• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAMPAK KEJADIAN IKLIM EKSTRIM

4.1. Dampak Biofisik

Kota Bandar Lampung termasuk beriklim tropis basah yang mendapat pengaruh dari angin musim (Monsoon Asia) . Suhu udara maksimum rata – rata 30.57oC, suhu minimum 25.34 oC, kelembaban relat if maksimum rata – rata 89.3 % dan minimum 72.3 %, kecepatan angin rata – rata adalah 2.34 km/ jam dan rata evaporasi 3.95 mm/ hari. Curah hujan bervariasi dari 67.2 mm pada bulan September s/d 277.8 mm pada bulan Januari, dengan jumlah curah hujan 2.257 – 2.454 mm/tahun dan hari hujan 76-166 hari/tahun. Curah hujan yang tinggi ( > 100 mm/ bulan ) terjadi selama tujuh bulan mulai bulan November s/ d bulan Mei dan musim kemarau (CH < 100 mm/ bulan ) terjadi selama lima bulan mulai bulan Juni s/d bulan Oktober (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung, 2009).

Variabilas unsur iklim dapat terjadi terkait dengan fenomena ENSO/El Nino/La Nina, yang dapat dikategorikan sebagai kejadian iklim ekstrem, dengan periodisitas antara 3-6 tahun. Secara musiman, curah hujan yang tinggi pada musim hujan dapat menimbulkan bencana banjir, erosi dan longsor; dan periode kering yang panjang pada musim kemarau dapat menimbulkan bencana kekeringan

Dalam Laporan “Studi Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung T.A. 2008” (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung, 2009) telah dikaji tentang potensi bencana yang ada di Kota Bandar Lampung. Bencana tersebut dibedakan menjadi kelompok utama yaitu: (1) bencana alam/natural disaster (seperti banjir, gempa bumi, letusan gunung berapi, gerkan tanah, tsunami, angina topan, dan kekeringan) serta (2) bencana yang diakibatkan ulah manusia/man-made disaster (seperti kegagalan teknologi, kebakaran hutan dan lahan, epidemik, wabah penyakit dan KLB, kerusuhan sosial).

Kota Bandar Lampung sebagai salah satu kota yang berada diantara pesisir Teluk Lampung dan Kaki Gunung Betung merupakan salah satu kawasan yang rawan terjadi bencana di Provinsi Lampung. Kawasan rawan bencana di Kota Bandar Lampung dipengaruhi oleh struktur bebatuan, tanah, letak geografis, kondisi bentang alam, kepadatan bangunan dan permukiman, keberagamanan etnis, kondisi hidrologi, dan lainnya (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung, 2009). Jenis kerawanan yang telah diidentifikasi oleh Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung (2009) adalah rawan banjir, rawan gelombang pasang, rawan tsunami, rawan gempa bumi, dan rawan kekeringan. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan tersebut, sebagai misal, telah diidentifikasi 42 lokasi banjir di Kota Bandar Lampung. Banjir tersebut disebabkan oleh banjir akibat sungai, banjir bandang, banjir pantai, dan banjir lokal yang terkait dengan berbagai hal antara karena topografi rendah, arus balik pasang pada saat debit aliran besar, penyempitan dan pendangkalan saluran serta kapasitas drainase saluran yang rendah.

Dari berbagai bencana tersebut, yang dapat dikategorikan sebagai dampak terkait kejadian iklim ekstrim adalah banjir, kekeringan, tanah longsor, dan angin topan, serta bencana lainnya seperti abrasi, erosi dan sedimentasi. Tabulasi lokasi kejadian/rawan bencana yang telah dilaporkan secara rinci diperlihatkan pada Tabel 4-1.

