Dampak-dampak yang Ditimbulkan Dari Keterlibatan Mgr Albertus Soegijapranata, SJ Dalam Usaha Diplommas
A. Dampak Bagi Gereja dan Umat Katolik di Indonesia
Setelah melalui perjalanan panjang untuk mempertahankan kemerdekaan
Indonesia, akhirnya pada 27 Desember 1949, Belanda mau mengakui kedaulatan
Indonesia. Perjuangan fisik dan diplomasi yang dilakukan oleh berbagai pihak
terbayar sudah dengan pengakuan Belanda tersebut. Baik kalangan dari pemerintah
maupun warga sipil rela mengorbankan tenaga, pikiran bahkan nyawa mereka untuk
mewujudkan mimpi rakyat Indonesia untuk merdeka. Salah satu orang yang berjasa
dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah Mgr. Albertus Soegijapranta, SJ
atau lebih akrab disapa Soegija. Walaupun bukan dari kalangan pemerintah namun
Soegija memiliki inisiatif sendiri untuk ikut berjuang, dalam hal ini Soegija memilih
jalur diplomasi.
Tidak dapat dipungkiri keterlibatan Soegija dalam melakukan diplomasi guna
memepertahankan kemerdekaan Indonesia juga memiliki peranan yang sangat
penting dalam sejarah Indonesia.Walaupun bukan seorang diplomat resmi
pemerintah, namun sosok Soegija memiliki jasa dalam menghimpun dukungan dari
berbagai pihak yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Usaha – usaha Soegija dalam berdiplomasi terbukti berhasil. Peran Soegija yang berhasil melakukan
mendukung kemerdekaan Indonesia, namun keikutsertaan Soegija dalam
berdiplomasi juga berdampak bagi kehidupan Gereja dan umat Katolik di Tanah Air.
Hal tersebut berkaitan erat dengan jabatan uskup yang diemban Soegija pada masa
itu.
Sebagai seorang pemimpin agama Katolik, Soegija sering menghimbau umatnya
baik umat yang merupakan orang pribumi ataupun orang – orang non pribumi (Eropa termasuk orang Belanda dan juga Tionghoa) untuk bersama – sama ikut dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah satu contohnya adalah tulisan
Soegija di Majalah Swaratama yang berbunyi :
“Memang, tidak sedikit jumlahnya orang yang kemudian luntur, menjadi
sama seperti kanan-kirinya, hilang kekhasannya sebagai Katolik. Sebagian malah menjadi enggan kalau ketahuan bahwa dirinya Katolik; bangga bahwa dapat menyatu dengan menyamar, berkulit bunglon.Betapa kasihan.
… Swara-Tama tidak bermaksud membujuk orang berkalung
Rosario,menjajar medali-medali, dan mendaras doa sepanjang jalan. Yang dituju (oleh Swara-Tama) adalah agar dapat member tuntunan dan melatih cara hidup Katolik lahir-batin, tidak memandang tempat, derajat kedudukan maupun asal-usul. Segala pengalaman hidup akan dibeber dan dibahas dalam kacamata Katolik, agar para pembaca senantiasa memegang tekad serta keyakinannya baik di gereja, di jalan, di tempat perjamuan, pekerjaan dan tempat hiburan, atau dimana pun tanpa peduli kanan-kirinya, agar jelas memperlihatkan bahwa kehidupannya telah dilandasi keyakinan akan
kehidupan yang luhur”1
Dalam tuilisannya tersebut, Soegija meminta seluruh umat Katolik di Inonesia
tidak memandang warna kulit maupun status sosial antara satu dengan yang lain.
1
. Swaratama XXI, 7 Mei 1941 (Tulisan sudah disesuaikan dengan ejaan yang disempurnakan)
Soegija menghimbau agar seluruh umat Katolik di Indonesia untuk memberikan yang
terbaik yang mereka miliki untuk bangsa dan negara. Dengan cara itulah maka
mereka bisa menjadi seorang Katolik yang sesungguhnya.
Selain itu di masa penjajahan Belanda hingga masa revolusi kemerdekaan,
banyak masyarakat pribumi non Katolik yang menganggap orang – orang Katolik merupakan kaki tangan pemerintah Belanda. Hal tersebut dapat diketahui dari
pidato Soegija yang tertulis demikian :
“Bergabung dalam pergerakan nasional dengan menggunakan suatu asas Katolik akan menarik simpati orang lain pada iman kita… Terlebih
usaha tersebut merupakan jawaban yan paling baik untuk menangkal tuduhan para musuh yang setiap kali mengatakan bahwa orang Katolik pribumi adalah kaki tangan dari penguasa colonial, dan murid-murid
dari kaum imprealis dan kolonialis”2
.
Oleh sebab itu Soegija berusaha untuk merubah pandangan masyarakat non
Katolik tersebut dan ingin menyatukan umat Katolik dengan masyarakat non Katolik.
Pada masa revolusi kemerdekaan banyak pula umat katolik yang ikut berjuang
mempertahankan kemerdekaan Indonesia terutama para pemuda Katolik.Secara
khusus Soegija mengatakan bahwa para pemuda Katolik merupakan kusuma bangsa
dan harapan Gereja.Keikutsertaan umat katolik dan Soegija dalam berjuang
mempertahankan kemerdekaan Indonesia itu membuat Presiden Soekarno
mengapresiasi dan mengakui eksistensi para umat Katolik dalam memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia.
2
Salah satu bentuk apresiasi Presiden Soekarno terhadap umat Katolik di Indonesia
adalah dengan menghadiahkan sebuah lukisan Bunda Maria yang dibelinya dari
seorang pelukis berkebangsaan Italia yang diserahkan oleh kurir kepada Soegija pada
10 Agustus 1948. Selain itu, bersamaan dengan lukisan Bunda Maria tersebut,
Presiden Soekarno juga menuliskan sepucuk surat yang ditujukan kepada Soegija.
