BAB IV DASAR PERTIMBANGAN HAKIM MAHKAMAH AGUNG
B. Dasar Pertimbangan Hakim Mahkamah Agung Republik
Berpijak pada kewajiban hakim wajib memeriksa dan mengadili perkara yang diajukan kepadanya, khususnya bagi hakim pada peradilan agama yang mengadili sengketa di antara orang-orang yang beragama Islam, maka dalam penegakan hukum dan keadilan berdasarkan hukum Islam, hakim hendaknya menggunakan hukum Islam yang bersumber Al-Quran dan Hadist, serta sumber hukum lainnya yang tidak bertentangan dengan hukum syara’.
Yurisprudensi yang merupakan himpunan dari putusan hakim/pengadilan dari yang terendah sampai tertinggi menjadi salah satu sumber pembentukan hukum di Indonesia. Sebab apabila terjadi sengketa hukum antara sesama antara sesama warga, maupun antara warga dan penguasa, yang diajukan sebagai perkara ke muka pengadilan, maka hakim sebagai penegak hukum secara represif sebagai pejabat kekuasaan kehakiman yang merdeka oleh UUD 1945 diberikan hak monopoli atau
wewenang tunggal untuk mengadili dan memutuskan apa hukum dan keadilannya dalam kejadian/kasus yang konkret.123
Dalam prakteknya seorang Hakim diberikan kebebasan untuk menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan dalam masyarakat yakni dengan menelaah kembali sumber-sumber hukum yang berlaku. Adanya ruang kebebasan bagi hakim tentunya sangat berpengaruh dalam menemukan dasar pertimbangan hukum apabila dirasakan belum cukup hanya dengan menggunakan undang-undang.
Sejauh ini ada 3 (tiga) putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia tentang status ahli waris non muslim, yaitu: Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor. 368.K/AG/1995, Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor. 51.K/AG/1999, dan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor. 16.K/AG/2010.
Di dalam Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor. 368.K/AG/1995 dinyatakan bahwa ahli waris non muslim mendapatkan baagian dari harta peninggalan pewaris muslim berdasarkan wasiat wajibah sebesar bagian ahli waris muslim. Di dalam Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor. 51.K/AG/1999 dinyatakan bahwa ahli waris non muslim dinyatakan sebagai ahli waris dari pewaris muslim dan mendapatkan bagian yang sama dengan ahli waris muslim berdasarkan wasiat wajibah. Sedangkan menurut Putusan Mahkamah Agung
123Gandasubrata, H.R. Purwoto S.,Renungan Hukum,Ikatan Hakim Indonesia, Jakarta, 1998, Hal. 292
Republik Indonesia Nomor. 16.K/AG/2010 dinyatakan bahwa ahli waris non muslim layak dan adil untuk memperoleh hak-haknya selaku isteri untuk mendapatkan bagian dari harta peninggalan berupa wasiat wajibah serta bagian dari harta bersama. Dalam putusan-putusan ini dinyatakan bahwa ahli waris non muslim dianggap sebagai ahli waris.
Dari putusan-putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia di atas, ditarik gambaran bahwa melalui Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia telah melakukan pembaharuan hukum waris Islam dari tidak memberikan harta bagi ahli waris non muslim menuju pemberian harta bagi ahli waris non muslim, dan tidak mengakui ahli waris non muslim sebagai ahli waris dari pewaris muslim. Dengan kata lain Mahkamah Agung Republik Indonesia telah memberikan status ahli waris bagi ahli waris non muslim dan memberikan bagian harta yang setara dengan ahli waris muslim.
Berdasarkan gambaran dari uraian di atas akan putusan-putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, maka pemberian wasiat wajibah kepada ahli waris yang non-muslim dalam konteksnya adalah untuk menjaga keutuhan keluarga dan mengakomodir adanya realitas sosial di masyarakat Indonesia bila ditinjau dari segi kemaslahatan patut dipertimbangkan dan boleh jadi terkait dengan maksud ajaran agama Islam. Yaitu memenuhi rasa keadilan. Maka dengan lahirnya putusan-putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia tersebut terhadap ahli waris non-musli, maka telah memberikan solusi yang cukup memberikan keadilan, sehingga dengan lahirnya
putusan-putusan Mahkamah Agung tersebut, hal ini tentunya akan diikuti dan dijadikan acuan dan rujukan oleh Pengadilan yang dibawahnya yaitu Pengadilan Tinggi sebagai pengadilan tingkat banding maupun oleh Pengadilan tingkat pertama terhadap pemberian untuk ahli waris non-muslim.
