Strategi Komunikasi Politik Muhammadiyah
C. KOMUNIKASI POLITIK MUHAMMADIYAH; ANTARA NORMATIFITAS DAN HISTORISITAS
Setiap gerakan Islam, memiliki strategi untuk tetap survive, adakalanya gerakan Islam itu mengambil haluan yang murni kultural dan adakalanya menghimpitkan diri dengan kekuasaan politik. Bahkan, tidak sedikit dari gerakan Islam yang dalam periode tertentu berubah menjadi partai politik dan pada periode yang lain kembali tetap sebagai gerakan Islam. Hal ini mencerminkan dinamika gerakan Islam dan hal itu dipandang sebagai suatu stretagi yang tepat untuk tetap eksis. Muhamamdiyah, juga mengalami fenomena seperti itu. Muhammadiyah dan politik sulit dipisahkan. Secara normatif hubungan antara Muhammadiyah dan politik sudah diatur secara jelas dan terang benderang dalam dokumen-dokumen resmi organisasi, mulai dari Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah,
Khittah Perjuangan Muhamadiyah, Khittah Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, dan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, sampai Keputusan-keputusan Muktamar dan Tanwir. Semua itu telah membentuk sebuah khazanah yag sangat kaya dan komprehensif yang antara lain berisi
ketentuan-ketentuan normatif mengenai khittah Muhammadiyah sebagai
gerakan Islam, dakwah, dan amar ma’ruf nahi munkar, yang bersifat nonpolitik. Secara organisasional Muhammadiyah sejak Muktamar Tahun 1971
menyatakan dirinya sebagai tidak memiliki afiliasi politik dengan partai politik manapun, tidak berpolitik praktis, dan membebaskan warganya untuk memilih dalam pemilihan umum (baik pemilu legislatif, pemilu presiden, dan pemilukada). Khitah Muhammadiyah juga dapat dijadikan sebagai pagar pembatas agar naluri (syahwat politik) perseorangan untuk berkiprah dalam perjuangan politik kekuasaan (power struggle) atau politik praktis, tidak menyeret-nyeret Muhammadiyah secara kelembagaan. Dalam berbagai rumusan ideologi politik menempatkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Meski pun demikian, Muhammadiyah memandang partai politik itu sebagaimana juga kekuasaan negara sangatlah penting dan strategis, termasuk untuk menegakkan dakwah Islam melalui tangan negara. Tetapi, wilayah yang penting itu sengaja tidak dipilih oleh Muhammadiyah yang sejak kelahirannya telah memosisikan diri sebagai gerakan Islam nonpolitik, dengan keyakinan bahwa dakwah di bidang pembangunan masyarakat pun tidak kalah penting dan strategisnya dengan perjuangan politik di jalur kekuasaan.
Meskipun demikian, khittah politik Muhammadiyah tidaklah selalu lin- ear dan bukan sekedar teks formal. Ketika Muhammadiyah dihadapkan pada konteks dan realitas politik obyektif, implementasi atau penerapan ketentuan- ketentuan yang normatif tersebut di atas sudah barang pasti sangat tidak sederhana. Pada kenyataanya tidak selalu ada pararelisme antara yang tertulis, normatis, dan estetik itu dengan apa yang ternyata atau realitasnya.
