• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II WASIAT WAJIBAH BERDASARKAN FIKIH ISLAM

B. Pihak-Pihak Yang Dapat Menerima Wasiat Wajibah

Dalam ensiklopedia hukum Islam menyebutkan, bahwa wasiat wajibah adalah wasiat yang diperuntukkan kepada ahli waris atau kerabat yang tidak memperoleh bagian harta warisan dari orang yang wafat, karena adanya halangan syarak. Misalnya berwasiat kepada ibu-bapak yang beragama non-muslim, karena perbedaan agama menjadi penghalang bagi seseorang untuk menerima warisan, atau cucu yang tidak mendapatkan harta warisan disebabkan oleh keberadaan paman mereka.91

Menurut Moh. Muhibbin dan Abdul Wahid dalam bukunya yang berjudul hukum kewarisan Islam sebagai pembaharuan hukum positif di Indonesia,92 pusat perhatian wasiat wajibah ini berfokus pada masalah cucu, sehingga ijtihad yang muncul seperti wasiat wajibah tersebut. Dalam perkembangan pemikiran hukum kewarisan Islam, para pemikir ahli hukum Islam tidak hanya melihat pada persoalan

90Ibid.

91Ensiklopedia Hukum Islam, Hal. 1930 92Moh. Muhibbin,Op Cit,Hal. 150-151

cucu saja, tetapi dengan memperluas cakrawala analisisnya, yakni dengan mengemukakan bahwa hukum kewarisan Islam mengenai pergantian tempat. Ahli pemikir Islam yang disebut di sini mislanya, Profesor Hazairin. Namun demikian, walaupun dalam lingkup yang sangat terbatas, wasiat wajibah mempunyai kemiripan dengan penggantian tempat. Kemiripan tersebut terletak pada orang yang meninggal lebih dahulu dari pada orang yang meninggalkan harta kekayaan. Perbedaan antara wasiat wajibah dengan pergantian tempat menurut mereka ini adalah, wasiat wajibah merupakan pranata untuk mengatasi satu jenis persoalan, sedangkan pergantian tempat merupakan pranata untuk mengatasi persoalan yang bersifat menyeluruh. Maksud menyeluruh di sini adalah menyeluruh persoalan kematian lebih dahulu daripada pewaris, baik dalam garis lurus kebawah, garis lurus ke atas maupun garis lurus ke samping.

Tahir mahmood mengatakan: “doktrin representasi tidak diakui dalam hukum kewarisan Islam di mana para keluarga yang lebih dekat menyingkirkan yang lebih jauh dalam golongan yang sama. Cara pemecahannya dengan memperkenalkan prinsip wasiat wajibah.93

Dari pernyataan Tahir Mahmood di atas, tampak bahwa ajaran tentang pergantian tempat tidak diakui dalam hukum kewarisan Islam, dan sebagai gantinya diperkenalkan wasiat wajibah. Wasiat wajibah, yang memberikan jalan keluar bagi cucu yang tidak mewaris, memperluas pengertian cucu sampai derajat yang tidak

93Abdullah Siddik,Hukum Kewarisan Dan Perkembangan Di Seluruh Dunia Islam,Wijaya, Jakarta, 1984, Hal. 223

terbatas jika cucu tersebut lewat garis laki-laki dan satu derajat jika lewat orang perempuan. Jika dilihat dari segi hal tersebut, maka masalah cucu dalam wasiat wajibah amat mirip dengan pergantian tempat.

Penegasan mengenai yang berhak menerima wasiat wajibah dapat dilihat dari pernyataan Hasanain Muhammad Makhluf (1958:21) mengatakan:

“... maka wajiblah wasiat bagi kedua orang tua apabila keduanya tidak menerima warisan, misalnya ada perbedaan agama. Demikian pula bagi kerabat yang tidak menerima warisan, seperti karena hamba sahaya, kufur, atau terhijab untuk menerima warisan, yaitu dari keturunan yang telah meninggal dunia pada saat bapaknya masih hidup.”94

C. Dasar Filosofi Fikih Islam Tidak Menyebutkan Pihak-Pihak Yang Dapat Menerima Wasiat Wajibah.

Hukum Islam berkembang sejalan dengan perkembangan dan perluasan wilayah Islam serta hubungannya dengan budaya dan masyarakat lain. Dalam mana penetapan hukum Islam di zaman Nabi, terlihat bahwa hukum Islam mengubah, menentukan dan mengontrol kondisi sosial masyarakat. Akan tetapi dalam perkembangannya terutama setelah Nabi meninggal, terlihat pula bahwa teks-teks hukum banyak yang tidak menjangkau secara lansung akan kejadian-kejadian dan masalah-masalah yang baru muncul. Untuk memecahkan masalah baru itulah

94Suparman Usman, Yusuf Somawinata,Fiqih Mawaris,Gaya Media Pratama, Jakarta, 1997, Hal. 174

dilakukan ijtihad, yaitu dimana melakukan penalaran sehingga menghasilkan pendapat pribadi yang orisinal.

