• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Singkat Kehidupan Mgr Albertus Soegijapranata, SJ

Alasan Mgr Albertus Soegijapranata, SJ Melakukan Usaha Diplomasi Pasca Kemerdekaan R

A. Sejarah Singkat Kehidupan Mgr Albertus Soegijapranata, SJ

Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ terlahir dengan nama Soegija. Soegija.lahir

di Surakarta, 25 November 1986. Soegija merupakan anak kelima dari sembilan

bersaudara dari keluarga Karijosoedarmo yang merupakan salah satu abdi dalem

Kraton Surakarta.Ayah Soegija merupakan orang Yogyakarta, sedangkan ibunya asli

dari Surakarta. Soegija terlahir dalam keluarga muslim, kakeknya merupakan seorang

kyai yang cukup terkenal di Yogyakarta, yang bernama Kyai Soepo.

Soegija kemudian pindah dari Surakarta ke Yogyakarta, di Yogyakarta

Soegija dan keluarganya tinggal di Kampung Ngabean. Kampung Ngabean

merupakan sebuah kampung yang letaknya berada di sebelah barat Kraton

Yogyakarta.Soegija kecil menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR)1. Awalnya

Soegija bersekolah di Sekolah Rakyat Ngabean yang terletak tidak jauh dari

1

Sekolah Rakyat merupakan Sekolah Pendidikan Dasar pada masa Hindia- Belanda. Saat inidisebut sebagai Sekolah Dasar (SD)

25

kediaman orangtuanya, namun sekolah tersebut baru dimulai pada siang hari. Saat

Soegija pun pindah ke sekolah tersebut. Pendidikan di SR diselesaikan Soegija hanya

sampai kelas tiga saja.

Soegija kembali melanjutkan pendidikannya di Hollandsch Indlandsche

School (HIS) di daerah Lempuyangan yang terletak di sebelah utara daerah

Wirogunan. Hollandsch Indlandsche School merupakan sekolah tingkat pendidikan

dasar yang memperkenalkan bahasa Belanda. Setelah menyelesaikan pendidikan

dasarnya di HIS, Soegija melanjutkan pendidikannya di Kolose Xaverius, Muntilan.

Masuknya Soegija kecil di sekolah yang dipimpin langsung oleh Van Lith, tidak lain

dan tidak bukan merupakan jasa dari Van Lith sendiri. Van Lith sering melakukan

kunjungan ke sekolah-sekolah rakyat di daerah Yogyakarta. Van Lith juga sering

melakukan kunjungan ke rumah-rumah keluarga petani di sekitar Muntilan, hal

tersebut dilakukan Van Lith untuk berbincang kepada para petaniakan pentingnya

pendidikan bagi anak-anak mereka. Van Lith bertemu dengan Soegija kecil saat

melakukan kunjungan di SR Wirogunan.

Pada tahun 1910, Soegija mulai mengenyam pendidikan di Kolose Xaverius.

Muntilan di bawah pengajaran Van Lith sendiri. Saat masuk ke Kolose Xaverius,

Muntilan, Soegija mengatakan bahwa dirinya tidak tertarik untuk menjadi seorang

Katolik.Hal tersebut dikatakannya langsung kepada ayahnya dan Martens, yang

Soegija mengejek para imam Belanda datang ke Jawa hanya untuk mengeruk

kekayaan, setelah itu akan pulang ke negeri Belanda1.

Namun rupanya Soegija tidak dapat memegang perkataannya untuk tidak

menjadi seorang Katolik. Di asrama Soegija sering berdiskusi dengan beberapa imam

yang juga merupakan guru di Kolose Xaverius, Muntilan. Hasil diskusi tersebu yang

membuat Soegija merenung saat mengetahui para imam tersebut cukup senang

mendapat kesempatan mengabdikan diri bagi sesama dengan mengajar dan

mempersiapkan tunas-tunas masa depan walaupun tidak digaji. Hal tersebut

merupakan tugas mulia sekaligus cerminan pengabdian kepada Tuhan. Mengetahui

kenyataan tersebutSoegija menjadi berpikir bahwa sangatlah mulia tujuan dari para

imam tersebut. Dari situ sempat terbersit di benak Soegija untuk menjadi seorang

imam. Menurut Soegija bila menjadi seorang imam, Soegija dapat mengabi kepada

bangsanya, membantu bangsanya yang selama ini jiwanya terluka akibat penjajahan

dan bagi Soegija menjadi iman dapat mencurahkan seluruh perhatiannya kepada

permasalahan kemanusiaan sekaligus mengabdi kepada Tuhan.

