• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandangan Kebangsaan Mgr Albertus Soegijapranata, SJ

Alasan Mgr Albertus Soegijapranata, SJ Melakukan Usaha Diplomasi Pasca Kemerdekaan R

D. Pandangan Kebangsaan Mgr Albertus Soegijapranata, SJ

Soegija bukan hanya seorang tokoh agama, namun juga dikenal sebagai

seorang yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya.

Soegija terkenal dengan semboyan 100 % Katolik, 100% Indonesia. Semboyan

Soegija tersebut merupakan ungkapan yang menunjukkaan bahwa Soegija tidak

hanya ingin menjadi seorang Katolik sejati yang taat dalam melakukan ritual dan

ajaran agamanya saja. Namun juga ingin menunjukkan bahwa dirinya ingin menjadi

seorang Indonesia sejati. Semboyan tersebut bukan hanya ditujukan kepada dirinya

saja, namun Soegija juga menyerukan semboyan 100% Katolik, 100% Indonesia,

kepada seluruh umat Katolik Indonesia. Soegija ingin mengajak umat Katolik

Indonesia untuk mengintegrasikan sekaligus antara kekatolikan dan nasionalisme. Hal

tersebut dilakukan dengan cara mengajarkan tentang pengertian Gereja dan peran

“Negara tugasnya memelihara, menyatukan, mengatur serta mengurus kehidupan rakyat dengan bertindak yang terarah pada kesejahteraan, ketentraman, kepentingan umum yang bersifat sementara, bersifat lahiriah dan duniawi.Sedang Gereja Katolik bertugas memelihara, membimbing dan mengembangkan kehidupan rohani manusia dengan mengurus segala hal yang ada hubungannya dengan agama, peribadatan, kesusilaan, kerohanian yang sifatnya tetap, kekal, surgawi dan mengatasi kodrat.

…Dengan menjamin ketentraman, norma-norma, kesejahteraan, budaya, dan

hak-hak asasi, negara mempersiapkan suatu iklim yang perlu bagi perkembangan keagamaan dan moralitas, Gereja Katolik dengan menjaga hidup keagamaan, moralitas, kejujuran, kesetiaan terhadap janji, keadilan, cinta kepada sesama, dedikasi terhadap pekerjaan dan lembaga; dengan cara mendidik untuk menaruh hormat kepada pemimpin, dan mengarahkan untuk bertindak seturut hukum, berarti Gereja membangun suatu dasar yang kokoh bagi masyarakat dan pemerintah”13.

Dari kata-kata tersebut, Soegija ingin menunjukkan bahwa sejatinya, Gereja

Katolik dan Negara memiliki peranan penting dalam kehidupan umat manusia guna

mencapai kepada kehidupan yang diimpikan setiap orang. Oleh karena itu haruslah

umat Katolik memiliki kesadaran untuk mengabdi tidak hanya kepada Gereja Katolik

saja atau Negara saja, namun mengabdi kepada Gereja Katolik dan Negara secara

seimbang.

Soegija memberikan landasan moral sosial dan landasan teologis bagi

pengintegrasian kekatolikan dan nasionalisme. Soegija memberikan contoh dari

perintah ke empat dari sepuluh Perintah Allah. Soegija pernah mengatakan,

“Sebagaimana dalam Katekismus-kita wajib mencintai Gereja Kudus, dan kita juga wajib mencintai negara, dengan seluruh hati kita. Selain itu beliau juga mengingatkan

13

Anhar Gonggong. Mgr. Albertus Soegijapranata SJ: Antara Gereja dan Negara, 2011. Hlm 45

akan ajaran Yesus, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menajadi hak kaisar, dan berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah”14

.

Semangat nasionalisme yang dimiliki Soegija dapat diketahui dari motivasi

ketika Soegija memutuskan untuk menjadi seorang imam. Sebelum kepindahannya ke

Semarang tahun 1947 sebagai uskup, Soegija menungkapkan motivasinya untuk

menjadi imam.