Salah satu usaha ijtihad yang dilakukan itu yaitu menganalogikan peristiwa hukum baru tersebut kepada peristiwa hukum baru tersebut kepada peristiwa hukum yang secara tekstual dan eksplisit telah dinyatakan kedudukan hukumnya baik dalam Al-Quran maupun dalam Sunnah berdasarkan adanya alasan hukum yang sama diantara keduanya.

Dalam bidang hukum kewarisan misalnya masih dijumpai adanya perbedaan pendapat tentang wasiat wajibah, dimana seorang anak angkat tidak berhak memperoleh warisan dari orang tua angkatnya, dan sebaliknya secara mutlak, meskipun kasih sayang yang mereka bina bertahun-tahun, akibatnya bisa memutuskan silahturahmi antara keluarga anak angkat dengan orang tua angkatnya, dan sebaliknya. Ataupun mengenai ahli waris yang beragama non-muslim yang tidak berhak memperoleh warisan dari pewaris baik itu antara orang tua kandung kepada anak kandungnya, antara saudara kandung dengan saudara kandungnya, dan antara suami isteri yang semuanya berbeda agama antara pewaris kepada ahli waris yang beragama non-muslim tersebut. Sehingga dikemudian hari bisa saja akan berakibat memutuskan tali silahturahmi antara keluarga yang telah terbina cukup lama.

Pandangan dari kitab-kitab fikih tradisional itu dapat dimaklumi, karena kitab- kitab itu ditulis jauh sebelum lahirnya paham kebangsaan, ketika itu praktek kenegaraan masih memakai konsep umat. Berbeda dengan paham kebangsaan, konsep umat menyatukan berbagai kelompok masyarakat dengan tali agama,

sedangkan paham kebangsaan menitikberatkan dalam penegakan hukum sesuai dengan kondisi dan situasi yang berlaku dalam suatu negara. Paham kebangsaan ini baru lahir sesudah perang dunia I, kemudian negara-negara Islam pun menganutnya. Dengan lahirnya paham kebangsaan ini produk hukum Islam yang dihasilkan oleh negara tidak lagi terikat pada satu mazhab, melainkan juga diambil dari pemikiran mazhab lain, seperti mazhab Maliki, Hambali, Hanafi, dan bahkan dari mazhab Syi’ah dan Zahiri, serta lainnya.95

Para pakar hukum Islam Indonesia sering melemparkan gagasan tentang pembaharuan hukum Islam dengan menggunakan berbagai istilah, misalnya restrukturisasi, reinterprestasi, redefinisi, reformulasi, reaktualisasi, maupun modernisasi. Gagasan tersebut didasarkan kepada Al-Quran Surah Al-Maidah yang menyatakan bahwa agama Islam telah sempurna. Akan tetapi setelah Nabi Muhammad saw wafat, banyak ayat-ayat Al-Quran secara tekstual dipandang oleh kaum modernis sebagai ayat-ayat yang tidak relevan lagi dengan realitas sosial atau kemajuan zaman. Oleh sebab itu, diperlukan pemikiran pembaharuan hukum Islam agar sesuai dengan kondisi zaman dengan cara memahami Al-Quran dan Sunnah yang menjadi pokok ajaran Islam itu secara tekstual, kontekstual, atau keduanya. Pembaharuan dapat juga dilaksanakan dengan cara memperbaharui hasil-hasil pemikiran (ijtihad) para pemikir Islam dahulu yang sekarang tidak sesuai lagi dengan kepentingan umum dan perkembangan masyarakat serta keinginan zaman.96

Mengingat bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi yang terakhir dan risalahnya berlaku bagi seluruh umat yang datang kemudian, maka syariat itu

95

Abdul Manan,Reformasi Hukum Islam di Indonesia,PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, Hal. 4

96Masyfuk Zuhdi,Pembaharuan Hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam,PT. A. Jawa Timur, Surabaya, 1995, Hal. 1-2

haruslah bersifat universal agar dapat menjamin terciptanya kemaslahatan di setiap masa dan tempat. Akan tetapi, juga menjadi sunnah Allah, masyarakat manusia selalu mengalami perubahan dan perkembangan dalam berbagai bidang kehidupan. Kehidupan pada masa modern sekarang telah jauh berbeda dengan kehidupan di zaman Rasulullah saw. Perubahan sosial dalam berbagai aspeknya, selalu melahirkan tuntutan agar perangkat hukum yang menata masyarakat itu haruslah diikuti berkembang bersamanya.

