untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi
Seiap anak butuh belajar dengan dukungan dan lingkungan yang kondusif. Tidak hanya anak normal, penyandang disabilitas juga butuh pengetahuan
dan kesempatan yang sama.
a. Pengantar
Anak terlahir ke dunia idak pernah meminta dirinya dilahirkan dalam kondisi “berkelainan”, tuna, terlahir sebagai laki-laki, perempuan, utuh anggotanya atau ada yang kurang dalam dirinya dan menyandang disabilitas. Semua itu adalah anugerah kodrai dari Tuhan. Karena itu, para penyandang disabilitas
juga mempunyai hak dan keinginan yang sama sebagaimana
anak-anak pada umumnya, ingin bertumbuh, berkembang dan berhasil dalam menii karir hidupnya.
Memberikan hak pendidikan kepada siapapun tanpa pandang bulu adalah bagian dari perlindungan terhadap hak azasi manusia, seperi hak mendapatkan pendidikan berkualitas, hidup produkif, bebas dari diskriminasi serta mendapatkan akses dan kesempatan yang sama di semua aspek kehidupan.
Di antara hak dasar itu, yang harus dipenuhi adalah hak pendidikan, nimimal pendidikan terhadap anak di usia sekolah. Hak pendidikan anak ini pening karena seiap manusia lahir telah dibekali perangkat potensi kecerdasan otak yang menjadi ciri pembeda dengan mahluk-makhluk yang lain. Potensi tersebut idak akan berkembang dengan baik kalau idak melalui proses pendidikan. Seiap anak, termasuk anak dengan disabilitas juga memiliki hak untuk belajar untuk menyempurnakan dirinya
agar dapat tumbuh kembang dan mendapatkan kehidupan
yang layak.
Kesempatan belajar harus diberikan kepada semua generasi
dan pemerintah sebagai pemangku kebijakan harus memenuhi
kewajibannya, yaitu memberikan hak pendidikan kepada seluruh warganya, tanpa pengecualian. Namun, peran pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa belum maksimal. Ini terbuki masih kurang dikembangkannya sekolah-sekolah inklusif yang bisa menampung penyandang disabilitas sebagai siswa yang sepadan dengan anak-anak lain.
Direktorat Pendidikan Sekolah Luar Biasa (PSLB) tahun 2007 menyebutkan bahwa jumlah difabel yang sudah mengikui pendidikan formal baru mencapai 24,7 persen atau 78.689 anak dari populasi anak difabel di Indonesia, yaitu 318.600 anak (Directorat PSLB, 2008). Ini berari masih terdapat sebanyak 65,3 persen anak difabel yang masih terseklusi dan terabaikan hak pendidikannya. Di tahun 2012 jumlah warga dengan disabilitas cukup besar, yaitu 10 persen dari total populasi (TNP2K, 2012). Versi lain adalah dari WHO yang menyebutkan ada lebih 15 persen penyandang disabilitas di seiap negara berkembang seperi Indonesia (‘World Report on Disability [WHO 2012]). Dari jumlah tersebut, pada 2013 anak berkebutuhan khusus yang telah tertangani dan masuk dalam pendidikan inklusif baru 116.000 anak dari total 300.000 anak, selebihnya masih
PENDIDIKAN INKLUSIF
99
di bawah asuhan orang tua masing-masing.1 Penyandang
disabilitas usia 0-14 tahun mencapai sekitar 4,5 juta jiwa. Lembaga-lembaga Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berjumlah 2.456 buah (2012/2013) hanya mampu menampung sebanyak
89.223 siswa2. Angka tersebut bahkan diperkirakan dapat jauh
lebih besar mengingat sistem pendataan kependudukan kita sering idak akurat. Anak-anak ini adalah bagian dari data angka putus sekolah yang bukan hanya pada ingkat pendidikan 12 tahun atau seingkat SLTA, tapi juga SLTP atau setara dengan 9 tahun.
Tantangan global mewajibkan kita untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Persaingan sumber daya manusia hanya bisa kita jalani bila pemerintah mampu mencerdaskan warga bangsanya terlebih dahulu. Banyaknya angkatan kerja lulusan SD mewajibkan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan, seidaknya sampai tamatan SMA. Peluang kerja buruh pabrik pun sekarang sudah mempersyaratkan minimal SMA.
Pendidikan inklusif tanpa diskriminasi harus dapat menjadi kenyataan bagi anak-anak Indonesia. Pendidikan harus dapat diakses oleh siapapun, kapanpun dan di daerah manapun. Pendidikan merupakan kebutuhan dasar seiap manusia untuk menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih bermartabat. Negara memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada seiap warganya tanpa pengecualian, termasuk anak-anak difabel seperi yang tertuang pada UUD 1945 pasal 31 (1). Penyelengaraan sistem pendidikan inklusi merupakan salah satu syarat yang harus terpenuhi untuk
membangun tatanan masyarakat inklusi (inclusive society),
1 htp://i2014.solider.or.id/info/pendidikan-inklusif-dan-anak-berkebutuh-
an-khusus/
2 New Indonesia, Laporan Pendidikan 12 tahun di Komisi X DPR-RI, Agustus
yaitu sebuah tatanan masyarakat yang saling menghormai dan menjunjung inggi nilai – nilai keberagaman sebagai bagian dari realitas kehidupan.