54

Tabel 4-1. Lokasi Kejadian/Rawan Bencana Di Kota Bandar Lampung No Bencana Kecamatan Kelurahan

1 Banjir Rajabasa Rajabasa Raya, Rajabasa

Tanjung Senang Labuhan Dalam, Tanjung Senang, Way Kandis, Perumnas Way Kandis

Telukbetung Utara Kupang Teba, Kupang Raya, Gunung Mas, Gulak Galik, Sumur Putri, Batu Putu

Telukbetung Selatan Bumiwaras, Pesawahan, Pecoh Jaya, Kangkung, Sukaraja

Telukbetung Barat Kuripan, Bakung, Perwata, Sukamaju, Kota Karang, Keteguhan, N. Olok Gading Panjang Karang Maritim, Way Gubak, Way Laga, Panjang Selatan, Pidada, Panjang Utara, Srengsem

Kemiling Kemiling Permai, Beringin Raya

Tanjungkarang Pusat Kaliawi, Gotong Royong, Pasir Gintung, Palapa, Kelapa Tiga, Penengahan, Tanjung Karang, Durianpayung

Tanjungkarang Timur Campang Raya, Kedamaian

Tanjungkarang Barat Segalamider, Sukajawa, Susunanbaru, Sukadanaham

Kedaton Perum Way Halim

Sukarame Sukarame

Sukabumi T. Baru

2 Abrasi Panjang Serengsem

Telukbetung Selatan

Telukbetung Barat Sukamaju 3 Angin

Kencang

Tanjung Senang Way Kandis Telukbetung Selatan

Kedaton 4 Tanah

Longsor

Panjang Pidada

Sumber: Dokumen Rencana Strategis dan Rencana Aksi Daerah Mitigasi Bencana_ Kota Bandar Lampung tahun 2009-2013

Menurut hasil survai terhadap dampak pada sektor, kejadian bencana banjir memberikan dampak yang paling besar pada sektor kesehatan, dan kemudian diikuti oleh sektor air minum, pemukiman, perikanan, dan pekerjaan umum (rusaknya sarana drainase dan infrastuktur lainnya). Sementara untuk kejadian bencana kekeringan, sektor yang paling terkena dampak ialah sektor air minum, kesehatan dan pertanian. Kesulitan air minum meningkat baik pada terjadi musim kemarau panjang (43% warga) maupun banjir (19% warga). Sumber air minum umumnya berasal dari PDAM (53% warga), kemudian air tanah atau sumur (38% warga), air permukaan/air sungai (8% warga), dan sisanya dari air hujan (1% warga). Jumlah penyakit dirasakan meningkat pada waktu bencana, khususnya ada waktu terjadi banjir (34% warga) dan kemarau (22% warga).

55 4.2. Dampak Umum dari Kejadian Iklim Ekstrim

Dampak yang dirasakan akibat terjadinya bencana tentu tidaklah sama. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi lokasi tersebut. Antara wilayah pesisir dan non pesisir akan merasakan dampak yang berbeda. Dampak secara umum adalah sebagai berikut:

 Wilayah Pesisir

Pada wilayah pesisir, potensi bencana terbesar adalah banjir karena pasang atau rob dan abrasi. Banjir besar sudah tidak pernah terjadi lagi. Hanya saja pasang masih kerap terjadi, namun hanya sampai di pondasi rumah saja, tidak sampai memasuki rumah warga.

Selama ini, warga mengaku tidak terlalu terganggu oleh pasang. Ketika terjadi pasang warga tetap dapat melaksanakan aktifitasnya. Pada kondisi pasang, warga mengaku electricity tidak terganggu, listrik masih tetap menyala dan dapat dipergunakan. Begitu pula halnya dengan transportasi yang juga tidak terlalu terganggu. Jalan di pemukiman warga hanya sedikit tergenang (becek) dan sulit terlihat, namun masih tetap dapat dilalui. Hanya saja, jika tidak berhati-hati ketika berjalan, dapat menyebabkan terpeleset dan terjatuh. Kegiatan pendidikan juga tidak mengalami gangguan. Anak-anak sekolah biasanya tetap masuk. Hanya saja terjadi sedikit perubahan kebiasaan. Biasanya mereka menggunakan sepatu dari rumah, tetapi kali ini karena jalan tergenang air, anak-anak membawa (membungkus) sepatu terlebih dahulu, dan baru menggunakannya ketika jalan sudah tidak becek lagi. Atau jika genangan air agak tinggi, biasanya celana dilipat dahulu agar tidak terkena air. Hal ini sudah biasa dihadapi oleh warga, sehingga warga mengaku tidak terlalu terganggu.

