Pengalaman PATTIRO melalui Survei Ciizen Report Card
(CRC) atau Kartu Penilaian Warga yakni Survei Penilaian atas pelayanan publik yang diterima oleh warga masyarakat di suatu wilayah dari penyedia layanan/ pemerintah masih menunjukkan indikasi adanya pungutan pendidikan.
Program ini pertama kali dikembangkan di Bangalore, India tahun 1993. Survei ini menilai pelayanan publik dari beberapa aspek di antaranya aspek ketersediaan pelayanan, keberterimaan pelayanan, performa kinerja pelayanan (termasuk petugas), kualitas sampai ke kepuasan layanan di lebih dari 30 Kota/ Kabupaten di Indonesia sejak tahun 2006 sampai awal tahun 2014. Hasil survei menunjukkan masih adanya kecenderungan pungutan yang harus dibayar oleh peserta didik. Berbagai biaya tersebut di antaranya adalah biaya ekstrakurikuler, praktek, komite, penyediaan peralatan (komputer dan alat bantu belajar), tambahan perlengkapan sekolah, pengecatan, sumbangan kemaian dan kelahiran, buku dan photocopi buku pelajaran, sampai ke acara-acara keagamaan seperi peringatan
mENDORONg TATA KELOLA
41
Kegiatan ekstrakurikuler sangat tergantung pada kebijakan sekolah. Seidaknya ada beberapa contoh kegiatan ekstrakurikuler yang dapat menjadi alasan untuk melakukan pungutan. Kegiatan ekstrakurikuler dibagi berdasarkan jenisnya menjadi ; (1) Krida seperi kepramukaan, Laihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), OSIS, dst. (2) Kegiatan karya ilmiah seperi Karya Ilmiah Remaja (KIR), penguasaan dan pendalaman ilmu pengetahuan, peneliian, penulisan karya ilmiah lain dan sejenisnya, dan yang terakhir (3) adalah kegiatan ekstrakurikuler berupa laihan/olah bakat/prestasi melipui pengembangan bakat olah raga, seni, budaya, cinta alam, jurnalisik, teater, keagamaan, musik, marching band, marawis, dst.
Semakin luasnya cakupan kegiatan ekstrakurikuler, pada tahun 2013 pemerintah mengatur kegiatan ekstrakurikuler dalam kurikulum 2013. Pembenahan ini diatur melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 81 A Tahun 2013, di mana dalam kurikulum 2013 kegiatan ekstrakurikuler dikelompokkan mejadi dua; yakni ekstrakurikuler wajib dan ekstrakurikuler pilihan. Kegiatan kepramukaan ditetapkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib dari sedkolah dasar (SD/ MI) hingga sekolah menengah atas (SMA/SMK) melalui kerjasama dengan organisasi kepramukaan setempat. Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler pilihan di antaranya OSIS, UKS, dan PMR serta kegiatan ekstrakurikuler berbentuk kelompok atau klub yang dikembangkan berkenaan dengan konten suatu mata pelajaran, misalnya klub olahraga (bola, voli, basket, bulu tangkis, dst) atau ekstrakurikuler yang dikembangkan dari peserta didik seperi klub tari, paskibra, menyanyi, melukis, teater, kesenian, klub diskusi, sastra, drama, klub bela diri, silat, karate, judo, klub pecinta komputer, otomoif, elektronika, matemaika, bahasa inggris, klub pecinta alam, pertanian, daur ulang, pekerja sosial, polisi lalu lintas, perkumpulan pengelola tempat ibadah, rohis dan kelompok peduli yaim.
Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler berpotensi menimbulkan pungutan baik yang “legal maupun ilegal”. Namun ini semua idak dapat langsung dibukikan. Berbagai modus pungutan atas kegiatan ekstrakurikuler di antaranya adalah sebagai berikut; (1) pembayaran sekali/ Dalam modus ini, kegiatan ekstrakurikuler sudah termasuk dalam uaang pangkal (uang sumbangan saat pertama kali peserta didik masuk sekolah); (2) kegiatan ekstrakurikuler pembayaran berkala, dilakukan per bulan; 3 bulan, semester atau per tahun. Biasanya berjenis kegiatan ekstrakurikuler pilihan berbentuk kelompok seperi klub olah raga, seni, dan peminatan khusus lainnya. Pungutan akan dilakukan saat penerimaan raport semesteran, atau langsung oleh paniia pelaksana saat peserta didik belum melakukan pembayaran;(3) pembayaran sewaktu-waktu, kegiatan ekstrakurikuler pilihan sesuai dengan even atau kegiatan dalam rangka peringatan perisiwa besar, perlombaan, atau bersifat kunjungan. Kegiatan ekstrakurikuler kompeisi antar kelas, antar sekolah, promosi antar sekolah merupakan akivitas yang membutuhkan biaya tambahan. Pembayaran dilakukan sewaktu-waktu, di mana sekolah berargumen bahwa dana yang disediakan sekolah idak mencukupi untuk melakukan pembayaran trainer/pelaih, narasumber, pihak keiga dan kebutuhan perlengkapan dan peralatan yang belum memadahi; (4) Pembayaran mendadak. Modus ini dilakukan keika kegiatan ekstrakurikuler menjadi pilihan yang sifatnya mendadak. Modus awalnya berupa sumbangan sukarela kemudian menjadi kebiasaan yang secara informal menjadi kebiasaan sekolah. Seperi persiapan perpisahan sekolah yang ditempelkan pada kegiatan ekstrakurikuler pilihan lain. Biasanya juga ditambahkan pungutan mendadak, misalnya pelaih ekstrakurikuler mendadak ulang tahun, hajatan, pindah kerja, atau kegiatan sumbangan keagamaan dalam rangka suatu perisiwa pening yang dilekatkan pada kegiatan ekstrakurikuler pilihan lainnya.
