• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peraturan Mengenai Pembayaran Bunga Moratoir dan Uang Paksa (Dwangsom) (Dwangsom)

MORATOIR DAN UANG PAKSA

B. Peraturan Mengenai Pembayaran Bunga Moratoir dan Uang Paksa (Dwangsom) (Dwangsom)

Wanprestasi mengakibatkan kerugian baik dalam jumlah kecil, sedang, maupun besar bagi pihak lain. Pihak lain yang mengalami kerugian dapat menuntut pihak yang merugikan untuk memberikan ganti rugi. 65 Ketentuan Pasal 1239 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menguraikan apa yang dimaksud dengan ganti rugi dan kaitan antara wanprestasi dengan ganti rugi dengan menyatakan bahwa:

65 Ahmad Rizki Sridadi, Op.Cit, hal 88.

“Tiap perikatan untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu, wajib diselesaikan dengan memberikan penggantian biaya, kerugian, dan bunga, bila debitur tidak memenuhi kewajibannya”.

Menurut Abdulkadir Muhammad, yang dimaksud dengan ganti kerugian yaitu ganti kerugian yang timbul karena debitur melakukan wanprestasi.66 Berkaitan dengan ganti kerugian, unsur kerugian terdiri atas tiga yaitu:

1. Ongkos-ongkos atau biaya-biaya yang telah dikeluarkan;

2. Kerugian karena kerusakan, kerugian yang sungguh diderita;

3. Bunga atau keuntungan yang diharapkan (interest).67

Hal ini dinyatakan dalam Pasal 1244 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa:

Debitur harus dihukum untuk menggantikan biaya, kerugian dan bunga.

Apabila ia tidak dapat membuktikan bahwa tidak dilaksanakannya perikatan itu atau tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan perikatan itu disebabkan oleh sesuatu hal yang tak terduga, yang tak dapat dipertanggungkan kepadanya, walaupun tidak ada itikad buruk kepadanya.

Menurut Subekti, ganti rugi diperinci dalam 3 (tiga) unsur, yaitu biaya, rugi, dan bunga. Biaya adalah segala pengeluaran atau perongkosan yang nyata-nyata sudah dikeluarkan oleh salah satu pihak. Rugi yaitu kerugian karena kerusakan barang-barang kepunyaan kreditur yang diakibatkan oleh kelalaian si debitur. Bunga yaitu kerugian yang berupa kehilangan keuntungan (Bahasa Belanda: winstderving), yang sudah dibayangkan atau dihitung oleh debitur.68

66 Abdulkadir Muhammad,Op.Cit, hal 56.

67 Ibid.

68 Subekti, hal. 47.

Pada pokoknya, ada 2 (dua) macam bunga yang diatur di dalam Pasal 1767 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata:

Ada bunga menurut penetapan undang-undang, ada pula yang ditetapkan dalam perjanjian. Bunga menurut undang-undang ialah bunga yang ditentukan oleh undang-undang. Bunga ditetapkan dalam perjanjian boleh melampaui bunga menurut undang-undang dalam segala hal yang tidak dilarang undang-undang. Besarnya bunga yang ditetapkan dalam perjanjian harus dinyatakan secara tertulis.

Sehingga dapat dinyatakan bahwa 2 (dua) macam bunga tersebut adalah bunga menurut undang-undang yang dikenal dengan bunga moratoir dan bunga yang ditetapkan dalam perjanjian. Bunga moratoir besarnya ditetapkan dalam undang-undang, dan menurut Staatblad Tahun 1948 No.22 ditentukan besarnya bunga tersebut 6% per tahun. Apabila dalam perjanjian pihak kreditur memperjanjikan bunga tetapi tidak ditentukan berapa besarnya, maka debitur diwajibkan oleh Pasal 1768 Kitab Undang-Undnag Hukum Perdata untuk membayar bunga moratoir.69