Perubahan sosial dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti kependudukan, habitat fisik, teknologi, atau struktur dan kebudayaan masyarakat, sedangkan prosesnya dapat didorong oleh kemajuan sistem pendidikan, sikap toleransi terhadap penyimpangan prilaku, sistem stratifikasi sosial yang terbuka, tingkat heterogenitas penduduk, dan rasa ketidak puasan terhadap kondisi kehidupan tertentu.97

Perubahan sosial dengan berbagai faktor dan akibatnya memberikan pengaruh terhadap hukum, dalam arti menuntut adanya perubahan hukum dalam rangka menanggapi problema dimaksud, sebagaimana dikatakan oleh Soerjono Dirdjo Sisworo: terjadinya interaksi antara perubahan hukum dan perubahan masyarakat adalah fenomena nyata ... titik sentral sebagai penentu dari berbagai gejala yang juga menentukan watak dan perubahan hukum adalah manusia sendiri”.98

Dalam hubungannya dengan masayarakat, hukum mempunyai dua fungsi, yaitu hukum berperan menciptakan perubaha struktur sosial dan memacu masyarakat

97 Soerjono Sukanto,Beberapa Permasalahan Dalam Kerangka Pembangunan di Indonesia, UI Press, Jakarta, 1975, Hal. 139

98Soejono Dirdjo Sisworo,Sosiologi Hukum: Studi Tentang Perubahan Hukum dan Sosial, Rajawali Pers, Jakarta, 1983, Hal. 83

agar bergerak dan hukum itu berperan memelihara stabilitas sosial serta mengendalikan arah dan mengontrol lajunya perubahan masyarakat, agar tidak keluar dari ketentuan-ketentuan yang berlaku. Dalam kaitan ini, hukum selalu ketinggalan dari, dan mengalami tarik menarik dengan tuntutan perubahan masyarakat yang dinamis. Pada satu sisi hukum mengekang berbagai gerakan masyarakat, dan sisi lainnya dinamika masyarakat selalu menuntut agar hukum menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman.99

Menurut para pakar hukum Islam di Indonesia, pembaharuan hukum Islam yang terjadi saat ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:100

1. Untuk mengisi kekosongan hukum karena norma-norma yang terdapat dalam kitab-kitab Fikih tidak mengaturnya, sedangkan kebutuhan masyarakat terhadap hukum terhadap masalah yang baru terjadi itu sangat mendesak untuk ditetapkan.

2. Pengaruh globalisasi ekonomi dan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga perlu ada aturan hukum yang mengaturnya, terutama masalah-masalah yang belum ada aturan hukumnya.

3. Pengaruh reformasi dalam berbagai bidang yang memberikan peluang kepada hukum Islam untuk bahan acuan dalam membuat hukum nasional.

4. Pengaruh pembaharuan pemikiran hukum Islam yang dilaksanakan oleh para mujtahid baik tingkat internasional maupun tingkat nasional, terutama hal-hal yang menyangkut perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

99Soerjono Sukanto,Op Cit,Hal. 146-147

100 Abdul Manan,Reformasi Hukum Islam di Indonesia, Pt. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, Hal. 153-154

BAB III

PANDANGAN ULAMA TENTANG WASIAT WAJIBAH A. Pro dan Kontra Para Ulama Terhadap Wasiat Wajibah

Ibn Hazm berpendapat bahwa, wasiat bagi ahli waris yang tidak berhak menerima warisan hukumnya wajib. Bahkan ia mengatakan, fardu hukumnya bagi setiap orang Islam untuk memberikan wasiat kepada ibu bapak dan karib kerabat yang tidak mewarisinya baik karena perbedaan agama, perbudakan, atau karena ada ahli waris lain yang mendidinginya. Untuk mereka ini, menurut beliau diberi wasiat berupa bagian yang pantas. Jika yang meninggal dunia tidak berwasiat sebelumnya, hendaklah dikeluarkan sebagian dari harta peninggalannya untuk memenuhi kefarduan wasiat yang belum ditunaikannya.101