Putusan-putusan tersebut diterbitkan oleh karena terjadi pergesekan kepentingan antara ahli waris. Ahli waris akan menikmati bagian secara kualitatif yang lebih sedikit dengan adanya wasiat wajibah. Bagian ahli waris yang sudah di tentukan, dialihkan kepada penerima wasiat wajibah oleh karena ijtihad hakim yang berwenang. Tuntutan-tuntutan para ahli waris adalah menyampingkan wasiat wajibah. Sekilas putusan-putusan tersebut di atas tidak didasarkan pada hukum Islam murni yang berasal dari Al-Quran dan Hadist. Putusan tersebut terlihat seperti melakukan penyimpangan dari Al-Quran dan Hadist. Putusan-putusan tersebut diterbitkan untuk memenuhi asas keadilan bagi para ahli waris yang memiliki hubungan emosional nyata dengan pewaris. Hakim menjamin keadilan bagi orang- orang yang memiliki hubungan emosional dengan pewaris tersebut melalui wasiat wajibah. Seorang anak atau saudara ataupun isteri yang berbeda agama dan telah hidup berdampingan dengan tentram dan damai serta tingkat toleransi yang tinggi dengan pewaris yang beragama Islam tidak boleh dirusak hanya karena pewarisan. Apabila penyimpangan itu dilakukan akan memberikan lebih banyak kemaslahatan daripada mudharatnya.
Pertimbangan hakim terhadap wasiat wajibah ini pun berbeda-beda, terkait mengenai besaran wasiat wajibah pada setiap kasusnya. Namun terdapat suatu asas yang menjadi dasar dalam menjatuhkan besaran wasiat wajibah, yaitu asas keseimbangan. Wasiat wajibah diberikan tidak menggangu kedudukan ahli waris lainnya. Bagian harta peninggalan yang diperuntukkan untuk wasiat wajibah diberikan dari derajat yang sama. Anak perempuan non-muslim mendapat bagian yang sama sebesar bagiannya dengan kedudukannya sebagai anak perempuan. Ahli waris pengganti yang beragama non-muslim mendapat bagian yang sama besar bagiannya dengan kedudukan sebagai ahli waris pengganti. Saudara kandung yang beragama non-muslim mendapat bagian yang sama besar bagiannya dengan kedudukannya sebagai saudara kandung. Dan kedudukan isteri yang beragama non- muslim akan mendapatkan bagian yang sama besar bagiannya dengan kedudukannya sebagai isteri.
Maka dari ijtihad yang dilakukan oleh hakim tersebut tidaklah bersifat imperatif akan tetapi fakultatif. Penggunaan putusan-putusan tersebut apabila terjadi sengketa dan sebaliknya apabila tidak terjadi sengketa maka tetap menerapkan hukum Islam.
Pemberian wasiat wajibah kepada ahli waris non-muslim dapat dikategorikan sebagai pembaharuan hukum untuk mengikuti perubahan sosial. Sehingga di sini hakim berijtihad dan memutuskan pekara melalui pendekatan baru yaitu kajian hukum melalui tujuan-tujuan syariah, maka hasilnya adalah merupakan trobosan baru untuk mengembangkan hukum Islam yang berkarakter dan berciri khas Indonesia.
Berdasarkan hukum baru tersebut, hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Dari ketetntuan ini dapat dipahami bahwa para pembentuk peraturan perundang-undangan di negeri ini berpendirian bahwa hukum itu tidak hanya tertuang dalam hukum positif, tetapi juga dapat bersumber dari putusan lembaga peradilan yang telah menjadi yurisprudensi.
Sehingga melalui yurisprudensi putusan hakim di pengadilan, hakim yang memutuskan sutu perkara dapat mengambil dasar-dasar pertimbangan hukumnya sesuai dengan keyakinannya dengan menggali nilai-nilai dari hukum Islam itu sendiri. Menurut Muhammad Imarah, hakim adalah para mujtahid yang memiliki mandat yang mereka pegang, mereka dapat menciptakan hukum-hukum yang berkekuatan yang dinilai sebagai hukum-hukum Allah bagi diri mereka dan orang- orang yang diwajibkan mematuhinya, karena hukum itu lahir dari orang yang telah diberikan kewenangan oleh Allah untuk berijtihad dan memutuskan hukum dalam rangka syariat Allah.124
Dalam konteks ini perlu disinggung bahwa Hakim memiliki kewenangan untuk menyimpangi ketentuan-ketentuan hukum tertulis yang telah ada yang dianggap telah usang dan ketinggalan zaman sehingga tidak lagi mampu menciptakan keadilan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Hakim sendiri harus mencukupkan pertimbangan hukumnya secara jelas dan tajam dengan pertimbangan berbagai aspek hukum. Putusan hukum oleh hakim yang kemudian dijadikan sebagai dasar bagi
124Muhammad Imara,Perbedaan Dan Kemajemukan Dalam Bingkai Persatuan,Gema Insani Press, Jakarta, 1999, Hal. 103
putusan yang memiliki kasus serupa disebut sebagai hukum yuriprudensi tujuannya adalah untuk menghindari adanya disparitas putusan hakim dalam perkara yang sama. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 Tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor. 4 Tahun 2004 menentukan bahwa Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Menurut Eugan Ehrlich, yang menganjurkan agar pembaharuan hukum yang dilaksanakan oleh instansi berwenang hendaknya memperhatikan keseimbangan antara keinginan untuk mengadakan pembaruan hukum itu sendiri dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.125
Lahirnya putusan-putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia ini akan menjadi acuan yang terus berkesinambungan oleh majelis hakim yang akan datang dalam memutuskan perkara-perkara kewarisan bagi ahli waris yang non-muslim. Sebab lahirnya putusan-putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia tersebut dapat memberikan solusi yang ingin menegakkan hukum sesuai dengan faraid yang tidak mentolerir tentang kedudukan beda agama sebagai penghalang untuk saling mewarisi, akan tetapi realitanya dalam kehidupan tidak sedikit dalam sebuah keluarga di dalamnya di huni anggota-anggota keluarga yang berbeda agama.