Secara historis, penulis mencatat empat peristiwa penting yang menyang- kut keputusan politik Muhammadiyah terkait implementasi khittah politik Muhammadiyah ketika berhadapan dengan realitas politik obyektif sebagai berikut: Pertama, Muhammadiyah ketika bersama tokoh-tokoh Islam lainnya memelopori berdirinya Partai Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) pada 7-8 November 1945, di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogya- karta. Saat pembentukan Partai Masyumi ini, ada pengakuan bahwa Mu- hammadiyah memerlukan saluran aspirasi dan perjuangan politik, juga ada ikrar bahwa Masyumi adalah satu-satunya partai politik Islam bagi seluruh organisasi umat Islam Indonesia. Meskipun demikian, pada 1947 SI keluar dari Masyumi, dan pada 1952 Nahdlatul Ulama (NU) mengikutinya
(Syaifullah, 1997:190-194). Kedua, pangakuan wajah ganda Muhammadiyah oleh pemerintah Orde Lama dan Orde Baru, yaitu Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan, dan sekaligus berfungsi sebagai organisasi massa politik (ormaspol), sehingga Muhammadiyah banyak menempatkan orang- orangnya di DPR Pusat dan di MPR Gotong Royong, serta di DPRD. Pengakuan ormaspol terjadi pada akhir Pemerintahan Orde Lama, pada 5 Januari 1966, dan dikukuhkan dengan tiga surat pada awal pemerintahan Orde Baru, yaitu surat Wakil Perdana Menteri Bidang Sosial Politik (Adam Malik) tertanggal 27 April 1966 No. 19/WPM/SP/1966; surat Menteri Dalam Negeri (Basuki Rachmat) tertanggal 24 juni 1966 No. 22/2/32; dan surat Menteri Dalam Negeri tertanggal 8 Agustus 1966 No. 22/2/47. Baik surat Wakil Perdana Menteri Adam Malik maupun surat Menteri Dalam Negeri Basuki Rachmat menegaskan pelaksanaan Muhammadiyah sebagai ormaspol supaya dilayani oleh jajaran pemerintah, termasuk gubernur, untuk memper- lakukan hak hidup Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan sebagaimana organisasi kemasyarakatan yang lain. Dan, juga memperlakukan Muhammadiyah sebagai organisasi politik sebagaimana organisasi-organisasi politik yang lain (Syaifullah,1997:190-194). Ketiga, setelah gagal merehabilitasi Masyumi, elite Muhammadiyah mendirikan partai Islam alternatif yakni Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Peristiwa lahirnya Parmusi dangan SK Presiden No. 70 tertanggal 20 Februari 1968 yang dibidani Muhammadiyah dan tokoh- tokoh Islam yang lain. Aktivitas Muhammadiyah tersebut memperlihatkan bahwa persyarikatan ini membidani lahirnya partai politik Islam bagi umat Islam yang belum berpartai. Pembidanan ini sebagai wujud amanat Sidang Tanwir 1966 di Bandung dan Sidang Tanwir 1967 di Yogyakarta. Pada Sidang Tanwir Muhammadiyah Tahun 1969 di Ponorogo, Jawa Timur, yang memu- tuskan kebijakan strategi atau khittah perjuangan Muhammadiyah. Khittah
Ponorogo ini menegaskan bahwa cita-cita perjuangan Muhammadiyah hanya bisa diwujudkan melalui dakwah Islam dengan dua saluran secara serentak, yaitu saluran politik, alatnya adalah organisasi politik atau partai politik, dan saluran masyarakat, alatnya adalah organisasi nonpolitik atau organisasi kernasyarakatan. Meskipun ada kesadaran bahwa Muhammadiyah merupa- kan organisasi yang memilih dan menempatkan diri pada bentuk organisasi
kemasyarakatan, Muhammadiyah tetap membentuk organisasi politik atau partai politik di luar Muhammadiyah yang menyalurkan aspirasi politik Muhammadiyah bersama dengan kekuatan umat Islam lainnya (Syaifullah, 1997; 190-194).