Bunga moratoir adalah merupakan ganti rugi dalam wujud sejumlah uang, sebagai akibat dari tidak atau terlambat dipenuhinya perikatan yang berisi kewajiban pembayaran sejumlah uang oleh debitur. Hal ini diatur khusus pada Pasal 1250 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan:

Dalam perikatan yang hanya berhubungan dengan pembayaran sejumlah uang, penggantian biaya, kerugian dan bunga yang timbul karena keterlambatan pelaksanaannya, hanya terdiri atas bunga yang ditentukan oleh undang tanpa mengurangi berlakunya peraturan undang-undang khusus. Pemggantian biaya, kerugian dan bunga itu wajib dibayar, tanpa perlu dibuktikan adanya suatu kerugian oleh kreditur. Penggantian biaya, kerugian dan bunga itu baru wajib dibayar sejak diminta di muka Pengadilan, kecuali bila undang-undang menetapkan bahwa hal itu berlaku demi hukum.

69 Gatot Supramono, Perjanjian Utang Piutang, (Jakarta: Kencana 2014), hal 28.

Pada prinsipnya, bunga moratoir ini tidak perlu dibuktikan adanya suatu kerugian oleh Kreditur. Untuk pengenaan bunga moratoir hanya harus dibayar terhitung mulai dari diminta di muka Pengadilan, kecuali dalam hal-hal yang mana menurut undang-undang menetapkan bahwa ia berlaku demi hukum, demikian ketentuan Pasal 1250 paragraf (3) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.70

Bunga denda atau bunga moratoir berarti bunga yang harus dibayar (sebagai hukuman) karena debitur itu alpa atau lalai membayar utangnya dan Staatblad No 22 Tahun 1848 menetapkan besar bunga moratoir adalah 6% setahun dan menurut pasal 1250 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bunga yang dapat dituntut itu tidak boleh melebihi persenan yang ditetapkan dalam undang-undang tersebut.71

Hal yang juga perlu dipertimbangkan sesuai Pasal 1250 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata selain besaran bunga moratoir adalah periode waktu kapan bunga tersebut mulai diberlakukan. Bunga tersebut baru dihitung sejak dituntutnya ke pengadilan, yaitu sejak dimasukkannya surat gugatan. Debitur hanya dapat menuntut pembayaran atas bunga yang sudah berhenti bila pembayaran yang terakhir setidaknya telah berjalan satu tahun penuh.72 Ketentuan yang mengatur pemberlakuan bunga sejak gugatan diajukan ke

70 faktorhukum.com , “Pengertian Bunga Moratoir dan Penjelasannya”, diakses dari http://faktorhukum.com/2019/10/pengertian-bunga-moratoir-dan-penjelasannya/ pada selasa 3/3/2020 jam 11:50

71 R. Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta: Intermasa, 2010, cet 23), hal 45.

72 Yusnedi Achmad, Gadai Syariah, (Yogyakarta: Deepublish, 2015), hal 24.

pengadilan sebenarnya dimaksudkan untuk menjamin bahwa debitur juga mengetahui besarnya bunga (riil) yang harus dibayarkannya.

Terdapat banyak pengertian tentang uang paksa (dwangsom) yang dirumuskan oleh para pakar dalam literatur hukum, adapun sebagai berikut:

1. Mr. P.A. Stein mengemukakan bahwa uang paksa sebagai sejumlah uang yang ditetapkan dalam putusan, hukuman tersebut diserahkan kepada Penggugat di dalam hal sepanjang atau sewaktu–waktu si terhukum tidak melaksanakan hukuman. Uang paksa ditetapkan di dalam suatu jumlah uang, baik berupa sejumlah uang paksa sekaligus, maupun setiap jangka waktu atau setiap pelanggaran.

2. Mr. F.M.J. Jansen memberi batasan uang paksa sebagai upaya eksekusi tidak langsung untuk memperoleh prestasi riil yang tidak dapat dicapai melalui upaya eksekusi biasa terkecuali secara khusus terhadap sila revindikasi.

