• Tidak ada hasil yang ditemukan

COLLIQ PUJIE:

PELAYAR YANG PENYAIR oleh

La Ode Balawa

(Perwakilan Buton Sulawesi Tenggara)

Di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara terdapat sejumlah pulau besar dan kecil. Yang tergolong pulau besar seperti pulau Muna, pulau Kabaena, dan pulau Buton. Di sebelah Timur pulau Buton terdapat sederet pulau kecil, yaitu pulau Wanci, pulau Kaledupa, pulau Tomia, dan pulau Binongko, Dalam peta keempat pulau kecil tersebut dikenal sebagai Kepulauan Tukang Besi. Pada era otonomi daerah dewasa ini, terutama setelah keempat pulau itu tergabung menjadi satu kabupaten baru (Kabupaten Wakatobi), orang kemudian lebih mengenalnya sebagai Kepulauan Wakatobi—Wakatobi adalah akronim dari Wanci, Kaledupa,

Tomia, Binongko. Mata pencaharian utama penduduk tradisional keempat pulau

karang ini adalah pelayar antarpulau, dari ujung Irian sampai ujung Sumatera, bahkan tidak jarang ada yang nekat menyelundup hingga Australia, Malaysia, dan Singapura. Salah seorang di antara pelayar tradisional itu adalah La Hadiwi, seorang pelayar tradisional yang layak dicatat sebagai penyair sekaligus budaywan lokal yang akan saya ceritakan di sini..

  Pengenalan saya tentang siapa La Hadiwi bermula dari kunjungan saya bersama H. Hasan Husain (almarhum) ke desa Taipabu Kecamatan Binongko pada tahun 1986. Ketika berada di sana sempat menghadiri (melayat) kematian seorang anggota keluarga. Diluar dugaan, di tengah berlangsungnya acara persiapan penguburan keluarga yang meninggal itu, ada acara khusus yang jarang ditemukan di tempat lain. Di tengah-tengah khalayak para pelayat, tampil sejumlah orang tua melantunkan untaian syair tentang kematian dalam bahasa daerah Binongko (bahasa daerah penduduk setempat). Lantunan syair yang disampaikan secara berantai oleh beberapa pelantun itu sangat menggugah hati dan mendeteksi kesadaran kita tentang kematian, betapa tak berdayanya diri menghadapi mati, seperti apa nasib diri setelah mati dan seterusnya. Hampir semua pelayat larut dan meneteskan air mata.

  H. Hasan, sebagai pegawai sekaligus wartawan Kanwil Departemen Penerangan RI Sulawesi Tenggara waktu itu, segera mewawancarai para pelantun syair setelah usai acara pelayatan. Dari para pelantun diperoleh keterangan bahwa pertama kali mereka mendapatkan syair itu secara utuh dari penulisnya sendiri yang bernama La Hadiwi. Syair itu ditulis dengan tulisan tangan biasa di atas kertas buku tulis biasa. Ketika ditanyakan lebih lanjut tentang La Hadiwi, mereka menjelaskan bahwa La Hadiwi hanyalah seorang pelayar tradisional yang pulang pergi berlayar cari nafkah dari Maluku ke Jawa. Ketika dimintai menunjukkan naskah asli atau salinannya, mereka rata-rata mengatakan sudah tidak ada sama sekali. Dari salah seorang informan yang bernama La Ali Kota (almarhum) didapatkan pula keterangan bahwa penulisnya (La Hadiwi) sendiri yang pernah bercerita kepadanya bahwa keseluruhan syair itu ditulis ketika berlabuh di pelabuhan Bugis di pulau Aru.

215

  Dari penjelasan informan tersebut telah didapatkan kepastian bahwa naskah tulis syair sudah tidak mungkin lagi didapatkan. Satu-satunya harapan adalah apa yang telah dihafalkan oleh para pelantunya. Suatu kebetulan syair itu ternyata telah dibagi habis pada para pelantun. H. Hasan sendiri yang melanjutkan pencatatan syair itu pada pelantun yang menghafalkannya. Kemudian ia susun menjadi satu rangkaian teks syair bahasa Binongko yang utuh. Selanjutnya, syair yang berjumlah 247 baris itu ia terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara baris demi baris. Dengan tulisan tangan beliau susun syair itu dalam bahasa Binongko dengan terjemahan bahasa Indonesia di sampingnya. Pada kata pengantar salinan itu dicantumkan nama-nama pelantun/penghafal yang telah berjasa sebagai informan sekaligus narasumbernya, yaitu (1) La Ali Kota (yang telah almarhum ketika naskah syair selesai ditulis, Maret 1986), (2) La Sakuba (73 tahun.terhitung tahun 1986), (3) Wa Halima Tombu (68, terhitung tahun 1986), (4) Wa Isa Hanta (67, terhitung tahun 1986), dan La Sale Wa Sapia (60, terhitung tahun 1986). Salinan syair itu kemudian diberi judul Kitabi Togo Binongko, Teanse Adari.

