• Tidak ada hasil yang ditemukan

COLLIQ PUJIE:

DAN SEBAGAI SOSOK TELADAN SEPANJANG MASA

Oleh

Bachruddin Lakoreasa, S.E.

(Pengurus Lembaga Adat Tolaki Sulawesi Tenggara)

A. Pendahuluan

Asal usul orang Tolaki menurut para ahli di duga dari Asia Timur. Sebelum mereka masuk wilayah Konawe atau Kendari, pertama kali mereka telah singgah di Sulawesi Selatan yang merupakan tempt pertemuan berbagai macam ras yang datang dari segala arah. Wilayah nusantara khususnya pulau Sulawesi sebagai tempat pertemuan beberapa ras, dijelaskan oleh para ahli bahwa mereka berdatangan secara bergelombang dari Gobi, Yunan Indo China melalui Semenanjung Malaka yang terus menyebar ke Selatan dan Timur menjadi suku-suku bangsa yang kemudian mendiami pulau Sulawesi (Monografi dalam Alim. 1999: 23-27).

Pendapat mengenai pulau Sulawesi sebagai tempat pertemuan berbagai macam ras manusia, juga dalam proses penyebarannya. Dikemukakan oleh Yakob dan Koentjoro Ningrat, sebagaimana dikutip oleh Tamburaka (2004:4), bahwa pulau Sulawesi adalah merupakan pertemuan ras-ras dalam proses persebaran/ perpindahan bangsa-bangsa pada zaman pra sejarah yaitu ras Mongoloid dari Utara, ras Austro Melanesoid dari Timur, dan zaman proto sejarah menyusul ras proto melayu dari Barat Utara atau Asia Timur.

Banyak sekali pendapat para ahli tentang keterangan-keterangan di atas, namun kami tidak membahas dalam uraian ini. Secara rinci dapat kami kemukakan bahwa pulau Sulawesi (Sulawesi Tenggara) sebagai pertemuan ras Proto Austronesia, Mongoloid, serta Austro Melonosoid dalam proses penyebaran/ perpindahan dijelaskan oleh pakar Antropologi Indonesia yaitu Koentjoro Ningrat.

Pertama, persebaran ciri-ciri Austro Melonosoid yang datang dari Timur dengan bukti ditemukannya lukisan dinding gua Leang-leang yang sama dengan lukisan dinding gua-gua lain.

Kedua, persebaran ciri-ciri Mongoloid yang masuk ke pulau Sulawesi dari arah Utara, bukti-bukti ditemukannya fosil-fosil manusia (gigi dan rahang) dan alat-alat pra histori (mata panah kecil, batu bergigi di gua Leang-leang Sulawesi Selatan)

Ketiga, persebaran ciri-ciri Proto Austronesia yang masuk dari arah Utara dengan bukti-bukti utamanya adalah kapak lonjong yang banyak dijumpai dikepulauan Indonesia terutama di Sulawesi. Koentjoro Nongrat (1993:10 - 11) menjelaskan tentang persebaran ciri-ciri Protas Austronesia yang banyak jika ke pualau Sulawesi.

210

Keempat, persebaran ciri-ciri Austronesia masuk dari arah Barat Daya, bukti-bukti utamanya ialah penemuan kapak persegi yang banyak dijumpai dikepalauan Indonesia terutama di pulau Sulawesi.

Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa; pulau Sulawesi adalah tempat pertemuan dan persebaran/ perpindahan pada zaman pra sejarah dan proto sejarah. Pada perkembangan selanjutnya ras-ras tersebut menyebar ke daerah dan pulau-pulau disekitarnya termasuk di daerah Sulawesi Tenggara.

B. Persebaran dan Perkembangan Suku Tolaki

Berdasarkan pendapat para ahli maupun peraturan yang berkembang secara turun-temurun bahwa nenek moyang Orang Tolaki pertama mendiami suatu daerah yang disebut Andolaki, suatu tempat yang sangat indah dan subur terletak di hulu Sungai Konaweeha, sungai terbesar di Sulawesi Tenggara. Kemudian dalam perkembangannya, menyebar diberbagai tempat di Sulawesi Tenggara yang membentuk komunitas-komunitas atau kelompok-kelompok. Semuanya ini disebut orang Tolaki. Karena nenek moyangnya berasal dari Andolaki, dalam perkembangan selanjutnya kelompok-kelompok ini berkembang dan akhirnya dapat membentuk kelompok-kelompok yang disebut o tobu dan o kambo, yang sekaligus membentuk pemimpin-pemimpin Pu’u tobu untuk tingkat o tobu (setingkat kecamatan) dan Tono Motu’o untuk setiap o kambo (pemerintahan tingkat desa). Ditambah dengan perangkat-perangkatnya atau pendamping pemerintah. Aturan yang mereka gunakan umtuk mengatur kehidupan kemasyarakatan adalah kesepakatan-kesepakatan mereka yang disebut peowai atau aturan.