Adanya kewajiban bagi penguasa untuk mengeluarkan sebagian dari harta peninggalan seseorang, meskipun dia tidak berwasiat sebelumnya. Maksudnya kewajiban untuk mengeluarkan sebagaian dari harta peninggalan sebagai wasiat, tidak lagi disandarkan kepada ada atau tidaknya seseorang berwasiat semasa hidupnya, tetapi didasarkan kepada hukum yang ditetapkan oleh penguasa. Sehingga sekiranya seorang tidak berwasiat semasa hidupnya, namun secara serta merta ia dianggap telah berwasiat.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa, Ibn Hazm mendefenisikan wasiat wajibah sebagai wasiat yang ditetapkan oleh penguasa untuk orang-orang tertentu yang diberi

wasiat oleh orang yang meninggal dunia, sementara pewaris meninggalkan harta yang baginya berlaku kewajiban wasiat.

Adapun dasar hukum yang menjadi rujukan Ibn Hazm akan wasiat wajibah bagi setiap orang Islam yang memiliki sejumlah harta kepada kedua orang tua dan karib kerabatnya, yaitu:102

1. Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 180. Menurut beliau ayat tersebut mempunyai tunjukan yang pasti dan tidak beralternatif makna, yaitu wajib hukumnya berwasiat terhadap kedua orang tuanya dan karib kerabatnya oleh setiap orang yang memiliki jumlah harta sebelum dia meninggal dunia. 2. Hadis Rasulullah SAW dalam riwayat Bukhari dari Abdullah ibn Yusuf, dari

Malik, dari Nafi, dari Abdullah yang berbunyi: Rasulullah SAW bersabda: tidak ada hak seorang muslim terhadap sesuatu yang dia wasiatkan bermalam selama dua malam kecuali wasiatnya itu telah tertulis disisinya. Ibn Umar berkata: saya tidak melewatkan semalam pun semenjak saya mendengar Rasulullah SAW bersabda demikian kecuali di samping saya ada wasiat saya. 3. Hadis riwayat Malik dari Hasyim bin Urwah dari bapaknya, dari Aisyah isteri

Nabi SAW menceritakan: bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW: sesungguhnya ibuku mati tiba-tiba, dan kuat dugaan saya, sekiranya ia sempat berbicara pasti ia bersedekah (ini dapat diketahui dari kegemarannya

berbuat baik dan berwasiat). Apakah aku harus bersedekah (dari harta yang ditinggalkannya) jawab Nabi SAW: Ya.

Badran Abu al-Ainaini, memberi komentar atas pendapat Ibn Hazm yang mengatkan bahwa penguasa wajib mengeluarkan sebagain dari peninggalan seseorang yang meninggal dunia sebagai wasiat darinya meskipun dia tidak berwasiat sebelumnya, dilandasi dengan suatu pemikiran bahwa penguasa punya kewajiban untuk menjamin hak-hak rakyatnya yang belum terlaksana.103

Adapun orang yang berhak menerima wasiat wajibah itu, menurut Ibn Hazm, adalah para kerabat yang tidak menerima warisan, sebagaimana yang beliau tegaskan:104 “diwajibkan kepada setiap muslim untuk berwasiat kepada kerabatnya yang tidak memperoleh warisan, baik karena perbudakan, atau karena berbeda agama, atau karena ada ahli waris yang mendindinginya, atau karena mereka tidak termasuk ahli waris, maka hendaklah ia berwasiat untuk orang-orang tersebut, hendaklah ahli waris atau pemegang wasiat mengeluarkan sebagaian dari harta peninggalannya. Jika kedua ibu bapaknya, atau salah satu dari keduanya menganut agama lain, atau menjadi budak, maka wajib pula baginya untuk memberikan wasiat kepada keduanya atau untuk salah satu dari keduanya. Jika ternyata dia tidak berwasiat kepada mereka, maka mestilah dikeluarkan wasiatnya (untuk memberikan harta tersebut kepada mereka) dan setelah itu, baru boleh berwasiat bagi orang lain”.

