Seputar Komunikasi Politik
H. ISLAM DAN POLITIK
Studi-studi teoritis tentang hubungan Islam dan politik yang dilakukan para ahli keislaman, kebanyakan berada dalam perspektif hubungan negara dan masyarakat sehingga khasanah studi yang lebih mikro membahas hubungan interaksional antara ajaran Islam dengan tindakan politik kurang disentuh, kalaupun ada masih sangat terbatas. Teori hubungan politik dan agama di dalam Islam, antara lain dimaknai sebagai hubungan antara agama dan negara yang tak terpisahkan (integrated), seperti yang dikonsepsikan oleh para pemikir politik madzhab Syi’ah, dan juga oleh al-Maududi, al Afghani, Muhammad Abduh, Rosyid Ridho, dan beberapa tokoh lain. Dalam pandangan para tokoh ini, wilayah agama dan negara tidak dapat dipisahkan, wilayah agama itu juga meliputi wilayah politik atau negara. Oleh karena itu menurut paradigma ini, negara merupakan lembaga politik dan keagamaan sekaligus. Pemerintahan negara diselenggarakan atas dasar kedaulatan Tuhan
(divine soveregnity) karena kedaulatan itu memang berasal dan berada di tangan Tuhan. Secara faktual, yang termasuk dalam katagori ini adalah hubungan antara agama dan negara di Iran sekarang ini. Pemikiran politik termasuk tipologi ini adalah pandangan al-Maududi (1903-1979). Menurutnya, syari’at Islam tidak mengenal pemisahan antara agama dan politik atau antara agama dan negara. Syari’at merupakan totalitas pengaturan kehidupan manusia yang tidak mengandung kekurangan sedikit pun. Negara harus didasarkan pada empat prinsip yaitu mengakui kedaulatan Tuhan, menerima otoritas Nabi Muhammad, memiliki status wakil Tuhan, dan menerapkan musyawarah (Sadzali, Munawir, 1995:L166). Negara merupakan sarana politik untuk mengaplikasikan hukum Tuhan. Pikiran-pikiran al-Maududi banyak mengilhami praktik politik di Pakistan ketika negeri ini dipimpin oleh Zia ul Haq (Azra, Azyumardi, 1996:154). Menurut al-Maududi, institusi negara Is- lam terdiri dari kepala negara yang disebut sebagai Imam, Khilafah, atau Amir.
Kepala negara memiliki wewenang yang sangat besar, bahkan dapat memveto keputusan bulat yang disepakati oleh Badan penasehat. Kepala negara tersebut wajib ditaati selama ia sendiri mematuhi perintah Tuhan (Jaenuri,Ahmad, 1995:181-200).
Kedua, pemikiran politik yang memandang hubungan agama dan negara bersifat simbiotik, yaitu berhubungan secara timbal balik dan saling memerlukan. Dalam hal ini, negara membutuhkan agama sebagai dasar pijak kekuatan moral sehingga dapat menjadi mekanisme kontrol, sementara di sisi lain agama memerlukan negara sebagai sarana untuk pengembangan agama itu sendiri (J. Pulungan, Sayuti, 1994:xiii). Adapun yang sangat menonjol dalam studi religio-politik dalam wacana ini adalah pemikiran al- Mawardi (974-1058). Bukunya yang sangat terkenal di bidang teori ketatanegaraan bertitel Al-Ahkam as-Sulthoniyah. Dalam pandangan al-Mawardi,
kepemimpinan negara (imamah) merupakan instrumen untuk meneruskan
misi kenabian guna memelihara agama dan mengatur dunia. Pemeliharaan dan pengaturan dunia adalah dua dimensi yang berhubungan secara simbiotik. Negara, dengan demikian, berada di bawah kontrol agama. Dalam pengangkatan kepala negara melalui sebuah pemilihan, ia membagi ummat Islam menjadi dua kelompok, yakni Ahl al-Ikhtiyar dan Ahl al-Imamah. Term
pertama diartikan sebagai kelompok masyarakat yang dapat memberikan wewenang kepada kepala negara untuk mengatur masyarakat melalui proses pemilihan terlebih dahulu. Term kedua adalah imam, memiliki syarat yang harus dipenuhi, yaitu adil, berilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama, tidak cacat fisik, laki-laki, mempunyai wawasan politik, ahli strategi perang, dan mempunyai garis keturunan Quraisy (Jamil, Fathurrahman, 1995:158- 160). Pemikir lain yang juga cukup menonjol dalam wacana ini adalah Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111 M). Menurutnya, negara dibutuhkan masyarakat berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan akan industri dan profesi sehingga kepala negara harus memiliki sumber legitimasi keagamaan. Industri yang dibutuhkan untuk kepentingan masyarakat ialah pertanian, pemintalan yang didukung oleh pembangunan, dan politik. Sedangkan profesi politik yang dibutuhkan untuk kepentingan masyarakat ialah sub profesi pengukuran tanah, sub profesi ketentaraan, sub profesi kehakikan, dan sub profesi ilmu hukum. Begitu pentingnya sub profesi politik tersebut, al-Ghazali menyatakan bahwa kedudukannya berada satu tingkat di bawah kenabian. Di sisi lain, menurut Ghazali, pemilihan kepala negara bukanlah keharusan rasional, melainkan keharusan agama. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa kesejahteraan ukhrawi harus dilakukan melalui pengamalan dan penghayatan agama di dunia secara benar. Inilah yang dijadikan sebagai argumentasi bahwa antara negara dan agama merupakan dua hal yang saling membutuhkan (Sadzali,Munawir,1995:76-79).
