• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemetaan Peran Stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektor- sektor-sektor terkait dengan perubahan iklim

PEMERINTAH DAN KELEMBAGAAN DALAM KAJIAN KERENTANAN PERUBAHAN IKLIM

7.8. Pemetaan Peran Stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektor- sektor-sektor terkait dengan perubahan iklim

a. Program dan Kegiatan Pemerintah

Pemerintah daerah memegang peranan penting dalam mengatasi masalah yang dihadapi oleh daerahnya sebagai akibat dari dampak perubahan iklim global. Pemerintah pusat menyusun kerangka kebijakan dan pedoman dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan. Pemerintah daerah diharapkan mampu untuk mengatasai berbagai permasalahan yang muncul akibat dampak perubahan iklim.

Pada saat yang sama pemerintah daerah juga memiliki kewajiban yang cukup besar untuk membantu warganya dalam beradaptasi dengan perubahan iklim. Hal ini karena semakin banyaknya bencana yang terjadi akibat terjadinya perubahan iklim

110 seperti meluasnya banjir/rob, kegagalan panen, nelayan yang tidak dapat melaut karena gelombang tinggi dan hal-hal lainnya mengindikasikan bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak buruk bagi warga Indonesia.

Kota Bandar Lampung merupakan salah satu kota di Indonesia yang juga berpotensi akan menghadapi berbagai permasalahan sebagai akibat terjadinya perubahan iklim. Beberapa program kegiatan telah diinisiasi oleh pemerintah untuk menghadapi berbagai permasalahan yang baik secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan perubahan iklim sebagaimana yang tercantum dalam tabel 7-3 dibawah ini.

Tabel 7-3. Program yang terkait dengan Perubahan Iklim Tahun 2006 dan 2008

Urusan Program

2006 2008

Kesehatan Penurunan angka kesakitan

dan kematian akibat penyakit

Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Program Pengembangan Lingkungan Sehat Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular

Program PeProgram Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Anak Balita

Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Lansia

Program Peningkatan

Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak Lingkungan Hidup Pemulihan kualitas lingkungan hidup Program Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup

Pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup

Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam Penyusunan dokumen

perencanaan pengelolaan sumber daya alam dan ling. Hidup

Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan

Peningkatan kualitas dan akses informasi sumber daya alam dan lingkungan hidup.

Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau

Pemeliharaan ruang terbuka hijau, ornament kota, taman dan hutan kota

Pekejaan Umum

Program Pembangunan Saluran Drainase/Gorong-gorong Program

111

Urusan Program

2006 2008

Talud/Brojong

Program Pengendalian Penataan Ruang

Perencanaan Prasarana wilayah dan Sumber daya Alam

Kelautan dan perikanan*

Mitigasi Bencana Lingkungan Laut dan Pesisir

Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan

Sumber: Laporan Pertanggungjawaban Walikota Bandar Lampung 2007 dan 2009 *Kegiatan bersumber dari dana tugas pembantuan

Tabel tersebut menunjukkan masih terbatasnya jumlah program yang dilakukan oleh pemerintah kota Bandar Lampung untuk mengadatapsi terhadap perubahan iklim. Meski secara kuantitas jumlah program pada tahun 2008 telah meengkat akan tetapi hal tersebut masih dirasa belum mencukupi untuk menghadapi kota Bandar Lampung untuk mengantisipasi terjadinya perubahan iklim.