103Ibid,Hal. 377 104Ibid,Hal. 379

Ibn Hazm juga memberikan batasan untuk jumlah harta yang boleh diwasiatkan, yaitu hanya sepertiga dari harta kekayaan pewaris, baik itu pewaris memiliki ahli waris ataupun tidak, disetujui ahli waris lain ataupun tidak. Bila seseorang berwasiat lebih dari sepertiga hartanya, kemudian ia memperoleh tambahan harta (sehingga apa yang telah diwasiatkan tersebut sudah berada dalam batas sepertiga, karena telah bertambah harta si pewaris), maka wasiatnya itu tidak dikeluarkan, kecuali tetap dalam batas sepertiga dari kekayaannya pada saat pewasiat membuat wasiatnya, karena melebihkan wasiat dari ukuran sepertiga itu adalah akad yang haram.

Kitab Undang-Undang Hukum Wasiat menetapkan wasiat wajibah atas dasar hasil mengkompromikan pendapat-pendapat Ulama salaf dan Ulama khalaf, yakni:105

1. Tentang kewajiban berwasiat kepada kerabat-kerabat yang tidak dapat menerima pusaka ialah diambil dari pendapat-pendapat fuqaha’ dan tabi’in besar ahli fikih dan ahli hadist. Antara lain Said Ibnu-Musaiyab, Hasanul- Bishry, Thawus, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan Ibnu Hazm.

2. Pemberian sebagian harta peninggalan si mati kepada kerabat-kerabat yang tidak menerima pusaka yang berfungsi wasiat wajibah, bila si mati tidak berwasiat, adalah diambil dari pendapat mazhab Ibnu Hazm yang dinukil dari fuqaha’ tabi’in dan dari pendapat mazhab Imam Ahmad.

3. Pengkhususan kerabat-kerabat yang tidak dapat menerima pusaka kepada cucu-cucu dan pembatasan penerimaan kepada sebesar sepertiga peninggalan

adalah didasarkan pendapat mazhab Ibnu Hazm dan berdasarkan qaidah syaria’ah: “pemegang kekuasaan mempunyai wewenang memerintahkan perkara yang mubah, karena ia berpendapat bahwa hal itu akan membawa kemaslahatan umum. Bila penguasa memerintahkan demikian, wajiblah ditaati”.

Jadi dengan demikian, menurut sebagian fuqaha’ perintah penguasa itu mewujudkan hukum syara’. Bagian yang wajib dikeluarkan, menurut Ibnu Hazm boleh dibatasi tentang maksimal dan minimalnya oleh si pewasiat sendiri dan ahli waris. Sedang surat Al-Baqarah ayat:180 menjelaskan bahwa wasiat kepada kerabat- kerabat itu ialah wasiat bil-ma’ruf. Istilah ma’ruf dalam ayat tersebut ialah sesuatu usaha yang dapat menenangkan jiwa dengan tidak menyampingkan kemaslahatan- kemaslahatan.106 Oleh karena itu adalah suatu keadilan bila pemerintah mewajibkan kepada para ahli waris untuk memberikan pemerintah mewajibkan kepada para ahli waris untuk memberikan bagian dari harta peninggalan yang dipusakai kepada cucu- cucu orang yang meninggal yang orang tua cucu-cucu tersebut telah mati mendahului orang yang mewariskan, sebesar bagian orang tuanya dengan ketentuan tidak boleh melebihi dari sepertiga harta peninggalan.

Menurut Misbachul Munir dalam menanggapi perundang-undangan Mesir adalah sebagai berikut:107

106Ibid, Hal. 66

107 Misbachul Munir, Batasan Ahli Waris Pengganti Menurut Pasal 185 Kompilasi Hukum

Islam Dalam Artikel PA Lumajang, Http:Www.Palumajang.Net/Info.Php?Page=Artikel- Detail.Html&Artikel.Id, 11 April 2014

1. Kalau dari garis keturunan laki-laki maka berlaku seterusnya sampai ke bawah, tetapi kalau dari garis keturunan anak perempuan, hanya tebatas pada anak-anak dari anak perempuan pewaris saja.