Baik pada Kota Karang maupun Panjang Selatan, banjir dan pasang menyebabkan sampah menumpuk di sekitar pemukiman warga. Karena itu agar penumpukan sampah ini tidak menyebabkan bau yang tidak enak dan penyakit, masing-masing warga membersihkan rumahnya dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan upaya untuk mengantisipasi terjadinya abrasi, berdasarkan hasil in depth interview, terungkap bahwa warga memerlukan bantuan bibit bakau. Selain itu, warga juga sangat mengharapkan pemerintah membuatkan pondasi jalan penghubung antar rumah warga.

Baik pada kondisi normal maupun kondisi paska bencana, pemenuhan air bersih tetap diperoleh dengan cara mengambil dari sumur bor dan membeli. Pemenuhan air bersih tidak mengalami hambatan, masih tetap sama dengan kondisi normal. Dimana untuk keperluan minum warga biasanya memenuhinya dengan membeli air galon isi ulang. Untuk keperluan mencuci dan mandi warga menggunakan air sumur bor, sedangkan untuk memasak menggunakan air jirigen.

 Wilayah Non Pesisir

Bencana yang rawan terjadi di Pasir Gintung adalah banjir karena hujan. Hal ini disebabkan karena lokasinya yang berdekatan dengan sungai dan pasar. Sampah dan limbah pasar sering dibuang ke sungai, sehingga menyebabkan pendangkalan sungai dan penyerapan kurang berjalan dengan baik. Banjir terparah terjadi pada tahun 2008, hal ini disebabkan karena salah satu saluran pembuangan sedang dilakukan perbaikan. Banjir saat itu mencapai lebih dari satu meter, bahkan pada

56

wilayah tertentu yang letaknya rendah, hampir mencapai atap rumah warga. Banjir ini hanya berlangsung satu hari, sehingga tidak terlalu mengganggu aktifitas warga.

Pada saat banjir, listrik sengaja dipadamkan untuk mencegah tersengat aliran listrik. Pemenuhan air bersih dibantu oleh PDAM secara gratis. Sementara itu kondisi jalan hanya terganggu saat air tergenang, setelah air surut, jalan dapat dilalui seperti biasa. Paska terjadi banjir, sampah biasanya berserakan. Oleh karena itu, biasanya warga secara swadaya bergotong royong untuk membersihkannya. Antara pria dan wanita saling bahu membahu membersihkan rumahnya, dengan pembagian tugas untuk pria pekerjaan yang lebih berat dibanding wanita.

Pada Kelurahan Batu Putuk, bencana yang biasa terjadi adalah kekeringan dan angin kencang. Bencana kekeringan di wilayah ini menurut persepsi warga antara lain disebabkan oleh keberadaan beberapa perusahaan air minum. Kegiatan pengeborannya berdampak pada berkurangnya debit air di wilayah ini, namun jika dilihat dari mutu air masih tetap sama. Kekeringan ini juga berdampak pada hasil pertanian. Jika dibandingkan dengan kondisi dahulu, hasil kebun seperti coklat dan durian mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan kondisi alam dalam hal ini ketersediaan air di Batu Putuk.

Akibat dari bencana kekeringan adalah ketersediaan air yang mulai berkurang, namun tetap masih mencukupi kebutuhan warga meskipun harus melakukan penghematan. Berdasarkan hasil FGD dengan warga Kelurahan Batu Putuk, diperoleh informasi dari warga bahwa langkah mengatasi kekurangan air tersebut adalah dengan mencari atau membuka mata air baru. Langkah lainnya adalah dengan bersiap-siap memiliki penampungan air atau mengambil air di masjid. Jika dibiarkan berkepanjangan, kekeringan dapat memicu munculnya penyakit.

