PEMERINTAH DAN KELEMBAGAAN DALAM KAJIAN KERENTANAN PERUBAHAN IKLIM
8.5. Ide-ide spesifik untuk memperkuat kapasitas adaptif:
Strategi dan proyek-proyek di bawah ini menawarkan beberapa ide-ide yang mungkin dilakukan untuk memperkuat kapasitas adaptif di Bandar Lampung dan Semarang. Preferensi diberikan untuk ketrampilan dan pengalaman yang sudah diterapkan di lokasi penelitian. Pelajaran dapat dengan mudah dipelajari dan ditransfer dari kasus-kasus tersebut karena (i) sudah terbukti bekerja dan (ii) lebih mudah diintroduksi dari masyarakat dan kelompok-kelompok yang datang dari konteks yang sama ketimbang dibawa dari luar. Ide-ide lainnya ditelaah untuk digunakan sebagai modal dalam pembelajaran dan menjawab isu-isu spesifik terkait kerentanan secara multi dimensi yang muncul dengan sendirinya.
Kota-kota yang tak nampak, membuatnya tak nampak: Dalam kasus masyarakat
yang sampai sekarang tidak dikenal atau didokumentasikan, seperti warga miskin kota di Sukorejo dan pendatang baru di Kota Karang yang terabaikan dan terlupakan, sensus dan survai di tingkat masyarakat akan membantu untuk mendokumentasikan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Namun apresiasi dan pemahaman akan kebutuhan dan kondisi masyarakat masihlah kurang. Pemerintah daerah mungkin tidak merasakan kebutuhan untuk menyediakan layanan atau berdialog dengan masyarakat, karena mereka tidak peduli skala dan asal muasal kebutuhan tersebut. Mereka seenaknya menguasai lahan yang tak terlihat dan ambigu. Dengan pendokumentasian wilayah yang lebih baik, maka pemerintah kelurahan setempat dapat memiliki ide-ide yang lebih baik tentang layanan yang dibutuhkan (berapa
130
banyak orang perlu akses ke puskesmas, atau murid dalam satu kelas) dan sebagai hasilnya dapat menerima alokasi anggaran yang dibutuhkan.
Guna ulang yang adaptif: Sudah banyak sumber-sumber yang datang ke warga
miskin kota lokal yang dapat membantu menunjang ketahanan, tetapi belum sepenuhnya dimanfaatkan. Kasus-kasus guna ulang yang adaptif sudah terbukti ada di lokasi penelitian: guna ulang sampah untuk reklamasi pantai di Kangkung dan menampung air dari cucuran atap rumah-rumah di atas air di Kota Karang, keduanya merupakan dua contoh pemanfaatan sumberdaya yang ‘gratis’ untuk kegunaan tambahan. Satu ide lainnya adalah pemanfaatan drum air kosong (berlimpah di kawasan pesisir seperti Kota Karang) untuk menampung air hujan dari atap rumah di Pasir Gintung. Hal ini akan membantu menyediakan sumber air alternatif untuk kegiatan-kegiatan selain memasak dan minum dan juga menjadi penampungan sementara air hujan untuk menghindari banjir dadakan.
Subsidi: Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu yang dihadapi warga miskin
kota, layanan sosial tertentu tidaklah terjangkau. Pemerintah dapat membantu dengan akses subsidi terhadap layanan-layanan tersebut untuk menjamin bahwa warga miskin kota mendapatkan manfaat. Subsidi untuk pendidikan dan air bersih akan membantu menunjang ketahanan dan mengurangi kerentanan di banyak komunitas warga miskin kota. Sebagai contoh, kasus di RW 5 Kemijen, warga kekurangan akses modal untuk membayar biaya pemasangan pipa PDAM yang akibatnya mereka sangat bergantung pada penjual air, dan membayar harga yang sangat mahal. Subsidi koneksi akan membantu menurunkan biaya-biaya mereka secara signifikan. Di kampung nelayan Kangkung, hampir semua anak-anak di atas usia 12 tahun putus sekolah, orang tua mereka tidak mampu membiayai ke SMA dan membutuhkan mereka untuk bekerja. Jika subsidi pendidikan dapat mengamankan kehadiran mereka di sekolah sampai selesai SMA, mereka dapat mengakses segala macam pekerjaan di kota dan tidak bergantung eksklusif pada pekerjaan di sektor perikanan.
