• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. TINJAUAN KEUANGAN DAERAH

4.3. Dana Perimbangan

Prinsip kebijakan perimbangan keuangan berdasarkan Pasal 2 UU No 33/2004 adalah:

173 (1) Perimbangan keuangan antara pemerintah dan pemerintahan daerah merupakan subsistem keuangan negara sebagai konsekuensi pembagian tugas antara pemerintah dan pemerintah daerah.

(2) Pemberian sumber keuangan negara kepada pemda dalam rangka pelaksanaan desentralisasi didasarkan atas penyerahan tugas oleh pemerintah kepada pemda dengan memerhatikan stabilitas dan keseimbangan fiskal.

(3) Perimbangan keuangan antara pemerintah dan pemda merupakan suatu sistem yang menyeluruh dalam rangka pendanaan penyelenggaraan asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas perbantuan.

Dana perimbangan bertujuan mengurangi kesenjangan fiskal antara pemerintah, pemda, dan antarpemda. Dana perimbangan terdiri dari dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus. Dana bagi hasil (DBH) bersumber dari pajak dan sumber daya alam. Dana bagi hasil yang bersumber dari pajak terdiri atas pajak bumi dan bangunan (PBB), bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), pajak penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri serta PPh Pasal 21.

Hakikat penyempurnaan dana transfer—yang saat ini dikenal sebagai TKDD—utamanya menjaga prinsip money follows function, artinya pendanaan mengikuti fungsi-fungsi pemerintahan, sehingga kebijakan perimbangan keuangan mengacu kepada tiga prinsip sesuai Pasal 2 UU No 33/2004, sebagaimana telah disebutkan.

Transfer ke daerah merupakan salah satu komponen pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan desentralisasi fiskal, melalui dana perimbangan, dana otsus, dan dana penyesuaian.

Kebijakan transfer ke daerah diharapkan dapat menjaga netralitas fiskal secara nasional, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dalam konsolidasi fiskal antara APBN dan APBD. Dengan kata lain, transfer ke daerah bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi makro, mengurangi ketimpangan antardaerah, serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Kebijakan pengalokasian DBH diarahkan untuk mengurangi ketimpangan keuangan secara vertikal antara pemerintah dan daerah secara lebih optimal, sehingga daerah penghasil dan daerah lainnya memperoleh bagi hasil dari sumber-sumber penerimaan SDA dan pajak yang cukup signifikan.

Untuk meningkatkan efektivitas penggunaan DAU terutama untuk mendukung percepatan pembangunan fasilitas pelayanan publik dan perekonomian daerah, perlu diarahkan kepada pemda agar minimal 25 persen dari DTU (DAU dan DBH) dialokasikan untuk belanja infrastruktur.

Kebijakan tersebut perlu dituangkan dalam undang-undang mengenai APBN dan dijabarkan dalam pedoman operasional penyusunan APBD.

Selain itu dalam menjaga kualitas pelaksanaan APBD, penyaluran DAU juga perlu mempertimbangkan ketepatan waktu penetapan peraturan daerah mengenai APBD; laporan realisasi APBD semester I; laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD; perkiraan belanja operasi dan belanja modal bulanan; laporan posisi kas bulanan; laporan realisasi anggaran bulanan periode dua bulan sebelumnya; dan laporan belanja infrastruktur daerah.

Selanjutnya Pasal 66A Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (UU No. 39/2007) menyebutkan bahwa penerimaan negara dari cukai tembakau yang dibuat di Indonesia, dibagikan kepada provinsi penghasil cukai hasil tembakau sebesar dua persen, yang digunakan untuk mendanai peningkatan kualitas bahan baku, pembinaan industri, pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi

174 ketentuan di bidang cukai, dan/atau pemberantasan barang kena cukai ilegal. Alokasi dana bagi hasil cukai tembakau ditetapkan berdasarkan realisasi penerimaan cukai hasil tembakau pada tahun berjalan. Gubernur diberikan kewenangan mengelola dan menggunakan dana bagi hasil cukai hasil tembakau dan mengatur pembagian dana bagi hasil cukai hasil tembakau kepada Bupati/Walikota di daerahnya masing-masing, berdasarkan besaran kontribusi penerimaan cukai hasil tembakaunya. Pembagian dana bagi hasil cukai tembakau dilakukan dengan persetujuan menteri, dengan komposisi 30 persen untuk provinsi penghasil, 40 persen untuk kabupaten/kota daerah penghasil, dan 30 persen untuk kabupaten/kota lainnya.

Dalam perkembangannya, desa telah berkembang dalam berbagai bentuk sehingga perlu dilindungi dan diberdayakan agar menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Atas dasar pemikiran tersebut, pada 2014 diundangkan Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Pasal 71 dan Pasal 72 UU No. 6 Tahun 2014 tersebut mengatur tentang keuangan desa dan pendapatan desa. Keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban desa. Hak dan kewajiban desa menimbulkan pendapatan, belanja, pembiayaan, dan pengelolaan keuangan desa.