Sementara itu, bencana angin kencang biasanya terjadi pada bulan 12. Hampir setiap tahun angin kencang terjadi di wilayah ini. Berdasarkan pengetahuan masyarakat, tanda-tanda terjadinya bencana ini adalah terdengar suara gemuruh. Jika telah mendengar suara itu, warga bersiap-siap keluar rumah untuk mencari lokasi yang lapang agar terhindar dari benda-benda yang berjatuhan akibat angin kencang ini.

Jika terjadi angin kencang biasanya banyak pohon yang tumbang dan genting berjatuhan. Selain itu dampak terhadap tanaman pertanian adalah rontoknya bakal buah sebelum waktu pemanenan. Namun, salah satu keuntungannya adalah tersedia banyak kayu bakar yang berasal dari ranting-ranting yang berjatuhan.

Baik bencana kekeringan maupun angin kencang, keduanya tidak terlalu mengganggu aktifitas warga Batu Putuk. Pada kondisi ini, warga mengaku electricity tidak terganggu, listrik masih tetap menyala dan dapat dipergunakan. Begitu pula halnya dengan transportasi yang juga tidak terlalu terganggu. Jalan di pemukiman warga hanya terhalang oleh pohon dan ranting yang berjatuhan, namun masih tetap dapat dilalui. Biasanya setelah terjadinya angin kencang warga secara swadaya membersihkan lingkungannya agar aktifitas warga segera dapat berjalan normal kembali. Kegiatan pendidikan juga tidak mengalami gangguan. Anak-anak masih tetap dapat sekolah seperti biasa.

57 4.3.Dampak Sosial Ekonomi dari Kejadian Iklim Ekstrim

A. Dampak Sosial

Terjadinya kejadian iklim ekstrim yang mengakibatkan bencana banjir atau bencana kekeringan secara tidak langsung memiliki potensi untuk mengubah tatanan nilai-nilai sosial masyarakat. Untuk mendapatkan gambaran mengenai besarnya dampak sosial akibat terjadinya bencana di Kota Bandar Lampung dilihat dari perilaku gotong royong atau kekerabatan warga dalam menanggung masalah-masalah yang terjadi pada masyarakat; hubungan kerja; pola transaksi produksi serta nilai sosial lainnya. Secara sederhana hubungan kerja patron-klien menggambarkan hubungan dua pihak antara individu dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi (patron) yang memberikan keuntungan berdasarkan sumber-sumber yang dimilikinya bagi seseorang yang statusnya lebih rendah (klien).

Berdasarkan hasil survey terlihat bahwa hubungan gotong royong dan kekerabatan pada masyarakat di kelurahan amatan masih berjalan dengan baik. Hal ini tercermin dari pendapat warga mengenai bantuan yang diberikan saudara dan anggota masyarakat lainnya disaat terjadi bencana. Saudara dan anggota masyarakat lainnya yang dimaksud disini adalah saudara dan anggota masyarakat yang tidak terkena bencana, sehingga dengan berbagai status sosial yang ada, mereka bisa memberikan bantuan kepada korban bencana.

Gambar 4-1.

Bantuan dari Saudara dan Masyarakat Lainnya di saat Bencana Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung, 2009

Jika membandingkan angka-angka bantuan dari saudara dan masyarakat, tampak bantuan yang terima dari saudara relatif lebih tinggi dibandingkan dengan bantuan dari masyarakat. Misalnya di daerah pesisir bantuan yang diterima dari saudara sebesar 25,19 persen (dari total warga wilayah pesisir), sedangkan bantuan dari masyarakat lainnya sebanyak 22,96 persen. Pola yang sama terlihat di wilayah non pesisir. Dari data terlihat bantuan dari masyarakat lebih banyak di wilayah pesisir daripada wilayah non pesisir. Lebih besarnya bantuan masyarakat di wilayah pesisir ini didukung oleh hasil FGD di Kelurahan Kota karang dan Panjang Selatan. Masyarakat menyatakan bahwa ketika terjadi bencana upaya pertama yang akan dihubungi adalah tetangga (masyarakat). Tetangga adalah pihak yang memiliki

58

lokasi tempat tinggal terdekat, sehingga diharapkan dapat memberikan pertolongan dalam waktu yang relatif lebih cepat.

