• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Pembiayaan Pendidikan Dasar 12 Tahun

Dalam dokumen Buku Peta Jalan Pendidikan 12 Tahun (Halaman 155-161)

REvITALISASI KEBIJAKAN ANggARAN PENDIDIKAN

B. Realitas anggaran Pendidikan

2. Kerangka Pembiayaan Pendidikan Dasar 12 Tahun

Anggaran pendidikan berdasarkan APBN Perubahan tahun 2015 sebesar Rp408,5 triliun yang terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp154,4 triliun dan belanja transfer ke

daerah Rp254,2 triliun. Sedangkan pada RAPBN tahun 2016 mengalami peningkatan secara nominal menjadi Rp424,8 triliun yang dikelola melalui belanja pemerintah pusat Rp143,8 triliun, belanja transfer Rp275,9 triliun dan pengeluaran pembiayaan Rp5,0 triliun.

Menurut UNESCO, pagu ideal anggaran pendidikan bagi seiap Negara untuk menjamin pemerataan pelayanan yang berkualitas adalah paling sedikit sama dengan 6 persen dari Produk Domesik Bruto (PDB). Adapun rasio anggaran pendidikan Indonesia tahun 2015 adalah 4,0 persen dari PDB. Sedangkan rasio pada RAPBN 2016 mengalami sedikit peningkatan menjadi 4,2 persen.

Proyeksi kebutuhan biaya dapat dihitung melalui pendekatan satuan biaya seiap siswa berdasarkan jenjang pendidikan dengan merujuk kepada Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan satuan biaya pendidkan total faktual seiap sekolah. Perhitungan pendanaan pendidikan sendiri telah diatur di dalam Peraturan Pemerintah No. 48 tahun 2008, pasal 3 ayat (1) yang secara jelas memberikan kategorisasi pembiayaan yaitu melipui: a) biaya satuan pendidikan; b) biaya penyelenggaraan dan/ atau pengelolaan pendidikan; dan c) biaya pribadi peserta didik.

Kebutuhan biaya pendidikan berdasarkan SPM pernah dihitung oleh Abbas Ghozali yang menetapkan satuan biaya untuk SD/MI sebesar Rp4,05 juta, SMP/MTs Rp6,24 juta, SMA/MA Rp6,23 juta, dan SMK Rp8,17 juta. Di sisi lain, perhitungan biaya satuan pendidikan total faktual juga pernah dihitung oleh Nei Budiwai dengan menetapkan kebutuhan tersebut secara total berdasarkan jenjang pendidikan melipui penggabungan biaya satuan, biaya penyelenggaraan dan biaya pribadi. Sedangkan pada

REvITALISASI KEbIJAKAN ANggARAN PENDIDIKAN DASAR 12 TAHUN

 137

perhitungan Prof. Zamroni, Ph.D dkk.

Desain kerangka esimasi pembiayaan berdasarkan periode pemerintahan jangka menengah. Mengingat skenario jangka panjang diperhitungkan sampai tahun 2030, maka proyeksinya akan melipui iga periode pemerintahan yaitu 2015-2019, 2020-2024, dan 2025-2029. Hal itu dapat dilakukan dengan memperhitungkan tren pertumbuhan penduduk usia sekolah dalam lima tahun terakhir.

Skenario 1:

Biaya Satuan Pendidikan Total Faktual tahun 2005 yang pernah dijadikan rujukan pemerintah dalam memperhitungkan biaya satuan pendidikan tahun 2009.

Tabel 4 – esimasi Satuan Biaya Berdasarkan BSPT Faktual

No Jenjang Pendidikan Jumlah Sekolah 2014 BSPT Faktual Jumlah (Rp) 1 SD 148.272 8.401.500.000 1.245.707.208.000.000 2 MI 23.678 8.440.000.000 199.842.320.000.000 3 SMP 35.488 10.255.000.000 363.929.440.000.000 4 MTs 16.283 9.794.500.000 159.483.843.500.000 5 SMA 12.409 12.362.500.000 153.406.262.500.000 6 MA 7.260 11.775.500.000 85.490.130.000.000 7 SMK 11.726 11.329.500.000 132.849.717.000.000 TOTAL 2.340.708.921.000.000 Persentase terhadap PDB 2014 23,2%

Proporsi Pembiayaan Masyarakat 20 persen 468.141.784.200.000 Proporsi Pembiayaan Negara 80 persen 1.872.567.136.800.000

Biaya Satua Pendidikan Total (BSPT) Faktual berdasarkan harga konstan tahun 2005. Kemudian biaya satuan tersebut dikalikan dengan jumlah sekolah SD, MI, SMP, MTs, SMA, SMK, dan MA yang telah dipublikasikan oleh BPS tahun 2014.

BSPT Faktual dimaksud adalah melipui gaji dan tunjangan pendidik, operasional non gaji, dan investasi termasuk diskresi yang menjadi tanggungjawab negara. Selain itu

juga merupakan bagian perhitungan atas kebutuhan pembiayaan pendidikan yang menjadi tanggungjawab

masyarakat. Total kebutuhan tahunan dari simulasi di atas adalah sebesar Rp2.340,7 triliun atau sama dengan 23,2 persen PDB tahun 2014.

Total kebutuhan tersebut kemudian dibagi ke dalam dua kategori yaitu 80 persen pembiayaan oleh Negara sehingga menjadi Rp1.872,5 triliun dan 20 persen pembiayaan oleh masyarakat sebesar Rp468,1 triliun. Arinya tanggung jawab bersih Negara secara tahunan terhadap pembiayaan pendidikan dasar 12 tahun adalah sebesar 18,5 persen dari

PDB atau iga kali lipat lebih besar dari benchmark UNESCO

apabila pelayanan pendidikan benar-benar dicita-citakan secara merata dan berkualitas di masa yang akan datang.