Pendapatan desa bersumber dari pendapatan asli desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli desa; alokasi APBN yakni alokasi dengan mengefektifkan program yang berbasis desa secara merata dan berkeadilan;

bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah kabupaten/kota; alokasi dana desa (DD) yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota; bantuan keuangan dari APBD provinsi dan kabupaten/kota; hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga; dan lain-lain pendapatan desa yang sah. Berdasarkan pengaturan alokasi APBN sebagai salah satu sumber pendapatan desa, mulai tahun 2015, pemerintah mengalokasikan dana desa yang bersumber dari APBN. Dana transfer pemerintah pusat kepada daerah tersebut, sejak beberapa tahun terakhir dikenal sebagai alokasi transfer ke daerah dan dana desa (TKDD).

Sejalan dengan arah tujuan kebijakan alokasi TKDD untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan kesinambungan fiskal nasional, selama kurun waktu 2008–2017, alokasi dana transfer ke daerah terus mengalami peningkatan. TKDD terdiri atas dana perimbangan, yakni DBH, DAU, dan DAK, serta dana otsus, penyesuaian, dan dana desa.

Dana bagi hasil dialokasikan dari beberapa jenis pendapatan negara guna mendanai kebutuhan yang menjadi urusan daerah dan ditujukan untuk mengurangi ketimpangan fiskal antara pemerintah pusat dan daerah. Dana bagi hasil bersumber dari penerimaan negara berupa pajak, cukai, dan penerimaan negara bukan pajak dari sumber daya alam. Pendapatan pajak yang dibagi hasil terdiri atas Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh Pasal 21), Pajak Penghasilan Pasal 25, dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri (PPh Pasal 25/29 WPOPDN), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), serta cukai hasil tembakau (CHT). Dana bagi hasil sumber daya alam bersumber dari kehutanan, pertambangan umum, perikanan, minyak bumi, gas bumi, dan pertambangan panas bumi. Sementara itu, DAU dialokasikan untuk meminimalkan ketimpangan fiskal antardaerah dalam mendanai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah.

Formulasi DAU dari waktu ke waktu diharapkan dapat lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan keuangan daerah dan sekaligus mengurangi ketimpangan fiskal antardaerah (horizontal imbalance).

175 Terkait dengan hal tersebut, kebijakan umum TKDD tahun 2019 diarahkan pada beberapa hal sebagai berikut:

(1) Penguatan alokasi TKDD secara proporsional yang sejalan dengan anggaran belanja kementerian negara/lembaga (K/L);

(2) Penguatan pengelolaan dana transfer umum (DTU) melalui:

a) Pengalokasian DBH sesuai persentase/formula yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

b) Percepatan penyelesaian kurang bayar/lebih bayar DBH dan optimalisasi penggunaan DBH.

c) Percepatan penyaluran DBH per triwulan yang didistribusikan pada setiap bulannya.

d) Pengalokasian DAU yang bersifat final.

e) Pemberian afirmasi kepada daerah berciri kepulauan dengan memberikan bobot variabel luas wilayah laut hingga 100 persen dalam perhitungan alokasi DAU kepada daerah tersebut.

f) Pengaturan penggunaan minimal 25 persen dari DTU untuk belanja infrastruktur.

g) Penyaluran berdasarkan kinerja penyerapan dan pencapaian output kegiatan.

h) Penguatan pengelolaan DID, dana otsus, dan dana keistimewaan D.I. Yogyakarta melalui penajaman kriteria penilaian dana insentif daerah (DID) yang lebih mencerminkan prestasi dan kinerja daerah; dan peningkatan efisiensi dan efektivitas penggunaan dana otsus dan dana keistimewaan D.I. Yogyakarta.

i) Penguatan pengelolaan DD melalui:

(a) distribusi DD yang adil dan merata;

(b)prioritas pemanfaatan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang lebih mendorong pengembangan potensi ekonomi desa, pengentasan kemiskinan, dan perluasan kesempatan kerja; dan

(c) sinergi dengan program penanggulangan kemiskinan lainnya seperti PKH, Rastra, dan KUR.

(3) Penguatan pengelolaan dana transfer khusus (DTK) melalui:

(a) Alokasi DAK Fisik yang lebih difokuskan pada upaya mengurangi kesenjangan layanan dasar publik antardaerah.

(b) Pengurangan kesenjangan layanan publik dasar antardaerah dengan fokus pada SDM dan daya saing (pendidikan, pengentasan stunting, dan infrastruktur daerah).

(c) Peningkatan akurasi data dan biaya satuan DAK nonfisik.