• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paradigma keilmuan sebagai “Mental Windows”

Dalam dokumen KOMUNIKASI POLITIK MUHAMMADIYAH (Halaman 56-61)

Memahami Paradigma Penelitian Sebagai “Mental Windows”

D. METODE PENELITIAN

3. Paradigma keilmuan sebagai “Mental Windows”

“paradigma” (paradigm) yang hendak digunakan dalam penelitiannya. Paradigma diibaratkan sebagai jalur atau trayek dari sebuah kendaraan yang hendak menuju stasiun tertentu. Guba dan Lincoln mendeskripsikan paradig- ma (paradigm) sebagai the basic belief system or worldview that guides the investiga-tor, not only in choise of method but in ontologically and epistemologically fundamental

ways (Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln, 1994: 105). Sedangkan

pada bagian lain Denzin dan Lincoln menyatakan: a paradigm encompasses three elements: episte-mology, ontology, and methodology (Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln, 1994: 105,99). Dengan demikian, seorang peneliti harus menentukan world view yang dipergunakan dalam mempelajari dan mengin- vestigasi objek yang akan diteliti.

Metodologi penelitian bukan sekadar kumpulan teknik pe-nelitian, melainkan suatu proses penelitian secara menyeluruh yang mengacu pada landasan filsafat keilmuan yang meliputi asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang menjadi aturan standar yang diper-gunakan untuk menafsirkan dan menyimpulkan data penelitian, termasuk juga kriteria untuk menilai kualitas hasil penelitian. Bailey membedakan pengertian “motode” dan “metodologi” sebagaimana ia katakan:

By “method” we simply mean the research technique or tool used to gather data... By “methodology” we mean the philosophy of the research “proses”. This indude the assumptions and values that serve as a rationale for research and the stan- dards of criteria the researcher uses for interpreting data and reaching condusion (Kenneth D Baile,1978:32-33).

Para pakar berbeda-beda dalam mengelompokkan para-digma ilmu pengetahuan. Kinlich (1977), misalnya, mengiden-tifikasi sekurang-kurangnya ada enam paradigma atau perspek-tif teoretikal, yaitu organic paradigm, con- flict paradigm, social behaviorism paradigm, structure fungsionalism paradigm, modern conflict theory, dan social-psychological paradigm. Sedangkan Croty (1994), mengelompokkan teori-teori ilmu sosial ke dalam lima kelom-pok, yakni

positivism, interpretivism, critical inquiry, feminism, dan postmodernism (Michael Croty, 1994). Burrel dan Morgan (1979) mengelompokkan teori-teori dan pendekatan ilmu sosial ke dalam empat paradigma, yaitu radical humanist

paradigm, radical structuralist paradigm, interpretive paradigm, dan fungsionalist paradigm. Dilain pihak, Guba dan Lincoln (1994) mengajukan empat macam tipologi paradigma, yaitu positivist, postpositivist, critical theories et al., dan

constructivism. Sedangkan beberapa peneliti lain menyatukan positivism dan

postpositivism menjadi classical paradigm, karena memiliki implikasi metodologi yang tidak jauh berbeda. Sosiolog Ritzer (1992) membagi paradigma sosiologi men-jadi tiga, [1] The Social Facts Paradigm, yang meliputi teori-teori: struc- tural fungsional theory, conflict theory, dan system theory; [2] The Social Definition Paradigm, yang meliputi teori-teori: action theory, symbolic interactionism, phe- nomenology, ethnomethodology, dan existentialism; [3] The Social Behavior Para- digm, yang meliputi teori-teori behavioral sociology dan exchange theory (George Ritzer, 1996: 640-642). Sedangkan pakar komunikasi, seperti Littlejohn (1996), menggolongkan teori-teori umum komunikasi ke dalam lima ke-lompok besar

(the genres of communication theory). Kelima genre itu adalah structural and fungsional theories, cognitive and behavio-ral theories, interactionist theories, inter- pretive theories, dan critical theories (Stephen W Littlejohn, 1996).

Untuk menjawab pertanyaan penelitian, penulis akan mengeksplorasi pandangan--pandangan yang relevan dalam kepustakaan teori-teori kritis (criti- cal theories). Alasan umum penggunaan paradigma kritis adalah karena secara eksplisit memiliki dua dimensi, yaitu, pertama, mengandaikan terdapatnya hubungan dinamis dan historis antara individu dan masyarakat. Cara berpikir ini berbeda dengan pandangan-pandangan struktural maupun behavioral yang menekankan terutama pada sisi individu sebagai objek struktur maupun lingkungan. Selain itu, juga berbeda dengan pandangan-pandangan feno- menologis yang mengasumsikan bahwa individu memiliki tingkat determinasi yang memadai untuk membentuk struktur sosial. kedua, aktivisme individu dalam hubungannya dengan struktur sosial. Artinya, selain bermanfaat sebagai perangkat atau pendekatan untuk memahami fenomena sosial, pendekatan kritis juga berguna untuk praktik-praktik sosial dalam bentuk gerakan-gerakan sosial.

Terdapat beberapa pandangan yang berkaitan dengan teori kritis (critical theory) atau studi kritis (critical studies), atau paradigma kritis (critical paradigm).

berbeda. Ritzer (1996), misalnya meletakan teori kritis dalam rumpun teori- teori neo-marxian, yang sangat dipengaruhi oleh tradisi Hegelian muda dalam pemikiran Karl Marx. Selanjutnya, Miller (2002), melihat bahwa teori kritis dipengaruhi oleh dua pemikiran utama, yaitu Marxisme dan FrankfurtSchool.