Saat membidani kelahiran Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) pada awal Orde Baru (20 Februari 1968), dua prinsip di atas tetap dipegang teguh dan dijadikan panduan bagi Muhammadiyah. Sejak Masyumi bubar pada 1960 sampai sebelum berdirinya Parmusi, Muhammadiyah secara formal belum mempunyai saluran aspirasi politik pada partai politik Islam. Maka dari itu, pada awal Orde Baru, lewat prakarsa Mulyadi Djojomartono (anggota PP Muhammadiyah yang pernah menjadi menteri sosial dalam Kabinet Juanda pada 1957) Muhammadiyah menghidupkan kembali Partai Islam Indonesia (PII) yang pernah didirikan Mas Mansur pada 1938. Namun, upaya ini dihentikan demi menjaga keutuhan sikap sesama keluarga mantan anggota
Masyumi (Yusuf Abdullah Puar, 1989; 297). Meskipun demikian, usaha
rehabilitasi partai tersebut gagal. Akhirnya, melalui SK Presiden No. 70, pemerintah hanya merestui Parmusi, dengan Ketua Jarnawi Hadikusuma. dan sekretaris Lukman Harun, keduanya anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Yusuf Abdullah Puar,1989:298). Seminggu setelah Parmusi berdiri, Muhammadiyah membuat pernyataan resmi, yang antara lain menegaskan tentang prinsip keutuhan dan kemenangan perjuangan umat Islam dan negara, serta arah perjuangan Parmusi. Pernyataan selengkapnya sebagai berikut:
“Hendaknya Parmusi mengambil bagian dalam membina kekompakan dan persatuan Nasional Indonesia, khususnya intern umat Islam, sehingga dapat menambah besar dan teguhnya potensi umat Islam Indonesia di bidang politik demi suksesnya perjuangan umat Islam Indonesia dan pembangunan negara dan bangsa Indonesia di segala bidang; hendaknya Parmusi memperlihatkan politik umat Islam yang dilandasi dengan jiwa dan roh Islam yang murni, mencapai negara dan masyarakat yang adil dan makmur yang diridai Allah SWT”.9
dasar Muhammadiyah untuk mencapai kemenangan Islam dan umatnya tersebut, Muhammadiyah mengeluarkan pedoman resmi untuk pegangan para pemimpinnya sesudah Parmusi berdiri. Pedoman itu diawali dengan penegasan bahwa berdirinya Parmusi adalah sesuai dengan amanat sidang Majlis Tanwir tahun 1966 di Bandung dan tahun 1967 di Yogyakarta agar Pimpinan Pusat Muhammadiyah memprakarsai pembentukan wadah politik bagi umat Islam yang belum berpartai, namun dinyatakan pula bahwa berdirinya Parmusi tetap merupakan “proyek bersama” serta mendapat pengertian yang baik dari mantan Pimpinan Pusat (PP) Masyumi (PP Muhammadiyah, 3 Maret 1968).
Keempat, dukungan Muhammadiyah terhadap pencalonan M. Amien Rais sebagai calon Presiden pada pemilihan Presiden secara langsung pada tahun 2004. Keputusan sidang pleno Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Ketua-Ketua Wilayah Muhammadiyah tentang kebijakan Muhammadiyah menghadapi pemilu 2004 yang ditandatangani oleh A. Syafi’i Ma’arif selaku Ketua dan Haedar Nashir selaku Sekretaris pada tanggal 10 Febuari 2004. Dalam edaran yang menyangkut pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dinyatakan bahwa Muhammadiyah memandang Pemilu 2004 yang salah satunya melaksanakan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung merupakan langkah penting bagi perkembangan demokrasi dan kehidupan nasional di era reformasi. Kesempatan emas tersebut dapat digunakan sebagai momentum perubahan untuk kelanjutan reformasi dan penyelamatan bangsa. Muhammadiyah sesuai keputusan Sidang Tanwir Denpasar Tahun 2002 dan Tanwir Makasar Tahun 2003 menyampaikan sikap mendukung sepenuhnya langkah Prof.Dr.H.M.Amien Rais selaku kader terbaik dan mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta tokoh reformasi untuk memperjuangkan kelanjutan reformasi dan penyelamatan bangsa dalam pemilihan Presiden pada Pemilu 2004.10
Keempat keputusan politik Muhammadiyah tersebut di atas
menampakkan bahwa normatifitas khittah komunikasi politik
Muhammadiyah ketika berhadapan dengan historisitas sosial politik yang dihadapi mengalami kelenturan implementasi yang juga tidak lepas dari kritik. Bagi sebagian internal kalangan Muhammadiyah, keempat sikap politik
Muhammadiyah tersebut di atas mencerminkan bahwa Muhammadiyah ketika berhadapan dengan realitas obyektif politik telah terjebak pada kegiatan yang dapat dikatagorikan sebagai kegiatan politik praktis, yang sejatinya bukan inti gerakan Muhammadiyah. Sementara itu, bagi elit Muhammadiyah, kelenturan komunikasi politik Muhammadiyah tersebut dianggap masih dalam bingkai khittah politik Muhammadiyah.