Dalam penutup surat tersebut Presiden menyampaikan harapannya kepada umat
Katolik di Indonesia tetap sejahtera dalam Republik.
Tak hanya mendapatkan pengakuan dari pemerintanh Indonesia, Soegija juga
mampu mengubah pandangan umat pribumi non Katolik yang pada awalnya
menganggap umat Katolik sebagai kaki tangan pemerintah Belanda. Dari usaha
Soegija dan umat Katolik Indonesia, Soegija pernah mendapatkan surat yang berisi
penghormatan kepada Soegija atas usahanya dalam ikut mempertahankan
kemerdekaan Indonesia. Surat tersebut berasal dari seseorang yang beragama lain.
Bahkan setelah masa revolusi kemerdekaan, Soegija masih gencar mengajak umat
Katolik Indonesia untuk bersama mengisi kemerdekaan dengan hal – hal yang berguna, serta menjaga hubungan baik dengan umat beragama lain. Seperti yang
dikemukakan Soegija dalam Surat Gembala yang bertanggal 12 Februari 1952, yang
berisi :
“Sebagai golongan yang kecil kita hidup di antara berjuta – juta penduduk
yang berbedaan perkara agama dan keyakinan.Kesejahteraan tanah dan keselamatan umum, pun pula kepentingan kita sendiri, meminta supaya kita hidup bersatu dan berdamai, tambahan pula kerja bersama – sama dengan
segala warga negara dan golongan, yang sungguh memperhatikan kepentingan
nusa dan bangsa”3
.
Soegija pun tanpa lelah mengingatkan kepada umat Katolik di Indonesia akan
tanggungjawab mereka sebagai bangsa Indonesia. Mereka memiliki kewajiban untuk
mencurahkan tenaga dan pikirannya demi bangsa dan negara. Salah satu surat yang
disampaikannya untuk umat Katolik di seluruh Indonesia pada tahun 1957.
“Berkenaan dengan seribu satu kesulitan dan kesukaran, yang dihadapi oleh
Negara kita yang masih muda, dengan rendah dan gerak hati kami memperingatakan kepada segenap umat Katolik di Seluruh Indonesia akan kewajibannya kepada Nusa dan Bangsa, justru pada dewasa ini, seperti apa yang tercantum dalam hokum perintah Tuhan yang keempat. Dalam segala ihwal dan untung malang hendaknya umat Katolik selalu hormat lahir batin kepada Pemerintah yang sah dan taat kepada undang – undang peraturannya, yang berdasarkan hukum alam. Sebagai keturunan bangsa Indonesia dan warga negara Republik Indonesia kita diwajibkan menaruh cinta kasih yang
sejati terhadap tanah air dan bangsa kita dan patuh kepada pemerintah kita”4
.
Selain itu pada saat menjadi anggota konsili Vatikan pada tahun 1962, Soegija
mengutarakan tentang situasi Gereja di Indonesia dan menjelaskan bahwa Pancasila
menjadi dasar negara Republik Indonesia dan ideologi bangsa Indonesia kepada
seluruh uskup dari berbagai negara yang datang pada pertemuan tersebut. Soegija
menjelaskan bahwa Pancasila merupakan cerminan atas keinginan bangsa Indonesia
untuk menjalankan agama dan keyakinannya dengan penuh kedamaian dan hidup
3
Anhar Gonggon, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ Antara Gereja dan Negara, Hal 25
4
dalam toleransi antar umat beragama.Serta saling menghormat, menghargai dan
saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat.Soegija yakin bahwa dengan
menerapkan Pancasila sebagai dasar negara, bangsa Indonesia mampu
menanggulangi gejala desintegrasi bangsa.Oleh karena itu peran Soegija dalam
diplomasi kemerdekaan Indonesia memiliki dampak postif bagi perkembangan dan
eksistensi Gereja dan umat Katolik di Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Selain hal itu pasca Indonesia berhasil membuat Belanda mengakui kemerdekaan
Indonesia, peran Soegija dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak berhenti
begitu saja. Usai masa-masa sulit tersebut Soegija kembali ke Semarang, walau
demikian Soegija tetap mencurahkan perhatiannya kepada permasalahan-
permasalahan baru Indonesia pada masa kemerdekaan.Salah satu yang menjadi fokus
Soegija adalah dalam hal ekonomi dan pendidikan.Salah satu contohnya adalah
Soegija sering memberikan pedoman-pedoman kehidupan dan memperhatikan
pendidikan anak-anak Katholik, serta sosial ekonomi mereka. Dalam bidang
ekonomi, pada tahun 19 Juni 1954 Soegija membentuk sebuah organisasi buruh yang
bernama Organisasi Buruh Pancasila. Sejak saat itu mulai berkembanglah organisasi-
organisasi sosial yang di bentuk oleh warga Katholik di seluruh Vikariat Semarang.
Dalam pembentukan organisasi tersebut Soegija ingin umat Katolik di Indonesia ikut
membantu dan mengisi kemerdekaan dengan peduli terhadap permasalahan-
melainkan karena umat Katolik Indonesia merupakan bagian dalam diri Bangsa
Indonesia.
Kehadiran Soegija dalam dunia politik di Indonesia juga memberikan dampak
positif bagi umat Katolik Indonesia, hal tersebut dikarenakan Soegija juga berjuang
demi umat Katolik Indonesia, agar umat Katolik Indonesia dapat ikut serta
membangun bangsa dan negara Indonesia yang baru saja merdeka.