C. Terbentuknya Raja-raja

Dari proses selanjutnya setelah sekian lama berjalan, pemerintah di tingkat o tobu dan o kambo akhirnya mereka membentuk atau menunjuk pemimpin yang dapat menyatukan kedua hal tersebut yang disebut Mokole (raja). Di jazirah daerah Sulawesi Tenggara terbentuk beberapa kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja atau Mokole.

Di wilayah Konawe terdapat beberapa raja, antara lain;

1. Di Besulutu di bawah pimpinan Mokole Besulutu yang bernama I Mombee’esi 2. Di Padangguni di bawah pimpinan Mokole Bundu Wula, dan

3. Di Wawolesea di bawah pimpinan Mokole yang bernama I Wasangga. Di wilayah Kolaka terdapat raja-raja;

1. Di Kawioha di bawah kepemimpinan Mokole Tetenggaa, dan 2. Di Konde’eha di bawah kepemimpinan Mikole Humele.

inilah raja-raja yang pernah ada di wilayah jazirah daerah Sulawesi Tenggara, yang berkembang menjadi, atau meliputi wilayah Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Konawe Utara, Kabupaten Konawe Kepaulauan, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Kolaka Utara, dan Kabupaten Kolaka Timur (delapan kota kabupaten). Semua kerajaan-kerajaan tersebut di atas pada umumnya menjalankan sistim pemerintahan otoritas, artinya segala sesuatunya terpusat dari kekuasaan raja.

211

D. Keruntuhan Raja-raja dan Tampilnya Wekoila sebagai Sosok Pemersatu dan Teladan bagi Suku Tolaki

Raja-raja (mokole) di atas berkembang dan akhirnya runtuh satu persatu akibat perang saudara yang melanda secara berkepanjangan, secara otomatis seluruh sendi-sendi pemerintahan hancur. Pengaturan orang banyak hanya bersandar pada pimpinan-pimpinan di tingkat o tobu dan o kambo yang dikendalikan oleh seorang pemimpin yang disebut Pu’u tobu dan Tono Motu’o di wilayah masing-masing. Salah satu kerajaan (Mokole) yang masih bertahan adalah kerajaan Padangguni (di wilayak kabupaten Konawe) itupun sudah tidak dapat menjalankan tugasnya. Sebagaimana layaknya sebagai raja atau kepala pemerintahan yang membawahi Pu’u tobu-Pu’u tobu karena kelumpuhan dan kehancuran yang disebabkan perang saudara yang berkepanjangan. Pada saat itu, raja atau mokole di Padangguni di bawah kepemimpinan Mokole Ramandalangi. Di bawah kepemimpinan Mokole Ramandalangi, saat itulah muncul atau datang seorang wanita yang sangat cantik. Karena kecantikannya, maka orang Tolaki menyebutnya dengan nama Wekoila. Konon ceritanya berasal dari Sulawesi Selatan, tapi masyarakat suku Tolaki menyebutnya sebagai Sangia Ndudu (putri dari kayangan). Wekoila akhirnya dipersunting oleh Mokole Ramandalangi (Mokole Padangguni) sebagai permaisuri. Setelah Mokole Ramandalangi mangkat, maka Wekoila dinobatkan sebagai raja atau Mokole Padangguni.

Pada awal pemerintahan Wekoila inilah, kerajaan Padangguni dipindahkan ke Unaaha sebagai ibu kotanya, yang pada saat itu Unaaha masih disebut Raronii, sekaligus merubah namanya menjadi raja (Mokole Konawe). Dengan demikian dapat kita pastikan bahwa Wekoila adalah Raja I (pertama) di Konawe.

E. Berdirinya Kerajaan Konawe dan Wekoila sebagai Raja I

Menurut dokumenta DPRD Sulawesi Tenggara, dijelaskan bahwa deretan nama-nama raja yang pernah memerintah di wilayah Konawe (Mokole) sudah ada sejak abad ke- 5 dengan rajanya adalah Mokole Tanggolowuta. Dari beberapa sumber dan informan maupun penulis sejarah lokal Sulawesi Tenggara antara lain Haji Surabaya, Prof. Edy Agus Salim Mokodompit, MA, Johan Mekua, Muslimin Su’ud, dan B. Burhanuddin menjelaskan bahwa Wekoila adalah raja I (pertama) di kerajaan Konawe. Alasan disepakatinya Wekoila sebagai raja ke- I di kerajaan Konawe adalah:

a. Raja-raja yang memerintah sebelum Wekoila, mereka memerintah belum memiliki konsep/ susunan pemerintahan yang teratur.

b. Raja-raja tersebut memerintah secara otokrasi dan belum menggunakan aparat pembantu raja sehingga roda pemerintahan dapat berjalan dengan baik dan lancar.

c. Raja-raja belum memahami apa yang harus dikerjakan, kepada siapa mereka harus bertanggung jawab. Jadi, seakan-akan terjadi satu kepakuman dalam pemerintahan (Rustam E. Tamburaka, 1998.5)

Jadi kehadiran Raja Wekoila memegang tampuk pimpinan Kerajaan Konawe (+ 948 – 968) dianggap sebagai Mokole atau Raja I di Konawe dengan

212

ibu kotanya Unaaha sekaligus awal terbentunya sistim pemerintahan yang teratur dengan baik, sebagai buktinya dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Raja Wekoila telah menunjuk seorang Wati atau Pembantu Raja. Penjabat yang diberi gelar Pu’utobu, Toono motu’o sebagai pemimpin masyarakat di kediaman masing-masing. Penjabat masyarakat adat yang disebut Tolea Pabitara untuk urusan perkawinan dan urusan adat lainnya. Posudo (urusan perbekalan/ logistik, O Tadu urusan pertahanan dan keamanan, dan Tamalaki urusan pertempuran/ peperangan).