Kekeluargaan dan keakraban yang terjalin antara guru dan murid serta

pelatihan siswa menjadi manusia yang bertanggung jawab dalam kehidupan di

asrama pun ikut mempengaruhi dalam pembentukan karakter dan cara pandang

Soegija. Lambat laun Soegija mulai merasakan adanya perubahan dalam dirinya

terutama cara hidup dan doanya. Perubahan yang semakin membuat Soegija merasa

1

G. Budi Subanar, SJ, Soegija, Catatan Harian Seorang Pejuang Kemanusiaan, Yogyakarta : Galang Press, 2012

menjadi manusia yang lebih baik itu membuat Soegija pada akhirnya memberanikan

diri untuk meminta ijin kepada pengajarnya yang merupakan seorang imam untuk

mengikuti pelajaran Katolik di sekolah.Pada awalnya permintaan Soegija tidak

diijinkan oleh romo.Setelah setahun tinggal di Muntilan, Soegija kemudian mengikuti

pelajaran magang agama Katolik, mulanya lebih didorong oleh keingintahuannya.

Namun kemudian ia minta untuk dibaptis2. Tepatnya Pada 24 Desember 1910,

Soegija memantapkan hati mendapat sakramen baptisan dengan memilih nama baptis

Albertus. Soegija sangat bersyukur karena kedua orangtuanya bisa menerima

pilihannya untuk berpindah keyakinan, asalkan dia bisa hidup selaras dengan

keyakinan baru yang dipilihnya walaupun hal tersebut bertentangan dengan keinginan

kedua orangtuanya.

Soegija berhasil menyelesaikan studinya di Kolose Xaverius, Muntilan pada

tahun 1915. Setelah lulus Soegija menjalani praktik selama satu tahun sebagai guru di

almamaternya. Seusai menjalani praktik sebagai guru, Soegija menyatakan niatnya

untuk menjadi seorang imam. Setelah menyatakan ingin menjadi seorang imam, pada

tahun 1916 Soegija memulai pendidikannya di Seminari Menengah di Kolose

Xaverius Muntilan.Oleh sebab itu selama tiga tahun lamanya Soegija mendalami

pelajaran bahasa Yunani, Latin, dan Perancis. Selain itu Soegija juga harus

mendalami hal-hal yang berhubungan dengan kesusastraan dan filsafat untuk

mempersiapkan diri memasuki jenjang pendidikan selanjutnya untuk menjadi seorang

2

imam. Hasil belajar Soegija tersebut pada nantinya membuat Soegija memiliki

keahlian dalam bidang menulis, salah satunya adalah ketika Soegija menjadi redaktur

di Majalah Swaratama.

Setelah menempuh pendidikan di Seminari Menengah Kolose Xaverius,

Muntilan selama tiga tahun, pada tahun 1919 bertepatan dengan berakhirnya Perang

Dunia I, Soegija berangkat ke Negeri Belanda untuk mempersiapkan dirinya sebagai

imam. Untuk persiapan ke arah itu Soegija harus menjalani sejumlah tahapan

pembinaan rohani dan pendidikan formal3. Adapun hal-hal yang harus dijalani oleh

Soegija sesaat setiba di Belanda adalah menambah pengetahuan dan penguasaan

terhadap bahasa-bahasa asing, terutama bahasa Yunani dan bahasa Latin. Di Belanda

Soegija belajar di sebuah asrama milik Ordo Salib Suci di Kota Uden, yang terletak

di Belanda bagian Utara.

