• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Analisis Wacana Kritis Nourman Fairclough

Dalam dokumen KOMUNIKASI POLITIK MUHAMMADIYAH (Halaman 49-54)

Memahami Paradigma Penelitian Sebagai “Mental Windows”

C. KERANGKA TEOR

3. Teori Analisis Wacana Kritis Nourman Fairclough

Istilah wacana, yang padanannya adalah discourse memiliki banyak arti, diantaranya adalah (1) komunikasi pikiran dengan kata-kata, ekspresi ide-ide atau gagasan, percakapan, (2) komunikasi secara umum, terutama sebagai suatu subyek studi atau pokok telaah, dan (3) risalah tulis, disertasi formal, kuliah, ceramah, khutbah (Webster,1983:522). Sebuah tulisan adalah wacana, demikian juga sebuah pidato adalah wacana. Dengan demikian ada wacana tulis dan ada wacana lisan. Jadi istilah wacana dipergunakan untuk mencakup bukan hanya percakapan atau obrolan, tetapi juga pembicaraan di muka umum, tulisan, serta upaya-upaya formal seperti laporan ilmiah dan sandiwara atau lakon (Tarigan,1993:23). Dalam pengertian yang lebih sederhana, Lull (Lull,1998:225), memberikan arti wacana sebagai obyek atau ide yang diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menimbulkan pemahaman tertentu yang tersebar luas. Sementara Kleden, menyebut wacana sebagai ucapan dalam mana seorang pembicara menyampaikan sesuatu tentang sesuatu kepada pendengar (Kleden, 1997:34).

Sara Mill, dengan mengacu pada pendapat Foucault, membedakan penger- tian wacana ke dalam tiga macam; yaitu wacana dilihat dari level konseptual teoritis, konteks penggunaan, dan metode penjelasan (Mill,1997:17-21).

Berdasarkan level konseptual teoritis, wacana diartikan sebagai domain umum dari semua pernyataan, yaitu semua ujaran atau teks yang mempunyai mak- na dan mempunyai efek dalam dunia nyata. Dalam level penggunaannya, wacana berarti sekumpulan pernyataan yang dapat dikelompokkan ke dalam katagori konseptual tertentu. Pengertian ini menekankan pada upaya untuk mengidentifikasi struktur tertentu dalam wacana, yaitu kelompok ujaran yang diatur dengan suatu cara tertentu, misalnya wacana imperialisme dan wacana feminisme. Sedangkan dari metode penjelasannya, wacana merupakan suatu praktik yang diatur untuk menjelaskan pernyataan.

Hubungan wacana dan politik terletak pada persoalan makna teks, yakni bagaimana seseorang memberi makna pada teks dan bagaimana serangkaian teks dibentuk dengan cara tertentu serta apa yang menyebabkan demikian. Menurut John Fiske (Fiske,1990:164) makna tidak intrinsic dalam teks. Jika seseorang membaca teks ia tidak menemukan makna karena yang dia hadapi secara langsung adalah pesan dalam teks. Makna diproduksi lewat proses yang aktif dan dinamis, baik dari sisi pembuat maupun khalayak pembaca/ pendengar. Pembaca dan teks secara bersama-sama memiliki andil yang sama dalam memproduksi makna, dan hubungan itu menempatkan seseorang sebagai satu bagian dari hubungannya dengan sistem tata nilai yang lebih besar di mana ia hidup dalam masyarakat.

Analisis wacana dibedakan menjadi analisis wacana konvensional dan analisis wacana kritis. Dalam analisis wacana konvensional, teks/bahasa dipandang sebagai sesuatu yang netral, tanpa memperhitungkan ideologi yang tersembunyi dari suatu wacana. Oleh sebab itu, wacana kemudian diukur dengan pertimbangan kebenaran/ketidak benaran menurut struktur bahasa yang berlaku. Sementara itu, analisis wacana kritis mempelajari bagaimana kekuasaan disalahgunakan atau bagaimana dominasi dan ketidakadilan dijalankan dan direproduksi melalui teks dalam sebuah konteks sosial (Hidayat dalam Eriyanto, 2001:ix).

