PEMETAAN KERENTANAN DAN KAPASITAS ADAPTIF
5.1. Metodologi untuk Pemetaan Kerentanan dan Kapasitas Adaptif
Untuk menentukan indeks kapasitas dan kerentanan, kami menggunakan data survey sosio-ekonomi 2005 tingkat kelurahan (desa) dari Badan Pusat Statistik (BPS), sedangkan untuk beberapa data biofisik diperoleh dari sektor terkait atau dari citra satelit yang dihasilkan berdasarkan teknik-teknik interpretasi dengan GIS (Tabel 5-1). Semua data dibobot menurut kepentingan relatif mereka dalam membentuk kerentanan (5) dan kapasitas (C) untuk beradaptasi.
Tabel 5-1. Indikator yang digunakan untuk mendefinisikan Kerentanan dan Kapasitas dan bobotnya
A Kapasitas Bobot B Kerentanan Bobot
A1 Fasilitas listrik 0.05 B1
Jumlah rumah tangga yang
tinggal di bantaran sungai 0.05
A2 Pendidikan 0.25 B2
Jumlah bangunan pada
bantaran sungai 0.05
A21 TK 0.07 B3 Layanan air dari PDAM 0.10
A22 SD 0.13 B4 Kepadatan penduduk 0.10
A23 SMP 0.20 B5 Kemiskinan 0.20
A24 SMA 0.27 B6 Fraksi pantai 0.10
A25 Universitas 0.30 B7 Fraksi sungai 0.10
A3 Sumber utama pendapatn 0.30 B8 Fasilitas non-drainase 0.20 A4 Fasilitas kesehatan 0.20 B9 Bukan area terbuka hijau 0.10
A41 Puskesmas 0.20 A42 Poliklinik 0.30
A43 Posyandu 0.20
A44 Praktek bidan 0.10 A45 Praktek dokter 0.20 A5 Infrastruktur jalan 0.20
Catatan: *Pada hal fasilitas, Poliklinik adalah lebih baik dari Puskesmas karena poliklinik dioperasikan oleh pihak swasta, tetapi biaya pada poliklinik lebih tinggi dari biaya di Puskesmas. **Dari PDAM, *** Data dibangkitkan dari citra satelit dan peta topografi, **** Data dari RTRW 2005-2015 (Bappeda, 2003). Data lainnya dari data Potensi Desa BPS (2006).
Untuk mengukur posisi relatif kerentanan dan kapasitas untuk beradaptasi suatu kelurahan, kami menentukan indeks kapasitas (CI) dan indeks kerentanan (VI). Indeks Kapasitas (CI) dikembangkan dengan menggunakan lima indikator utama (A1, ..., A5). Setiap indikator diberi skor. Indikator A1 adalah persentase rumah tangga di desa yang menggunakan fasilitas listrik yang mewakili tingkat kekayaan masyarakat dari desa-desa. Indikator A2 adalah pendidikan yang dapat mewakili kapasitas masyarakat di desa-desa dalam mengelola risiko. Semakin tinggi
80
pendidikan kapasitas mereka dalam mengelola risiko lebih baik. Indikator ini terdiri dari lima sub-indikator yaitu jumlah TK (N), SD (E), SMP (J) pada tingkat kelurahan dan jumlah SMA (H) pada tingkat kecamatan dan jumlah Universitas (U) pada tingkat kota. Semua nilai-nilai sub-indikator dinormalisasi berdasarkan populasi dari masing-masing Kelurahan. Penskoran dari nilia IA2 pada tiap kelurahan dihitung menggunakan rumus berikut:
IA2i= 1/Pi * (0.07*Ni+0.13*Ei+0.20*Ji) + 1/Pij*(0.27*Sj)+1/Pik*(0.33*Uk)
Dimana Pi, Pij, dan Pik adalah jumlah populasi pada kelurahan-i, kecamatan-j Kelurahan-i, dan kecamatan-k kelurahan-i. Karena nilai indikator sangat kecil, maka semua indikator dinormalkan dengan skor tertinggi untuk mendapatkan kisaran skor antara 0 dan 1. Indikator A3 merupakan sumber penghasilan utama masyarakat di kelurahan. Untuk kelurahan-kelurahan di mana sumber utama pendapatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh variabilitas iklim akan memiliki skor kapasitas rendah. Nilai indikator berdasarkan sumber utama pendapatan disajikan pada Tabel 5-2. Dalam kasus ini misalnya, kelurahan di mana pertanian merupakan sumber utama pendapatan masyarakat, maka nilai indikator adalah 0,25.