Kondisi serupa juga dapat dilihat dari jumlah anggaran yang dialokasikan untuk mendanai kegiatan-kegiatan tersebut. Pada tahun 2008, Pemko Bandar Lampung telah mengalokasikan dana yang bersumber dari APBD sejumlah Rp. 11., 16 Milyar untuk kegiatan yang berkaitan dengan perubahan iklim baik yang bersifat mitigasi maupun adaptasi. Dari sisi sektoral, jumlah anggaran yang dialokasi oleh pemerintah kota Bandar lampung cukup besar, khususnya anggaran untuk sektor lingkungan hidup yang mencapai 66 persen dari total anggaran sektor tersebut. Akan tetapi secara dilihat dari total persentase jumlah ini hanya sekitar 1 persen dari realisasi pengunaan APBD tahun 2008 yaitu sejumlah Rp. 772.8 Milyar. Artinya jumlah ini masih sangat kecil dibandingkan dengan program ataupun kegiatan lainnya. Namun demikian melalui anggaran dari pemerintah pusat yang disalurkan melalui anggaran tugas pembantuan, Pemko Bandar Lampung memberikan alokasi yang cukup besar untuk kegiatan mitigasi bencana yaitu sekitar 27 persen dari total anggaran yang ada yaitu sekitar Rp.1.5 Milyar - dari total alokasi anggaran lima sektor tersebut sebesar Rp. 5.6 Milyar.

Tabel 7-4. Jumlah Anggaran yang Terkait dengan Perubahan Iklim TA 2008

Urusan # Realisasi Anggaran %

Total Anggaran # Terkait PI

Kesehatan 21.992.326.800 3.287.689.400 15% Pekerjaan Umum 99.780.100.910 8.871.486.270 9% Lingkungan Hidup 3.336.054.325 2.217.201.950 66% Perencanaan Pembangunan 4.593.528.900 105.000.000 2% Perikanan dan Kelautan* 5.622.047.000 1.500.000.000 27% *Sumber dana Tugas Pembantuan Minimnya informasi tentang perubahan iklim merupakan salah satu alasan yang menyebabkan hal ini terjadi. Karena pada dasarnya kegiatan yang dirumuskan oleh pemerintah daerah tersebut merupakan kegiatan rutin yang biasa dilakukan untuk mengatasi permasalahan perkotaan. Artinya program yang dilakukan tidak

112

secara khusus ditujukan untuk mengatasi permasalahan yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Namun dengan adanya informasi dan pengetahuan tentang bahaya akibat dari perubahan iklim terhadap daerah dan masyarakat Kota Bandar Lampung diharapkan pemerintah kota Bandar Lampung dimasa mendatang akan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap program yang bertujuan untuk mengadaptasi perubahan iklim.

b. Program dan Kegiatan yang berasal dari Pusat

Selain program-program pemerintah, pemerintah pusat juga telah melakukan beberapa program yang berkaitan dengan perubahan iklim di Kota Bandar Lampung diantaranya melalui program NUSSP dan PNPM Mandiri Perkotaan. Dalam pelaksanaannya kedua program ini juga mengharuskan adanya kontribusi dari pemerintah daerah.

Sebagai Ibu Kota Propinsi, Kota Bandar Lampung menjadi magnet bagi penduduk disekitar kota tersebut untuk datang dan mencari pekerjaan di kota ini. Tingginya laju urbanisasi namun tidak didukung dengan kemampuan sumber daya yang datang mengakibatkan kota menghadapi masalah dalam penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur. Pada akhirnya hal ini melahirkan kawasan kumuh di kota.

Untuk menghadapi hal tersebut, pemerintah kota Bandar Lampung bekerjasama dengan Pemerintah Pusat melakukan kegiatan Neighborhood Upgrading and Shelter Sector Project (NUSSP) dengan menggunakan dana pinjaman dari Asian Development Bank (ADB) yang bertujuan untuk membantu pemerintah dalam mengurangi/menurunkan tingkat kemiskinan di perkotaan melalui kemitraan antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat.