Skenario 2:

Biaya Satuan Pendidikan berdasarkan SPM dikalikan dengan jumlah siswa SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA tahun 2014

REvITALISASI KEbIJAKAN ANggARAN PENDIDIKAN DASAR 12 TAHUN

 139

Tabel 5 – esimasi Satuan Biaya Berdasarkan SPm No Jenjang

Pendidikan Jumlah Siswa

Biaya Satuan (SPM) Jumlah (Rp) 1 SD 26.508.500 4.057.104 107.547.741.384.000 2 MI 3.290.240 4.057.104 13.348.845.864.960 3 SMP 12.672.700 6.249.393 79.196.682.671.100 4 MTs 2.817.027 6.249.393 17.604.708.814.611 5 SMA 4.235.774 8.710.662 36.896.395.622.388 6 SMK 4.157.682 12.253.769 50.947.274.803.458 7 SMLB 7.110 8.710.662 61.932.806.820 8 MA 1.414.554 8.710.662 12.321.701.774.748 TOTAL 317.925.283.742.085 Persentase terhadap PDB 2014 3,1%

Perhitungan pada skenario pertama ini merujuk kepada

hasil Studi Kebutuhan Pendidikan 12 Tahun Di Indonesia tahun 2014 yang telah dikerjakan oleh NEW Indonesia, Bina Swadaya Konsultan dan LPES.

Hasil simulasi tersebut kemudian dilengkapi dengan jumlah siswa secara lebih terperinci berdasarkan jenjang pendidikan sesuai dengan data Badan Pusat Staisik (BPS) tahun 2014. Sehingga esimasi kebutuhan tahunan pembiayaan pendidikan dasar 12 tahun diperhitungkan sebesar Rp317,9 triliun atau sama dengan 3,1 persen dari Produk Domesik Bruto (PDB) tahun 2014. Rasio ini masih

berada dibawah internaional benchmark yang telah ditetapkan oleh UNESCO tahun 2010.

Catatan pening dari perhitungan satuan biaya diatas adalah bahwa kebutuhan yang dimaksudkan belum termasuk biaya operasional dan biaya penyelenggaraan pendidikan. Sehingga apabila dua komponen lain pendanaan pendidikan tersebut digabungkan, maka target rasio minimal sebesar

6 persen dari PDB seiap tahun akan dapat dipenuhi sejak tahun 2016 sampai tahun 2030.

Skenario 3:

Esimasi Anggaran Pendidikan Dasar berdasarkan SPM dikalikan dengan jumlah siswa SD/MI dan SMP/MTs tahun 2014

Tabel 6 – esimasi anggaran Pendidikan dasar Berdasarkan SPm No Jenjang Pendidikan Jumlah Siswa Esimasi Anggaran Jumlah (Rp) 1 SD 26.508.500 2.952.000 78.253.092.000.000 2 MI 3.290.240 2.952.000 9.712.788.480.000 3 SMP 12.672.700 3.864.000 48.967.312.800.000 4 MTs 2.817.027 3.864.000 10.884.992.328.000 TOTAL 147.818.185.608.000 Persentase terhadap PDB 2014 1,5%

Proporsi Pembiayaan Masyarakat 20 persen 29.563.637.121.600 Proporsi Pembiayaan Negara 80 persen 118.254.548.486.400 Pada tahun 2010 Prof. Zamroni, Ph.D dkk dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, telah merilis hasil peneliian tentang Esimasi Anggaran Pendidikan Dasar

Melalui Penghitungan Unit Cost Guna Mewujudkan

Pendidikan Terjangkau di Daerah Isimewa Yogyakarta, dengan ruang lingkung jenjang Sekolah Dasar (SD) sederajat dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat.

Hasil kajian tersebut menjadi salah satu rujukan akademis yang tersedia dan layak untuk dijadikan acuan dalam

menghitung opsi pembiayaan pendidikan dasar sebagai

REvITALISASI KEbIJAKAN ANggARAN PENDIDIKAN DASAR 12 TAHUN

 141

cost siswa SD sederajat seiap bulan adalah Rp246.000 atau

sama dengan Rp2.952.000 per-tahun. Sedangkan unit cost

siswa SMP sederajat adalah Rp322.000 atau sama dengan Rp3.864.000 per-tahun.

Apabila diperhitungkan dengan jumlah siswa masing-masing

jenjang berdasarkan data BPS tahun 2014 maka unit cost

SD sederajat seiap tahun adalah Rp87,9 triliun, sedangkan

unit cost SMPsederajat seiap tahun adalah Rp59,8 triliun. Arinya total esimasi anggaran pendidikan dasar Sembilan

tahun melalui perhitungan unit cost seiap tahun adalah

sebesar Rp147,8 triliun. Apabila 20 persen dari esimasi anggaran tersebut merupakan kontribusi masyarakat, maka anggaran yang harus disediakan oleh pemerintah inggal 80 persen atau setara dengan Rp118,2 triliun.

Berdasarkan kerangka kebijakan dalam RPJMN 2015-2019 bidang pendidikan dan Renstra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2015-2019, maka anggaran pendidikan Sembilan tahun dalam skema perhitungan 80 persen di atas harus dituntaskan oleh pemerintah, yang secara pararel juga dengan proses rinisan pemenuhan pendidikan menengah pada jenjang SMA/SMK sederajat. Adapun rasio anggaran dari pemerintah sendiri adalah setara dengan 1,2 persen dari Produk Domesik Bruto (PDB).

Dalam dokumen Buku Peta Jalan Pendidikan 12 Tahun (Halaman 155-161)