Menurut penulis, perbedaan tersebut terjadi karena adanya perbedaan pandangan dalam menafsirkan khittah politik Muhammadiyah. Di satu sisi ada yang melihat dalam perspektif tekstual normatif, dan sebagian yang lain menggunakan perspektif kontekstual historis. Dalam perspektif tekstual normatif, memang nampaknya artikulasi komunikasi politik Muhammadiyah telah masuk terlalu jauh ke wilayah politik praktis. Terlebih lagi apabila dukungan terhadap partai sebagaimana terhadap Masyumi, Parmusi dan pencalonan M. Amien Rais dilakukan secara tertulis dan dihasilkan oleh forum resmi organisasi serta dilakukan mobilisasi melalui jaringan organisasi. Hal ini menyebabkan jaringan organisasi Muhammadiyah telah memainkan peran dan fungsi yang selayaknya hanya dilakukan oleh partai politik ketika melakukan mobilisasi massa melalui aktifitas kampanye. Sementara itu, dalam perspektif kontekstual historis obyektif, artikulasi komunikasi politik Muhammadiyah senantiasa dipengaruhi oleh kondisi sosio politik pada zamannya. Untuk lebih bisa memahami artikulasi komunikasi politik Muhammadiyah secara kontekstual, haruslah difahami budaya politik Muhammadiyah yang merupakan mata rantai sejak pra kemerdekaan sampai dengan era reformasi.
Dalam budaya politik Muhammadiyah sejak era pra kemerdekaan sampai dengan periode pemilu pertama pasca kemerdekaan tahun 1955, keterlibatan Muhammadiyah dalam dinamika politik tanah air sangat intens. Melalui tokoh-tokohnya seperti KH Mas Mansur terlibat aktif dalam pembentukan partai politik, diantaranya masuk sebagai anggota Partai Serikat Islam (SI) tahun 1922, sampai dengan tahun 1927 ketioka pemimpin SI mengeluarkan kebijakan tidak boleh ada rangkap jabatan. Akhirnya KH. Mas Mansur, dkk pada tahun 1937 mendirikan Partai Islam Indonesia (PII) sampai akhirnya bergabung dengan Masyumi sampai dengan pertengahan era Orde Lama.
Pada era pra kemerdekaan sampai dengan awal Orde Lama nampak bahwa kehidupan demokrasi tumbuh sangat dinamis, bahkan pemilu pertama tahun 1955 dianggap pemilu yang paling bersih sepanjang sejarah pemilu di Indo- nesia.
Kemudian, ketika Orde Lama menunjukkan sikap otoritariannya dengan menerapkan Demokrasi Terpimpin, maka kehidupan demokrasi di Indone- sia mengalami kemunduran, bersamaan dengan hal tersebut keterlibatan Muhammadiyah dalam dinamika politik tanah air nampak mengendor seiring dengan dibubarkannya partai Masyumi. Kondisi ini berlangsung sampai dengan tahun 1968 di mana Orde Lama ditumbangkan oleh Orde Baru. Pada tahun 1968 terjadi masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru, kembali Muhammadiyah melihat peluang politik untuk ambil bagian dalam dinamika perpolitikan nasional dengan mendirikan Partai Parmusi pada tahun 1968. Namun, lagi-lagi partai Parmusi yang digadang-gadang oleh Muhammadiyah mengalami kegagalan, sehingga akhirnya Muhammadiyah pada tahun 1971 melalui Muktamar di Ujung Pandang menyatakan sikap tidak memiliki keterkaitan politik dengan partai politik manapun. Di saat Orde Baru berkuasa, dengan kebijakan penyederhanaan partai, maka dinamika politik di Muhammadiyah kembali berkurang karena Orde Baru menerapkan demokrasi Pancasila yang sangat otoriter. Kondisi ini berlang- sung sampai menjelang kejatuhan Orde Baru Tahun 1998.