Narasi + jejaring masyarakat berbagi: Banyak masyarakat miskin kota hidup
terisolir sampai-sampai mereka tidak tahu bahwa realita mereka sangat mirip dengan masyarakat miskin kota di kampung lain yang jauh, meski masih satu kota. Hal ini meniadakan peluang saling berbagi informasi satu sama lain, saling belajar dan membangun jejaring sosial yang dapat membangun ketahanan. Dengan mendorong pertukaran dan pertemuan warga dapat mendorong formasi jejaring sosial, berbagi informasi dan belajar. Sebagain contoh, satu manfaat potensial adalah sosialisasi konsekuensi program relokasi penduduk, berbagi cerita dan konsekuensi yang berbeda tentang relokasi warga Sukorejo dan Tandang. Penduduk kota yang dipindah akan mendapatkan keuntungan dengan mendapatkan pengetahuan yang berguna untuk menegosiasi kondisi relokasi dan anti rugi dengan pemerintah daerah dan pengembang. Hal ini membantu menjawab ketidak sesuaian informasi dan memperkuat warga miskin kota.
Pembiayaan beranggaran rendah untuk perbaikan rumah: Terbukti bahwa
warga miskin kota dapat memperbaiki kondisi rumah mereka sendiri dan maka mengurangi kerentanan terhadap resiko iklim. Perubahan peningkatan skala kecil membantu untuk membangun rumah yang lebih kokoh dan awet secara bertahap dan dengan anggaran yang terbatas. Rumah-rumah panggung di kampung Kota Karang memakai tonggak-tonggak kayu yang diperkuat dengan beton satu per satu, membuatnya sedikit terpengaruh oleh ombak dan erosi. Dengan membuat mereka
131
dapat mengakses pendanaan, warga dapat membeli bahan bangunan dan perlahan memperbaiki rumahnya secara mandiri, tidak bergantung pada proyek pemerintah atau tabungan mereka cukup banyak. Perbaikan kecil, seperti pengatapan yang lebih baik sebagai contoh, dapat mengurangi kerentanan secara signifikan di tempat yang rawan terhadap siklon dan angin kencang.
Indeks Kerentanan Lingkungan: Sejumlah kampung telah diidentifikasi memiliki
potensi yang membuat mereka sangat rentan terhadap perubahan iklim. Melalui investasi yang progresif dalam proyek-proyek dan perbaikan, beberapa potensi tersebut dapat dikurangi dan dengan demikian mengurangi kerentanan lingkungan. Cara ini akan berguna untuk melihat bagaimana perkembangan yang terjadi, dan akan membiarkan kelompok-kelompok untuk mengetahui strategi apa yang berfungsi dan bidang-bidang apa yang perlu bantuan yang lebih ditargetkan. Dengan mengumpulkan database yang dapat memantau perkembangan berdasarkan waktu dan ruang, kelurahan dapat memiliki alat ukur bagaimana kerjanya untuk mengurangi kerentanannya, dan bagaimana kelurahan ini disbanding dengan wilayah lain.
Peta terinci untuk penggunaan pemerintah kelurahan setempat: Pemerintah
Kelurahan Tandang menampilkan ukuran kesiagaan dan respons bencana yang bermanfaat. Dengan menyimpan peta rinci di tangan yang dapat mengidentifikasi asset, penduduk dan mengkategorikan bahaya, mereka dapat bersiap-siapa lebih baik terhadap bencana terkait iklim, seperti menyiapkan sistem peringatan dini. Peta seperti itu akan juga menjadi sumber vital untuk respons bencana: pada saat terjadi longsor contohnya, dapat menyediakan database instant tentang asset penduduk darimana diawali upaya penyelamatan atau rekonstruksi. Akses informasi, dalam format yang jelas dan dapat diakses sangat penting untuk mengurangi kerentanan dan memperkuat ketahanan; peta-peta dan database penduduk dapat membantu menyediakannya.
Jejaring pengaman sosial alternatif: Pada saat ini hanya sedikit kebijakan
terkonsolidasi yang tersisa sebagai jejaring pengaman sosial bencana bagi keluarga yang rumah dan propertinya rusak akibat cuaca yang ekstrim. Pemerintah daerah hanya mampu menyediakan sumberdaya yang langka yang umumnya disebut tidak cukup. Penduduk yang terpengaruh akhirnya bergantung pada yayasan swasta dan amal, atau ketrampilannya sendiri untuk bertahan hidup, seperti dalam kasus banjir di Pasir Gintung. Namun jejaring pengaman sosial lain dapat ditelusuri yang mungkin menyimpan sumber daya di gudangnya. Gudang kota yang dapat mengumpulkan dan menyimpan barang, atau rekening bank yang dapat menyimpan sumbangan, adalah model-model yang mungkin dilakukan untuk menyimpan sumber-sumber daya pendanaan untuk peristiwa mendatang. Gugus Tugas kota dapat ditugaskan mengelola dana tersebut dan menentukan penggunaannya.