2. Pada masa pemerintahan Wekoila, masyarakat Konawe diklasfikasi menjadi tiga tingkatan stratifikasi sosial, yaitu;

a. Golongan tingkat atas disebut Anakia

b. Golongan tingkat menengah disebut toono nggapa c. Golongan tingkat bawah disebut o ata

3. Raja Wekoila memerintah disertai seperangkat alat atau benda yang disebut Kalo Sara.

Dalam pandangan palsafa masyarakat Tolaki terhadap kalo sara tersimpul suatu motto pilosofis dalam bahasa puitis Tolaki berbunyi “ Inae konasara ieto pinesara, inae liasara ieto pinekasara”. Artinya, Barang siapa yang menaati/ menjunjung tinggi hukum/ adat akan diperlakukan dengan baik/ adil, barang siapa yang melanggar hukum akan diberikan ganjaran atau hukuman.

Namun jalannya pemerintahan Kerajaan Konawe pada masa kepemimpinan Wekoila belum sempurna seperti yang kita kenal dalam sistim pemerintahan pada masa raja Tebawo (Rebi), baik sistim hukum, pemerintahan, kemasyarakatan terutama terbentuknya siwole mbatohuu dan opitu dula batu. Tetapi semua itu hanya melanjutkan konsep-konsep dasar yang telah diletakkan oleh raja pertama di Konawe yaitu Wekoila.

Wekoila yang memperkenalkan kalo sara sebagai simbol pemerintahan, merupakan hukum adat yang berlaku bagi setiap kelompok orang Tolaki dimanapun. Hukum yang telah diletakkan pertama oleh Wekoila tetap menjadi pedoman bagi raja-raja berikutnya yang pernah ada di wilayah orang Tolaki , seperti Kerajaan Konawe, Kerajaan Mekongga, Kerajaan Andoolo, maupun Kerajaan Laiwoi. Semuanya berpegang dan berpedoman pada kalo sara dan hukum adat yang telah diletakkan oleh Raja Wekoila. Oleh karena itu, adalah sangat wajar dan pantas jika setiap individu atau kelompok orang/ suku Tolaki dimanapun berada harus mengakui bahwa “Wekoila adalah sosok panutan dan teladan”. Secara khusus dan singkat saya sampaikan pandangan orang Tolaki terhadap Wekoila dalam bahasa Tolaki”.

Wekoila, tina ,momahe ronga kopasipole. Leu ari i Wawo Sangia (sangia ndudu). Leu ilaa wuta (dunia) otuono nggoleu pule-pule’i toono dadio i Konawe. Noleu meparenda nowawe’i kalo sara ronga peowai. Kalo sara ponaano Tolaki peowai ari ine Sangia, ieto ona ano laa ponaa i nae taa metewatu keikaa tetutuara.

Atora niwawono i Wekoila ieto laa pepoi-poindi ano Tolaki dunggu ingoni oleo. Atora nggiro’o ieto tinamoako o sara (aturan/ norma/ hukum adat).

213

Wekoila menurut pandangan orang Tolaki diidentikkan sebagai putri atau dewi dari kayangan, yang turun ke bumi, bumi Konawe untuk mengatur berbagai permasalahan dan kehidupan orang Tolaki. Wekoila sangat cantik dan cerdas, sehingga karena kecantikan dan kecerdasannya dia dijuluki Wekoila (koila adalah sejenis kura-kura yang hidup di laut/ binatang yang sangat indah).

Wekoila datang dengan membawa kalo sara sebagai simbol pemersatu dalam pemerintahannya. Kalo sara, menurut kepercayaan orang Tolaki adalah merupakan benda yang sangat sakral dari titisan dewa. Oleh karena itu, semua yang disampaikan oleh Raja Wekoila harus diterima dan ditaati, sebab barang siapa yang melanggarnya akan mendapatkan ganjaran berupa yang menyusahkan dan menyakitkan (durhaka). Disamping itu, orang Tolaki tetap berpegang pada simpul pilosofi yang dikandung kalo sara yang dibawah Wekoila, yaitu:

“ Inae konasara ieto pinesara, inae liasara ieto pinekasara”

Dengan pilosofi di atas, maka masyarakat Tolaki mempunyai prinsip hidup bahwa “hukum adalah panglima”.

214 LA HADIWI

PELAYAR YANG PENYAIR