Jatuhnya Soeharto pada Mei 1998, menjadi pemicu munculnya kembali
ghirrah politik di kalangan Muhammadiyah, terlebih lagi Ketua Muhammadiyah saat itu, M. Amien Rais menjadi tokoh sentral dalam tumbangnya Orde Baru. Tarik ulur agar Muhammadiyah mengambil langkah-langkah politik strategis kembali menjadi perdebatan di kalangan Muhammadiyah. Melalui Sidang Tanwir di Semarang Tahun 1998, mengamanatkan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk melakukan ijtihad politik, yang akhirnya diambil jalan tengah mengijinkan M. Amien Rais untuk mendirikan partai politik, dan berdirilah Partai Amanat Nasional (PAN). Sejak M. Amien Rais menjadi ketua partai PAN, maka jabatan ketua Muhammadiyah dijabat oleh A. Syafi’i Ma’arif.
bahwa kendati PAN tidak lahir langsung dari rahim organisasi Muhammad- iyah namun hal itu tidak dapat dilepaskan dari keterkaitan antara langkah M.Amien Rais sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam gerakan reformasi dengan dukungan sidang Tanwir Muhammadiyah Semarang dan Pleno Muhammadiyah 22 Agustus di Jakarta. Dalam konteks yang demikian, Muhammadiyah sendiri cukup taktis dengan tetap berpijak pada Khittah
Ujung Pandang 1971 yang menjaga jarak yang sama dengan organisasi politik manapun, sehingga tidak mensubordinasikan diri dengan PAN dan relatif bebas dari kontaminasi konflik yang keras dalam proses politik nasional.
Dari paparan di atas, dapat difahami kalau kemudian Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan dukungan secara resmi kepada M. Amien Rais sebagai calon Presiden pada pemilihan presiden tahun 2004 karena disam- ping kader Muhammadiyah adalah juga tokoh reformasi sehingga diharapkan mampu mendorong kereta reformasi ke arah yang makin konkret dalam memasuki era baru pasca kejatuhan Orde Baru yang memerlukan pemerinta- han baru yang memperoleh legitimasi rakyat.
Kenyataan ini semakin memperkuat pandangan DR. Alfian dalam disertasinya Islamic Modernism in Indonesian Politics, The Muhammadiyah Move- ment dering the Ducth Colonial Period 1912-1942. Dr. Alfian mengatakan, sebagai gerakan sosial besar yang terorganisasi baik di Indonesia, Muhammadiyah tampaknya tidak mampu menghindar dari politik. Ternyata, kadang-kadang Muhammadiyah benar-benar bermain politik secara langsung dan terbuka. Pendek kata, Muhammadiyah berbeda sikap dengan yang dinyatakan dengan karakter nyatanya yang nonpolitik sebagaimana dirumuskan dalam dokumen- dokumen tersebut di atas. Selaras dengan pemikiran Dr. Alfian diatas, maka Muhamamadiyah memainkan tiga peranan yang saling terkait, yaitu (1) sebagai reformis keagamaan (antara lain melakukan gerakan memurnikan agama Islam dengan antara lain memberantas takhayul, bid’ah, dan khurafat, alias TBC; (2) sebagai pelaku perubahan sosial (bertujuan memodernisasi umat muslim Indonesia agar terangkat dari ketertinggalannya mencapai tempat terhormat di dunia modern); dan (3) sebagai kekuatan politik. Peran yang ketiga ini dapat dianalisis dari: pertama, pandangan filosofis Islam (antisek-
Muhammadiyah sebagai kelompok kepentingan besar dalam politik Indo- nesia. Karena Muhammadiyah sebagai kelompok kepentingan merupakan gerakan yang nyata-nyata nonpolitik, maka keterlibatannya sangat berbeda dengan keterlibatan organisasi-organisasi yang menjadikan politik sebagai profesinya. Perkembangan Muhammadiyah sebagai kelompok kepentingan dengan tujuan-tujuan keagamaan dan sosialnya yang nyata dan jelas, Muham- madiyah benar-benar tampak memiliki peranan ketiga sebagai salah satu kekuatan politik.