Dari informasi di atas terungkap fakta bahwa adanya bencana tidak menyebabkan perilaku gotong royong di masyarakat menjadi melemah, bahkan pada beberapa kelurahan amatan menjadi semakin kuat. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya kondisi ekonomi masyarakat yang relatif merata, sehingga saat terkena bencana mereka merasakan penderitaan yang juga sama besar. Pada Kelurahan Panjang Selatan, upaya pertama yang dilakukan masyarakat jika terjadi bencana adalah bersama-sama dengan keluarga dan tetangga mendiskusikan solusi permasalahan yang ada. Setelah itu melaporkan kepada RT setempat. Secara swadaya warga akan berusaha mengatasi masalah bersama, seperti gotong royong membersihkan wilayah mereka setelah terjadi banjir.

Di wilayah non pesisir terdapat satu kelurahan yang memiliki tingkat bantuan dari masyarakat relatif tinggi dibandingkan dua kelurahan lainnya, yaitu Kelurahan Pasir Gintung. Dari hasil wawancara dengan ketua lingkungan setempat terungkap bahwa besarnya bantuan dari masyarakat antara lain disebabkan oleh banyaknya paguyuban yang ada pada wilayah ini. Dengan adanya kelompok-kelompok paguyuban tersebut, maka tingkat kegotong royongan dan kekerabatan masyarakat menjadi tinggi, terutama saat terjadi bencana. Bencana yang sering terjadi di Kelurahan Pasir Gintung adalah banjir. Perilaku gotong royong dan kekerabatan tidak hanya muncul saat terjadi bencana banjir, masyarakat juga saling membantu dalam bencana lokal seperti kematian, rumah roboh atau musibah lainnya. Hasil FGD menyatakan bahwa masyarakat di semua kelurahan memiliki atau mengadakan iuran bulanan untuk kematian sebesar Rp 1500,- hingga Rp 2000,- perbulan. Selain saat bencana, tolong menolong menolong warga juga terjadi pada saat terjadi hajatan atau pesta, seperti pesta perkawinan.

Berdasarkan gambaran diatas, maka dapat disimpulkan bahwa wilayah yang relatif memiliki kohesivitas sosial yang tinggi di saat bencana adalah Kelurahan Pasir Gintung, Panjang Selatan dan Kota Karang. Warga di ketiga wilayah ini menilai bantuan dari saudara dan masyarakat di saat bencana relatif lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya.

Yang kedua, keberadaan nilai-nilai sosial masyarakat juga dapat dilihat dari keberadaan hubungan kerja patron-klien yang dahulu menjadi bagian dalam kehidupan sosial masyarakat pesisir. Pada Kelurahan Kota Karang hubungan patron-klien saat ini digambarkan sebagai berikut:

“.... sekitar tahun 80-an pekerjaan nelayan sangat menjanjikan. Pada waktu itu banyak warga yang menjadi juragan ikan. Juragan itu memiliki banyak anak buah (nelayan). Hampir semua nelayan kecil bergabung dalam kelompok-kelompok yang dibawahi oleh seorang juragan. Mereka yang membiayai nelayan-nelayan untuk berangkat mencari ikan. Waktu dulu dalam sekali pergi melaut, ikan yang diperoleh dapat mencapai jumlah kuintalan, terutama dari hasil bagan. Tapi kalau sekarang, mata pencaharian dari nelayan sudah tidak bisa diandalkan lagi. Jumlah juragan sekarang sudah sedikit, di wilayah RT 1, 2 dan 3 hanya terdapat satu juragan atau kelompok” (M. Zabir, warga Kelurahan Kota Karang, 63 th).