Koalisi luas mengatasi isu perubahan iklim: Mungkin yang terpikir bahwa
perubahan iklim hanya terfokus pada warga miskin kota, namun ada banyak konstituen yang berpotensi terpengaruh yang menciptakan koalisi besar dan mendorong respons pemerintah terhadap isu ini. Ini adalah kasus di Semarang dimana industri-industri besar dan warga miskin kota akan membentuk persekutuan yang sulit dipercaya lantaran mereka bersama-sama tinggal di kawasan pelabuhan kota yang sangat terpengaruh oleh perubahan iklim. Tetapi pembentukan koalisi luas tersebut bisa mengumpulkan visibilitas dan dukungan politik.
132 Pemikiran dan pertimbangan akhir : Saat tembok bisa dibangun, informasi bisa
disebarkan dan masyarakat dan rumah dapat diperkuat, keniscayaan dan asal muasal perubahan iklim dan peristiwa iklim yang parah belumlah diketahui. Mungkin perubahan yang paling penting dari semuanya tidak didefinisikan dengan perubahan fisik, ekonomi atau bahkan politik, tetapi yang sederhana dan kurang dikenal luas. Beradaptasi dengan perubahan iklim mungkin adalah upaya mental yang luas dan dimana terdapat perbedaan budaya yang sulit dipecahkan. Indonesia adalah sebuah negara dan peradaban yang lingkungannya yang indah dan tidak terkira banyaknya digerus selama berabad-abad, dan seiring dengan itu sebuah pola pikir budaya telah berevolusi. Ketimbang mencari untuk menaklukan negeri-negeri sekitarnya, Indonesia adalah bebas dan lebih mampu menyatukannya untuk membentuk dirinya. Mungkin ini adalah adaptasi yang paling signfikan, lebih sesuai terhadap lingkungan yang tak terduga dan masa depan yang tak menentu. Nilai-nilai Barat di sisi lain sangat determinan dan berupaya menaklukan dan mengontrol negeri ini, yang akhirnya melahirkan keyakinan arogansi bahwa ini mungkin. Sejumlah mega proyek yang gagal, menghabiskan banyak biaya dan meninggalkan konsekuensi yang menghancurkan, membuktikan bahwa ini bukanlah caranya, atau paling tidak bukan satu-satunya cara. Untuk mempersiapkan dampak perubahan iklim yang bisa terjadi di kawasan perkotaan di masa depan, kita perlu berpikir adaptasi mental apa yang harus dilakukan, dan juga apa yang sudah dilakukan.
Tabel 8-1. Layanan-layanan yang digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi bahaya iklim, menurut Kelurahan:
Bandar Lampung
Pasir Gintung
Kesehatan: Puskesmas yang terletak di kampung bawah membuat aksesnya terbatas. Air: Di kampung bawah akses PDAM baik (mayoritas), tetapi di kampung atas bukit air dipompa ke tangki penampungan umum dan disalurkan secara manual (akses yang sangat rendah). Pengelolaan air dilakukan warga setempat.
Pendidikan: Tersedia SD, tetapi tidak ada SMA. Kepadatan penduduk mencegah penambahan lokal kelas yang kapasitasnya sudah penuh. Angka putus sekolah tinggi di kampung atas (20%) dibandingkan rata-rata se-kelurahan (10%).
Sanitasi: WC umum tersedia meski sedikit. Drainase mengalir langsung ke sungai, sehingga bantaran sungai terpolusi.
Kota Karang
Kesehatan: Puskesmas tidak buka pada waktunya dan tidak mampu melayani warga. Air: Warga kampung nelayan tidak mempunyai suplai air bersih umum, mereka memompa air dari dasar laut (payau) atau mengangkutnya dengan gerobak dari daratan.
Pendidikan: Angka bolos sekolah sangat tinggi (30%) secara rata-rata dan bahkan lebih tinggi lagi di daerah tertentu.
Sanitasi: Pemukiman di atas air tidak memiliki fasilitas sanitasi yang menciptakan kondisi tidak sehat. Sampah dibuang di pantai yang mencemari garis pantai. Kangkung Air: Air diangkut gerobak ke daerah yang baru dihuni karena tidak ada layanan
PDAM. Pompa tangan tersedia dan melayani setiap 20 rumah.