Pasca Muktamar Muhammadiyah Tahun 1971 yang melahirkan Khittah
Ujung Pandang, sebagai organisasi non politik Muhammadiyah, kapan saja, berupaya untuk tidak memainkan politik secara langsung dan terbuka (seperti dulu menyerahkannya pada Syarekat Islam (SI), Masyumi, Parmusi, dan seterusnya sesuai dengan situasi baru politik Indonesia. Meskipun demikian, harus diakui bahwa sebagai organisasi nonpolitik, pada kenyataannya Muhammadiyah tidak bisa menghindar sama sekali dari dinamika politik yang terjadi yang pada gilirannya akan melahirkan tipe-tipe logika situasional (baik lokal dan maupun nasional) yang menentukan kontekstualisasi khittah
politik Muhammadiyah, yang didasari oleh beberapa sebab; (1) sebagai gerakan reformis Islam, tentu Muhammadiyah, sebagaimana klaim aktivisnya sendiri, tidak bisa memisahkan antara Islam dan Politik, bahkan menyatakan bahwa pemisahan antara keduanya merupakan salah satu bentuk dari sekulerisme yang ditentangnya secara sangat tegas, (2) sebagai gerakan Islam yang mempunyai jumlah pendukung yang sangat besar, tentu Muhammadiyah memiliki political magnitude yang sangat besar. Muhammadiyah selalu menjadi sasaran dari lobi-lobi politik yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan politik baik secara organisasional maupun secara individual, (3) sebagai gerakan Is- lam yang massif dan terorganisasikan secara baik dan memiliki tradisi ketaatan pada keputusan organisasi, para pimpinan di daerah dan para anggota Muhammadiyah tidak jarang meminta keputusan Pimpinan Pusat Muham- madiyah atas beberapa persoalan politik, bahkan pada saat-saat menghadapi
event-event politik penting seperti pemilihan umum. Pimpinan dan warga Muhammadiyah di akar rumput bahkan tidak jarang “memaksa” pimpinan pusat (PP) untuk mengeluarkan sebuah instruksi dalam wadah keputusan
pimpinan atas pilihan-pilihan politik yang harus dilakukan dalam event-event politik tersebut, (4) Muhammadiyah adalah juga organisasi kader. Sebagai organisasi kader, Muhammadiyah selama ini menyiapkan kader-kader terbaiknya dalam tiga dimensi kekaderan: kader persyarikatan, kader umat, dan kader bangsa (di lapangan professional dan lapangan politik). Persoalannya adalah Muhammadiyah yang nonpolitik dan netral secara politik sangat sering menghadapi dilema ketika ada di antara kader-kadernya yang terjun dalam kompetisi politik dalam pemilu legislatif, pemilu presiden, atau pemilukada. Sangatlah tidak bermoral dan bertanggungjawab jika Muhammadiyah sebagai organisasi kader bersikap tidak memihak kepada kader sendiri yang notabene dipersiapkannya sendiri sebagai kader terbaiknya itu. Oleh karena itu dapat difahami ketika Pilpres 2004 Muhammadiyah menghadapi situasi yang sangat pelik dan dilematis. Apa yang diputuskan dan dilakukan Muhammadiyah waktu itu secara normatifitas tekstualitas
khittah politik Muhammadiyah dipandang sebagai penyimpangan, tetapi tidak secara historisitas kontektualitas.
D. MODEL KOMUNIKASI POLITIK KOLABORATIF (COLABO-