Wacana tidak hanya difahami sebagai kebenaran/ketidak benaran struktur bahasa. Pemakaian bahasa diyakini bukan hanya sebuah komunikasi yang murni tetapi merupakan suatu srategi komunikator dalam berkomunikasi. Konseksuensinya, komunikator kemudian tidak hanya dipandang sebagai

seseorang yang netral tetapi mempunyai kepentingan tertentu ketika mempro- duksi suatu teks. Salah satu pendiri analisis wacana kritis adalah Norman Fairclough, Model analisis wacana kritis Fairclough mengintegrasikan analisis wacana yang didasarkan pada disiplin linguistik dengan pemikiran sosial dan politik, dan secara umum diorientasikan pada perubahan sosial. Oleh karena itu, model yang dikemukakan Fairclough ini sering disebut sebagai model perubahan sosial. Pemikiran Fairclough banyak dipengaruhi oleh pemikiran Foucault dan konsep intertekstualitas Julia Kristeva dan Bakhtin (Eriyanto,2001:15-17).

Dalam analisisnya, Fairclough berusaha menghubungkan analisis teks pada level mikro dengan konteks sosial yang lebih besar. Model analisis wacana Fairclough dibagi ke dalam dua tahapan besar analisis, yaitu tahapan commu- nicative events dan tahapan order of discourse (Fairclough,1995:56). Tahapan

communicative events terdiri dari analisis teks, discourse practice, dan sociocul- tural practice. Analisis teks bertujuan untuk mengungkap makna dan dilakukan dengan menganalisis bahasa secara kritis. Analisis discourse prac- tice dilakukan pada level proses pembuatan teks (processing analysis) yang berguna untuk melakukan penafsiran atas teks dan analisis konsumsi teks. Analisis sociocultural practice adalah analisis pada level sosial (social analysis)

yang berisikan kajian mengenai keadaan sosial yang mempengaruhi proses pembuatan teks untukmenjelaskan konteks lahirnya sebuah teks. Pada saat melakukan analisis, ketiga tahapan tersebut dilakukan secara bersama-sama. Tahapan analisis communicative event yang pertama adalah analisis teks. Fairclough melihat analisis teks di dalam berbagai tingkatan karena sebuah teks bukan hanya menampilkan bagaimana suatu obyek digambarkan, tetapi juga bagaimana hubungan antar obyek didefinisikan. Pada dasarnya, setiap teks, menurut Fairclough, dapat diuraikan dan dianalisis melalui unsur-unsur seperti representasi, relasi, intertektualitas, dan identitas (Fairclough,1995:58). Representasi pada dasarnya melihat bagaimana seseorang, kelompok, tindakan, dan kegiatan ditampilkan dalam teks. Representasi, dalam pengertian Fairclough, dilihat dari dua hal, yakni bagaimana seseorang, kelompok, dan gagasan ditampilkan dalam anak kalimat dan gabungan atau rangkaian antar anak kalimat. Menurutnya, ketika seseorang, kelompok,

peristiwa, atau kegiatan ditampilkan dalam teks, pada dasarnya pemakaian bahasa dihadapkan pada paling tidak dua pilihan (Eriyanto,2001:290).

Pertama, pada tingkat kosa kata (vocabulary). Ini berkaitan dengan kosa kata apa yang dipakai untuk menampilkan dan menggambarkan sesuatu, yang menunjukkan bagaimana sesuatu tersebut dimasukkan dalam satu set katagori. Kedua, pilihan yang didasarkan pada tingkat tata bahasa (grammar).

Ini terkair dengan perbedaan antara tindakan (dengan aktor sebagai penyebab) dan sebuah peristiwa (tanpa aktor sebagai penyebab atau pelaku). Perbedaan ini bukan semata persoalan ketata bahasaan karena realitas yang dihadirkan dari pemakaian tata bahasa ini berbeda. Pemakai bahasa dapat memilih apa- kah seseorang,kelompok, atau kegiatan tertentu hendak ditanpilkan seba- gai sebuah tindakan (action) ataukah sebagai sebuah peristiwa (event).

