Strategi Komunikasi Politik Muhammadiyah
B. KOMUNIKASI POLITIK MUHAMMADIYAH; DARI KONSTRUKSI KE PRAKSIS
2. Dari konstruksi sosial ke konstruksi politik
Persoalan-persoalan keummatan yang sangat kompleks mendorong Muhammadiyah bukan hanya melakukan konstruksi sosial atas masalah tersebut, tetapi juga sekaligus menjadi gerakan praksis menjawabnya dengan langkah-langkah praksis berupa amal usaha dalam beragam bidang akifitas. Gerakan amal yang dilakukan Muhammadiyah bukan saja menarik minat orang-orang untuk bergabung sehingga menjadi modal sosial yang sangat besar baik dalam jumlah pengikut maupun amal usaha. Sebagai gerakan sosial yang besar tentu saja Muhamamdiyah memiliki daya magnit politik yang besar pula. Dengan demikian, tidaklah mengherankan pada perjalanan sejarahnya konstruksi sosial Muhammadiyah memiliki implikasi pada konstruksi politik yang diperjuangkannya. Di antara konstruksi sosial Muham- madiyah yang memiliki implikasi terhadap konstruksi politik Muhamamdiyah dipengaruhi oleh dua hal yaitu pengikut dan anggota Muhammadiyah, dan amal usaha Muhammadiyah.
1) Pengikut dan Anggota Muhammadiyah.
Studi Saiful Mujani yang menggunakan sur vei sistematis untuk menentukan jumlah pengikut Muhammadiyah (Saeful Mujani,2003:110). Menurut data yang dimiliki Saeful Mujani, 18 % dari seluruh santri8 adalah pengikut Muhammadiyah. Pengikut Muhammadiyah adalah mereka yang menjalankan ibadah dengan cara yang sama seperti yang difahami oleh Muhammadiyah. Penting untuk dibedakan antara term “pengikut” dan term
“anggota” sebab hanya yang terakhir ini yang memiliki hak khusus, seperti akses untuk menjadi ketua dalam struktur Muhammadiyah. Meskipun demikian pengikut Muhammadiyah memiliki peran penting dalam mengimplementasikan kebijakan dan keputusan organisasi baik dalam urusan politik maupun agama. Data tahun 2005 menunjukkan bahwa Muhammad- iyah memiliki 900.410 anggota terdaftar (PP Muhammadiyah,2010:3). Distribusi geografis anggota Muhammadiyah relatif merata dan berjalan seimbang dengan penyebaran populasi muslim di Jawa, Sumatera, dan pulau- pulau bagian timur Indonesia. Dari keseluruhan jumlah anggota Muhammad- iyah, 66 % tinggal di Jawa, 25 % tinggal di Sumatera, sedangkan sisanya tinggal di pulau-pulau bagian Timur Indonesia. Dua persentase terbesar pulau- pulau bagian Timur Indonesia adalah Sulawesi Selatan (41 % dari total anggota dari luar Jawa), dan di Kalimantan Selatan (13 % dari total anggota dari luar Jawa). Sebagian alasan dari sedikitnya jumlah anggota Muhammadiyah yang tinggal di propinsi bagian Timur Indonesia dibandingkan yang berada di Jawa dan Sumatera adalah fakta akan banyaknya propinsi di pulau-pulau itu yang mayoritas penduduk utamanya adalah non muslim (Leo Suryadi- nata,2003:103-138). Dari data-data tersebut di atas dapat diketahui bahwa bila penduduk Indonesia mencapai 201,2 juta, dan yang muslim sekitar 177, 5 juta, sedangkan yang muslim santri 106,5 juta maka pengikut Muham- madiyah 18 % dari santri adalah 19,17 juta. Dari jumlah pengikut Muham- madiyah ini pula tercatat bahwa yang menjadi anggota Muhammadiyah hanya sekitar 5 %.
Secara rinci perkiraan jumlah rata-rata pengikut Muhammadiyah sampai tahun 2002 dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel 2
Konfigurasi Muhammadiyah Terhadap Muslim dan Populasi Penduduk Indonesia
Sedangkan konfigurasi Muhammadiyah terhadap muslim dan populasi penduduk seluruh Indonesia dapat digambarkan dalam skema di bawah ini:
Gambar 9: Perkiraan Jumlah Rata-Rata Pengikut Muhammadiyah Tahun 2002
Sumber: diolah dari Saeful Mujani:2003, dan Leo Suryadinata (2003)
Dengan kata lain, mereka yang menjalankan ibadah dengan cara yang sama dengan Muhammadiyah dan menganut faham teologis yang sama tidak serta merta merupakan anggota Muhammadiyah, tetapi mereka bisa dianggap sebagai pengikut Muhammadiyah sebab mendukung pendirian organisasi terhadap masalah sosial dan politik.