Hal, yang berbeda juga ditunjukkan oleh Littlejohn (1996) yang menggam- barkan tradisi studi kritis yang meliputi Frankfurt School, cultural studies, dan

feminist studies. Namun demikian, Littlejohn mengafirmasi pengaruh Marxisme dalam Frankfurt School. Dengan demikian, secara umum teori kritis/ studi kritis dipenganilti secara kuat oleh pemikiran-pemikiran Marxisme, terutama Marx muda (Early Marx), yang sangat dipengaruhi oleh ide-ide Hegel tentang ketegangan pengalaman subjektif internal dengan dunia eksternal melalui konteks historisnya (Miller, 2002:61).

Secara umum, apabila diamati pemetaan yang dilakukan Littlejohn (1996) yang merujuk Frankfurt School, cultural studies dan feminist studies sebagai bagian dari kajian kritis (Critical Studies), jauh lebih komprehensif, mengapa? karena pemetaan Littlejohn, sama sekali tidak menolak pembagian yang dilakukan oleh Ritzer, namun bukan untuk menunjukkan pembagian-pembagian tersebut sebagai teori ktitis. Littlejohn justru meletakannya dalam konteks akademis yang lebih luas, yaitu sebagai kajian (studies), sedangkan yang menyebut studi kritis sebagai pendekatan, perspektif atau paradigma adalah Miller (2002:60). Miller menempatkan studi feminis dan cultural studies

sebagai aplikasi pendekatan kritis bagi kajian komunikasi.

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah paradigma kritis historis (historical criticism) yang sangat menaruh perhatian terhadap pembongkaran aspek- aspek yang tersembunyi di balik sebuah kenyataan yang tampak, guna dilakukannya kritik dan perubahan (critique and transformation) terhadap struktur sosial. Secara ontologis paradigma ini beranggapan bahwa realitas yang kita lihat adalah realitas semu, realitas yang telah terbentuk dan dipe- ngaruhi oleh kekuatan sosial, politik, budaya, etnik, nilai gender dan sebagai- nya serta telah terkristalisasi dalam jangka waktu yang panjang. Pada tataran epistemologis, paradigma kritik melihat hubungan antara peneliti dan realitas

yang diteliti selalu dijembatani oleh nilai-nilai tertentu. Dalam rangka memahami suatu realitas si peneliti mesti menggunakan perspektif si pelaku (pembentuk) realitas. Realitas harus difahami sebagai kenyataan yang telah diperantarai oleh nilai-nilai antara si subyek dengan realitas yang sebenarnya. Dalam analisis wacana kritis (CDA), metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini, hal semacam itu dilakukan dengan wawancara menda- lam dengan nara sumber, guna memperoleh nilai-nilai yang telah mereka mediasikan kepada publik. Pada level methodologi, paradigma kritis mengam- bil metode participative. Sejatinya, untuk melaksanakan tuntutan partisipatif ini adalah dengan melakukan pengamatan terlibat, dimana peneliti melihat sendiri proses pengkonstruksian wacana politik. Tentu saja hal itu mustahil dilakukan, karena yang dikaji adalah wacana politik yang sudah jadi. Sebagai gantinya adalah dengan melaksanakan analisis yang multi level, serta menem- patkan diri sebagai aktivis/partisipan dalam proses transformasi sosial. Analisis

multi level yang dipergunakan dalam penelitian mengacu pada pemikiran Fairclough. Dengan mengikuti aturan metodhologis paradigma kritis secara

multi level methods, maka tuntutan tiga kriteria kualitas penelitian jenis ini diharapkan dapat dipenuhi. Pertama, kriteria berkaitan dengan historical situa- tedness. Kedua, penelitian yang baik menurut paradigma kritis adalah yang berhasil menghindarkan diri dari hal-hal yang seharusnya tidak masuk ke dalamnya, baik karena ketidak tahuan maupun kesalah pengertian. Ketiga,

menurut paradigma kritis hasil riset harus mampu mendorong perubahan sosial. Ilmu menurut aliran kritis bersifat emansipatoris.

Meskipun peneliti telah menggunakan multi level methods untuk memperoleh sejumlah penjelasan tentang adanya realitas di balik realitas ini sesuai tuntutan paradigma kritis, peneliti dibatasi oleh ketiadaan pengamatan terlibat ketika wacana politik diproduksi. Penelitian ini masih memiliki kekurangan untuk memenuhi kriteria yang disyaratkan paradigma kritis secara maksimal. Pertama, dalam hal historicalsituatedness yaitu keharusan mem- perhatikan konteks historis, sosial, budaya, politik, etnik dan gender. Sejauh ini peneliti tidak terlibat secara partisipatif dalam proses transformasi sosial oleh kedua tokoh yang diteliti. Kedua, dalam hal kontrol atas ketidak tahuan dan kesalah-pengertian, mengingat adanya tuntutan keutuhan. Penelitian

ini boleh jadi masih luput dari hal-hal yang seharusnya dimasukkan. Ketiga,

dalam hal hasil riset yang mendorong pada perubahan sosial. Belum tentu hasil penelitian ini mampu menjadi stimulus bagi terjadinya transformasi sosial sebagaimana dikehendaki aliran kritis.

Dalam dokumen KOMUNIKASI POLITIK MUHAMMADIYAH (Halaman 56-61)