MORATOIR DAN UANG PAKSA
A. Dasar Hakim Mengabulkan Gugatan yang Diberikan oleh PT Millennium Pharmacom International Tbk
Penggugat yang akan menuntut haknya disyaratkan untuk membuat surat gugatan, artinya harus dibuat secara tertulis, agar menjadi terang dan jelas apa yang sesungguhnya menjadi latar belakang alasan dan tujuan diajukannya gugatan tersebut, hal ini diatur di dalam Hukum Acara Perdata Indonesia. Surat gugatan adalah suatu surat yang diajukan oleh Penggugat kepada Ketua Pengadilan yang berwenang, yang memuat tuntutan hak yang di dalamnya mengandung suatu sengketa dan sekaligus merupakan dasar landasan pemeriksaan perkara dan pembuktian kebenaran suatu hak.62 Gugatan juga sangat penting bagi pihak Tergugat dan terutama bagi hakim yang memeriksa dan memutus perkara yang bersangkutan. Tergugat akan mendasarkan jawaban-jawabannya, baik berupa pengakuan ataupun bantahannya, mengacu pada dalil-dalil yang terurai pada surat gugatan Penggugat tersebut. Hakim pemeriksa perkara, akan mendasarkan proses pemeriksaan perkara, maupun putusannya, pada dalik-dalil Penggugat dalam surat gugatannya yang dikaitkan dengan pembuktian di muka persidangan.63
Menurut pakar hukum acara perdata, M.Yahya Harahap, dikabulkannya suatu gugatan adalah dengan syarat bila dalil gugatnya dapat dibuktikan oleh
62 A Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2008), hal 39.
63 Sunarto, Peran Akitf Hakim Dalam Perkara Perdata, (Jakarta: Kencana, 2014), hal.5.
penggugat sesuai alat bukti sebagaimana diatur dalam Pasal 1865 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Adapun isi dari Pasal 1865 adalah sebagai berikut:
“Setiap orang yang mengaku mempunyai suatu hak, atau menunjuk suatu peristiwa untuk meneguhkan haknya itu atau untuk membantah suatu hak orang lain, wajib membuktikan adanya hak itu atau kejadian yang dikemukakan itu.”
Hakim dapat memutuskan apakah gugatan tersebut dikabulkan, ditolak, atau tidak dapat diterima. Berikut penjelasannya sebagai berikut:
1. Gugatan Dikabulkan
Menurut M.Yahya Harahap dikabulkannya suatu gugatan dengan syarat bila dalil gugatannya dapat dikabulkan oleh Penggugat sesuai alat bukti sebagaimaan diatur dalam Pasal 1865 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dikabulkannya gugatan ini pun ada yang dikabulkan sebagian, ada yang dikabulkan seluruhnya, ditentukan oleh pertimbangan majelis hakim.
2. Gugatan Ditolak
M. Yahya Harahap menyatakan bahwa bila Penggugat dianggap tidak berhasil membuktikan dalil gugatannya, akibat hukum yang harus ditanggungnya atas kegagalan membuktikan dalil gugatannya adalah gugatannya mesti ditolak seluruhnya. Jadi bila suatu gugatan tidak dapat dibutkikan dalil gugatannya bahwa Tergugat patut dihukum karena melanggar hal-hal yang disampaikan dalam gugatan, mkaa gugatan ditolak.
3. Gugatan Tidak Dapat Diterima
Menurut M.Yahya Harahap bahwa ada berbagai cacat formil yang mungkin melekat pada gugatan, antara lain gugatan yang ditandatangani kuasa berdasarkan surat kuasa yang tidak memenuhi syarat yang digariskan Pasal 123 ayat (1) HIR jo. SEMA No.4 Tahun 1996:
a. Gugatan tidak memiliki dasar hukum;
b. Gugatan error in persona dalam bentuk diskualifikasi atay plurium litis consortium;
c. Gugatan mengandung cacat atau obscuur libel; atau
d. Gugatan melanggar yurisdiksi absolute atau relatif dan sebagainya.
Menghadapi gugatan yang mengandung cacat formil, putusan yang dijatuhkan harus dengan jelas dan tegas mencantumkan dalam amar putusan: menyatakan gugatan tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard/NO).64
Dasar pemberian putusan NO (tidak dapat diterima) ini dapat kita lihat dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung RI No.1149/K/Sip/1975 tanggal 17 April 1975 Jo Putusan Mahkamah Agung RI No.565/K/Sip/1973 tanggal 21 Agustus 1973, Jo Putusan Mahkamah Agung RI No.1149/K/Sip/1979 tanggal 7 April 1979 yang menyatakan bahwa terhadap objek gugatan yang tidak jelas, maka gugatan tidak dapat diterima.