Dalam putusan-putusan di atas, yang dijadikan dasar pembaharuan hukum kewarisan Islam adalah wasiat wajibah yang menurut sebagian pemikir Islam ahli waris non muslim dapat mendapatkan bagian harta warisan melalui jalan wasiat
125 Abdul Manan, Hukum Islam Dalam Berbagai Wacana, Pustaka Bangsa, Jakarta, 2003, Hal. 303
wajibah. Pendapat seperti ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Ibn Hazm. Hanya saja tidak ada pertimbangan hukum yang menyatakan bahwa ahli waris non muslim dianggap sebagai ahli waris bagi pewaris muslim.
Pendapat mana pun yang dipilih oleh hakim maka pihak yang berperkara akan menerimanya, yang lebih bijaksana apabila hakim memilih pendapat yang lebih kuat argumentasi hukumnya baik ditinjau dari segi filosofis, yuridis maupun sosiologisnya, sehingga dengan demikian meskipun pada dasarnya wasiat adalah sukarela dan bersifat pribadi akan tetapi oleh kekuasaan melalui putusan hakim dalam kondisi yang ditentukan dinyatakan bahwa seseorang wajib berwasiat kepada saudara kandungnya yang non-muslim. Ditinjau dari segi kemaslahatan yang dipadankan dengan nilai-nilai universal yang sekiranya tidak bertentangan dengan ajaran pokok Islam yang berarti bahwa semua orang akan merasakan kemaslahatannya, tanpa membedakan jenis, etnis, dan bahkan agama. Karna salah satu dari fungsi hukum Islam adalah sebagai sarana untuk mengatur sebaik mungkin dan meperlancar proses interaksi sosial sehingga terwujudlah masyarakat yang harmonis, aman, dan sejahtera.126
Hakim memutuskan perkara wasiat wajibah terhadap ahli waris yang beragama non-muslim harus didasarkan pada rasa keadilan. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, dimana hakim berijtihad apabila tidak ada hukum yang mengatur dalam menyelesaikan perkara dengan memperhatikan nilai-nilai hukum
126 Ibrahim Husei, Fungsi Dan Karakter Hukum Islam Dalamm Kehidupan Ummat Islam, Gema Insani Press, Jakarta, 1996, Hal. 90.
yang hidup dalam masyarakat sehingga memberikan putusan sesuai dengan rasa keadilan.
Perbedaan agama sebagai penghalang untuk dapat saling mewarisi dalam hukum kewarisan sesuai dengan muatan hadist memang sudah tidak bisa dirubah lagi, akan tetapi tentunya dalam perkembangan yang terjadi sekarang ini, telah berbeda dengan pada masa saat hadis tersebut diturunkan hendaknya dibedakan dengan pembunuhan atau fitnah yang terbukti atau diakui oleh pelakunya yang secara seluruhnya diakui dengan kejahatan terhadap manusia, sehingga apabila pelakunya dihukum tidak dapat mewarisi pewarisnya yang dibunuh, dianiaya, atau difitnah, maka tidak akan ada yang mengkritisi bahwa hukum Islam tidak adil.
Perbedaan agama bukanlah merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan tetapi menyangkut keyakinan atau kebenaran ajaran suatu agama yang patut dihargai dan dihormati oleh siapapun sebagaimana Islam telah mengajarkan demikian. Oleh sebab itu, apabila ahli waris yang berbeda agama dengan pewarisnya yang muslim tidak mendapatkan bagian, maka hukum Islam akan dianggap sebagai hukum yang tidak adil.
Hakim harus melakukan ijtihad untuk menciptakan hukum baru atau mempertahankan yurisprudensi yang sudah ada. Tentang hal ini harus dilihat secara kasus perkasus, sebab setiap kasus secara prinsip mengandung spesifikasi tersendiri. Dan tidak ada perkara yang persis sama satu dengan yang lainnya. juga tidak ada peraturan perundang-undangan yang bersifat nyata, tetapi selalu bersifat relatif sesuai dengan ketentuan waktu dan tempat keadaan.