  Ketika menerima foto copy naskah itu dari H. Hasan sempat pula saya mempertanyakan judulnya, masalahnya karena teks itu di salin dari penghafal yang terpisah-pisah tanpa menyebut judul sama sekali. H. Hasan menjelaskan bahwa judul itu diambil pula dari keterangan informan, bahwa masyarakat Binongko Taipabu lazim menyebut syair-syair yang dilantunkan itu dengan beberapa nama yang cukup popular,yaitu Kitabi Togo Binongko (‘Kitab Negeri Binongko’); Teanse Adari (‘Nyanian Nasihat’); dan Kitabi La Hadiwi (‘Kitab La Hadiwi’). Beliau mengabaikan judul terakhir karena La Hadiwi adalah nama penulisnya.

  Pada tahun itu pula (1986) saya mengangkat syair Kitabi Togo Binongko, Teanse Adari ke dalam sebuah penelitian ilmiah berjudul “Religiositas Islam dalam Syair Kitabi Togo Binongko, Teanse Adari karya La Hadiwi”. Foto copy naskah syair tulisan tangan H.Hasan (almarhum) itu kini masih tersimpan di tangan saya. Naskah ini mungkin sangat biasa, tapi kejadian yang berlangsung di balik naskah ini sungguh luar biasa bagi saya, mungkin juga bagi Anda setelah nenahaninya.

Kita mengagumi tokoh inspiratif seperti M.H. Ainun Najib dan Ajip Rosidi sebagai orang yang putus sekolah (formal) tetapi karena tekadnya yang kuat yang dibarengi dengan usaha keras, ulet, dan kesungguhan yang tinggi dalam belajar secara otodidak, mereka kemudian berhasil dan berprestasi tinggi sebagai tokoh besar di bidang kebudayaan, kesenian, dan kesastraan. Kita juga patut mengumi Sultan Buton La Ode Muhammad Idrus Kaimuddin yang di tengah kesibukannya mereformasi sistem pemerintahan Islam di Kesultanan Buton, yang ditandai dengan lahirnya Kitab Murtabat Tujuh sebagai kitab UU Kesultanan Buton yang paling monumental, beliau juga masih dapat menyisihkan waktu, pemikiran, tenaganya menulis kitab-kitab agama dan syair dalam bahasa Wolio, sehingga dunia hari ini mengaguminya sebagai salah seorang Sultan yang sangat produktif melahirkan syair-syair yang bermutu tinggi pada zamannya.

  Kita memang harus mengakui keluarbiasaan orang-orang seperti mereka itu, dan kita cukup memiliki satu alasan yang sama di balik kesuksesan mereka

216

itu, bahwa mereka memili kecintaan dan kemauan yang tinggi untuk mengoptimalkan segala potensi yang dimilikinya demi mewujudkan apa yang telah menjadi pilihan hidupnya dan untuk semua itu mereka telah dengan sadar menyiapkan dan memanfaatkan segala fasilitas dan kesempatan untuk belajar dan berkarya secara terus-menerus hingga mencapai puncak kesuksesan seperti itu. Akan tetapi, alasan apa yang dapat kita berikan kepada seorang La Hadiwi, seorang pelayar tradisional kampung yang sangat terkebelakang pendidikan formalnya, di pulau yang paling terpencil dari ibu kota kabupatennya, yang tak pernah mengenal perpustakaan, yang seluruh waktu dan tenaganya hanya terkuras untuk pergi berlayar. Jangankan ada meja dan kursi untuk dipakai menulis, di atas perahu tradisional, duduk saja harus berhimpitan, tidur di atas atap perahu berbantal gulungan tali jangkar. Penerangan satu-satunya lampu minyak untuk semua awak perahu..