mENDORONg TATA KELOLA
43
Modus pembenaran atas pungutan pada kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan di antaranya; (1) sudah mendapat persetujuan dari komite sekolah, (2) sesuai dengan program yang telah dicanangkan pihak sekolah, dinas atau pemerintah daerah, (3) kesepakatan rapat orang tua wali murid, (4) sudah menjadi tradisi sekolah, (5) sesuai edaran dinas atau kepala daerah, (6) membawa nama baik sekolah dan daerah, (7) mengajarkan anak pada nilai-nilai tertentu (agama), (8) jumlahnya idak seberapa, jika agak besar bisa dicicil dan idak memberatkan, (9) orang tua lain sudah setuju, (10) kegiatan berpengaruh pada nilai rapor atau kelulusan, dan (11) buat kenang-kenangan.
Jumlah nominal pungutan sangat tergantung pada lingkungan sekolah, kebiasaan dan bentuk kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan. Bentuk ekstrakurikuler yang bervariasi dan memiliki kekhususan (idak semua peserta didik ikut), menyebabkan jumlah nominal dianggap wajar. Besaran itu mulai Rp 1.000,-, Rp 2.000,-, Rp 3.000,-, Rp 5.000,-, Rp 10.000,-, Rp 20.000,- sd Rp 50.000,- untuk seiap kali kegiatan ekstrakurikuler, dengan waktu kegiatan dalam 1 minggu antara 1-2 hari.
Kegiatan ekstrakurikuler bisa menjadi semakin melenceng dari tujuannya keika ada aspek psikologis yang muncul sebab seringkali guru pengasuh ekstrakurikuler juga adalah guru mata pelajaran atau guru kelas. Situasi ini menciptakan ekslusivisme peserta didik dan orang tua peserta didik yang merasa ‘aman’ karena telah ‘membayar’ pada pengasuh ekstrakurikuler. Terlebih keika jenis ekstrakurikuler itu menonjolkan kegiatan dan perlengkapan yang ‘mahal’. Siswa yang menjadi peserta dari ekstrakurikuler tersebut memiliki kebanggaan tersendiri meskipun harus ‘membayar lebih’. Kedua pihak merasa dalam posisi benar dan wajar. Padahal kecenderungan kegiatan ekstrakurikuler seperi ini telah melahirkan kebanggaan semu. Tujuan utama dalam belajar dikalahkan kegiatan ekstrakurikuler.
Di beberapa sekolah, dalam studi PATTIRO, praktek pungutan menjadi ‘biasa’ dan mendapat pemakluman. Ironisnya, sekolah, terutama guru bidang tertentu, menilai pungutan dianggap sebagai hal wajar. Bentuk kewajaran akan sangat kentara keika berhubungan dengan sumbangan atas peringatan hari-hari besar agama, sumbangan keagamaan seperi infak, shodaqoh dan semacamnya. Yang menarik, sumbangan atau pungutan tersebut dilakukan melalui surat edaran. Jenis dan jumlah besaran ditetapkan, sampai ada semacam ‘sangsi’ sosial yang bisa diterima peserta didik jika idak memberikan sumbangan tersebut. Ada kalanya sumbangan dihubungkan dengan penilaian proses belajar-mengajar. Situasi ini idak hanya terjadi di Pulau Jawa tapi juga sudah meluas ke luar Pulau Jawa. Berbagai efek dan dampak lanjutan atas pungutan-pungutan yang idak transparan menimbulkan kesenjangan dan
kecemburuan tersendiri bagi peserta didik maupun orang tua
yang memiliki keterbatasan dana untuk bisa bergabung, bahkan mereka merasa dikucilkan. Keika pungutan dianggap wajar dan biasa, sigma mutu akan selalu dikaitkan dengan pembiayaan lebih. Pihak sekolah selalu punya alasan untuk selalu menarik pungutan baik legal maupun ilegal. Sekolah menjadi sebuah lingkungan moral yang idak kondusif, jauh dari transparansi, menghilangkan semangat saling membantu. Padahal, lembaga pendidikan semesinya lebih mengutamakan integritas moral, menumbuhkan budaya hormat dan menjadi contoh perilaku jujur.