3. J.C.T Simorangkir, Rudy T. Erwin dan J.T Prasetya menyebutkan uang paksa sebagai uang Paksa yang ditetapkan sebagai hukuman yang harus dibayar karena perjanjian yang tidak dipenuhi.

4. Subekti dan Tjitrosoedibio menyebutkan bahwa uang paksa itu sebagai sebegitu jauh suatu putusan pengadilan memutuskan penghukuman untuk sesuatu lain daripada untuk membayar sejumlah uang, maka dapatlah ditentukan di dalamnya bahwa si terhukum tidak/belum memenuhi keputusan tersebut, ia pun wajib membayar sejumlah uang yang ditetapkan

dalam putusan itu, disebut uang paksa (Pasal 605a Rv). Dengan demikian maka uang paksa ini merupakan suatu alat eksekusi secara tidak langsung.

Rumusan pengertian uang paksa (dwangsom) oleh para pakar hukum pada dasarnya tidak lepas dari ketentuan yang tercantum dalam Reglemen Acara Perdata yang biasa dikenal dengan singkatan Rv pada Pasal 606 huruf a dan b yang menjadi acuan dalam penerapan uang paksa (dwangsom). Adapun isi dari Pasal 606 Rv yaitu:

a. Sepanjang suatu keputusan hakim mengandung hukuman untuk sesuatu yang daripada membayar sejumlah uang maka dapat ditentukan bahwa sepanjang atau setiap kali terhukum tidak memenuhi hukuman tersebut, olehnya harus diserahkan sejumlah uang yang besarnya ditetapkan dalam keputusan hakim dan uang tersebut dinamakan uang paksa (dwangsom);

b. Apabila keputusan (hakim) tersebut tidak dipenuhi maka pihak lawan dari terhukum berwenang untuk melaksanakan keputusan terhadap sejumlah uang paksa (dwangsom) yang telah ditentukan tanpa terlebih dahulu memperoleh alas hak baru menurut hukum.

Lahirlah perumusan pengertian atau arti istilah dari uang paksa (dwangsom) dari Pasal 606 huruf a dan huruf b tersebut , yaitu hukuman yang dijatuhkan oleh hakim kepada salah satu pihak berupa pembayaran sejumlah uang, apabila hukuman pokok tidak dilaksanakan.73

Uang paksa (dwangsom) dalam praktik peradilan di Indonesia merupakan hukuman tambahan di samping hukuman pokok yang dijatuhkan dalam putusan hakim atas permohonan pihak Penggugat, agar pihak yang kalah dihukum membayar sejumlah uang kepada pihak yang menang, jika pihak yang kalah tidak memenuhi dan melaksanakan hukuman pokok dalam putusan hakim secara

73 Ade Darmawan Basri. “Implementasi Pelaksanaan Dwangsom (Uang Paksa) dalam Gugatan Perdata”, Jurnal Hukum Ekonomi Syari’ah El-Iqtishady hal 72-73.

sukarela setelah putusan tersebut berkekuatan hukum tetap, namun dalam hal setelah putusan hakim berkekuatan hukum tetap ternyata pihak yang kalah segera memenuhi dan melaksanakan hukuman pokok sebagaimana mestinya secara sukarela, maka hukuman uang paksa (dwangsom) tersebut menjadi tidak berfungsi dan tidak mempunyai daya eksekusi terhadap pihak yang kalah tersebut.74

Uang paksa (dwangsom) yang berasal dari upaya paksa untuk menggenapi suatu prestasi atau dalam upaya ganti rugi, untuk terlaksananya suatu putusan terdapat dua upaya yang dapat ditempuh, yaitu sebagai berikut:

1. Upaya paksa langsung, Penggugat memperoleh prestasi dari tergugat sesuai dengan apa yang ditentukan atau diperintahkan oleh Hakim upaya ini dapat dibedakan dalam dua cara, yaitu:

a. Eksekusi riil, yaitu secara langsung Tergugat dipaksakan untuk memenuhi apa yang diperintahkan oleh hakim di persidangan. Cara ini adalah untuk melaksanakan prestasi yang berupa : untuk menyerahkan sesuatu barang selain dari uang, melakukan atau tidak melakukan.