  Pertanyaan yang sering muncul di benak saya hingga saat ini adalah “Bagaimana mungkin seorang La Hadiwi yang hidup sebagai pelayar tradisional Binongko bisa menghasilkan karya sehebat itu. Perlu diketahui bahwa dari hasil kajian yang dilakukan ketika saya meneliti aspek religiositas Islam pada karya La Hadiwi itu diperoleh gambaran bahwa syair karya La Hadiwi tidaklah jauh berbeda dengan syair-syair monumental yang dihasilkan oleh penyair sufi di Kesultanan Buton pada masa lalu, seperti Sultan La Ode Muhammad Idrus Kaimuddin yang terkenal dengan kabanti (syair) “Bula Malino”nya, K.H. Abdul Ganiyyu yang terkenal dengan “Ajonga Inda Malusa”nya, dan La Kobu yang terkenal dengan “Kaluku Panda”nya. Kalau penyair-penyair sufi di Keraton Buton menggunakan bahasa Wolio, maka La Hadiwi menggunakan bahasa Binongko.   Hal lain yang patut dijadikan pelajaran berharga bagi pembinan dan pengembangan seni budaya di daerah-daerah adalah isiatif dan kepeloporan La Hadiwi untuk berkolaborasi dan bekerja sama dengan pemimpin dan warga masyarakat di desanya (Taipabu) sehingga dari syair ciptaannya itu terlahir suatu tradisi baru dalam upacara adat kematian di desa Taipabu Kecamatan Binongko, yakni tradisi “nyanyian kematian” yang materinya adalah syair karya La Hadiwi yang telah dihafal mati oleh kelompok pelantunya. Di sini terlihat jelas, La Hadiwi tidak hanya sukses mencipta syair, tetapi juga berhasil menciptakan komunitas penikmat karyanya, bahkan mampu menempatkan komunitasnya ke dalam sistem sosial budaya masyakat desanya. Inspirator sekaligus desainer kebudayaan, dalam skala sekecil apapun, seperti yang ditunjukkan oleh La Hadiwi dan kawan-kawan itu sangat sulit kita dapatkan dewasa ini. Kepeloporan La Hadiwi dalam mengeksplorasi syairnya ke dalam bentuk tradisi lisan telah pula melahirkan harga baru pada keberadaaan tradisi lisan sekaligus kesadaran baru dalam usaha pelestarian kebudayaan kita selama ini, bahwa bukan hanya produk tradisi tulis yang dapat menyelamatkan produk tradisi lisan, tetapi produk tradisi lisan dapat pula menyelamatkan produk tradisi tulis.

  Demikianlah, dilihat dari segi karya dan jasanya, seorang La Hadiwi mungkin tak bernilai apa-apa dibandingkan dengan Sultan La Ode Muhammad Idrus Kaimuddin dan K.H. Abdul Ganiyyu dari Kesultanan Buton, atau dengan M.H. Ainun Najib dan Ajip Rosidi, misalnya. Akan tetapi, jika dilihat dari sudut pandang latar belakang sosial dan pekerjaannya, maka akan segera kita dapatkan

217

kenyataan bahwa La Hadiwi adalah satu-satunya di antara pelayar tradisional Buton dan mungkin juga di antara pelayar tradisional Nusantara yang berhasil mencatatkan dirinya sebagai penyair sufi di Nusantara. Dengan karyanya itu, La Hadiwi juga patut dicatat sebagai satu-satunya orang Buton yang berhasil menulis syair bukan dalam bahasa Wolio, tetapi dalam bahasa daerah Binongko. Kesuksesan La Hadiwi dalam mengeksplorasi syair ciptaannya menjadi bagian tak terpisahkan dengan praktik adat dan tradisi Islam di desa Taipabu, juga keberhasilannya berkolaborasi dengan komunitas karyanya (para penghafal dan pelantun syair ciptaannya) sungguh sangat membanggakan dan patut dijadikan bahan renungan berharga oleh para pengembang dan pembinaan kebudayaan lokal kita dewasa ini.

  Dengan semuanya itu, La Hadiwi patut ditempatkan sebagai salah seorang tokoh inspiratif kebudayaan lokal di abad modern. Bukankah tokoh inspiratif itu tidak harus selalu menjadi milik orang-orang yang terlanjur besar dengan segala kebesaran karyanya, tetapi juga berhak dimiliki oleh orang-orang kecil yang dengan karya-karya kecilnya telah mampu membangkitkan kecintaan, kebanggaan, dan kemauan keras para warga masyarakatnya untuk saling mendukung dan bekerja sama memajukan dan memelihara kebudayaan suku bangsanya.

Semoga kehadiran La Hadiwi dengan karya nyatanya seperti itu dapatlah ia menjadi salah satu sumber inspirasi yang berarti dalam membangun kesadaran dan keyakinan generasi kita di

daerah-daerah, bahwa (1) pengembangan dan pembinaan budaya daerah tidak hanya pantas dilakukan oleh para pakar atau lembaga-lembaga pemerintah yang relevan, tetapi juga bisa dilakukan oleh semua wartga pendukung budaya yang bersangkutan; (2) kecintaan dan kebanggaan seseorang terhadap daerah dan suku bangsanya merupakan modal utama bagi setiap orang untuk berpartisipasi memajukan kebudayaan daerahnya; (3) Latar belakang pekerjaan, status sosial dan ekonomi bukanlah halangan bagi seseorang untuk berkarya dan tampil ke depan memelopri kemajuan masyarakat dan budaya daerahnya.

218