Tabel 5-2. Nilai indikator berdasarkan jenis sumber pendapatan utama di suatu kelurahan
No Sumber utama pendapatan Skor (nilai indikator)
1 Pertanian 0.25
2 Pertambangan dan industri 0.50 3 Perdagangan, transportasi dan bisnis komunikasi
dll.
0.75
4 Jasa 1.00
Indikator A4 adalah fasilitas kesehatan yang mewakili akses masyarakat ke fasilitas kesehatan. Semakin baik fasilitas kesehatan di Kelurahan maka kelurahan ini memiliki kapasitas yang lebih tinggi. Indikator ini lebih lanjut dibagi ke dalam 5 sub-indikator yaitu: jumlah Poliklinik (Pl), Posyandu (Ps), Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas, Pk), Klinik Bidan (B) dan Klinik Dokter (D). Semua nilai-nilai sub-indikator dinormalisasi dengan jumlah populasi Kelurahan yang bersangkutan. Nilai skor di setiap Kelurahan IA4 dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
IA4i= 1/Pi * (0.3*Pli+0.2*Psi+0.2*Pki+0.1*Bi+0.2*Di)
Karena nilai skor indikator ini sangat kecil, semua nilai dibagi dengan skor tertinggi untuk mendapatkan nilai-nilai skor indikator berkisar dari 0 hingga 1
Indikator 5 adalah jenis dominan dari infrastruktur jalan. Untuk data ini kita mendefinisikan desa di mana infrastruktur jalan yang dominan terbuat dari aspalt akan memiliki nilai 1 Sementara bagi mereka yang non-aspalt akan mempunyai nilai 0. Rumus untuk menghitung CI adalah sebagai berikut:
81 Aij ij j i w I CI * 5 1
∑
= =Di mana subskrip -ith mewakili desa -ith dan Wij adalah nilai bobot untuk indikator A-jth dari desa -ith. Pemilihan nilai-nilai bobot bersifat subjektif, didasarkan pada pemahaman dan pengetahuan para ahli pada tingkat relatif pentingya suatu indikator dalam menentukan tingkat kapasitas. Dengan rumus ini, semakin tinggi nilai indeks kapasitas, semakin tinggi kapasitas kelurahan.
Serupa dengan Indeks Kapasitas (CI), Indeks Kerentanan (VI) juga dikembangkan dengan menggunakan pendekatan yang sama. Ada delapan indikator utama (B1, ..., B8) sebagaimana ditetapkan dalam Tabel 4. Indikator B1 adalah persen dari rumah tangga di Kelurahan yang tinggal di tepi sungai. Karena nilai indikator ini akan sangat kecil, agar memiliki indikator nilai berkisar dari 0 hingga 1, maka semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dibagi dengan nilai maksimalnya. Indikator B2 adalah jumlah bangunan yang terletak di tepi sungai. Semua nilai-nilai indikator ini sudah dinormalisasi oleh jumlah maksimum bangunan yang terletak di tepi sungai.
Indikator B3 adalah fraksi dari Kelurahan yang menerima layanan air minum. Kelurahan di mana sebagian besar masyarakat mendapatkan air minum dari Perusahaan Air Minum Negara (PDAM) akan kurang rentan terhadap dampak kekeringan karena PDAM biasanya masih bisa mensuplai air minum pada semua musim (kering atau basah).
Nilai indikator ini dinormalisasikan dengan jumlah penduduk pada kelurahan tersebut. Karena nilai indikator ini akan sangat kecil, agar memiliki indikator nilai berkisar dari 0 hingga 1, maka semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dinormalkan dengan nilai maksimalnya. Nilai skor dari indikator ini adalah satu dikurangi dengan nilai skor yang telah dinormalkan tadi.