Ketiga, pemikiran politik yang memandang hubungan agama dan negara bersifat sekularistik. Pandangan ini menolak hubungan yang bersifat simbiotik
maupun integrated. Pada 1925, Ali Abd Raziq (1888-1966 M) menulis buku yang kontroversial dengan titel Al-Islam Wa Ushul al-Hukm (Islam dan Prinsip- Prinsip Pemerintahan). Abd Raziq berpendapat bahwa tugas Nabi
Muhammad tidak lebih sekedar mengemban tugas kenabian (innaha
nubuwwah la mulk) sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Urusan duniawi oleh Nabi Muhammad diserahkan kepada ummat manusia, termasuk di dalamnya urusan politik (Sadzali,1995:143-145). Lebih jauh ia menyatakan bahwa Is- lam tidak memiliki kaitan apa pun dengan sistem kekhalifahan sehingga semua sistem kekhalifahan adalah urusan duniawi. Jadi, sesungguhnya
terdapat penolakan terhadap determinasi Islam akan bentuk tertentu suatu negara.
Dalam konteks keIndonesiaan, menurut Adnan (1992:458), hubungan agama dan negara dapat dibagi menjadi tiga katagori. Pertama, kelompok akomodatif. Kelompok ini dipelopori oleh Nurcholis Madjid. Nur Cholis berpandangan bahwa kehidupan spiritual diatur oleh agama dan kehidupan duniawi diatur oleh logika duniawi. Pemikiran ini seolah mengandung “sekularistik”, yaitu adanya upaya memisahkan antara agama dan dunia, meskipun sebenarnya hanyalah pembedaan wilayah, ada wilayah yang semata- mata urusan agama dan ada wilayah yang semata-mata duniawi (Madjid,1993). Pemikiran seperti ini dapat mengalihkan perhatian masyarakat dari “Islam Politik” ke “Islam Kultural”. Sebagai akibatnya, Islam lebih berwatak liberalis dan humanis yang menawarkan kebebasan dan kemanusiaan bagi penganutnya, daripada watak politis yang menakutkan, utamanya bagi penyelenggara negara (Hasan,1987:231-240). Kedua, kelompok moderat,
dengan tokoh Amien Rais, Jalaluddin Rahmat, dan Imamuddin Abdurrahim. Kelompok ini berpendirian bahwa Islam tidak hanya difahami sebagai agama, tetapi juga sebagai ideologi. Islam adalah agama totalistik (kaffah) yang mengatur segala sepek kehidupan masyarakat, termasuk di dalamnya kehidupan sosial politik. Ketiga, kelompok idealis-radikal. Kelompok ini beranggapan bahwa Islam berada di atas semua ideologi sehingga untuk memperjuangkannya diperlukan cara-cara kekerasan dan sekaligus menolak ideologi Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi kehidupan organisasi sosial kemasyarakatan dan bahwa agama harus menjadi ideologi menggantikan Pancasila. Pandangan ini dapat dilihat pada visi dan aksi Abdul Qadir Jaelani (Adnan, 1992:464-466).