Setelah satu tahun menjalani persiapan di Belanda untuk menjadi seorang

imam maka pada tanggal 27 September 1920, Soegija menjalani masa novisiat

selama dua tahun di Novisiat Serikat Yesus, Mariendaal, Grave, yang letaknya tidak

jauh dari Kota Uden.Pada masa novisiat selama dua tahun Soegija dibekali dengan

pengenalan terhadap semangat-semangat (visi-misi) dari Serikat Yesus. Selain itu

selama masa novisiat, Soegija juga digembleng kerohaniannya dengan mengolah

pengalaman untuk merasakan bagaimana mengandalkan kasih Tuhan dan merespon

kasih tersebut dengan penuh kesungguhan, penyerahan diri dan kerendahan hati.

3

Seusai menjalani masa novisiat selama dua tahun, Soegija mengucapkan kaul

prasetyanya di dalam Serikat Yesus untuk hidup miskin murni dan taat sesuai dengan

nasihat injil. Sesudah itu Soegija menjalani masa yang disebut masa yuniorat untuk

kembali menekuni dan mengembangkan wawasan humaniora sebelum kemudian

memasuki jenjang studi formal di bidang filsafat4. Soegija belajar dan mendalami

filsafat terlebih dahulu di Mariendaal, Belanda.

Tahun 1923-1926 Soegija melanjutkan studi filsafatnya di Kolose Berchman,

di Kota Oudenbosch, Belanda.Kolose Berchman merupakan salah satu kolose milik

Serikat Yesus. Di sana Soegija belajar filsafat dengan mendalami kerangkan

pemikiran dari St. Thomas Aquinas, sesuai dengan titah dari Paus Leo IXII. Dalam

suratnya Aeterni Patris ditulis pada bulan Agustus 1879, Paus Leo IXII

menganjurkan pengajaran filsafat di Seminari perlu kembali mempelajari filsafat

thomistik5.

Setelah selesai menjalani masa pendidikannya di Negeri Belanda, maka pada

bulan September 1926 Soegija kembali ke Yogyakarta dan menjadi guru di tempat

dirinya dulu menimba ilmu yaitu di Kolose Xaverius, Muntilan, selama dua tahun.

Sayangnya, beberapa bulan sebelum kepulangan Soegija ke Yogyakarta, sang guru

yaitu Frans Van Lith, SJ meninggal dunia. Oleh karena itu Soegija beserta beberapa

4

Ibid., hlm,.13.

5

Thomistik meliputi teologi (bukti keberadaan Tuhan dan Sifat-Nya), metafisika, teori kejahatan, hukum (keabadian, akhirat, alam, dan manusia), teori pengetahuan, etika, psikologi dan politik

murid yang dahulu berada di bawah pengajaran Van Lith menulis sebuah obitari guna

mengenang jasa-jasa Van Lith. Hal tersebut dilakukan Soegija beserta kawan-

kawannya untuk tetap bisa meneruskan kembali semangar dari ajaran Van Lith.

Pelajaran dan praktik hidup dari Van Lith yang berusaha diteruskan oleh Soegija

adalah menanamkan kekristenan, patriotisme dan nasionalisme dalam diri orang-

orang muda Jawa yang dilayaninya. Selain menjadi guru di alamamaternya, Soegija

juga menjadi editor di majalah Swaratama, yang merupakan majalah menggunakan

bahasa Jawa.Majalah ini merupakan majalah yang dikelola oleh para alumni Kolose

Xaverius, yang di dalamnya tertulis berbagai macam artikel dengan berbagai tema

seperti permasalahan sosial, budaya dan agama.Soegija pernah menulis kursus

singkat marxisme dalam bahasa Jawa6.

Baru dua tahun kembali ke almamaternya, pada tahun 1928 Soegija harus

kembali ke Negeri Belanda untuk menjalani tugas studi teologi. Soegija harus

menjalani studi teologi selama empat tahun lamanya. Satu tahun sebelum studi

teologinya selesai, tepatnya pada 15 Agustus 1931 Soegija ditahbiskan sebagai imam.