Indikator B4 adalah kepadatan penduduk di mana semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk maka akan lebih tinggi tingkat paparan dari masyarakat terhadap bencana. Hal ini menempatkan kelurahan tersebut lebih rentan. Untuk mendapatkan nilai-nilai dari indikator berkisar dari 0 hingga 1, semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dibagi dengan nilai maksimal.
B5 adalah indikator jumlah rumah tangga miskin. Nilai indikator ini adalah dinormalkan dengan ukuran penduduk Kelurahan. Indikator B6 adalah fraksi wilayah pesisir di Kelurahan. Kelurahan dengan fraksi pesisir tinggi akan lebih rentan daripada Kelurahan dengan fraksi pesisir kecil, karena tingkat pemaparan kelurahan ini terhadap dampak kenaikan permukaan laut akan lebih tinggi daripada yang terletak di pedalaman. Fraksi pesisir ditentukan dengan membagi daerah yang terkena gelombang pasang 100 m di setiap Kelurahan dengan luas wilayah Kelurahan tersebut(Gambar V-1). Hal ini dikarenakan genangan air pasang tinggi (rob) biasanya digunakan sebagai indikator dampak kenaikan permukaan air laut, sedangkan penambahan jarak 100 meter digunakan untuk mengantisipasi air pasang ekstrem.
82
Gambar 5-1.
Area pantai yang dipengaruhi oleh gelombang setinggi +100 m
Indikator B7 adalah fraksi sungai yang ditentukan berdasarkan urutan (order) sungai. Order sungai ditentukan dengan menggunakan metode Strahler (1986). Dalam metode ini, jaringan sungai dinotasikan sebagai angka berdasarkan tingkat (order). Bagian atas aliran sungai diberi nomor notasi sama dengan 1, dengan demikian, hal itu disebut sebagai order-1. Segmen sungai di mana kita dapat menemukan pertemuan antara order-1 didefinisikan sebagai order ke-2 sungai, dan pertemuan antara order-2 mewakili order ke-3. Berdasarkan aturan ini, bagian dari sungai yang terbentuk sebagai hasil dari pertemuan antara order tertentu dianggap sebagai tingkat order berikutnya. Namun, dalam kasus di mana dua order dengan tingkat yang berbeda bertemu di segmen tertentu, hal ini dapat mengacu pada order tertinggi. Gambar V-2A mengilustrasikan order tertinggi sungai ditandai dengan garis merah. Dalam kasus ini, sungai memiliki order-4 sebagai tingkat tertinggi. Urutan tertinggi ini biasanya diwakili oleh lokasi dari akumulasi aliran permukaan, yang sangat sering menjadi sasaran banjir. Dalam studi ini, ditargetkan luas wilayah banjir seperti yang ditunjukkan pada Gambar V-2B diasumsikan sejauh 100 meter ke kiri dan kanan sisi segmen. Indikator B8 mengindikasikan fraksi kelurahan yang tidak memiliki fasilitas drainase. Indikator B9 non-kawasan terbuka hijau yang akan menentukan kapasitas tanah dalam menyerap curah hujan. Semakin tinggi indikator ini, semakin tinggi tingkat kerentannya.
Area affected by tide+100 m
83
Gambar 5-2.Penentuan order aliran tertinggi (A) & pendugaan luas dari luapan air sungai (B)
Formula untuk menghitung CI adalah sebagai berikut:
Bij ij j i w I VI * 5 1
∑
= =Di mana subskrip -ith mewakili Kelurahan-ith dan Wij bersifat subjektif, didasarkan pada pemahaman dan pengetahuan para ahli pada tingkat kepentingan relatif dari suatu indikator dalam menentukan tingkat kapasitas. Dengan formula ini, semakin tinggi indeks, semakin rentan kelurahan ini.