Menghilangnya para juragan tadi menyebabkan nelayan yang ada sekarang pada umumnya adalah nelayan individu. Kehidupan nelayan kecil individu saat ini

59

menjadi sulit karena apabila akan pergi melaut biaya operasional harus ditanggung sendiri. Dahulu nelayan kecil bila akan pergi melaut dapat dengan mudah meminjam modal ke warung atau agen. Biasanya mereka pergi sore dan kembali keesokan harinya dengan membawa hasil ikan yang banyak, sehingga bisa langsung mengembalikan modal pinjaman. Sedangkan saat ini, nelayan kecil seringkali tidak berani meminjam, karena si pemberi pinjaman menjadi lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman, dan nelayan juga menyadari kondisi melaut saat ini tidak ada jaminan bahwa mereka akan pulang membawa hasil ikan yang cukup dan segera dapat mengembalikan pinjaman. Bila dihubungkan antara fakta berkurangnya hasil ikan antara lain juga disebabkan oleh adanya perubahan iklim, dengan demikian perubahan iklim juga memiliki andil dalam berkurangnya hubungan patron-klien yang ada dalam masyarakat, dimana kondisi ini secara tidak langsung dapat menyebabkan masyarakat menjadi lebih rentan.

Pengaruh bencana terhadap perilaku nilai sosial lainnya secara tidak langsung juga dapat dilihat dari meningkatnya kejadian kriminalitas/ kejahatan di suatu wilayah. Berdasarkan survei, bencana iklim berpengaruh terhadap terjadinya kriminalitas di wilayah kajian, dimana 1,6% warga beranggapan bahwa jumlah tindakan kriminalitas bertambah saat kejadian banjir dan 3,5% warga beranggapan bahwa jumlah tindakan kriminalitas juga bertambah saat kejadian kekeringan di wilayah mereka. Tindakan kriminalitas tersebut seperti pencopetan, perampokan, perampasan, dan pencurian barang-barang berharga.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa adanya perubahan iklim yang mengakibatkan timbulnya bencana memiliki potensi untuk merubah nilai-nilai sosial serta perilaku yang ada di dalam masyarakat.

Tabel 4-2.Gambaran Dampak Bencana terhadap Nilai Sosial Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung, 2009

No Deskripsi Kondisi saat ini 1 Sistem tolong

menolong/ kekerabatan

Masih ada:- hubungan-hubungan sosial baik yang berdasarkan hubungan ketetanggaan maupun hubungan kekerabatan

- dalam keadaan kesulitan, sesama warga dapat dimintai tenaga bantuan, bukan disewa

2 Gotong royong Masih ada: aktivitas bekerja sama antara sejumlah besar warga kelurahan untuk menyelesaikan suatu kegiatan tertentu yang dianggap berguna bagi kepentingan umum.

3 Hubungan patron-klien

Sudah mulai berkurang.

4 Tingkat kejahatan Jumlah tindakan kriminalitas bertambah saat kejadian banjir dan kejadian kekeringan di wilayah mereka

B. Dampak Ekonomi Kejadian Iklim Ekstrim

Mengingat mata pencaharian utama warga di wilayah kajian bergerak di sektor perikanan yaitu buruh nelayan dan nelayan, maka terjadinya bencana iklim seperti banjir rob, pasang air laut, dan angin kencang bisa berpotensi terhadap gagal panen dikarenakan nelayan tidak bisa melaut, yang selanjutnya akan berdampak pada kehidupan sosial ekonomi warga. Selanjutnya warga yang bermata pencaharian

60

sebagai pedagang juga terkena imbasnya. Hal ini dikarenakan menurunnya daya beli masyarakat dari sektor perikanan yang mengalami gagal panen. Untuk warga yang bermata pencaharian sebagai petani kebun dan petani pangan pun juga terkena dampak dari bencana iklim seperti banjir, kekeringan, dan angin kencang. Mereka mengalami gagal panen dan penurunan pendapatan. Menurunnya pendapatan mengakibatkan menurunnya tingkat kesejahteraan warga yang berikutnya mengakibatkan bertambahnya jumlah pengangguran, peningkatan jumlah kriminalitas dan urbanisasi.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana dampak bencana terhadap ekonomi disajikan data-data berdasarkan: 1). nilai kerugian berdasarkan pekerjaan pokok, dan 2). Nilai kerugian berdasrkan pekerjaan sampingan, 3).nilai kerugian berdasarkan sektor, 4) dampak terhadap harga-harga beberapa komoditi.