Semenjak menerima tahbisan, Soegija menambahkan sebuah kata yang lain sehingga

namanya menjadi Albertus. Soegijapranata atau biasa disebut A, Soegijapranata. Hal

tersebut dapat dilacak melalui tulisan-tulisannya di majalah St. Claverbond, Berichten

uit Java. Sebelum ditahbiskan imam, karangan-karangan Rm. Soegija ditandai

dengan nama A. Soegija, SJ, atau dengan inisial AS, setelah menjadi imam,

6

karangan-karangannya di majalah St. Claverbond ditandai dengan nama A.

Soegijapranata, SJ7.

Perubahan nama dari Soegija menjadi Albertus. Soegijapranata, tidak

dilakukan Soegija tanpa alasan. Nama Pranata ditambahkan Soegija di belakang

namanya memiliki makna yang dipercayai oleh Soegija sendiri. Pranata dalam bahasa

Jawa sendiri mengandung arti menyembah, mengabdi, tatanan atau aturan.

Sedangkan nama Soegija yang diberikan oleh orangtuanya bermakna orang yang

kaya, dengan pendidikan bahasa, sopan santun dan budi pekerti. Sementara inisial A,

yang ditambahkan di depan namanya merupakan inisial nama yang diambil dari

Santo Albertus Magnus yang dipilih Soegija sebagai Santo pelindungnya. Santo

Albertus Magnus merupakan tokoh pemikir abad IXI. Selain dipilih sebagai

pelindungnya, Soegija memilih Santo Albertus karena Soegija ingin menjadikan

teladan hidup Santo Albertus sebagai teladan hidupnya. Yang mana Santo Albertus

merupakan sosok yang gemar menimba ilmu. Seperti kebanyakan orang Jawa pada

umumnya yang percaya akan doa di balik setiap nama yang disandang seseorang,

demikian pula Soegija. Perubahan namanya dijadikan acuan bagi dirinya untuk

membantu mengarahkan hidupnya di masa-masa yang akan datang.

Setelah ditahbiskan sebagai seorang imam, baru pada akhir tahun 1933

Soegija kembali ke Indonesia. Sekembalinya di Indonesia, Soegija ditugaskan untuk

menjadi imam di Gereja Katolik Kidul Loji, Yogyakarta bersama Van Driesche.

7

Setahun melayani di Gereja Kidul Loji, Soegija dipindahtugaskan ke Gereja Bintaran,

Yogyakarta yang merupakan Gereja khusus bagi kaum pribumi. Baru pada tahun

1940 Soegija diangkat menjadi Vikaris Apostolik Semarang atau setara

kedudukannya dengan uskup. Penunjukkan Soegija sebagai seorang uskup tak pelak

atas permintaan dari Williens yang merupakan Vikaris Apostolik Batavia yang

mengirimkan sebuah telegram kepada Paus Pius IXII yang meminta agar dibentuk

sebuah Vikaris Apostolik Semarang dengan pemimpin yang terpisah dengan Vikaris

Apostolik di Batavia karena melihat kondisi dunia yang tengah menghadapi Perang

Dunia II (PD II). Pertimbangannya adalah bahwa perlu adanya seorang uskup

pribumi untuk memimpin para umat. Selain itu Williens juga meminta agar Vikaris

Apostolik Semarang dipilih dari Serikat Yesus karena wilayah tersebut adalah

wilayah karya misi dari Serikat Yesus. Telegram dari Williens disambut positif oleh

pihak Vatikan dengan dikirimkannya telegram balasan yang mempersilahkan

Williens untuk mengangkat Vikaris Apostolik yang baru tanpa menunggu surat

perintah dari Vatikan. Tepatnya pada 1 Agustus 1940, Mgr. Albertus Soegijapranata,

SJ diangkat untuk menjadi Vikaris Apostolik Semarang. Yang secara resmi menjadi

pemimpin Gereja Katolik yang meliputi Karesidenan di Jawa Tengah, seperti

Semarang, Jepara dan Rembang, serta Karesidenan Kedu (Magelang dan