Kesehatan: Fasilitas kesehatan langka, malaria adalah penyakit epidemik utama, kekurangan gizi tercatat.
Pendidikan: Hanya ada sedikit fasilitas pendidikan dan angka putus sekolah anak-anak di atas 12 tahun sangat-sangat tinggi. Anak-anak-anak dikeluarkan dari sekolah oleh orangtuanya untuk bekerja di sektor perikanan dan karenanya mereka setengah buta huruf.
Sanitasi: Sanitasi sangat buruk di kampung nelayan, sedikit sekali WC umum dan sampah dibuang ke kolong rumah. Sampah bertumpuk di daerah ini juga; dibawa ke sana oleh orang luar, teronggok dengan sendirinya dan terangkut ke laut.
133
Tabel 8-2 Adaptasi dan Kerentanan di Bandar Lampung
KK = Kota Karang; PG = Pasir Gintung; K = Kangkung
Bandar Lampung
Demografi Pendidikan Air Sanitasi Perumahan Pembangunan
Ekonomi
Kesehatan Lingkungan (mis. Drainase) Kualitas
layanan
K: banyak anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi
Hasil campuran untuk kualitas air PDAM (baik/jelek)
MCK jarang dan di daerah pesisir sangat buruk
Warga miskin memiliki rumah yang tidak layak di daerah beresiko
Pinjaman pemerintah + subsidi ada tapi tidak menolong membangun ketrampilan
-Sedikit bidan di Puskesmas -Harga obat mahal
Pengumpulan sampah umumnya baik. Tanggul penguat belum dibangun di daerah perbukitan Cakupan
layanan
Banyak pendatang baru yang belum tercatat, perlu bekerja dengan pemerintah daerah dan kelurahan
PG: sekolah sudah penuh.
K: tidak ada SMP/SMA
PG: kampung atas hanya sumur umum K+KK: sistem darurat dan pedagang swasta
MCK ada di PG, tapi tidak banyak. Di K dan KK disediakan oleh warga
Tidak ada dukungan pemerintah
Program pemerintah tidak menjangku seluruh penduduk
Puskesmas sering tidak buka, bahkan tidak ada di daerah terpencil
Warga miskin hanya punya fasilitas kesehatan terbatas, tangga dan tembok hanya di daerah yang padat penduduk Wilayah
beresiko
-Migrasi terus menerus mendatangi wilayah beresiko (pantai, lereng) -Dengan volume yang
meningkat, laju peningkatan menjadi faktor penentu -Sulit untuk mendukung
pertumbuhan yang cepat
-Tidak ada sekolah -Daerah padat, tidak ada
ruang untuk sekolah -Daerah miskin dimana
orang tua tidak mampu menyekolahkan anaknya -Anak-anak bekerja membantu orang tuanya - Warga tinggal di atas air punya sedikit sambungan - Warga lereng
berjuang untuk mengamankan fasilitas - Daerah baru tidak
punya sambungan
Kondisi sanitasi yang buruk di kampung pesisir menyebarkan penyakit, semua warga harus berbagi kondisi yang membahayakan kesehatan ini
-Daerah pesisir -Bantaran sungai -Lereng bukit -Rumah kayu yang
perlu dirawat secara rutin, kayu diganti
-Daerah yang terioslir dan terpinggirkan seperti KK yang tidak terhubung dengan pasar
-Kesulitan mengakses wilayah (lereng curam) yang tidak bisa diakses) -Daerah terpencil tanpa Puskesmas: kampung di lereng -Kampung nelayan PG: drainase di bukit menyebabkan banjir bandang di bantaran sungai KK+K: lahan publik terbatas dan jalan setapak yang berbahaya dibangun dari kayu
Kelompok beresiko
-Pendatang baru dengan sedikit pengetahuan tentang sumberdaya di kota
-Pertumbuhan alami juga mendorong warga setempat ke wilayah beresiko -Anak-anak usia 7-14 -Keluarga miskin -Kampung nelayan - Anak-anak yang membawa air - Keluarga di daerah pesisir sedikit mengkonsumsi - Buruk tanpa layanan
PDAM -Anak-anak yang berenang di air -Perempuan yang mencuci -Keluarga di kampung nelayan -Warga miskin -Keluarga baru yang
cari rumah -Pendatang -Keluarga dipimpin perempuan -Lanjut usia -Pengangguran muda -Keluarga yang