“Keputusanku untuk menjadi imam itu karena didorong untuk mengabdi bangsa.Saya telah mencari beberapa kemungkinan profesi, tetapi tidak ada yang lebih

memungkinkan untuk memuliakan Tuhan dan sekaligus mengabdi bangsa selain

menjadi imam”15

.

Sikap patriotisme dalam membela bangsa dan negara, rasa kemanusiaan yang

besar dan berani membela kaum yang tertindas, yang ada dalam diri Soegija tidak

muncul begitu saja. Semua itu tumbuh akibat dari perjalanan hidup yang dialami

Soegija sewaktu masih kanak-kanak hingga ketika Soegija menjadi seorang calon

imam. Dalam kehidupannya Soegija menyaksikan langsung bagaimana bangsanya

berada di bawah kekuasaan asing yang merendahkan harkat dan martabat bangsanya,

Soegija juga melihat langsung bagaimana peperangan menghancurkan masa depan

orang banyak dan menimbulkan kerugian yang besar. Pengalaman tersebut yang

14

Budi Subanar, G, Kilasan Kisah Soegijapranata, Yogyakarta : Sanata Dharma, 2012. Hlm 21

15

kemudian membangun karakter Soegija sebagai pembela kemanusiaan dan ikut

berjuang demi mewujudkan kemerdekaan bangsanya.

Pada saat masih duduk di HIS Soegija dan kawan-kawannya yang merupakan

kaum pribumi pernah berkelahi dengan anak-anak Belanda atau anak-anak Indo yang

sering mengejek dan menganggap remeh anal-anak pribumi. Bukan hanya berkelahi

secara fisik ataupun berdebat, tak jarang Soegija dan kawan-kawannya menantang

anak-anak Belanda dan anak-anak Indo untuk bertanding sepak bola, guna

menunjukkan siapa yang lebih hebat diantara mereka. Hal-hal tersebut merupakan

cara Soegija dan anak-anak pribumi pada umumnya untuk membela diri mereka.

Karena pada masa itu bila terjadi perkelahian antara anak-anak pribumi dengan anak-

anak Belanda ataupun Indo, pihak anak-anak pribumilah yang akan dipersalahkan.

Tidak ada yang memihak anak-anak pribumi walaupun mereka benar sekalipun. Dari

pengalaman itulah Soegija belajar untuk terus membela harkat dan martabat kaum

pribumi hingga dirinya menjadi seorang imam.

Seperti yang dikemukakan di atas bahwa sejak kecil Soegija sudah melihat

penderitaan bangsanya yang dijajah dan menerima perlakuan diskriminatif dari

kalangan orang-orang non pribumi. Dalam hidupnya Soegija tidak hanya melihat

langsung penderitaan yang dialami bangsanya, namun Soegija juga melihat langsung

penderitaan masyarakat dunia terutama Eropa yang diakibatkan oleh Perang Dunia I

yang berakhir pada tahun 1919. Bertepatan saat Soegija harus pergi ke Belanda untuk

menyelesaikan studi filsafatnya. Di sepanjang perjalanan hingga sampai ke negeri

di Eropa. Di mana banyak bangunan-bangunan yang hancur, perekonomian yang

hancur dan bagaimana susahnya masyarakat Eropa berusaha bangkit dari

keterpurukannya pasca Perang Dunia I. Tak hanya itu Soegija juga melihat orang-

orang yang harus menderita secara fisik maupun mental, setelah mengalami langsung

peperangan yang telah menelan banyak korban jiwa.

Dari pengalaman tersebut pula batin Soegija semakin terusik, Soegija kembali

memikirkan nasib bangsanya yang sudah dijajah terlalu lama. Dari sana Soegija mula

berfikir mengenai kemerdekaan, bagaiman harusnya sebuah bangsa dan negara itu

harus merdeka agar hidup dengan tenang dan sejahtera. Setelah menyelesaikan studi

filsafatnya, Soegija semakin giat menyuarakan impiannya akan sebuah negara yang

merdeka, yang diperintah sendiri oleh kaum pribumi. Secara khusus Soegija

menginginkan kemerdekaan untuk bangsanya, yang merupakan negeri yang terdiri

dari beragam suku. Soegija menginginkan orang dari bangsanya sendirilah yang akan

memimpin Indonesia demi terwujudnya kesejahteraan yang merata.