Pemerintah melalui PP.No.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 41(1) telah mendorong terwujudnya sistem pendidikan inklusi dengan menyatakan bahwa seiap satuan pendidikan yang melaksanakan pendidikan inklusi harus memiliki tenaga kependidikan yang mempunyai kompetensi menyelenggarakan pembelajaran bagi peserta didik dengan kebutuhan khusus.
Peran pemerintah dalam mengupayakan pendidikan bagi para penyandang difabel masih belum maksimal. Yang cukup memprihainkan adalah anak-anak difabel jika ingin menempuh jenjang pendidikan harus berada bersama dengan teman- teman senasibnya. Negara seolah menyetujui atau membiarkan pemberlakuan kebijakan terhadap penyandang disabilitas untuk menyingkir dari kehidupan manusia pada umumnya. Upaya ini dilabeli dengan isilah “Sekolah Luar Biasa”, yang pada hakikatnya adalah sebuah penyingkiran atau eksklusi.
Situasi ini terjadi karena masyarakat belum siap menerima keberagaman dan memunculkan segmentasi lembaga pendidikan yang berdasar pada perbedaan agama, etnis, dan bahkan perbedaan kemampuan baik isik maupun mental yang dimiliki oleh siswa. Segmentasi lembaga pendidikan ini telah menghambat para siswa untuk dapat belajar menghormai realitas keberagaman dalam masyarakat, jauh dari falsafah bangsa yang berpegang kuat pada “bhineka tunggal ika”. Bila pemerintah masih terus melanjutkan segregasi terhadap penyandang disabilitas, pemerintah sesungguhnya sedang
membiarkan 3 persoalan sosial menjadi bom waktu. Pertama,
PENDIDIKAN INKLUSIF
101
pendidikan seinggi apapun akan merasa inferior saat bertemu anak-anak yang non-disabel (isik). Mereka akan sulit untuk
berkembang mensesuaikan kehidupan masyarakat pada
umumnya. Kedua, anak difabel seinggi apapun pendidikannya
tetap akan sulit untuk mendapatkan pekerjaannya, kecuali bekerja ditempatnya semula, yaitu mengurus difabel lagi.
Keiga, pandangan negaif masyarakat terhadap anak difabel sebagai “beban sosial” akan makin mengakar kuat, sehingga kalaupun ada perusahaan atau perorangan mempekerjakan mereka, perlakuan itu disasari atas rasa belas kasihan, daripada penghargaa terhadap individu dan kemampuannya.
B. Pengerian Inklusif dan Pendidikan Inklusif
Secara eimologis kata inklusif berasal dari kata include yang
berari menjadi bagian dari sesuatu [being a part of something],
menyatu dalam kesatuan [being embraced into the whole].
Lawan katanya adalah exclude yang berari “to keep out, to
bar, or to expel” (Villa; Thousand, 2005). Adapun secara Isilah; inklusif memiliki pemahaman yang sangat universal. Isilah inklusif dapat dikaitkan dengan persamaan, keadilan, dan hak individual dalam pembagian sumber-sumber seperi poliik, sosial, pendidikan dan ekonomi. Menurut Reid, masing-masing dari aspek-aspek tersebut idak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan satu sama lain.
Dalam konteks pendidikan, inklusi merujuk kepada keadilan dalam mengakses atau memperoleh kesempatan pendidikan bagi seiap warga masyarakat yang mempunyai latar belakang berbeda. Stainback (1990) mendeinisikan Sekolah Inklusif adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Staub dan Peck (1995) mengemukakan bahwa Pendidikan Inklusif adalah Penempatan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
ingkat ringan, sedang dan berat, secara penuh di kelas reguler. Sedangkan Sapon-Shevin (O’ Neil 1995) menyatakan bahwa Pendidikan inklusi sebagai sistem layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar ABK dilayani di sekolah-sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya. Dengan kata lain, pendidikan inklusi adalah pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengopimalkan potensi yang dimilikinya (Stainback, 1980), Salim Choiri, 2009: 88).
Fuad Fahrudin mencatat, seidaknya ada iga unsur dalam pendidikan inklusif; (1) sikap posiif atau inklusif terhadap anak- anak yang memiliki kelainan, (2) rasa eikasi yang inggi terhadap pembelajaran, dan (3) kemauan dan kemampuan melakukan
adaptasi terhadap pengajaran berdasarkan kebutuhan dan
kelainan individu (Loreman: Earle: Chris, 2007).