Relasi berhubungan dengan bagaimana partisipan dalam teks berhu- bungan dan ditampilkan dalam teks. Media dipandang sebagai arena sosial, dimana semua kelompok, golongan, dan khalayak yang ada dalam masyarakat saling berhubungan dan menyampaikan versi pendapat dan gagasannya ma- sing-masing. Paling tidak, menurut Fairclough terdapat tiga katagori partisipan utama dalam teks media; wartawan, khalayak media, dan partisipan publik. Titik perhatian analisis hubungan bukan pada bagaimana partisipan publik tadi ditampilkan dalam media (representasi), tetapi bagaimana pola hubungan di antara ketiga aktor tadi ditanpilkan dalam teks.

Aspek identitas terkait dengan bagaimana identitas penulis ditampilkan dan dikontruksi dalam wacana. Menurut Fairclough, apa yang menarik adalah bagaimana penulis menempatkan dan mengidentifikasikan dirinya dengan masalah atau kelompok sosial yang terlibat. Apakah penulis ingin mengi- dentifikasi dirinya sebagai bagian dari khalayak ataukah menampilkan dan mengidentifikasi dirinya secara mandiri. Akan tetapi, identitas bukan hanya berkaitan dengan penulis, namun juga berkaitan dengan bagaimana partisipan publik dan khalayak diidentifikasi.

Tahapan analisis communicative event kedua adalah tahapan analisis dis- course practice. Analisis ini dilakukan pada level proses pembuatan teks (pro- cessing analysis). Dalam tahapan analisis discourse practice, Fairclough melihat bagaimana praktik produksi teks dan konsumsi teks. Analisis praktik produksi

teks melihat dari sisi individu penulis, hubungan antara penulis dan struktur organisasi, serta praktik kerja. Ketiga elemen tersebut merupakan keseluru- han dari praktik wacana dalam suatu media yang saling terkait dalam memproduksi suatu wacana (Fairclough,1995:58-62). Sementara itu, analisis pada praktik konsumsi melihat bagaimana teks dikonsumsi pada tataran khalayak dan bagaimana terpaan teks media mempengaruhi persepsi audiensnya (Fairclough,1995:48-50).

Tahapan analisis communicative event yang terakhir adalah tahapan socio- cultural practice. Analisis ini dilakukan pada level sosial (social analysis). Taha- pan ini didasari asumsi bahwa konteks sosial yang ada di luar media mempengaruhi wacana yang muncul dalam media. Analisis ini memang tidak berhubungan langsung dengan produksi teks, tetapi ia menentukan bagai- mana teks diproduksi dan difahami. Sociocultural practice menggambarkan bagaimana kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakat memaknai dan menyebarkan ideologi yang dominan kepada masyarakat. Fairclough mem- buat tiga level analisis sociocultural practice yaitu level situasional, institusional, dan sosial (Fairclough,1995:62).

Sedangkan tahapan analisis order of discourse melihat aspek intertekstualitas dan genre. Intertekstualitas adalah sebuah istilah dimana teks dan ungkapan dibentuk oleh teks yang hadir sebelumnya, saling menanggapi, dan salah satu bagian dari teks tersebut mengantisipasi bagian lainnya. Intertekstualitas dalam wacana dapat dideteksi dari pengutipan nara sumber, apakah secara langsung atau tidak langsung. Selain intertekstualitas, terdapat pula genre. Genre adalah cara pemakaian bahasa yang biasanya disesuaikan dengan ling- kup praktik sosialnya. Oleh karena itu, melalui model analisis order of dis- course, Fairclough ingin menegaskan bahwa wacana sesungguhnya adalah suatu bidang yang kompleks. Apa pun yang muncul dalam teks yang diteliti sesungguhnya adalah bagian akhir dari suatu proses yang kompleks dari berbagai kekuatan, aturan, regulasi, dan negoisasi yang menghasilkan fakta tertentu.

Dari uraian sebagaimana disebutkan di atas, maka kerangka pemikiran teoritis penelitian ini dapat digambarkan dalam skema sebagai berikut:

Gambar 3: Kerangka Pemikiran Ideologi Muhammadiyah

Dalam dokumen KOMUNIKASI POLITIK MUHAMMADIYAH (Halaman 49-54)