Apabila Penggugat mampu membuktikan gugatannya, sementara Tergugat tidak mampu membuktikan bantahannya, maka Hakim akan mengabulkan
64 Jonaedi Efendi, Kamus Istilah Hukum Populer, (Jakarta: Kencana, 2016), hal 139.
gugatan wanprestasi tersebut. Begitu juga sebaliknya, apabila Penggugat tidak mampu membuktikan gugatannya, sedangkan Tergugat mampu membuktikan bantahannya, maka Hakim akan menolak gugatan wanprestasi.
Majelis Hakim memutuskan menerima gugatan Penggugat untuk sebahagian di dalam putusan ini, adapun petitum dari Pihak Penggugat dalam perkara ini adalah sebagai berikut:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan sah dan berharga atas sita jaminan (conservatoir beslag) yang telah dilakukan;
3. Menyatakan sah dan mengikat Surat Perjanjian tanggal 28 Juli 2016 yang dilegalisasi oleh Go Uton Utomo,SH Notaris di Medan dengan Nomor:
209/Leg/VII/2016 tanggal 28 Juli 2016 Surat Kuasa yang dibuat oleh Go Uton Utomo, SH Notaris di Medan dengan Akta Nomor: 19 tanggal 28 Juli 2016;
4. Menyatakan Tergugat memiliki hutang atas obat-obatan yang belum dibayar kepada Penggugat dengan jumlah sebesar Rp 274.134.928.50,- (dua ratus tujuh puluh empat juta seratus tiga puluh empat ribu sembilan ratus dua puluh delapan koma lima puluh rupiah);
5. Menyatakan tindakan Tergugat yang tidak menjalankan kewajibannya membayar obat-obatan kepada Penggugat dengan jumlah sebesar Rp 274.134.928,50- (dua ratus tujuh puluh empat juta seratus tiga puluh empat ribu sembilan ratus dua puluh delapan koma lima puluh rupiah) adalah merupakan perbuatan ingkar janji (wanprestasi);
6. Menghukum Tergugat membayar obat-obatan tersebut kepada Penggugat dengan jumlah sebesar Rp 274.134.928,50- (dua ratus tujuh puluh empat juta seratus tiga puluh empat ribu sembilan ratus dua puluh delapan koma lima puluh rupiah);
7. Menghukum Tegrugat membayar bunga moratoir kepada penggugat setiap bulannya terhitung sejak bulan Februari 2017 hingga dilaksanakannya isi putusan di dalam perkara ini dengan jumlah sebesar Rp 137.067,50,- (seratus tiga puluh tujuh ribu enam puluh tujuh koma lima puluh rupiah).
8. Menghukum Tergugat dan Turut Tergugat untuk menyerahkan Surat Jual Beli dan Penyerahan Hak tanggal 13 Maret 2007 dengan Legalisasi Nomor: 313/Leg/III/2007 bertanggal 13 Maret 2007 kepada Penggugat;
9. Menghukum Tergugat untuk membayar uang paksa (dwangsom) kepada Penggugat dengan jumlah sebesar Rp 500.000,00,- (lima ratus ribu rupiah) atas setiap hari keterlambatannya dalam memenuhi isi putusan ini terhitung sejak putusan dalam perkara ini berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde);