Dengan singkat dapat dikatakan hukuman untuk memenuhi suatu prestasi selain dari suatu jumlah uang dilaksanakan dengan suatu eksekusi riil.

b. Hukuman untuk memenuhi prestasi berupa pembayaran sejumlah uang, dilaksanakan dengan lebih dahulu mengadakan pemblokiran (penyitaan) barang–barang bergerak maupun tidak bergerak milik penggugat, kemudian barang-barang tersebut dijual (dilelang) dan

74 Cik Basir, Konstruksi Yuridis Penerapan Uang Paksa (Dwangsom) Sebagai Instrumen Eksekusi Dalam Putusan Hakim Dan Eksistensinya Dalam Perspektif Hukum Islam, (Jakarta:

Kencana, 2020) hal 26.

hasilnya digunakan untuk pembayaran sesuai dengan jumlah yang harus dibayar oleh tergugat. cara ini disebut verhaal executie.

2. Upaya paksa tidak langsung, yaitu pemenuhan prestasi tercapai dengan melalui tekanan phychis kepada Tergugat agar ia dengan sukarela memenuhi prestasi. Upaya ini dikenal dengan dua cara yaitu :

a. Penerapan gijzeling (sandera), yaitu hakim menetapkan bahwa apabila terhukum tidak mau memenuhi prestasi yang ditetapkan maka terhukum disandera. Penerapan sandera ini dapat diterapkan dalam setiap putusan kondemnator. Penerapan sandera sekarang ini tidak diperkenankan sesuai dengan Surat Edaran Mahkamah Agung RI Nomor 2 Tahun 1964 tanggal 22 Januari 1964 karena dipandang bertentangan dengan Pancasila.

b. Penerapan dwangsom (uang paksa) yaitu hakim menetapkan suatu hukuman tambahan kepada si terhukum untuk membayar sejumlah uang kepada si Penggugat di dalam hal ini si terhukum tersebut tidak memenuhi hukuman pokok, hukuman tambahan dimana dimaksudkan untuk menekan agar si terhukum tersebut memenuhi hukuman pokok secara sukarela. Masalah uang paksa di Indonesia tidak diatur dalam HIR maupun RBg. Dahulu sewaktu masih berlakunya Rv masalah uang paksa tersebut diatur dalam Pasal 606 huruf a dan Pasal 606 huruf b.75

Berdasarkan beberapa pengertian mengenai uang paksa (dwangsom) dapat dinyatakan bahwa uang paksa (dwangsom) merupakan alternatif lain dari ganti

75 Ade Darmawan Basri, Op.Cit, hal 74.

rugi, namun mempunyai peraturan tertentu yang bisa dilihat dari eksistensinya, uang paksa (dwangsom) ini lazim dijumpai pada hampir setiap gugatan.

Konkretnya dalam perkara perdata maka kerap dituntut adanya uang paksa oleh penggugat atau para penggugat kepada pihak tergugat/para tergugat.76

Sehingga dapat disimpulkan bahwa uang paksa adalah hukuman yang di jatuhkan hakim kepada salah satu pihak berupa pembayaran sejumlah uang, apabila hukuman pokok tidak dilaksanakan.77 Dasar penerapan uang paksa (dwangsom) dalam praktik peradilan di Indonesia selama ini adalah:

1. Ketentuan Reglement Acara Perdata (Rv) yang terdapat dalam Bab V Bagian 3 RV yakni dalam Pasal 606 a dan 606b.

Pasal 606a Rv

Sepanjang suatu keputusan hakim mengandung hukuman untuk sesuatu yang daripada membayar sejumlah uang maka dapat ditentukan bahwa sepanjang atau setiap kali terhukum tidak memenuhi hukuman tersebut, olehnya harus diserahkan sejumlah uang yang besarnya ditetapkan dalam keputusan hakim dan uang tersebut dinamakan uang paksa (dwangsom)

Pasal 606b Rv

Apabila keputusan (hakim) tersebut tidak dipenuhi maka pihak lawan dari terhukum berwenang untuk melaksanakan keputusan terhadap sejumlah uang paksa (dwangsom) yang telah ditentukan tanpa terlebih dahulu memperoleh alas hak baru menurut hukum.