5.2. Klasifikasi Kelurahan (Desa) Berdasarkan Indeks Kerentanan dan
Kapasitas
Untuk mengelompokkan desa-desa berdasarkan tingkat kerentanan dan kapasitas, semua nilai-nilai VI dan CI dari semua Kelurahan dikurangi 0,5. Sebagai VI dan nilai-nilai CI berkisar dari 0 hingga 1, dengan mengurangi nilai-nilai dengan indeks 0.5, maka nilai VI dan CI akan berkisar dari -0,5 ke 0,5. Posisi relatif Kelurahan menurut CI dan VI ditentukan berdasarkan posisi mereka di lima Kuadran seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5-3. Kelurahan yang terletak di Kuadran 5 akan memiliki CI rendah dan VI tinggi. Sedangkan kelurahan yang terletak di kuadran 1 akan mempunyai VI rendah dan CI tinggi. Berdasarkan sistem klasifikasi ini, jika kelurahan terletak di kuadran 5 terkena bencana tertentu, dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan kelurahan apabila kelurahan tersebut terletak di kuadran 1.
84
Gambar 5-3.
Pengelompokan kelurahan berdasarkan indikator kapasitas dan kerentanan Untuk menilai perubahan V dan C di masa depan, kami hanya mempertimbangkan perubahan kepadatan penduduk (berdasarkan proyeksi pemerintah), pendidikan dan non-kawasan terbuka hijau (berdasarkan perencanaan wilayah atau RTRW), ini dikarenakan tidak tersedianya data dari sumber lain. Faktor-faktor yang digunakan untuk normalisasi skor indikator pada 2025 dan 2050 adalah sama dengan tahun baseline 2005.
High Vulnerability Index Low Vulnerability Index High Capacity Index Low Capacity Index 5 1 2 4 3 +0.25 +0.50 -0.50 -0.25 -0.50 -0.25 +0.25 +0.50
85
Gambar 5-4.
Indeks Kerentanan dan Kapasitas Kelurahan (A)Baseline, (B) 2025, (C) 2050
Gambar 5-4 menunjukkan nilai indeks untuk kerentanan dan kapasitas untuk setiap kelurahan di Bandar Lampung. Pada kondisi baseline 2005, VI berkisar antara 0.23 hingga 0.51, pada tahun 2025 VI berkisar antara 0.22-0.52, sedangkan proyeksi untuk tahun 2050 VI berkisar antara 0.19 hingga 0.53. Berdasarkan hasil ini dapat dijelaskan bahwa tingkat kerentanan sedikit melebar, namun demikian masih dapat dianggap stabil, mengingat hasil analisis yang diperoleh unuk proyeksi ke depan (2050) pada level yang dapat dikatakan sama dengan kondisi baseline 2005. Hal ini mengindikasikan bahwa pada kondisi lingkungan yang sama kemampuan untuk beradaptasi lebih meningkat. Kondisi tersebut ditunjukkan pula dengan semakin meningkatnya nilai indeks CI. Pada tahun 2005, nilai CI bervariasi pada kisaran 0.29-0.96, tetapi proyeksi untuk tahun 2025 menunjukkan peningkatan yang signifikan 0.41-1.02, dan proyeksi pada tahun 2050 menunjukkan nilai indeks 0.43-1.05. Berdasarkan hasil proyeksi ini menunjukkan bahwa kemampuan kapasitas atau adaptasi masyarakat di Bandar Lampung cukup baik.
(A)
86
Figure 5-5.
Coping capacity index of Kelurahan of Lampung City (A)Baseline, (B) 2025, (C) 2050
Kondisi kerentanan dan kapasitas ditunjukkan mulai dari sangat rendah (hijau) hingga sangat tinggi (merah). Berdasarkan Gambar 5-5, terlihat bahwa kondisi baseline 2005 dan kondisi proyeksi pada tahun 2025 dan 2050 tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Namun demikian dari gambaran tahun 2050, terlihat bahwa pada sebagian daerah yang semula ditunjukkan dengan warna merah (sangat tinggi) berubah menjadi oranye (tinggi) dan pada sebagian daerah lain warna kuning (medium) berubah menjadi warna hijau (very low), artinya terjadi penurunan VI atau peningkatan CI. Meskipun ada juga sebagian kecil daerah yang semula berwarna kuning (medium) menjadi oranye (high), artinya terjadi peningkatan VI atau penurunan CI.
87 BAB 6