10. Menghukum Tergugat untuk membayar segala biaya yang timbul di dalam perkara ini.
Adapun putusan Hakim adalah sebagai berikut:
MENGADILI
1. Menerima gugatan Penggugat untuk sebahagian;
2. Menyatakan Sah dan mengikat surat perjanjian tanggal 28 Juli 2016 yang di Legalisasi oleh Go Uton Utomo, SH. Notaris di Medan dengan Nomor :
209/Leg/VII/2016 tanggal 28 Juli 2016, surat kuasa yang dibuat oleh Go Uton Utomo, SH. Notaris di Medan dengan Akta Nomor: 19 tanggal 29 Juli 2016;
3. Menyatakan Tergugat memiliki hutang atas obat-obatan yang belum dibayar kepada Penggugat dengan jumlah sebesar Rp.274.134.928,50.-(dua ratus tujuh puluh empat juta seratus tiga puluh empat ribu Sembilan ratus dua puluh delapan koma lima puluh rupiah);
4. Menyatakan tindakan Tergugat yang tidak menjalankan kewajibannya membayar obat – obatan kepada Penggugat dengan jumlah sebesar Rp 274.134.928,50.-(dua ratus tujuh puluh empat juta seratus tiga puluh empat ribu Sembilan ratus dua puluh delapan koma lima puluh rupiah) adalah merupakan perbuatan ingkar janji (Wanprestasi);
5. Menghukum Tergugat membayar obat – obatan tersebut kepada Penggugat dengan jumlah sebesar Rp.274.134.928,50.-(dua ratus tujuh puluh empat juta seratus tiga puluh empat ribu Sembilan ratus dua puluh delapan koma lima puluh rupiah);
6. Menghukum Tergugat dan Turut Tergugat untuk menyerahkan Surat Jual Beli dan Penyerahan Hak tanggal 13 Maret 2007 dengan Legalisasi Nomor : 313/leg/III/2007 tertanggal 13 Maret 2007 kepada Penggugat ;
7. Menolak gugatan Penggugat yang lain dan selebihnya;
8. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya yang timbul akibat perkara ini sebanyak Rp.1.461.000,- (satu juta empat ratus enam puluh satu ribu rupiah )
Majelis Hakim mengabulkan petitum Penggugat sebahagian yaitu pada angka tiga, empat, lima, enam, delapan, dan menolak petitum Penggugat dengan angka dua, tujuh dan sembilan. Majelis Hakim juga menyatakan bahwa dari pertimbangan-pertimbangan yang ada maka pihak Penggugat telah dapat membuktikan dalil – dalil gugatannya sebahagian sedangkan para Tergugat tidak sanggup membuktikan dalil – dalil sangkalannya oleh karena itu gugatan Penggugat dapat dikabulkan sebahagian dan menolak yang lain dan selebihnya.
Dasar Majelis Hakim mengabulkan gugatan tersebut dapat diketahui berdasarkan dari pertimbangan-pertimbangan Majelis Hakim yang menyatakan bahwa pihak Penggugat dengan pihak Tergugat telah membuat suatu perjanjian dan perjanjian tersebut telah sah menurut hukum memenuhi unsur Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sehingga perjanjian tersebut menjadi undang-undang bagi para pihak. Sehingga sah dan mengikat surat perjanjian tanggal 28 Juli 2016 yang di Legalisasi oleh Go Uton Utomo, SH. Notaris di Medan dengan Nomor : 209/Leg/VII/2016 tanggal 28 Juli 2016
Pihak Penggugat telah melaksanakan prestasi sebagai mana mestinya yaitu telah mendistribusikan obat-obatan kepada pihak Tergugat dan sebaliknya pihak Tergugat tidak melaksanakan prestasi sebagai mana mestinya yaitu belum membayar kepada Penggugat dan sudah jatuh tempo yang berjumlah Rp 274.134.928,50,- (dua ratus tujuh puluh empat juta seratus tiga puluh empat ribu Sembilan ratus dua puluh delapan koma lima puluh rupiah) dan Penggugat telah memberikan surat peringatan (somasi) kepada Tergugat karena keterlambatan pembayaran tagihan, tetapi Tergugat tidak juga melaksanakan prestasinya.
Menurut Majelis Hakim pihak Tergugat telah melakukan wanprestasi, maka kepada pihak Tergugat diwajibkan melakukan pemenuhan terhadap apa yang telah diperjanjikan tersebut sebagai mana mestinya dan juga menghukum Tergugat untuk menyerahkan Surat Jual Beli dan Penyerahan Hak tanggal 13 Maret 2007 dengan Legalisasi Nomor : 313/leg/III/2007 tertanggal 13 Maret 2007 kepada Penggugat
Pihak Tergugat tidak melaksanakan pembayarannya sebagai mana yang telah diperjanjikan maka pihak Tergugat mempunyai utang kepada pihak Penggugat dengan jumlah sebesar Rp 274.134.928,50,- (dua ratus tujuh puluh empat juta seratus tiga puluh empat ribu sembilan ratus dua puluh delapan koma lima puluh rupiah), sehingga Hakim menghukum Tergugat untuk membayar utangnya sebagai mana tersebut di atas kepada Penggugat.
B. Peraturan Mengenai Pembayaran Bunga Moratoir dan Uang Paksa