2. Pendapat para pakar hukum (doktrin) sebagaimana yang telah diuraikan di atas.

77 Harifin A.Tumpa, Memahami Eksistensi Dwangsom Dan Implementasinya Di Indonesia, Jakarta:Perdana Media Grup, 2010), hal 17

dipedomani dalam praktik peradilan di Indonesia. Dimana dalam pertimbangan hukumnya menyatakan bahwa “uang paksa (dwangsom), sekalipun tidak secara khusus diatur di dalam HIR haruslah dianggap tidak bertentangan dengan sistem HIR dan berdasarkan penafsiran yang lazim dan pada Pasal 399 HIR dapat diterapkan di pengadilan-pengadilan”.78

Uang paksa (dwangsom) sendiri mempunyai sifat yang terdiri dari79:

1. Accesoir

Tidak ada uang paksa (dwangsom) apabila tidak ada hukuman pokok.

Uang paksa (dwangsom) harus selalu mengikuti hukuman pokok dengan kata lain bahwa uang paksa (dwangsom) tidak mungkin dijatuhkan tanpa hukuman pokok. Ketika seorang penggugat dalam dalil (posita) gugatannya menyatakan bahwa tergugat telah lalai menyerahkan barang yang dibelinya padahal barang tersebut telah dibayar lunas. Penggugat di dalam petitum gugatannya tidak meminta agar Tergugat dihukum untuk menyerahkan barang yang dibelinya tersebut Penggugat hanya menuntut uang paksa (dwangsom), maka Hakim tidak dapat mengabulkan permintaan uang paksa (dwangsom) tersebut walaupun dalil gugatan penggugat terbukti, apabila hukuman pokok telah dilaksanakan oleh terhukum maka uang paksa (dwangsom) yang ditetapkan bersama hukuman pokok tadi tidak berkekuatan hukum lagi. Penggugat yang menuntut penyerahan barang yang dibelinya dan apabila Tergugat lalai menyerahkan barang tersebut maka Tergugat dihukum untuk membayar

78 Ibid, hal 27.

79 Ibid , hal 18

uang paksa (dwangsom) dan Hakim mengabulkan hukuman tersebut, maka apabila Tergugat telah menyerahkan barang yang dituntut itu kepada penggugat, maka uang paksa (dwangsom) tidak berkekuatan hukum tetap lagi.

2. Hukuman Tambahan

Hukuman pokok yang diterapkan oleh Hakim tidak dipenuhi oleh Tergugat dengan sukarela, maka uang paksa (dwangsom) diperlakukan (dapat dieksekusi) apabila uang paksa (dwangsom) telah dilaksanakan tidaklah berarti bahwa hukuman pokok telah hapus. Hukuman pokok masih tetap dapat dilaksanakan, apabila Hakim dalam putusannya memerintahkan kepada Tergugat menyerahkan barang yang telah dibeli oleh Penggugat disertai suatu uang paksa (dwangsom), maka Tergugat diwajibkan pula untuk membayar uang paksa (dwangsom) yang telah ditetapkan oleh Hakim tersebut. uang paksa (dwangsom) yang diterapkan oleh Hakim telah dilaksanakan akan tetapi penyerahan barang yang diperintahkan tidak dilaksanakan oleh terhukum. Hukuman pokok tidak hapus dengan adanya pelaksanaan uang paksa (dwangsom).