Anggaran proyek ini merupakan cost sharing dengan perbandingan 60 : 40 antara loan ADB dan APBD Kota Bandar Lampung dalam kurun waktu 4 tahun (2006 sampai dengan 2009). Perbandingan ini sesuai dengan kapasitas fiskal Kota bandar Lampung. Tabel berikut menggambarkan besaran dana dan cost sharing proyek NUSSP di Kota Bandar Lampung:

Tabel 7-5 Besaran Anggaran Dana Program NUSSP di Kota Bandar Lampung (dalam Milyar Rph)

2006 2007 2008

ADB Pemda ADB Pemda ADB Pemda

4.38 3.21 2.63 1.75 5.9 2.5

Total 7.6 4.3 8.4

Adapun jenis kegiatan yang dilaksanakan dalam proyek NUSSP ini adalah adalah pembangunan, peningkatan dan pemeliharaan infrastruktur primer (premiere works) dilingkungan perumahan dan permukiman kumuh yang meliputi : jalan setapak, jalan lingkungan, persampahan, air bersih, drainase, MCK, dan penerangan jalan. Kesemua kegiatan ini pada akhirnya ingin mengatasi permasalahan permukiman kumuh (slum area) di kota Bandar Lampung yang merupakan persoalan manajemen pembangunan dan pemukiman perkotaan yang kompleks serta merupakan dampak dari berbagai kebijakan pembangunan. Adapun kegiatan-kegiatan dan lokasi pelaksanaan program ini selama tahun 2008 di Kota Bandar Lampung adalah sebagai berikut:

113

Tabel 7-6 Kegiatan dan sebaran Kegiatan PNPM Mandiri di Kota Bandar Lampung tahun 2008

Kegiatan Volume Sebaran Lokasi

Jalan Setapak Penghubung 14,425 km • Kel. Srengsem, Kec. Panjang • Kel. Way Laga, Kec. Panjang • Kel. Way Gubag, Kec. Panjang • Kel. Keteguhan, Kec. Teluk

Betung Barat

• Kel. Bakung, Kec. Teluk Betung Barat

• Kel. Kuripan, Kec. Teluk Betung Barat

• Kel. Sukarame, Kec. Teluk Betung Barat

• Kel. Teluk Betung, Kec. Teluk Betung Selatan

• Kel. Garuntang, Kec. Teluk Betung Selatan

• Kel. Pecoh Raya, Kec. Teluk Betung Selatan

• Kel. Way Lunik, Kec. Teluk Betung Selatan

• Kel. Ketapang, Kec. Teluk Betung Selatan

Tempat Sampah RT 365 Unit

Jalan Lingkungan (Jalan Penghubung)

36 m Saluran Terbuka (Drainase) 636 m Plat Duiker (Drainase) 34 m2 Gorong-gorong (Drainase) 2 m Bangunan Pelengkap (drainase) 66 unit

Alat Angkut Sampah 109 unit

Tong Sampah komunal 92 unit

MCK 17 unit

Sumur Dalam (Air Bersih) 8 Unit

Lampu Jalan 286 Unit

Luas Area Kumuh yang Difasilitasi 142,6 Ha Jumlah KK yang Merasakan

manfaat

12.039 KK

Program lainnya yang juga memberikan kontribusi terhadap perbaikan kualitas kota Bandar Lampung adalah Program PNPM Mandiri Perkotaan. Keikutsertaan Kota Bandar Lampung dalam program ini merupakan upaya pemerintah kota untuk mengatasi masalah kemiskinan yang dihadapi oleh kota Bandar Lampung dan sekaligus memperbaiki infrastruktur perkotaan. Untuk tahun anggaran 2010, PNPM Mandiri Perkotaan akan dilaksanakan di 13 wilayah di Kota Bandar Lampung dengan total anggaran sejumlah : Rp. 18.52 Milyar,- yang terdiri dari Rp.15.5 Milyar berasal dari program dan Rp. 3.17 Milyar yang berasal dari Pemerintah Kota Bandar Lampung.

Kedua program yang sedang dilaksanakan olh Pemerintah Kota Bandar Lampung serta program-program lainnya menujukkan upaya yang menerus dilakukan oleh pemerintah kota Bandar Lampung untuk meningkatkan kemampuan masyarakat yang secara tidak langsung juga meningkatkan ketahanan mereka untuk menghadapi terjadinya perubahan iklim.

7.9. Analisis kapasitas kepemerintahan dan kelembagaan dalam rangka