tergantung pada satu mata pencaharian -Kaum tak berpendidikan yang tidak dapat berurusan dengan proses -Warga miskin yang
tak mampu beli obat -Yang kurang mobilitas
-Warga miskin -Penghuni bantaran
sungai
-Rumah yang terancam longsor Trend ke depan + stressor -Transmigrasi sepertinya berlanjut, khususnya untuk penduduk di pantai
-Urbanisasi trend yang tidak terelakkan di Indonesia
- Pertumbuhan alami dan migrasi akan mengurangi
sumberdaya pendidikan yang ada
- Ketika anak nelayan besar, setengah buta huruf menyulitkan mereka beradaptasi dengan pekerjaan
- Laju pertumbuhan yang cepat sulit untuk membangun infrastruktur - Tabel air yang
rendah menghilangkan penggunaan sumur - Penurunan kualitas pipa -Peningkatan populasi menambah problem sanitasi -Laju pertumbuhan penduduk yang cepat berarti tidak mampu membangun sistem -Rumah rusak membuat masalah -Pertumbuhan alamiah keluarga -Perluasan rumah di daerah yang sempit -Pergeseran di pasar global -Modernisasi industri perikanan -Pembangunan pasar
kerja sektor urban yang mungkin tidak dapat diakses oleh warga miskin yang tidak berpendidikan
-Wabah pandemic -Pertumbuhan
penduduk
-Pemerintah tidak punya dana untuk perbaikan -Laju pertumbuhan
penduduk terus memaksa warga untuk menghuni daerah yang rentan
Adaptasi potensial
-Lingkungan tempat tinggal yang lebih padat
- Pelatihan ketrampilan alternatif - Pengunduhan air - Subsidi -Pemasangan MCK yang memadai
-Rencana tata ruang -Kredit rumah
-Pelatihan kerja -Keuangan mikro
Penyediaan kesehatan alternatif
Proyek warga dengan dana pemerintah Tautan -Pembangunan ekonomi
-Lingkungan - Demografi - Pembangunan Ekonomi - Kesehatan - Pembangunan ekonomi - Demografi -Kesehatan -Air -Demografi -Demografi -Pembangunan ekonomi -Kesehatan Pendidikan Pembangunan Ekonomi -Air -Perumahan -Sanitasi
134 Gambar 8-3.
Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kerentanan
Kesehatan Pendidikan Air Perumahan – Aset Swasta Warga - Sekitar Akses ke pekerjaan + penghasilan Personal Fisik Keamanan Ekonomi
135 Tabel 8-3 Adaptasi dan Ketahanan Bandar Lampung
Adaptasi Bagaimana kontribusinya kepada ketahanan? Dimensi dampaknya Kesiapsiagaan Respons Bandar Lampung Reklamasi progresif
Mengurangi dampak gelombang terhadap struktur rumah, menurunkan biaya rumah yang mahal, daerah yang lebih aman untuk beredar dan membangun - Ekonomi - Fisik - Perumahan Ya Tidak Perbaikan struktur dan infrastruktur
Meningkatkan akses ke layanan (air), sirkulasi dan mengurangi ancaman longsor, banjir dan epidemic
- Fisik - Kesehatan
Ya Tidak
Perbaikan rumah bertahap
Meningkatkan umur bangunan dan kapasitas warga untuk bertahan dari shock, menurunkan biaya ekonomi, menciptakan investasi jangka panjang
- Ekonomi - Fisik - Perumahan Ya Tidak Tinggal di atas air
Menyediakan akses murah kepada peluang-peluang ekonomi, alternatif rumah murah dan penampungan sementara pendatang - Perumahan - Ekonomi Tidak Tidak Konsolidasi kampung
Meningkatkan modal sosial akibat kolaborasi dan seringkali mobilisasi politik akibat kolaborasi dengan pemerintah - Sosial - Politik Ya Ya Rumah bertingkat
Mengamankan keluarga dari banjir musiman, membuat ruang
penyimpanan dan ruang pengungsian
- Perumahan Ya Ya
Pengunduhan air Menyediakan sumber air tambahan
untuk mengganti suplai air yang kurang - Air - Ekonomi
Ya Tidak
Akses kredit dan dana tunai
Memungkinkan untuk membeli pangan + material yang dapat mendukung strategi bertahan hidup dan meminjamkan fleksibilitas ekonomi
- Ekonoim Ya Ya
Kolaborasi masyarakat
Meningkatkan keterkaitan jejaring sosial dan persatuan warga yang dapat memfasilitasi proyek-proyek dan aksi
136