahan konsosnan nasal velar (secara tidak wajib) apabila sebuah kata dibubuhi sufiks yang bermula dengan sebuah konsonan.

(v) Pengedepanan Nasal

Pengedepanan nasal diartikan sebagai perubahan bunyi nasal belakang (biasanya bunyi nasal velar) menjadi bunyi nasal yang dihasilkan oleh alat-alat ucap yang ada di rongga mulut bagian depan, yang dalam teori generatif dikategorikan sebagai bunyi [+ anterior]. Contohnya, bahasa-bahasa Tomini dari Himmelmann (2001: 79).

in-tiaŋ-aŋ → tinianaŋ ‘ditambahkan’

ntoeŋ-aŋ → ntoenaŋ ‘menggantungkan’

sumbaŋ-a’ → sumbana’ ‘mendorong’

mo-gansiŋ-a’ → mogansina’ ‘merusak’ moN-linsoŋ-a’ → molinsona’ ‘megumpulkan’ gauŋ-i-me → gaunime ‘menggali’

Data di atas menunjukkan adanya pengedepanan nasal, yakni konsonan nasal velar/nasal belakang ŋ menjadi nasal

10

alveolar [+anterior] apabila berada sebelum sufiks yang bermula dengan vokal.

(vi) Palatalisasi

Proses perubahan biunyi ini biasanya terjadi pada segmen konsonan non-palatal yang yang dipalatalkan, yakni, sebuah bunyi diucapkan dengan cara mendekatkan tengah lidah pada palatum. Terjadinya proses ini disebabkan oleh adanya bunyi palatal (baik konsonan maupun vokal) di sekitar bunyi yang mengalami perubahan tadi. Berikut ini akan disajikan data palatalisasi dari bahasa Karok (bahasa asing) yang diambil dari Bright (dalam Kentowicz and Kisseberth, 1979:342).

3 Tunggal 1 Tunggal Glos

Ɂuskak Nishkak ‘melompat’ Ɂusuprih Nnishuprih ‘mengukur’ Ɂusit:va nishit:va ‘mencuri’

Masing-masing kata tersebut di atas terdiri atas dua morfem, yakni, morfem dasar dan morfem terikat yang berupa prefiks. Prefiks Ɂu - ‘orang ketiga tunggal’; prefiks ni - ‘orang pertama tunggal;’ prefiks mu ‘dia (Posesor)’; dan nani ‘saya (Posesor).’ Proses fonologis terjadi pada bunyi s. Bunyi alveolar ini mengalami palatalisasi, yakni sh setelah berada sesuadh morfem yang diakhiri oleh bunyi i. Bunyi vokal ini dari segi cara kerja alat artikulasi merupakan sebuah bunyi yang dihasilkan dengan meninggikan daun lidah sampai mendekati palatum. Peninggian daun lidah ini berpengaruh pada konsonan alveolar tersebut sehingga menjadi alveo-palatal sh. Perubahan s menjadi

sh justru tidak terjadi apabila bunyi i berada sesudah bunyi s

atau bunyi s berada sesuah vokal lain, misalnya, data Ɂusit:va dan musipnu:kith. Pada data ini, bunyi u yang berada sebelum bunyi s dan begitu juga bunyi i yang berada sesudah bunyi s tidak

mengubahnya menjadi bunyi sh.

4.2.3 Proses Fonologis pada Tataran Frase

Data berikut ini adalah frase bahasa Inggris dari Hawkins (1984:185)