2) Amal usaha Muhammadiyah.
Kekuatan lain yang dimiliki Muhammadiyah di samping masalah pengikut dan keanggotaan adalah banyaknya amal usaha di berbagai bidang. Dalam pandangan Suaidi Asy’ari (2009:45) mungkin banyak orang melihat bahwa Muhammadiyah merupakan satu kesatuan. Akan tetapi, dari dalam kita akan mendapati bahwa terdapat dua struktur utama yang memainkan peran agak berbeda yaitu pertama sebagai badan politik dan kedua sebagai badan sosial (menurut fungsinya). Badan politik berususan dengan organisasi dalam urusan luar Muhammadiyah, terutama meyangkut isu politik dan agama, sementara badan sosial yang berada di bawah badan politik berususan dengan sosial
dan publik internal Muhammadiyah. Badan sosial inilah yang disebut sebagai Amal Usaha. Struktur yang demikianlah yang memiliki peran penting bagi keterlibatan dalam civil society Indonesia. Amal Usaha ini pulalah yang memainkan peran yang lebih besar dalam mempertahankan dan mengembangkan organisasi Muhammadiyah secara keseluruhan. Faktor Amal Usaha Muhammadiyah merupakan faktor yang paling mendukung tersebarnya organisasi ke berbagai daerah. Amal Usaha merupakan bagian penting dari platform Muhammadiyah yang memiliki struktur yang terpisah dari badan pengurus. Pada periode awal pendirian Muhammadiyah, sejumlah Amal Usaha masih sangat terbatas, namun beberapa tahun kemudian telah berkembang sangat signifikan baik dalam jumlah maupun bentuk-bentuk Amal Usaha yang pada tahun 2010 dapat disajikan sebagai berikut:
Tabel 3
Jumlah Amal Usaha Muhammadiyah Tahun 2010
Sedangkan jumlah jaringan kepemimpinan Muhammadiyah dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4
Jaringan Kepemimpinan Muhammadiyah Tahun 2010
Sumber: Tim Penyusunan dan Penerbitan Profil Muhammadiyah (2010)
Jumlah pengikut dan keanggotaan maupun Amal Usaha yang dimiliki Muhammadiyah merupakan modal sosial yang memiliki kekuatan politik dan mampu menggerakkan partisipasi politik. Dalam The Culture: Politic At- titudes and Democracy in Five Nation, Gabriel A. Almond and Sidney Verba menemukan bukti bahwa keanggotaan organisasi sangat terkait dengan keterlibatan dan partisipasi politik. Di lima bangsa yang dieksaminasi, mereka menemukan bahwa anggota organisasi sosial lebih aktif dalam politik, mendapatkan informasi isu-isu politik, dan mendukung nilai-nilai norma demokrasi. Selain itu karakteristik organisasi yang merupakan asal seseorang, cara hubungan dikelola oleh kedua belah pihak dan intensitas aktivitas seseorang dalam urusan organisasi semuanya terkait dengan keterlibatan politik. Secara signifikan, organisasi-organisasi yang secara eksplisit tidak memiliki tujuan politik biasanya memiliki keterlibatan yang lebih besar dalam politik (Gabriel A Almond and Sydney Verba, 1989:245).
Di samping itu pula, Tocqueville menekankan bahwa demokrasi membutuhkan organisasi sosial, sekali pun mereka tidak memiliki sifat politik tertentu. Mereka masih akan berfungsi sebagai sumber bagi keterlibatan sosial dan politik. Lebih jauh, organisasi kemasyarakatan non politik biasanya memiliki konsekuensi politik yang vital sebab mereka bisa menggunakan
institusi inter relasi untuk menggagas hubungan antara anggota masyarakat, partai politik, dan pemerintah. Fungsi-fungsi organisasi sosial ini tentunya sangat berarti dalam membangun kehidupan demokrasi (Alexis de Tocqueville,1969).
Dengan mengacu pada penegasan mengenai pentingnya organisasi sosial dan perannya dalam kehidupan politik, meneguhkan bahwa organisasi sosial seperti Muhammadiyah yang memiliki pengikut dan amal usaha yang sangat besar merupakan asosiasi kemasyarakatan yang penting dan memberikan konstribusi bagi penerapan demokrasi dan dinamika politik kebangsaan di Indonesia, meskipun memiliki karakteristik dan corak tersendiri yang berbeda dengan kekuatan politik praktis.
C. KOMUNIKASI POLITIK MUHAMMADIYAH; ANTARA