Semangat mengabdi untuk Gereja, negara dan bangsa ditunjukkan sepanjang

hidup Soegija. Salah satu contohnya adalah saat Pemerintah Republik Indonesia

mendapatkan ancaman dari Belanda yang kembali dengan mengatasnamakan NICA,

yang kemudian membuat para pemimpin negeri ini memutuskan untuk memindah

pusat pemerintahan ke Yogyakarta. Mengetahui hal tersebut Soegija berniat

memindahkan pusat pemerintahan keuskupannya dari Semarang ke Daerah Bintaran,

Yogyakarta. Selain itu dalam kesehariannya, Soegija tidak hanya bergaul dengan

hal-hal liturgi dan rohani saja. Berbagai aktivitas sosial juga dilakukan oleh Seogija,

misalkan seperti memberi perhatian dalam bidang pendidikan, perhatian pada mereka

yang memikul tanggung jawab, atau mereka yang bermasalah, dan juga perhatian

pada mereka yang menjadi pengungsi pada masa pemerintahan Jepang ataupun juga

pada masa perang kemerdekaan. Di samping itu, Soegija juga sering mengadakan

pertemuan dan pembicaraan (berdiskusi) dengan pihak-pihak non-Katolik.

Bagi Soegija, Indonesia bukan hanya terdiri dari orang Jawa, Sumatera, Nusa

Tenggara, Kalimanatan atau yang lainnya. Indonesia merupakan satu kesatuan ras,

etnis, budaya dan bahasa, sehingga dalam kehidupannya Soegija juga menyetarakan

kedudukan semua orang yang ia jumpai. Seperti gurunya Van Lith, Soegija juga

memfokuskan dirinya untuk membela kaum tertindas, membela hak manusia yang

dilanggar. Misalkan seperti yang dilakukan oleh Soegija saat membela Indonesia

ketika menghadapi serangan militer Belanda I dan II pada tahun 1947 dan 1948. Pada

masa perang pasca kemerdekaan RI Soegija tidak menggunakan senjata dalam

menghadapi Belanda, namun menggunakan kuasanya sebagai seorang uskup dengan

cara berdiplomasi untuk meminta militer Belanda menghentikan penyerangan

terhadap Indonesia.

Mgr. Albertus Soegijapranata merupakan pahlawan tanpa senjata. Karena

bagaimanapun juga Soegija memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan

Indonesia, terutama pada masa perang revolusi (pasca proklamasi kemerdekaan).

Namun bedanya perjuangan Soegija dengan tentara Indonesia masa itu adalah cara

Dengan kekuatan pena dan tulisan-tulisan Soegija, serta kemampuan Soegija dalam

menjalin relasi dengan banyak pihak. Tak heran oleh Presiden Soekarno, Soegija

diangkat menjadi salah satu penasehat Presiden pada tahun 1949. Bahkan peranan

Soegija cukup kuat ketika mempengaruhi dunia internasional, ketika Soegija

mengatakan bahwa Indonesia sudah siap merdeka dan penjajahan itu tidak bisa

diterima16.

Dari paparan panjang di atas dapat diketahui bahwa alasan Soegija melakukan

usaha diplomasi untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dikarenakan bela

rasa yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya, serta pengabdiannya sebagai imam

kepada Tuhan karena salah satu tugas dari gereja adalah membela kaum yang

tertindas. Tumbuhnya bela rasa dalam diri Soegija tidak luput dari pengaruh para

pengajar Soegija di Kolose Xaverius, Muntilan dan kedua orangtuanya, serta

pengalaman Soegija yang melihat langsung bagaimana kehancuran akibat dari sebuah

penjajahandan peperangan pada saat dirinya remaja, bahkan ketika Soegija telah

menjadi seorang imam.

16

http://www.dnaberita.com/berita-68582-relevansi-visi-soegijapranata-

50

BAB III

Usaha-usaha Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ Dalam Melakukan