(1) [fEstaIm] first time [fEstEvɔl] first of all

Pendalaman dan Pembaruan dalam Kajian Bahasa dan Sastra (2) [im fækt] in fact

[iN keis] in case [tseiN gæN] chain gang

Kedua kelompok data bahasa Inggris tersebut mem-perlihatkan bahwa perubahan bunyi terjadi pada perbatasan antarkata. Proses pelesapan bunyi terjadi pada data (1), yakni, sebuah bunyi konsonan t dari sebuah gugus konsonan tt (pada kata [fEs taIm]) akan dilesapkan apabila posisi konsonan itu berada di akhir kata yang segera diikuti oleh kata lain yang diawali bunyi konsonan. Konsonan tersebut tidak akan dilesapkan apabila kata yang mengikutinya bermula dengan bunyi vokal (pada kata [fEst Ev ɔl]). Proses fonologis pada data (1) berbeda dengan proses fonologis pada data (2). Bunyi-bunyi konsonan yang mengakhiri kata pertama menyesuaikan diri dengan ciri-ciri bunyi konsonan yang mengawali kata berikutnya. Proses penyesuaian bunyi konsonan semacam ini disebut dengan proses asimilasi. Namun, menurut Hawkins (1984:185), dalam data (2) bahasa Inggris ini proses tersebut berlaku secara tidak wajib. Artinya, asimilasi tersebut dapat saja tidak terjadi. Semua ini bergantung pada dialek penuturnya.

4.2.4 Proses Fonologis pada Tataran Klausa

Proses perubahan bunyi yang terjadi pada bahasa-bahasa di NTT berikut ini bukan hanya ditentukan oleh pengaruh bunyi, tetapi juga dipicu oleh relasi gramatikal dari morfem yang membawa bunyi tersebut. Dalam beberapa contoh berikut, morfem itu mempunyai relasi konkordan yaitu sebuah klitik yang bersesuaian dengan Subjek (bahasa Kolana dan bahasa Dawan) atau Objek (bahasa Mauta).

1). Kesearasan Vokal pada tingkat Kata pada bahasa Kolana di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) (dalam Yuda, 2000: 63-65, 82)

(1) Takau ba gu-mur

pencuri DEF 3Tg-lari Pencuri itu lari

(2) Neta seng ga-wanir

1TA uang 3TG-beri

12

(3) Nekaku ge-teko adik 3TG-menangis

Adik menangis

(4) Neta Devi go-poing

1TA NAMA 3TG-pukul

Saya memukul Dewi

2) Pelesapan satu vokal apabila terjadi gugus vokal

Contoh: bahasa Dawan di Pulau Timor (dalam Reteg, 2002:99, 103, 105-106)

Bagaimana kita bisa memastikan bahwa proses fonologis yang terjadi adalah pelesapan vokal, bukan sebaliknya, yakni penambahan vokal. Dalam logika fonetik, sangat sulit bagi penutur bahasa ini untuk mengucapkan rangkaian konsonan yang tidak homorgan seperti n-p dan n-h, sehingga yang paling mungkin untuk dipilih adalah pelesapan bunyi vokal apabila vokal itu berangkai.

(1) Tata na-poli upon

kakak 3Tg-lempar mangga Kakak melempar mangga

(2) Ina na-seu upon

ibu 3Tg-memetik mangga

Ibu memetik mangga

(3) Johan n-aha maka

Johan 3Tg-makan nasi Johan makan nasi

(4) Tata n-oklet be noe

kakak 3Tg-lompat di kali Kakak melompat-lompat di kali

3) Geminanisasi/Perangkapan Bunyi

Bahasa Mauta di Pulau Alor NTT (Oka Antara, 200:46-49, 61-62, 65) Konsonan yang sama disisipkan sebelum sebuah konsonan, tetapi konsonan tidak muncul apabila berada sebelum vokal.

(1) Ga- ng nak-kang

3TG INTI 1TG-pukul

Dia memukul saya

(2) yaya ga- ng konda oddang ma nan-ni

ibu 3TG INTI baju beli beri 1TG-kasi

Pendalaman dan Pembaruan dalam Kajian Bahasa dan Sastra (3) gat-tang

3TG-tangan tangan dia

(4) yabbe sing wake sing ga-assi

anjing DEF anak DEF 3TG-gigit Anjing itu menggigit anak itu

Dalam dokumen Nuansa Bahasa Citra Sastra (Halaman 28-35)