3. Tekanan Phychis Bagi Terhukum

Hal Ini berarti bahwa dengan adanya hukuman uang paksa (dwangsom) yang ditetapkan Hakim dalam putusannya, maka terhukum ditekan secara phychis agar ia dengan sukarela memenuhi hukuman pokok yang ditetapkan oleh Hakim bersama dengan uang paksa (dwangsom) tersebut, dapat dipahami bahwa yang dikecualikan dalam hal menjatuhkan uang

paksa (dwangsom) terhadap putusan hakim yang bersifat condemnatoir hanya yang hukuman pokoknya berupa pembayaran sejumlah uang.

Selain yang hukuman pokoknya berupa pembayaran uang, semua putusan hakim yang bersifat condemnatoir dapat dijatuhkan uang paksa (dwangsom).80 Adapun alasan uang paksa (dwangsom) tidak dapat dijatuhkan atas putusan hakim yang hukuman pokoknya pembayaran uang karena terhadap putusan hakim yang hukuman pokoknya pembayaran uang dapat dilakukan dengan eksekusi langsung dengan cara verhaal executie yakni dengan cara terlebih dahulu dilakukan penyitaan atas barang-barang bergerak maupun tidak bergerak milik Tergugat, kemudian barang-barang Tergugat yang telah disita tersebut dijual dengan cara dilelang melalui kantor lelang dan hasil penjualan barang-barang tersebut digunakan untuk pembayaran kepada Penggugat sesuai dengan jumlah uang yang telah ditentukan dalam putusan hakim.81

Perbedaan utama antara ganti rugi dan uang paksa (dwangsom) adalah uang paksa (dwangsom) sifatnya assesoir, artinya hukuman tambahan sebagai penjaga dan bisa sekaligus sebagai pemaksa agar putusan hakim dipatuhi atau dilaksanakan. jadi uang paksa (dwangsom) adalah merupakan suatu alat eksekusi secara tidak langsung. Sedangkan ganti rugi merupakan suatu hukuman pokok yang diberikan oleh Hakim.

Syarat-syarat eksekusi uang paksa (dwangsom) adalah karena tidak dijalankannya putusan pokoknya yang utama. Selain itu pelaksanaan uang paksa (dwangsom) haruslah dimohonkan ke Pengadilan terlebih dahulu, sama dengan eksekusi biasa atau pelaksanaan eksekusi pada putusan pokok. R.Soesilo

80 Cik Basir, Op.Cit, hal 34.

81 Ibid, hal 35.

(1993:142) Pasal 196 HIR menyebutkan: “Jika pihak yang dikalahkan tidak mau atau lalai untuk memenuhi isi keputusan dengan damai, maka pihak yang menang memasukkan permintaan, baik dengan lisan maupun dengan surat, kepada Ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan pada ayat pertama Pasal 195 HIR, buat menjalankan keputusan itu. Ketua menyuruh memanggil pihak yang dikalahkan itu serta memperingatkan, supaya ia memenuhi keputusan itu dalam tempo yang ditentukan oleh ketua, yang selama-lamanya delapan hari”.

Redaksi yang lazim digunakan dalam praktik peradilan di Indonesia selama ini terhadap petitum surat gugatan Penggugat maupun amar putusan pengadilan biasanya apabila tuntutan uang paksa (dwangsom) dikabulkan Hakim lebih kurang antara lain misalnya sebagai berikut: “menghukum tergugat/para tergugat untuk membayar uang paksa (dwangsom) sebesar Rp 2.000.000,- (dua juta rupiah) kepada Penggugat/ Para Penggugat untuk setiap hari keterlambatan/kelalaian Tergugat/Para Tergugat menyerahkan objek berupa sebidang tanah kebun yang dikuasainya kepada Penggugat/Para Penggugat terhitung sejak putusan ini berkekuatan hukum tetap ( in kracht van gewijsde)”.82

C. Pertimbangan Hakim dalam Menolak Pembayaran Bunga Moratoir dan