2. Pewaris di masa hidupnya belum pernah memberikan harta kepada yang berhak menerima wasiat wajibah tersebut seukuran hak wasiat wajibahnya. 3. Besarnya wasiat wajibah hanyalah sepertiga harta, entah yang berhak

menerima itu banyak atau sedikit, campuran antara laki-laki atau perempuan atau tidak. Kalau yang berhak menerima wasiat wajibah tersebut campuran antara laki-laki dan perempuan, maka bagian mereka adalah dua banding satu. 4. Wasiat wajibah didahulukan dari wasiat biasa. Kalau pewaris telah membuat

wasiat kepada mereka yang berhak menerima wasiat wajibah tetapi jumlahnya kurang dari sepertiga, maka dicukupkanlah sampai jumlah sepertiga, tetapi bila telah melebihi sepertiga, maka kelebihan itu dianggap wasiat biasa. Kalau yang berhak menerima wasiat wajibah tersebut lebih dari seorang, ada yang diberi wasiat biasa dan ada yang tidak, maka yang belum diberi tersebut berhak mendapatkan bagian wasiat wajibah. Kalau si pewaris membuat surat wasiat biasa dan ada pula meninggalkan mereka yang berhak menerima wasiat wajibah, maka wasiat wajibah dibayar dahulu dalam batas sepertiga, kemudian diambilkan untuk wasiat biasa dalam batas ssepertiga pula (sesudah diambil untuk wasiat wajibah).

Menurut pendapat ulama muta’akhirin, wasiat wajibah ditunjukan pada kerabat dekat atau yang memiliki hubungan nasab, namun tidak mendapatkan hak waris bukan terhadap anak angkat sebagaimana yang disampaikan dalam teori hukum yang dikemukakan Wahbah Zuhaili, sebagai berikut:108 “Telah dijelaskan bahwa wasiat kepada kerabat itu adalah disunatkan menurut jumhur ulama’. Di antara mereka itu adalah para imam mazhab empat. Wasiat itu tidak wajib bagi seseorang kecuali sebab hak dari Allah atau bagi para hamba Allah. Sebagai ahli fikih, seperti Ibnu Hazm Adh-Dhahiri dan At-Thobari dan Abu Bakar bin Abdil Aziz dari ulama’ mazhab Hambali berpendapat bahwa wasiat itu adalah kewajiban agama dan pembayaran kewajiban bagi kedua orang tua dan para kerabat yang tidak dapat waris karena terhalang dari mewarisi”. Adapun Undang-Undang Mesir Suria mengambil pendapat yang kedua: ”dan karena wasiat ini tidak memenuhi ketentuan-ketentuan wasiat yang dilakukan secara sukarela karena ketiadaan ijab dari orang yang memberi wasiat dan tidak ada qabul dari orang yang menerima wasiat, maka wasiat wajibah ini menyerupai pembagian warisan, sehingga diperlakukan seperti perlakuan warisan, yaitu bagi laki-laki mendapatkan bagian dua kali dari bagian perempuan, dan ahli waris yang asal menutupi cabangnya, dan setiap cabang mengambil bagian dari asalnya saja.

Fatchur Rahman, wasiat wajibah adalah hanya terhadap cucu laki-laki maupun perempuan baik pancar laki-laki maupun pancar perempuan yang orang tuanya mati

mendahului atau bersama-sama dengan kakek dan/atau neneknya.109 Menurut Mohd Zamro Muda, bahwa wasiat wajibah ialah sebahagian dari pada harta peninggalan yang diperuntukkan oleh undang-undang untuk anak-anak yang kematian ibu atau bapak sebelum datuk atau nenek mereka atau mereka meninggal serentak dan anak- anak tersebut tidak mendapat bagian daripada harta peninggalan datuk atau nenek mereka karena terdindingi (dihijab) oleh bapak atau ibu saudara mereka. Justeru itu, diberikan kepada mereka dengan kadar dan syarat-syarat tertentu sebagai wasiat dan bukannya sebagai pusaka.110

Dasar hukum keharusan wasiat wajibah bagi ahli waris pengganti, diperoleh dalam kitab al-muhalla karya Ibnu Hazm, sebagai berikut:111 “setiap muslim diwajibkan untuk memberikan berupa wasiat wajibah bagi kerabat-kerabatnya yang tidak memperoleh warisan, diakibatkan karena status mereka hamba sahaya, atau karena mereka non-muslim, atau karena ada ahli waris yang menghijab mereka dari perolehan warisan atau karena memang pada dasarnya mereka tidak mewarisi...”.

Dalam Fikih Islam, wasiat wajibah didasarkan pada suatu pemikiran, di satu sisi dimaksudkan untuk memberikan rasa keadilan kepada orang-orang yang dekat dengan pewaris tetapi secara sya’i tidak memperoleh bagian dari jalur faraidh, pada sisi lain, keempat mazhab telah mengharamkan, jika hal itu akan memberikan kemudharatan bagi ahli waris.112

109Fatchur Rahman.Op Cit,Hal. 63 110Fahmi Amruzi,Op Cit,Hal. 23